Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Terbunuh


__ADS_3

Erlon bersiul, seperti sedang memberi kode. Dan saat itu juga semua anak buah yang Bimo bawa jatuh tersungkur bersamaan dengan tubuh mereka yang meledak. Potongan daging berserakan di mana-mana. "Kerja bagus Samuel, sekarang kemarilah!"


Bimo dan Firman, saling tatap mereka berdua tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. "Samuel, brengsek. Kau ternyata penghianat!" seru Bimo yang marah sambil menunjuk Samuel.


"Habisi mereka Samuel! Dunia ini tidak membutuhkan manusia-manusia yang licik dan munafik." Di balik topengnya Erlon, meringis, karena salah satu peluru itu mengenai telapak tangannya di saat ia lengah tadi. Tapi meskipun begitu Erlon tetap mendekat ke arah Firman. "Sudahlah, kalian berdua telah berurusan dengan orang yang salah." Dengan satu tangannya Erlon mencekik leher Firman. Sampai pita suara Firman rusak.


Bimo yang melihat itu akan menyerang Erlon tapi sayang, Samuel dengan cepat menembak kedua kaki Bimo, sehingga Bimo jatuh tersungkur juga. "Bajingan kau, Samuel!" Bimo berusaha untuk berdiri. "Shitt!! Kenapa pengelihatanku menjadi buram." Bimo mengucek kelopak matanya. "Apa yang telah kau lakukan, Samuel. Bedebah!" Bimo akhirnya memutuskan untuk merangkak dan terus saja mengeluarkan kata-kata kotor.


"Aku tidak melakukan apa-apa, ini karena peluru itu telah Tuan Erlon olesi dengan racun yang sangat mematikan," kata Samuel, menakuti Bimo. "Apa Anda punya wasiat terakhir, biar saya bantu buat menulisnya dengan setiap tetesan darah Anda."


"Akhhhh … ." Bimo mengerang. "Dasar pecundang, berani melumpuhkan lawan dengan cara kotor begini!" teriak Bimo yang merasa seluruh tubuhnya kini tidak bisa digerakkan.


"Cara Anda jauh lebih kotor, apa Anda lupa bagaimana Anda mengancam kami para anak buah, supaya menuruti semua keinginan Anda ya—" Kalimat Samuel terpotong di saat melihat Erlon menjadikan kepala Firman sebagai bola, menendangnya kekiri dan kekanan.


"Matilah, karena alam semesta pun tau kalau kau tidak pantas hidup." Erlon mengambil samurainya lagi dan membelah tubuh Firman menjadi beberapa bagian. "Selamat tinggal kawan, yang telah menjadi lawan." Erlon seperti bukan dirinya lagi, ia mengambil jantung Firman lalu memakannya. "Lumayan, Enak juga. Apa kamu mau Samuel?"


"Erlon!! Kau apakan Firman, jangan pernah sakiti sahabatku!" Bimo tidak tahu saja kalau Firman sudah Erlon habisi. "Firman! Jawab aku, apa kamu baik-baik saja?" tanya Bimo, yang semakin merasa kesulitan untuk bersuara.


"Biar aku beritahu, Firman sudah tidak ada, Dia telah menyusul wanita yang tidak tahu diri itu." Erlon mendekati Bimo, karena ia penasaran dengan benda kecil yang menempel di telinga Bimo. "Penyedap suara," kata Erlon pelan. Ia berjongkok mengambil penyadap suara yang ada di telinga Bimo. "Aku tau, kaulah yang ada di balik ini semua, Morgan!!" Erlon membuang penyedap suara itu di bawah kaki Samuel. "Injak sampai hancur Samuel!" seru Erlon. "Dan bawa laki-laki, sialan ini ke ruang bawah tanah. Setelah itu bersihkan ini semua," perintah Erlon kepada Samuel, karena ia ingin melihat keadaan Anak yang terdengar terus saja menangis di alat yang ia pasang di telinga.


"Baik Tuan, apa Boy tidak mau makan ini semua?"

__ADS_1


"Jangan bodoh, Samuel, Boy bisa mati. Karena darah mereka sudah tercampur racun." Erlon lupa kalau Samuel tidak pernah memberikan mereka racun.


"Tuan, racun yang mana? Saya cuma menanam peledak di tubuh mereka. Apa Anda sedang mengigau?" Samuel memberanikan diri membuka suara.


"Oh, ya. Kenapa aku jadi pelupa kalau begitu terserah kamu saja, yang penting bersihkan ini semua." Saat Erlon membuka sarung tangannya, darah segar menetes.


"Tuan, tangan Anda terluka. Samuel berlari menyusul Erlon yang baru saja akan menaiki anak tangga. "Tuan! Biar saya yang akan mengeluarkan peluru itu!" Saking paniknya Samuel berteriak.


"Istriku yang akan mengeluarkan pelurunya," kata Erlon yang mulai menaiki anak tangga dengan begitu santai.


"Mampus kau, Erlon, karena Morgan sebentar lagi akan datang untuk melenyapkan ka—"


Samuel, menutup mulut Bimo dengan lakban. "Siapkan saja suaramu, untuk mengerang kesakitan. Karena setelah ini … ah, sudahlah. Nanti kamu juga akan tau sendiri."


*


*


"Bisakah, Honey mengeluarkan peluru ini dari telapak tangan ku?" Erlon memperlihatkan Ana telapak tangannya yang berdarah.


"Kita kerumah sakit, aku tidak bisa melakukan ini. Karena aku tidak memiliki pengalaman untuk mengeluarkan pe—"

__ADS_1


"Mama Divya seorang Dokter, aku yakin buah tidak jatuh, jauh dari pohonnya," potong Erlon. "Aku yakin, kamu pasti bisa. Lakukan sekarang."


Ana menggeleng. "Mama Divya memang Dokter, tapi aku tidak memiliki bakat dalam hal ini. Ayolah Hubby, kita lebih baik ke rumah sakit saja," ajak Ana yang tak kalah panik dari Samuel tadi.


"Honey, aku percaya kepadamu." Erlon mengulurkan telapak tangannya yang kiri. "Di lemari paling bawah, Ada kotak P3K lengkap dengan gunting dan juga alat yang lain."


"Aku tidak bisa, tolong jangan begini." Tangan Ana meraba rahang Erlon yang kini sudah di tumbuhi bulu-bulu halus. "Hubby, aku mohon turuti perintahku. Kita harus pergi kerumah sakit sekarang."


"Buat apa kita kerumah sakit, jika kamu bisa membantuku." Erlon meraih tangan Ana lalu menciumnya. "Honey, lakukan sekarang. Sebelum suamimu ini kehabisan darah."


Mendengar itu Ana berdiri, ia tahu membujuk Erlon sama saja menanam biji bunga yang sudah digoreng. Mustahil akan tumbuh begitu juga dengan Erlon yang begitu teguh dengan pendiriannya. "Sekarang apa yang harus aku lakukan, ini untuk yang pertama kalinya aku melakukan ini semua." Hati Ana yang mudah rapuh dan tersentuh, membuat dirinya tidak bisa menahan air mata yang sudah mengenang.


"Aku akan membantumu Honey, jangan menangis," ucapan Erlon membuat air mata Ana jatuh. "Kamu pasti bisa."


"Jika nanti aku gagal mengeluarkan peluru ini, maka jangan menolak lagi untuk pergi kerumah sakit." Di tangan Ana, sudah ada gunting dan beberapa alat yang lain. "Aku harus mulai dari mana?"


"Ambil pelurunya dulu, setelah itu cuci luka ini dengan alkohol sampai bersih kemudian dijahit, mudah sekali bukan?"


Ana kesulitan untuk menelan ludah. Karena kata-kata Erlon yang begitu lancar saat memberitahu dirinya. "Ini pasti sakit, apa tidak ada obat bius?"


"Tidak usah cari yang tidak ada, aku tidak akan merasa kesakitan selagi yang melakukannya adalah Honey."

__ADS_1


"Tidak sakit? Apa mungkin?" Ana semakin takut. Hatinya semakin bertambah menjadi tidak karuan. "Mana ada manusia di jahit secara hidup-hidup tidak akan merasa kesakitan."


"Aku sendiri," jawab Erlon.


__ADS_2