
Reflek Tasya kaget lalu berteriak, namun dengan cepat kilat Rio membungkam mulut gadis itu dengan ciuman yang brutal.
Mata Tasya terbuka lebar karena kaget. Lelaki gila yang berdiri di hadapannya dengan santai merebut ciuman pertamanya dengan brutal yang seharusnya ia berikan pada lelaki yang ia cintai. Hingga akhirnya Tasya mendorong Rio dengan sekuat tenaga barulah Rio melepaskan ciumannya.
"Kau... dasar bajing*an apa yang kau lakukan." Ucap Tasya yang tampak emosi menghapus bekas ciuman tadi.
"Aku kira kau sangat mengerti dengan apa yang aku lakukan barusan nona." Rio menatap Tasya dengan wajah yang tidak merasa bersalah sama sekali, lalu menghapus sudut bibirnya dengan ibu jari tangannya.
"Aku mohon pergilah dari kehidupanku." Geram Tasya dengan tatapan sengitnya pada Rio.
Rio tersenyum kecut, dan mengangkat salah satu alisnya, sambil mengelus pucuk kepala Tasya.
Tasya memejamkan kedua matanya untuk sesaat menahan amarahnya dan menarik napas dalam sebelum menatap Rio.
"Jauhkan tanganmu dariku." Desis Tasya, yang menghempas tangan kanan Rio dengan kasar. Membuat lelaki itu mengangkat kedua tangannya ke atas, seakan memberi tau bahwa ia tidak akan menyentuh lagi.
"Ups...Tapi aku merasa, sepertinya kau menikmati sentuhanku nona." Ucap Rio dengan senyum jahatnya.
Tasya dapat melihat dengan jelas senyum jahat tersebut, tapi itu bukan menjadi alasan untuk dirinya merasa takut pada Rio, cukup kemarin sekarang tidak lagi.
Dengan berani Tasya maju kedepan hingga jarak antara ia dan Rio sangat dekat. Tasya mendongak memperhatikan wajah Rio dengan saksama.
"Ternyata setelah aku melihat wajahmu dari dekat kau memang persis seorang bajing*an."
"Jika begitu, perhatikan lebih baik lagi, apakah ada bajing*an setampan ini ?" Ucap Rio yang kembali mendekatkan wajahnya ke Tasya yang sesaat membuat Tasya merasa gugup.
"Aku akan membunuhmu, jika kau menggangguku lagi." Desis Tasya, yang masih bertahan dengan tatapan sengitnya yang diberikan pada Rio.
"Kau pasti tidak dapat melakukannya." Ekspresi Rio tampak santai yang membuat Tasya semakin marah.
Tanpa pikir panjang Tasya langsung menginjak kaki Rio kuat hingga membuat lelaki itu meringis menahan sakit.
"Ini baru permulaan." Tasya langsung berlari meninggalkan Rio yang menahan sakit begitu saja.
"Dasar kucing nakal." Desis Rio, sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Rio kembali ke ruangannya dan mendapati asistennya yang sejak tadi sudah menunggunya di dalam ruangan itu.
"Tuan, acaranya akan di mulai 15 menit lagi." Ucap asisten itu sopan.
"Baiklah, aku akan bersiap dulu, dan tolong kau selidiki mahasiswa kedokteran yang bernama Tasya berada di ruangan mana. Setelah itu perintahkan dia untuk menghadiri acaraku." Ucap Rio yang tampak merapikan setelan jasnya.
"Baik tuan." Ucap asistennya kemudian berlalu pergi meninggalkan Rio.
Hari ini adalah hari penting untuknya, ia akan di angkat dan di lantik sebagai Direktur Rumah Sakit milik Ayahnya. Dan kebetulan Rumah Sakit yang menjadi tempat peraktek Tasya adalah Rumah Sakit milik Rio.
Disisi lain Tasya merasa bingung karena seorang mahasiswa biasa seperti dirinya di perintahkan untuk menghadiri acara penting yaitu pelantikan Direktur baru Rumah Sakit tersebut. Padahal yang harusnya hadir hanyalah orang - orang penting dan berpengaruh di Rumah Sakit itu.
"Maaf dok, kenapa saya harus mengikuti acara tersebut ? mmm maksud saya, saya hanyalah seorang mahasiswa biasa dok, jadi saya rasa sedikit berlebihan jika saya mengikutinya, apa tidak bisa di gantikan dengan yang lain dok ?" Tanya Tasya pada dokter seniornya di rumah sakit itu.
"Apa kau ingin lulus tanpa hambatan ?" Jawab dokter wanita itu.
Mendengar ucapan dokter itu membuat Tasya semakin bingung, apa-apaan ini, kenapa malah tentangnya. Tasya hanya diam dan mengangguk kepalanya cepat.
"Jika kau tidak mau maka menurutlah, dan segera bersiap 5 menit lagi acaranya akan di mulai." Ucap dokter itu lalu pergi meninggalkan Tasya sendirian di depan pintu Aula Rumah Sakit dengan wajah bingungnya.
Saat masuk matanya dapat melihat sekelilingnya tidak ada anak baru selain dirinya. Di tambah lagi semua yang hadir adalah dokter-dokter spesialis dan berkelas yang di miliki Rumah Sakit tersebut.
"Sial, kenapa aku harus masuk. Dan sekarang aku tidak tau harus duduk dimana."
Hingga akhirnya ia memilih duduk di salah satu kursi paling belakang. Entahlah, mungkin itu adalah tempat yang terbaik untuk dirinya.
Acaranya akan segera dimulai, semua orang tampak memberikan tepuk tangan yang meriah untuk menyambut Direktur baru mereka.
Dan saat Tasya melihat ke arah panggung, rasa-rasanya ia ingin mati saat itu juga karena terkejut. Kenapa lelaki brengsek itu ada di sana, dan inikan acara pelantikan Direktur baru, apa jangan-jangan dia adalah direkturnya ? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di dalam otaknya.
Ia bahkan ingin teriak saat Rio dengan jelas memperkenalkan jika dirinya adalah Direktur baru Rumah sakit itu.
"Sial aku berurusan dengan orang yang salah." Ucap Tasya dalam hati.
Setelah selesai acara semuanya tampak sudah keluar dari ruangan itu tidak terkecuali Tasya. Namun, sesaat tangannya di tarik oleh seseorang dan kembali masuk ke dalam aula tersebut.
__ADS_1
Rio mendorong tasya hingga bersandar ke dinding, aula tersebut yang tampak gelap karena lampunya sudah di matikan dan tidak ada seorangpun di sana.
Tasya dapat merasakan napas mint milik Rio di wajahnya. Ia ingin berteriak dengan kencang saat ini namun ia urungkan niatnya saat mengingat kejadian sebelumnya, jika ia teriak mungkin saja Rio akan menciumnya kembali.
"A..apa yang lakukan ?" Tanya Tasya dengan perasaan takut dan gugup.
"Aku merindukanmu gadis nakal." Ucap Rio yang tampak memegang tangan kanan tasya dan menciumnya.
"Dasar gila, lepaskan." Ucap Tasya sambil memberontak pada Rio.
"Jangan memberontak sayang, orang akan melihat kita jika kau terus berontak." Rio segera meraih wajah Tasya dan menciumnya sekilas.
"Kau..dasar sialan kau selalu mengambil kesempatan dariku. Lepaskan atau aku akan berteriak."
"Berteriaklah jika kau ingin, karena semua tempat ini adalah milikmu sekarang."
"Apa kau gila, lepaskan."
"Tentu saja tidak sayang, milikku adalah milikmu. Dan Rumah sakit ini sudah menjadi milikku, itu artinya menjadi milikmu juga." Setelah mengatakan itu Rio meraih jari manis Tasya lalu memasukkan benda yang mungkin sangat disukai bagi kalangan wanita.
"Kau sekarang sudah menjadi wanitaku." Ucap Rio langsung memeluk Tasya kuat.
Tasya tidak dapat berontak karena pelukan Rio sangat kuat.
"Aku..aku tidak bisa bernapas." Ucap Tasya sembari memukul pundak Rio.
Sadar akan hal itu, Rio langsung melepaskan pelukannya.
"Aku akan memperingatkanmu kembali, KAU ADALAH WANITAKU." Ucap Rio penuh penekanan.
"Kenapa aku harus menjadi wanitamu, aku tidak mengenalmu." Jawab Tasya dan mencoba untuk keluar.
"Sudah terlambat sayang, aku tidak peduli jika kau mau atau tidak yang pasti kau sudah memakai cincin dariku maka aku menyimpulkan kau telah menerimaku." Ucap Rio sambil membelai rambut Tasya dan tersenyum miring.
Tbc ...šµ
__ADS_1
jangan lupa komen, like, dan vote yah š