Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
episode 22


__ADS_3

"Sudah terlambat sayang, aku tidak peduli jika kau mau atau tidak yang pasti kau sudah memakai cincin dariku maka aku menyimpulkan kau telah menerimaku." Ucap Rio sambil membelai rambut Tasya dan tersenyum miring.


Tasya melihat jemarinya dan benar saja sebuah cincin berlian mewah sudah melekat disana. Kapan ia memasangkannya ? kenapa tidak merasakannya sama sekali ? pertanyaan yang berkeliaran di dalam kepalanya.


Tasya memejamkan kedua matanya menarik napas dalam lalu menghembusnya kasar hingga beberapa kali. Ini adalah salah satu cara ia mengontrol emosinya saat ini.


Ia berusaha melepaskan cincin berlian mewah itu dari jari manisnya namun usahanya sia-sia. Ia tidak mengerti kenapa bisa pas di jarinya, dan membuatnya semakin bingung adalah dari mana lelaki gila di hadapannya ini mengetahui ukuran dari jarinya. Tasya kembali menatap Rio dengan tatapan tajam bagaikan silet yang akan menguliti Rio hidup-hidup, sedangkan Rio tampak menikmati tatapan tersebut.


"Lepaskan." Ucap Tasya dengan suara rendah meminta Rio melepaskan cincinnya. Rio hanya mengedikkan bahunya seraya tersenyum pada Tasya yang tampak kesal sejak tadi.


"Aku bilang lepaskan sebelum aku berteriak keras dan membuatmu malu." Ancam Tasya pada Rio. Namun bukannya merasa takut, Rio malah menantang Tasya untuk melakukan hal itu.


"Lakukan jika kau ingin berteriak." Ucap Rio dengan wajah santainya.


"Aku bilang lepaskan ! aku tidak mau memakai barang sialan ini." Teriak Tasya dengan sangat keras membuat Rio memejamkan kedua matanya.


Bagaimana jika nanti teman-temannya bertanya ? apa yang akan ia jawab. Seorang mahasiswi memakai cincin berlian apakah itu tidak berlebihan ? Tasya sungguh merasa ingin bunuh diri saja saat ini. Tidak sanggup menghadapi lelaki gila dihadapannya sekarang.


"Apa kau gila ? kau sungguh membuatku merasa jijik sekarang." Desis Tasya.


"Hei, kenapa kau bersikap berlebihan ? kau tidak dapat merubah takdir sayang, inilah takdirmu." Ucap Rio dengan mendekatkan wajahnya kearah Tasya. Membuat Tasya semakin emosi namun juga merasa gugup.


Setelah mengatakan itu dengan santainya Rio berjalan meninggalkan Tasya yang sedang frustasi. Tasya menjatuhkan dirinya ke lantai, menekuk kedua kakinya sambil menangis seorang diri di dalam ruang gelap itu.


-


Waktu sudah malam, Shawn tampak gelisah saat berada di ruangan kantornya, entah perasaan apa yang membuatnya hingga merasa gelisah seperti sekarang.


Lelaki tampan itu memutuskan untuk meninggalkan kantornya terlebih dahulu dan tidak jadi lembur karena ingin mengunjungi Fani yang saat ini masih berada di rumah sakit.


Sebelum ke rumah sakit, Shawn memutuskan untuk membeli beberapa buah-buahan dan sebuket bunga untuk Fani sebagai permintaan maafnya karena telah menyakiti wanita yang ia cintai.

__ADS_1


Shawn melewati koridor rumah sakit dengan wajah datar dan sombongnya. Namun semua itu sama sekali tidak menuruni kadar kegantengannya. Semakin ia memasang wajah sombong semakin terlihat seksi di mata para wanita.


Apalagi saat ini ia sedang memegang bunga dan bingkisan buah di tangannya. Sungguh perpaduan yang sangat manis dan indah jika di perhatikan. Kesan romantis dan pacar yang baik kini melekat pada dirinya.


Dengan santai ia masuk kedalam kamar perawatan Fani dan mendapati gadis itu sedang berbaring membelakangi pintu kamar.


Shawn perlahan meletakkan barang bawaannya di atas meja dan melepaskan jas mahalnya di atas sofa. Ia memperhatikan punggung mungil milik Fani dengan tatapan yang tidak dapat diartikan bersamaan dengan membuka kancing dua teratas kemeja putihnya.


"Bagaimana keadaanmu." Tanya Shawn dengan suara datar dan dingin, yang kini sudah duduk santai di atas sofa ruangan itu.


Mendengar suara Shawn membuat Fani semakin membenci dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia menyukai lelaki kejam yang tega melukai dirinya dan bahkan tega membunuh sahabatnya sendiri.


Tidak ingin mempedulikan pertanyaan Shawn padanya, Fani memilih untuk memejamkan kedua matanya seakan ingin membayangkan jika semua ini hanyalah mimpi buruknya saja.


Sesaat kemudian Shawn di kagetkan oleh panggilan dari seseorang.


"Kau simpanlah dulu, aku ada urusan jika sudah selesai aku akan mengubungimu nanti." Ucap Shawn pada seseorang di seberang telefon. Setelah mengatakan itu ia langsung mematikan panggilannya dan kembali memperhatikan Fani dari belakang.


"Apa kau ingin makan sesuatu ?" Tanya Shawn berusaha untuk memecahkan keheningan antara dirinya dan Fani.


"Aku membelikanmu beberapa buah, bangunlah." Kini suara dingin yang di dengarnya tadi tampak sudah berubah menjadi sangat hangat dan lembut.


"Aku tidak mau, aku ingin istirahat. Bisakah kau keluar." Ucap Fani namun dengan posisi yang masih sama.


"Yah baiklah, kau sebaiknya istirahat yang banyak." Ucap Shawn yang kemudian melangkah ke arah dinding dan menyandarkan tubuhnya di sana.


Fani mengira jika Shawn sungguh sudah pergi meninggalkannya, namun saat ia membalikkan badannya ternyata Shawn masih berdiri di hadapannya dengan tubuh yang bersandar ke dinding dan kedua tangan yang melipat didada sementara memperhatikan dirinya.


"Kenapa kau masih disini ?" Tanya Fani yang tampak kaget.


"Istirahatlah." Ucap Shawn dengan datar.

__ADS_1


Fani mengerutkan keningnya. Masa bodoh dengan Shawn, Fani kembali berbaring berusaha untuk tidur. Hingga beberapa saat telah berlalu dan kini dirinya tidak dapat memejamkan mata sama sekali.


Dengan kesal Fani bangun dari tidurnya dan membalikkan badannya kembali menatap Shawn yang masih sama dengan posisinya.


"Sampai kapan kau akan terus berdiri disana ?" Tanya Fani dengan kesal.


"Hingga kau tertidur. Jangan hiraukan aku." Jawab Shawn dengan cuek.


"Bagaimana bisa aku tidak menghiraukanmu dengan tatapan seperti itu ?" Ucap Fani.


"Apakah sebaiknya aku melihatmu dari luar saja ?" Tanya Shawn yang kini menjadi kesal. Apa salahnya jika ia hanya melihat Fani tertidur. Padahal sebelumnya mereka pernah tidur bersama.


"Iya sebaiknya kau keluar." Ucap Fani yang terus menatap kesal pada Shawn. Sedetik kemudian Shawn melangkah kearah pintu lalu membukanya lebar-lebar dan membiarkan dirinya berdiri tepat di tengah-tengah pintu tersebut.


Fani mengerutkan keningnya saat melihat tingkah Shawn yang tampak semakin hari semakin tidak waras.


"Apa yang kau lakukan." Ucap Sheva yang tampak bingung dan kesal.


"Lalu aku harus bagaimana untuk menjagamu, kalau kau tidak menyukai apa yang aku lakukan." Ucap Shawn.


"Aku menyuruhmu untuk keluar agar aku bisa istirahat. Bukan menyuruhmu untuk menjagaku. Aku tidak peduli kau pergi kemana terserah asalkan jangan berada di ruangan ini." Mendengar ucapan Fani, membuat Shawn kembali masuk dan menutup pintu rapat-rapat.


"Kau terlalu banyak bicara, aku lelah dan ingin tidur sekarang." Ucap Shawn yang kini sudah berada di atas tempat tidur pasien tepat di samping Fani.


Tbc ... 🌵


Jangan lupa di Vote yah šŸ™


Sekalian baca novel Author yang lain juga ;


- Die Or Be Mine

__ADS_1


- My Boyfriend Is An Idol


Terimakasih šŸ™šŸ˜˜


__ADS_2