Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Morgan Si Licik


__ADS_3

Erlan hanya bisa melihat Aurora dari balik kaca jendela, karena para dokter belum mengijinkannya masuk. Mereka takut Erlan akan membangunkan Aurora yang sedang beristirahat setelah melakukan operasi pengangkatan janin itu.


Kini Erlan bisa bernafas lega, saat mengetahui keadaan Aurora akan baik-baik saja, tapi disisi lain hatinya menjadi tidak tenang. Dikarenakan ia takut jika Aurora terbangun nanti akan menanyakan perihal anak yang tidak ada di dalam perut itu lagi.


Detik demi detik berlalu, Erlan masih setia berdiri di dekat jendela demi melihat Aurora. Tapi sebuah tangan kekar menepuk pundaknya sehingga membuat dirinya berbalik. "Daddy," panggilnya lirih.


Kenzo bisa melihat raut wajah putranya begitu lelah dan letih, ia tahu Erlan pasti tidak pernah beristirahat demi menjaga Aurora. "Pulang, dan istirahat, Nak. Biar Mommy yang akan menemani Aurora di sini." Kenzo juga memperhatikan bawah mata Erlon yang sudah ada lingkaran hitam. "Erlan, jangan keras kepala. Jika kamu sakit siapa yang akan menjaga dan menguatkan Aurora lagi? Atas apa yang telah menimpanya." Kenzo seorang ayah bisa merasakan kalau putranya sedang dihantui rasa bersalah.


"Erlan tidak bisa melakukan apa yang Daddy minta, karena Erlan belum meminta maaf kepada Aurora." Selain kutu buku, Erlan juga sedikit keras kepala. "Ini semua terjadi karena Erlan juga."


Kenzo tidak tahu harus menjelaskan Erlan seperti apa. "Kamu terkenal pintar Erlan, tapi kenapa dalam hal begini kamu menjadi b*doh."


"Daddy nggak tau, kalau saat ini Erlan takut. Takut jika Aurora meninggalkan aku," lirih Erlon.


"Aurora anak yang baik, dia tidak akan memperpanjang masalah ini." Kenzo menepuk-nepuk bahu Erlan.


"Lagi pula kalian bisa pergi bulan madu, membuat cucu yang banyak buat kami," sahut Zizi yang baru datang.


"Mom … ." Erlan langsung saja berhambur ke pelukan Zizi. Ia tidak peduli saat tatapan orang-orang mengarah padanya. Karena ia tidak malu memeluk Zizi seperti anak kecil di tempat umum seperti sekarang ini. "Kenapa Erlan dan Aurora harus kehilangan bayi itu, di saat kami sudah sepakat akan membesarkannya bersama-sama."


"Erlan, langit tidak selamanya bersinar pasti akan mendung juga. Seperti itulah hidup," kata Zizi yang menuntun Erlan untuk duduk. "Bayi itu, memang tidak ditakdirkan untuk melihat dunia ini."


"Mom, apa Aurora akan bisa menerima kenyataan ini? Sedangkan Erlan saja merasa begitu kehilangan."

__ADS_1


"Mommy yakin, Aurora akan menerima kenyataan ini. Meski terkesan terasa begitu pahit." Zizi melepas pelukan Erlan. "Dan untuk Erlan, jadilah laki-laki yang tidak mudah rapuh."


"Apakah Erlan boleh meminjam hati Mommy, supaya Erlan bisa melewati ini semua. Sungguh Erlan merasa ini kenyataan yang paling menyakitkan."


Kenzo duduk di sebelah kanan Zizi. "Erlan, kamu cuma butuh istirahat saja, karena tubuh serta otakmu tidak bisa diajak kerja sama lagi," ucapan Kenzo membuat Zizi mengangguk. "Lihatlah dirimu, Nak, kamu terlihat seperti bukan Erlan lagi," sambung Kenzo.


"Karena tubuh dan pikiran yang lelah, tidak bisa membuat jiwa dan raga kita berpikir jernih. Sehingga sesuatu yang kamu takutkan akan terus menghantui pikiranmu," kata Zizi berbicara bijak, kepada putra yang dulu selalu ia ajarkan tentang apa itu arti sebuah kehidupan yang sesungguhnya. "Inilah, kenapa Mommy terus saja bicara panjang lebar. Saat Erlan dan Erlon mengabaikan apa yang telah Mommy sampaikan. Sekarang terbukti, bahwasanya hidup itu bukan cuma kesenangan saja. Pasti ada kalanya kita akan berada di titik seperti ini, yaitu keputus asaan karena tidak tahu jalan keluarnya serta pikiran yang tidak karuan."


"Apa Erlon haus?" tanya Kenzo yang dari tadi sudah membawa air botol mineral.


Erlan mengangguk pelan. "Mommy, sama Daddy boleh pulang, karena Oma Daniar juga sedang sakit di rumah."


"Tidak apa-apa Erlan, Oma Daniar sudah lebih mendingan. Karena tadi sebelum kesini Daddy mengajak Mommy kesana dulu." Zizi membuka air minum itu untuk Erlan. "Minum dulu, supaya tenggorokan mu tidak kering."


Kenzo melihat ke arah Zizi, yang langsung saja mengedipkan mata. "Daddy pergi ke toilet dulu," pamit Kenzo yang melihat Erlan sudah menjenguk air botol itu.


"Mom, kenapa mata Erlan menjadi berat begini." Erlan menguap beberapa kali, sebelum matanya terpejam sempurna.


"Karena dalam botol itu, Daddy sudah menaruh obat tidur. Waktu kamu lengah tadi," kata Zizi menahan kepala Erlan agar bersandar di bahunya sebelum Kenzo datang membawa anak buah, yang akan membantu membawa Erlan pulang.


*


*

__ADS_1


Aurora membuka mata saat merasa tangannya ada yang memegangnya, serta suara tangisan yang terdengar sangat memilukan. Seluruh tubuh Aurora terasa tegang, di saat matanya terbuka sempurna. Ia melihat Morgan sudah ada di sana dengan mata yang merah menyala.


"Pembunuh, kembalikan anakku Ara!" kata Morgan yang langsung saja mencabut infus di tangan Aurora dengan kasar. "Kau boleh tidak membalas cintaku, tapi kenapa darah dagingku yang malah kau lenyapkan Aurora!" suara Morgan menggema di ruangan itu.


"Bukankah, sudah ku katakan, jika aku tidak sudi mengandung anakmu." Aurora tidak berani bicara terlalu lantang, karena ia merasakan sakit di bagian perutnya. "Sekarang apa maumu?"


"Kau masih menanyakan apa mauku? Setelah bayi yang tidak berdosa itu kalian bunuh, sungguh kau sama sekali tidak punya belas kasihan. Sekarang kau sama saja sepertiku Ara, yaitu kau seorang pembunuh." Morgan yang dulu menatap Aurora dengan penuh cinta kini berubah menjadi tatapan kebencian. "Sekarang kita tidak mempunyai perbedaan, kau adalah satu-satunya wanita yang telah membunuh seorang bayi yang tidak berdo—"


"Cukup! Jika kamu sudah tau itu semua, maka mau apa lagi kamu sampai datang jauh-jauh begini menemui ku." Aurora menutup tangannya yang mengeluarkan darah, bekas infus yang Morgan cabut.


"Aku cuma ingin, mengakhiri hidup seseorang yang telah meruntuhkan impianku," bisik Morgan. "Karena jika dia hidup, duniaku akan terasa selalu gelap." Morgan mengambil bantal yang ada di sopa.


"Sebelum itu terjadi, Erlan yang akan terlebih dahulu melenyapkan mu Morgan."


"Oh, ya. Kau tidak tau kah, kalau si kutu buku itu sedang tertidur pulas di rumah." Morgan menyeringai. "Sedangkan kedua mertuamu sedang asik bercint@," ucap Morgan berbohong, padahal Kenzo dan Zizi sedang kebingungan mencari dimana kamar rawat inap Aurora. Karena Morgan si licik telah menukar ruangan Aurora dengan ruangan dimana para jompo di rawat.


"Kamu pikir aku percaya? Kamu salah Morgan, karena itu tidak akan pernah terjadi."


Morgan yang terlanjur marah dan sangat kecewa dengan Aurora. Mengambil bantal yang ada di dekat Aurora, dengan kemarahan yang semakin menjadi-jadi. Morgan menutup wajah Aurora dengan batal, ia lalu menekannya sehingga Aurora kesulitan untuk bernafas.


Tangan Aurora berusaha menyingkirkan bantal itu, tapi Morgan tidak membiarkan itu terjadi.


Apakah kisah cinta Aurora dan Erlan akan sampai disini saja? Jika iya, ayo tebak dengan cara di komen😄

__ADS_1


__ADS_2