
Disisi lain Shawn tampak sudah menyiapkan kopernya yang berisikan pakaian dan keperluan yang lain.
Ia keluar dari apartemen miliknya kemudian menarik koper hitam itu dan langsung memasukan ke mobil sport putih miliknya.
" Ok mari kita mulai sayang." Kata Shawn dan langsung melajukan mobilnya kearah apartemen milik Fani.
Setelah beberapa menit perjalanan, ia sudah berada di besment apartemen Fani, ia memarkirkan mobilnya dan langsung turun berjalan ke arah lift, ia masuk ke dalam lift kemudian memencet angka enam.
Karena apartemen milik Fani berada di lantai enam. Baru ia akan menekan tombol agar pintu lift tertutup, tiba-tiba ada seorang yang menahannya.
"Upss." Kata pria itu.
Kemudian pria yang tak kalah tampan darinya itu langsung masuk kedalam lift, dan berdiri di sampingnya.
Pria itu tersenyum pada Shawn, namun tidak di balas oleh Shawn.
Pintu lift langsung tertutup. Shawn tidak menghiraukan pria itu ia sibuk melihat email yang di kirim dari orang kepercayaannya tentang perusahaan dan bebrapa bisnisnya, tidak ada perbincangan sama sekali hingga tiba di lantai yang mereka berdua tujui yaitu lantai enam.
Tinggggg .. pintu lift terbuka, tanpa menunggu lama, pria tadi berjalan duluan dari Shawn.
Shawn memperhatikan pria itu dari belakang, ia menaikan salah satu alisnya, ia baru sadar ternyata pria itu tinggal di lantai enam juga, dan membuatnya tak karuan adalah kamar pria itu hanya berselang dua kamar dari kamar Fani, yah sangat dekat. Pikirnya.
"Ia sudah berada di depan pintu, tanpa menunggu lama ia langsung, memasukan sandi pintu apartemen Fani, pintu pun langsung terbuka.
Sebelumnya orang suruhan Shawn sudah membobol sandi apartemen Fani dan mengirimnya pada Shawn makanya ia tau soal sandinya.
"Ckk, tempat yang benar benar kecil, tidak ku sangkah kau akan memilih yang ini, kau sangat pintar memilih tempat tinggal, agar bisa menggoda lelaki lain, dasar sialan."
Ia melangkah maju dan melihat sekeliling, ia berjalan hingga ke balkon, ia keluar dan melihat ke samping, yang benar saja pria yang ia temui di lift tadi sedang duduk dengan laptopnya di balkon kamarnya, ia tampak mengepalkan tangannya kemudian ia melangkah masuk kembali kedalam.
" Ckk, dasar penggoda, kau benar-benar membuatku ingin tetap tinggal di sini denganmu. " Kata Shawn dengan senyum jahatnya.
Ia langsung masuk ke kamar milik Fani dan tampak gadisnya sedang tidur, wajah yang tampak tidak terlalu jelas karena hanya di sinari oleh lampu tidur yang sedikit redup.
Shawn langsung meletakkan kopernya di depan lemari Fani, kemudian berjalan menuju tempat tidur Fani.
"Selamat malam wanita penggoda maafkan aku karena telat, dan tidak sempat membawakanmu bunga. " Katanya sambil mencium kening Fani. Kemudian ia langsung mengganti bajunya, dan berjalan ke arah kamar mandi untuk menggosok gigi, mencuci muka dan kakinya,setelah itu ia naik ke atas tempat tidur dan langsung tidur sambil memeluk Fani.
Pagi ini adalah hari minggu, tentu saja ini adalah hari libur untuk Shawn dan Fani karena tidak ada jadwal kampus.
Sudah pukul 06:40 Fani membuka matanya perlahan kemudian ia duduk dan langsung meregangkan badannya.
" Ahhhhhh enaknyaaa." Kata Fani.
Ia membalikkan pandangannya ke samping tempat tidurnya dan betapa kagetnya ia melihat sosok pria yang tidak ingin ia temui itu sedang tidur di sampingnya .
"Ahhhhh... kau." Teriak Fani sambil menarik selimut menutupi tubuhnya hingga bagian dadanya dan langsung menendang Shawn dari tempat tidur.
"Ahw." Kata Shawn sambil memegang pinggangnya karena sakit dan juga ia sudah berada di lantai.
"Apa kau tidak waras, ini masih pagi kenapa kau teriak teriak astaga menyebalkan sekali." Kata Shawn yang langsung berdiri dan berniat untuk tidur lagi.
"Apa yang kau lakukan disini, dari mana kau tau kalau aku sudah pindah dan tinggal disin." Tanya Fani yang langsung turun dari tempat tidurnya karena ia melihat Shawn sudah berada di atas tempat tidur lagi.
"Ayolah sayang ini masih pagi, aku masih mengantuk aku akan katakan jika aku sudah bangun nanti. " Kata Shawn yang langsung tertidur.
"Apa yang kau katakan, cepat bangun .. Hey aku bilang bangun." Teriak Fani dan memukul Shawn dengan bantal.
"Astaga, jika kau menggangguku lagi maka aku akan menciummu." Kata Shawn menatap Fani tajam sambil menahan bantal yang di gunakan Fani untuk memukulnya.
"Baiklah jika kau mau disini maka tetaplah disini, biar aku saja yang pergi." Kata Fani yang langsung berjalan menuju lemarinya dan mengambil kopernya hendak menyusun pakaiannya.
"Pergilah jika kau ingin pergi." Kata Shawn santai.
Fani menoleh kearah shawn setelah Shawn mengatakan itu, bagaimana bisa ia yang keluar dari apartemnnya sendiri terlebih lagi ia sudah membayar apartemen ini untuk enam bulan kedepan.
"Apa apan kau ini, apa maumu sebenarnya. " Kata Fani yang melotot pada Shawn.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu ? " Jawab Shawn cuek, yang masih berbaring di atas tempat tidur Fani.
"Apa kau benar benar orang yang tidak waras, kau selalu menggangguku , maafkan aku jika pernah menyinggungmu tapi tolong jangan seperti ini? " Kata Fani dengan matanya sudah berkaca kaca karena emosi.
"Itu karena kau adalah wanitaku, kemanapun kau berada aku akan selalu mengikutimu. " Jawab Shawn santai.
Mendengar itu, Fani semakin emosi ia langsung menangis karena sudah tidak tahan lagi dengan hidupnya sekarang.
Melihat Fani yang kembali menangis, Shawn langsung bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah Fani.
"Jangan mendekat." Teriak Fani.
__ADS_1
Shawn tidak mendengarkan Fani, ia langsung memeluk gadis itu kuat.
"Lepaskan, aku bilang lepaskan aku membencimu, ka..kau benar benar mengerikan." Teriak Fani dengan sorot mata yang sangat marah dan masih dalam pelukan Shawn.
Mendengar itu membuat Shawn menjadi sangat marah, Shawn langsung melepaskan pelukannya, ia berjalan mengambil pisau kesayangannya dari dalam celana yang ia letakan di atas kursi belajar Fani dan langsung saja ia menarik tangan kanan Fani mencengkramnya kuat dan mendorongnya hingga jatuh.
"Kau berkata aku mengerikan hah ? lalu siapa pria baikmu? pria yang di kampus yang tempo hari mengatakan jika dia merindukanmu ?
atau pria yang berada di sebelah apartemenmu ini ? dasar jal*ang kau benar benar wanita penggoda, kau sengajakan pindah kesini agar bisa dekat dengan pria itu ?" Kata Shawn yang berjongkok dan sudah menarik kuat rambut Fani.
"Ahhw , lepaskan kau menyakitiku , dasar pria gila. " Teriak Fani dengan suara tangisnya.
"Ckk ..lalu siapa pria warasmu ? pria yang bernama start itu atau pria tetangga apartemenmu ? kata shawn penuh penekanan dan masih menarik rambut Fani.
"Apa maksudmu aku tidak mengerti , pria siapa aku tidak tau, aku baru pindah kemarin jadi tolong hentikan." Kata Fani yang masih dengan tangisnya.
"Kau benar benar hebat, kau membela pria - pria sialan itu di hadapanku, dan kau mengatakan jika aku adalah pria mengerikan lalu sekarang kau mengatakan aku pria gila heh ? baiklah akan aku tunjukan padamu apa arti mengerikan yang sebenarnya."
Shawn melangkah lebih mendekat ke arah Fani dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.
" A..apa yang kau lakukan." Kata Fani yang sudah tersandar di depan lemarinya dengan wajah ketakutan.
Shawn berjongkok dan mengatakakan " Kau yang menginginkan ini bukan." Kata Shawn tersenyum miring.
Dan langsung mentancapkan pisaunya pada tangan kanan Fani .. srettttt... terlihat satu goresan besar di tangan Fani dan mengeluarkan darah.
"Ahhkkk." Teriak Fani sambil menahan lukanya.
Shawn tidak menghiraukan teriakan Fani sama sekali dan .. srettttt... Shawn sudah memberikan goresan kedua pada tangan Fani.
"Ahh sakitt ...hentikan. " Kata Fani dengan suara tangisnya.
"Memohonlah maka aku akan berhenti sayang. " Kata Shawn yang memperhatikan wajah Fani.
"Tidak kau benar benar tidak waras, keluar dari sini sialan." Teriak Fani kencang.
Sretttt... goresan ketiga tampak lebih besar dan dalam dari sebelumnya "Ahh lihatlah ini benar benar indah bukan ?" Kata Shawn dan tersenyum dan ingin menggoreskan kembali pisau di tangan Fani.
"Tidak, ku mohon hentikan sakit..ini sakit sekali." Ucap Fani yang terus terusan menggelengkan kepalanya dan menangis, darah tampak terus menetes kelantai.
Fani sudah tidak tahan lagi darah yang keluar juga sangat banyak, di tambah lagi ia benar - benar syok dengan tingkah laku Shawn yang sebenarnya.
Beberapa saat kemudian Shawn sadar akan apa yang ia lakukan "Sial !!" Pekiknya.
Dengan cepat shawn membersihkan luka Fani dan sisa sisa darah tadi , kemudian ia mengoleskan salep pada luka tadi.
"Ahww, ihsss. " Fani meringis kesakitan.
"Apakah sakit ?" Tanya Shawn dengan polosnya.
Fani tidak menjawab ia hanya melihat shawn dengan tatapan membunuh, kemudian ia alihkan pandangannya ke luar kamar."
Shawn tampak berhenti sejenak dan menatap wajah Fani beberapa saat yang membuat fani langsung melihatnya "Apa." Tanya Fani ketus.
"Tidak kau tampak sangat cantik jika sedang marah." Jawab Shawn lalu tersenyum kemudian lanjut mengobati luka di tangan Fani.
Mendengar itu membuat Fani merinding, bagaimana bisa ada pria aneh seperti Shawn dan tampak sedari tadi ia tidak fokus karena melihat Shawn mengobatinya dan lebih parahanya lagi.
"Astaga kenapa dia sangat tampan." Katanya dalam hati, tampa sadar Fani tersenyum dan melupakan kejahatan yang di lakukan Shawn padanya.
"Sudah selesai." Kata Shawn yang langsung membereskan alat alatnya.
Fani tidak menjawab ia hanya diam namun tidak terlihat ada perlawanan sama sekali.
"Aku minta maaf soal tadi. Itu semua karena kau yang benar benar sudah membuatku marah dengan mengatakan aku mengerikan jadi aku terpaksa melakukan hal itu padamu." Kata Shawn yang langsung memeluk Fani.
Fani hanya diam, ia tidak menolak pelukan shawn juga tidak membalas pelukan Shawn, ia kaget, takut, deg degan, dan senang semuanya bercampur aduk sekarang, bagaimana tidak perlakuan Shawn sekarang benar benar 180 derajat dari sebelummya, ia sangat lembut dan yahh seperti perlakukan seorang pacar pada umumnya.
Shawn melepaskan pelukannya lalu meletakkan kotak obat di atas meja belajar Fani "Kau ingin makan apa aku akan memasak untukmu." Kata Shawn dengan suara lembut.
Fani tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke balkon kamar.
"Kenapa , apa kau takut aku akan meracunimu." Kata Shawn lagi.
Fani hanya diam dan menunduk.
"Baiklah kau tunggu disini aku akan memasakkan sesuatu untukmu setelah itu aku akan membawakan ke sini." Kata Shawn mengelus puncuk kepala Fani dan langsung berjalan ke arah dapur.
Fani langsung berdiri dan menarik baju shawn membuat Shawn kaget dan mebalikkan badannya, dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Ada apa, kenapa kau jadi seperti ini, kau seakan akan tidak ingin aku tinggalkan." Tanya Shawn dengan senyum jahilnya.
Mata Fani langsung terbuka lebar dan tentu saja dia sangat kaget.
"Ckkk apa apaan kau ini aku hanya ingin mengatakan jika di dapur tidak ada apa apa jadi kau tidak usa memasak karena aku belum membeli bahan bahan makanan sama sekali." Kata Fani dengan kesal.
"Ohhh aku kira kau....." Shawn tidak melanjutkan kata katanya karena Fani sudah kembali melotot dengan tatapan membunuh padanya.
"Iya... baiklah aku akan menelfon seseorang untuk mengantarkan bahan makanan." Kata Shawn sambil berjalan untuk mengambil ponselnya di atas nakas samping tempat tidur Fani.
"Tidak, jangan." Teriak Fani.
Shawn kaget dan menaikan satu alisnya tanda bingung "Ada apa ?" Tanyanya.
"Aku tidak butuh bantuanmu, aku akan keluar dan membelinya sendiri." Tegas Fani.
Melihat ekpresi Fani, Shawn kembali tersenyum "Bagaimana bisa kau keluar dengan tangan yang terluka parah seperti itu , apa kau tidak malu jika orang orang melihatnya dan mereka akan berpikir jika kau ingin bunuh diri." Kata Shawn dengan wajah tahan tawanya.
"kauu .. ahhh dasar pria gilaaa , aku akan membunuhmu sekarang." Kata Fani yang langsung berlari ke arah dapur untuk mengambil pisau.
Baru di depan pintu kamar, ia langsung di peluk dari belakang oleh Shawn " Maafkan aku. " Kata Shawn dengan suara yang sangat lembut , dan masih memeluk Fani dari belakang.
"Lepaskan " kata Fani dengan nada tinggi.
"Tidak aku tidak akan melepaskannya sebelum kau memaafkanku." Kata Shawn lagi.
"Lepaskan dulu , a...a....aku.. "
Fani belum melanjutkan kata katanya karena ia bingung ingin mengatakan apa, ia tidak tega melihat Shawn memohon padanya seperti ini, namun ia juga masih membenci Shawn karena perlakuannya tadi.
Shawn langsung membalikan tubuh Fani dan sekarang mereka sudah tampak saling berhadapan, tanpa menunggu lama Shawn langsung mencium bibir Fani, mata Fani terbuka lebar, ia benar benar kaget.
Fani berontak dan berusaha mendorong tubuh Shawn dengan tangan kirinya, namun tenaganya kalah di bandungkan Shawn.
Karena merasa sudah tidak bisa tahan lagi, Fani langsung menggigit bibir Shawn hingga berdarah.
"Ahhhhww ,, kau.. " Kata Shawn yang melepaskan ciumannya dan memegang bibir bawahnya yang sudah mengeluarkan darah. Shawn menatap Fani tajam.
Melihat bibir Shawn yang tampak berdarah, Fani langsung merasa bersalah.
"Si..siapa suruh kau menciumku, aku sudah katakan untuk melepaskanku tapi kau tidak mau jadi yah sudah itu salahmu sendiri."
Mendengar perkataan Fani yang terdengar polos membuat shawn ingin mengerjainya.
"CK, kau cepat obati atau aku akan melaporkanmu ke polisi atas tindakanmu ini."
"Bagaimana bisa kau melaporkanku, jelas- jelas kau yang melecehkanku, yang ku lakukan adalah pembelaan diri." Jawab Fani dengan wajah ketakutan
"Baiklah jika kau tak ingin mengobatiku , makan aku akan menelfon sekarang." Kata Shawn yang berjalan ingin mengambil ponselnya.
"Tidak , jangan." Fani tampak menahan tangan Shawn
"Baiklah aku akan mengobatimu." Kata Fani yang menarik tangan Shawn untuk keluar dari kamar.
"Kenapa harus keluar." Tanya Shawn.
"Memangnya kenapa."
"Tidak apa, aku hanya berpikir jika mengobatiku dalam kamar akan lebih cepat sembuh." Kata Shawn dengan senyum jahilnya.
Fani tidak mendengarkan Shawn, ia langsung masuk kedalam kamar dan mengambil kotak obat tadi dan membawanya keluar.
Sekarang Fani sudah duduk di depan shawn, ia membuka kotak obat dengan tangan kirinya, melihat itu Shawn merasa bersalah karena sudah melukai tangan Fani.
"Sudah tidak usah , kau bisa mengobatiku dengan cara lain." Kata Shawn yang menahan tangan Fani.
Fani bingung ia menatap shawn dengan wajah polosnya, " Apa." Tanya Fani.
tanpa menunggu lama shawn langsung mengecup bibir fani
"Ahhh... kau." Kata Fani yang langsung menutup mulutnya dan mendorong Shawn.
"Aku sudah sembuh sekarang." Kata Shawn sambil tersenyum.
Hingga beberapa saat, Fani memukul kepala shawn kuat, wajah Fani tampak merah sangat merah karena menahan malu.
"Aku ...ah... " Kata Fani yang malu dan langsung berlari ke arah kamar mandi.
Melihat tingkah Fani, Shawn langsung tersenyum dan memegang bibirnya, sambil melihat ke arah gadis tadi berlari.
__ADS_1
"Sebentar lagi kau akan jadi milikku , gadis penggoda." Kata Shawn, dan langsung berjalan mengambil ponselnya untuk memesan makanan.
Tbc ... 🌵