Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
episode 24


__ADS_3

Ia tidak peduli reaksi Tasya padanya nanti, namun sekasar-kasarnya Tasya ia tetaplah seorang wanita yang akan luluh saat memohon namun Rio tidak akan memohon padanya karena ia akan mengancam Tasya agar gadis itu menurut dan membiarkannya menginap di rumah besar itu.


Beberapa menit berlalu Tasya keluar dengan jubah mandinya. Ia keluar dan mengintip setiap sudut ruangan namun tidak menemukan Rio didalam kamar itu.


Tasya menghembus napasnya kasar, kini pikirannya tidak sekacau tadi. Tanpa menunggu lama ia segera mengganti bajunya dengan baju tidur.


Tasya tidak bisa tidur saat ini, pikirannya kini fokus pada Fani yang berada di rumah sakit. Siapa laki-laki yang bersama Rio saat di ruangan Fani ? Waktu itu ia tidak sempat lihat wajahnya karena ketakutan mendengar suara Rio.


Tasya duduk di atas ranjangnya dengan kaki yang di tekut, dan tangan yang memeluk tubuh kecilnya, hanya dengan cahaya lampu tidur yang redup.


Rio membuka pintu kamar Tasya dengan perlahan tanpa sepengetahuan Tasya.


"Apakah dingin ?"


Suara bariton terdengar dari arah pintu, sontak membuat Tasya loncat dari tempat tidurnya karena kaget.


"Ah, tidak bisakah kau mengetuk dulu !" Ucap Tasya dengan nada suara yang tinggi karena emosi.


"Kenapa kau sangat heboh ? aku bahkan belum melakukan apa-apa padamu."


Rio melangkah masuk kedalam kamar Tasya tanpa mempedulikan Tasya yang masih terduduk dilantai seakan itu adalah kamar miliknya sendiri.


"Cihh, tidak tau malu ! kenapa kau seenaknya kesini ? "


Rio melangkah kearah Tasya lalu membantu Tasya berdiri. Sebelum Rio menduduki Tasya diatas tempat tidur dia memeluk pinggang gadis itu dengan kuat, seakan tidak ingin melepaskannya.


"Ada apa denganmu, lepaskan." Tasya mendorong Rio untuk melepaskannya namun Rio sama sekali tidak mempedulikan perkataan Tasya.


"Takut ?" Tanya Rio dengan wajah datarnya.


"Tidak." Jawab Tasya dengan cepat.


"Kau terlihat gemetar ?"


Perkataan Rio yang seperti inilah yang berhasil membuat Tasya marah. Entalah ! mungkin karena perkataan Rio selalu benar.


"Aku tidak gemetar."


"Berarti kau menyukai posisi ini ?" Pertanyaan konyol itu berhasil keluar dari mulut bejat Rio.


"Ah, lelaki brengsek ini. Lama-lama aku bisa gila jika terus bersamanya." Ucap Tasya dalam hati.

__ADS_1


"Lepaskan kakiku sakit."


Rio melepaskan Tasya dan mendudukinya diatas tempat tidur.


"Aku akan tidur disini." Ucap Rio tanpa rasa malu sama sekali.


Mata Tasya terbuka lebar saat mendengar ucapan Rio. Apakah ini akhirnya ? Apakah dia akan memberikannya pada lelaki bejat seperti Rio ? apakah dia akan di paksa jika tidak ingin melakukannya ? Kata-kata itu terus berkeliaran di dalam otaknya.


"Berhentilah bercanda, aku sedang pusing sekarang."


"Sejak kapan kau melihatku bercanda ?" Jawab Rio dengan polosnya melemparkan tubuhnya keatas ranjang.


"Tidurlah, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu, aku hanya ingin tidur disamping calon istriku." Rio tampak memperhatikan Tasya saat ia mengatakan kalimat itu. Sungguh, membuat Tasya emosi adalah suatu kesenangan tersendiri untuknya.


Sementara Tasya, menarik napas dalam bersamaan dengan kedua matanya yang dipejam karena menahan emosi.


"Ah, berhenti mengatakan hal itu. Astaga Tuhan aku sunggu menyesal telah bertemu denganmu." Ucap Tasya yang melotot tajam pada Rio.


Dan yah, seperti yang diharapkan, Rio berhasil membuat Tasya emosi saat ini. Tanpa rasa bersalah dia tersenyum dengan manis kearah Tasya.


"Tidurlah, bukankah kau ingin mendengar hal tentang sahabatmu itu ?"


"Kenapa dia bisa tau pikiranku." Ucap Tasya dalam hati.


"Aku tidak mengerti kenapa kau sangat ingin tahu tentang dia." Rio Tersenyum.


"Kau bodoh atau apa ? dia sahabatku, aku jarang berkomunikasi dengannya. Dan saat aku bertemu ternyata kondisinya tidak baik saat ini. Tentu saja aku khawatir dan ingin tau apa yang terjadi padanya."


"Jarang berkomunikasi bisa disebut sahabat ?" Tanya Rio mengerutkan keningnya.


"Tentu saja, kau tidak mengerti persahabatan antara wanita jadi sebaiknya kau diam, dan ceritakan padaku apa yang kau ketahui." Ucap Tasya yang terdengar seperti perintah untuk Rio.


"Aku akan menceritakannya tapi dengan satu syarat."


Tasya menyipitkan matanya tidak suka saat menatap Rio.


"Kau harus memijatku, dan besok sebelum aku bangun kau harus menyiapkan sarapan untukku."


Tasya bangun dari posisinya kemudian memukul kepala Rio dengan bantal ditangannya.


"Kau pikir aku pembantumu ?" Teriak Tasya membuat Rio ingin mencium bibir manis Tasya membuatnya diam.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda, tidurlah aku akan menceritakannya."


Tasya membaringkan badannya disamping Rio. Lampu kamar tidur yang redup membuat jantung Tasya berdetak tak karuan saat ini apa lagi hanya mereka berdua saat ini. Jantung Tasya rasa-rasanya ingin keluar mendadak dari dalam tubuhnya. Dan sialnya itu hanya berlaku untuk dirinya sendiri, karena Rio tampak biasa saja sejak tadi.


Rio sudah selesai cerita tentang Fani. Ia mengatakan hal-hal yang ia ketahui tanpa melewatkannya sama sekali.


Diluar dugaan Rio, Tasya malah memukul Rio karena tidak mengatakan yang sebenarnya saat di Bar, dan nekat keluar malam-malam untuk membawa Fani keluar dari rumah sakit itu agar tidak bertemu dengan Shawn.


"Kenapa kau seperti ini ?" Tanya Rio.


"Aku akan membawa Fani keluar dari rumah sakit itu apapun caranya." Tasya ingin turun dari tempat tidur namun di tahan oleh Rio.


"Jangan mengurusi kisah cinta orang lain. Mereka berdua saling mencintai dan Shawn tidak pernah mencintai wanita manapun selain sahabatmu itu."


"Apa kau gila, dia bahkan melukai Fani, Kau bilang itu cinta ? tidak ada namanya cinta kalau sudah melukai pasangannya seperti itu. Tidak aku harus pergi sekarang, lepaskan tanganku." Teriak Tasya.


"Diam di tempat, atau aku akan kasar padamu sekarang."


Damn..


Ekspresi wajah Rio saat ini sungguh membuat nyali Tasya menciut. Sungguh sangat seram apalagi saat matanya melotot tajam pada Tasya.


Rio turun dari atas ranjangnya dan mengambil ponsel miliknya yang berada di saku jas di sofa kamar itu. Kemudian mencari nama Shawn lalu menelpon lelaki itu.


Entalah, apa yang di pikirkan Rio saat ini. Yang pasti dia tidak akan membiarkan Tasya keluar malam-malam hanya untuk membawa Fani yang pastinya saat ini bersama dengan Shawn.


Sementara Tasya masih dengan wajah bingungnya duduk diatas tempat tidur.


Disisi lain, Shawn kaget bangun karena mendengar ponselnya yang terus bergetar sedari tadi. Ia menyipitkan matanya saat melihat nama Rio yang memanggil.


"Ada apa ?" Jawab Shawn di sebrang telepon.


"Apa kau berada dirumah sakit sekarang ?" Tanya Rio


"Tentu saja, dimana lagi."


"Mmm.. begini, aku hanya ingin menanyakan kapan dia keluar rumah sakit, sahabatnya ingin bertemu dengannya."


Shawn mengerutkan keningnya, lalu tatapannya menatap kearah Fani yang sedang tertidur.


"Kami akan keluar besok. Sahabat yang mana maksudmu." Tanya Shawn yang tampak bingung.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2