Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Season 3 Erlon Cemburu


__ADS_3

"Om kok nggak bilang-bilang mau kesini," kata Danesh saat mereka semua sedang sarapan bersama.


Hanya Alra saja yang tidak ikut sarapan karena ia sampai sekarang masih marah bercampur kesal sama Erlon.


"Kejutan, supaya Danesh kaget kayak tadi," bisik Erlan. Namun, tatapan matanya terus saja mengarah ke Ana. "Oh ya, dimana Alra? Kenapa dia tidak ikut sarapan?" tanya Erlan pelan.


Danesh menjawab hanya dengan mengangkat bahu, karena ia memang tidak terlalu kepo dengan apa yang telah terjadi. Padahal tadi malam ia melihat sendiri dengan begitu jelas bagaimana Erlon dan Alra bertengkar hebat.


"Apa hadiah dari oma sudah Danesh buka?" Erlan sengaja bertanya lagi, karena ia ingin berlama-lama duduk di sana meskipun sarapannya belum di makan. Supaya ia bisa mencuri-curi pandangan ke Ana.


"Sudah," jawab Danesh singkat. Karena ia saat ini sedang mengunyah sarapannya. "Om, kenapa oma selalu saja memberi Danesh hadiah yang selalu Danesh inginkan? Padahal Danesh nggak pernah minta."


"Cantik," gumam Erlan pelan, tapi Danesh mendengarnya.


"Siapa yang cantik Om?"


Erlon dan Ana refles melepas sendoknya masing-masing setelah mendengar pertanyaan Danesh. Mereka berdua saling tatap sebelum tatapan mata mereka mengarah kepada Erlan.


"Om, tadi Danesh bahas hadiah yang oma berikan. Kenapa Om malah menjawabnya cantik?"


"Habiskan sarapanmu Danesh, setelah itu berangkat sekolah," kata Erlon datar. "Mi, setelah selesai sarapan tolong kamu masuk ke kamar. Jangan keluar jika aku belum pulang."


Erlan yang mendengar itu membanting sendoknya. Dan tanpa permisi pergi begitu saja ia juga tidak mengajak Aldo yang masih belum selesai sarapan.


"Om, kenapa malah pergi. Ini sarapannya belum di makan!" seru Danesh yang tidak tahu kalau sang papa saat ini sedang cemburu. "Om," panggilnya sekali lagi sehingga membuat Erlan terpaksa menoleh.


"Om ada urusan mendadak, Om pergi dulu sebentar." Erlan melambaikan tangan sambil tersenyum getir.

__ADS_1


"Tuan, tunggu saya!" Aldo dengan gerakan cepat meneguk air dalam gelas, karena ia merasa tenggorokannya serak. "Tuan, Nyonya. Saya permisi dulu. Buat Tuan muda Danesh jangan lupa belajar yang rajin," ucap Aldo setelah itu ia berlari menyusul Erlan.


Ana meraih tangan Erlon yang ada di bawah meja. Dan ia bertanya, "Papa mau nambah?"


"Sudah kenyang," jawabnya berbohong. Ia kemudian mengambil tisu mengelap mulutnya. "Apa Mimi dengar permintaan Papa yang tadi?"


"Iya, Pa. Mimi dengar." Ana memilih mencari aman karena tidak mungkin ia memberi tahu Erlon di saat Danesh masih sarapan.


"Mi, ambilkan Papa berkas yang ada di dalam kamar," perintah Erlon ke Ana.


Ana terlihat bingung karena ia tadi sudah memasukkan semua berkas yang Erlon minta. "Bukannya Mimi sudah memasukkan semu—"


"Yang ada di dalam laci itu lho, Mi." Erlon memotong ucapan Ana. "Yang paling bawah."


"Oh, baiklah Mimi ambil dulu. Danesh, Mimi tinggal dulu sebentar." Ana menuruti apa yang Erlon minta meski ia sudah tahu apa maksud Erlon memintanya masuk ke dalam kamar. Dan benar saja baru saja ia sampai di tengah-tengah anak tangga terdengar suara Erlon yang memberikan Danesh uang jajan lebih.


"Tadi Om Erlan yang katanya ada urusan mendadak, dan sekarang Papa ada urusan mendesak. Memang kalau kita kembar itu apa-apa harus sama semua. Termasuk dalam urusan mendadak dan mendesak."


"Papa tambah uang jajan kamu, asal kamu diam dan cepat berangkat ke sekolah nanti kamu bisa terlambat."


Danesh mengambil uang itu, tidak lupa ia juga mengucapkan terima kasih setelah itu ia pergi ke sekolah.


*


*


"Hubby, kak Erlan baru saja sembuh. Kenapa kamu malah berkata begitu di depannya." Ana merasa tidak enak dengan Erlan.

__ADS_1


Ternyata Ana dan Erlon masih menggunakan nama panggilan sayang mereka masing-masing. Di saat mereka hanya berdua saja seperti saat ini.


"Aku tidak suka saja, ada orang lain yang memujimu cantik selain aku." Erlon membawa Ana masuk ke dalam dekapannya. Karena posisi mereka saat ini sudah melakukan ritual suami istri. "Pokoknya, Honey hanya milikku seorang. Apa kamu paham?"


"Sudahlah, jangan cemburu lagi mungkin kak Erlan sedang merindukan Almarhum kak Aurora. Makanya dia menatap wajahku hanya untuk melepas rindu." Ana berusaha membuat Erlon mengerti, supaya kejadian yang tadi menyinggung perasaan Erlan tidak terulang lagi.


"Apapun alasannya, aku tidak akan pernah terima." Erlon rupanya seposesif itu.


"Udah ngambeknya ya, tadi 'kan. Udah dikasih vitamin supaya cemburunya hilang." Ana meletakkan kepalanya di dada Erlon. "Anak-anak sudah besar, buat apa Hubby harus menyimpan kata cemburu lagi di sini." Ana menunjuk dada Erlon. "Buang jauh-jauh, karena hidupku tidak akan seperti sekarang ini jika bukan karena Hubby."


"Jaga jarak dengan kak Erlan, jika Honey tidak mau mendengar kalimat pedas yang keluar dari mulut ini." Erlon dengan cepat membalik tubuh Ana sehingga posisi mereka sangat mendukung untuk membuat nyawa baru di rahim Ana. "Aku mau nambah, supaya rasa sesak di dadaku yang tadi berkurang."


"Jam berapa ini? Apa Hubby tidak takut terlambat ke kantor?" Ana bertanya hati-hati sekali takut Erlon akan ngembek lagi. "Hubby … ."


"Aku masuk siang, karena hari ini aku mau pergi ke luar kota." Erlon membenamkan wajahnya di tengkuk leher Ana. "Mungkin aku di sana satu minggu, bahkan bisa lebih. Makanya aku ingin mengisi daya sampai full biar kerjanya semakin semangat."


"Pasti aku akan sangat merindukan Hubby," kata Ana yang memejamkan matanya menikmati sentuhan Erlon. "Hubby juga jangan nakal disana, ingat anak dan istri." Ana mengucapkan itu masih dengan memejamkan mata.


"Honey ngomong apa sih, mana mungkin aku akan melupakan kalian." Erlon menggigit daun telinga Ana. "Sekarang gantian biar Honey yang memimpin permainan ini."


"Hubby saja, aku sukanya terima beres saja." Ana kemudian meremas rambut Erlon disaat Erlon menelusuri lembah yang penuh dengan semak belukar. "Hubby, aku nggak kuat." Ana membuka mata sehingga bisa melihat Erlon tersenyum mes*m.


"Ini belum apa-apa, Honey sudah menyerah saja." Erlon meremas dua balon Ana. "Tempat Favoritku dari dulu hingga sekarang, rupanya tidak pernah berubah."


"Karena aku rajin merawatnya jika tidak, mungkin bentuknya sudah tidak karuan lagi." Ana terkekeh geli mendengar kata-katanya sendiri. "Aku akan melakukan apa saja, asal Hubby senang dan puas."


Erlon yang sudah tidak tahan dari tadi dengan satu hentakan memasukkan adik kecilnya ke dalam rumahnya. Saat itu juga suara des@han dari kedua insan yang sudah tidak muda itu lagi bersahut-sahutan. Tetapi baru saja Erlon

__ADS_1


__ADS_2