Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Membangunkan, Macan yang Tertidur


__ADS_3

"Aku tidak mau, jika Hubby tidak ikut denganku." Tidak ada yang bisa Ana lakukan selain pasrah, ketika Erlon memaksanya masuk ke dalam ruangan yang tersembunyi di balik lemari itu. "Jangan tinggalkan aku sendiri aku mohon …," pinta Ana yang takut terjadi sesuatu dengan Erlon.


"Apa Honey, meragukan kemampuan ku?"


Erlon memegang kedua pipi Ana.


Cairan bening mulai membasahi pipi Ana. "Bukan meragukan, tapi aku takut Hubby akan kalah, mengingat mereka memiliki banyak sekali anak buah."


"Itu yang di namakan meragukan," lirih Erlon, yang tahu Ana saat ini sedang mengkhawatirkan dirinya. "Ini demi keselamatanmu dan calon anak kita, ayolah menurut saja untuk kali ini saja. Jangan keras kepala."


"Itu suara Mila, jangan-jangan dia ingin membalas dendam kepada kita." Ana semakin erat mencengkram baju Erlon. "Kita berdua sembunyi di sini saja, abaikan mereka yang berteriak-teriak tidak jelas."


"Justru, aku ingin mengakhiri ini semua, mereka hanya menjadi benalu dalam rumah tangga kita." Dengan satu kali dorongan yang pelan Ana mundur beberapa langkah. "Aku akan kembali," ucap Erlon yang menutup pintu lemari itu, yang otomatis akan membuat pintu ruang rahasia itu juga akan terkunci sempurna. "Jangan buang-buang tenaga buat berteriak, itu percuma karena kamu hanya akan mendengar suara dari luar, sebab ruangan itu di desain kedap suara." Erlon memasang alat kecil di telinganya, supaya bisa mendengar suara Ana.


"Baru saja kita merasakan, bagaimana manisnya sebuah cinta. Sekarang kita kembali lagi harus berpisah."


Erlon yang mendengar itu semua, semakin ingin menghabisi musuh-musuhnya dengan cepat. Supaya tidak akan ada lagi yang mengusik keluarganya. "Sabar, Sayang. Aku melakukan ini demi keluarga besar kita juga." Erlon memasang baju anti peluru lengkap dengan topeng besinya.


"Takdir! Sampai kapan aku harus begini!!" teriak Ana bersamaan dengan isak tangisnya yang mulai kedengaran. "Tuhan, aku akan meminta tolong, Engkau lindungilah suamiku jangan biarkan para musuh melukainya sedikit saja.

__ADS_1


"Briana, istriku. Pujaan hatiku, aku akan membantai mereka satu persatu dengan sangat mudah. Kamu bersabarlah setelah ini tidak akan ada lagi yang berani mengusik keluarga kita."


*


*


"Buka topeng mu Erlon, kami sudah tahu kalau kamulah yang berada di balik topeng sialan itu." Firman si cacat, berkata begitu sehingga membuat Erlon yang masih berada di tengah anak tangga menghentikan langkah kakinya. "Bajingan, kenapa diam di sana, turun!!" seru Firman.


"Aku sudah salah besar, membiarkanmu hidup, ternyata mulutmu lebih pedas daripada cabe." Erlon tertawa renyah, ia sama sekali tidak terlihat takut meski Firman, membawa banyak sekali anak buah. Tak lupa Mila, dan Bimo juga ikut. Hanya Morgan yang tidak kelihatan batang hidungnya.


"Dimana calon istriku, dasar psychopath gila, kembalikan Adik manisku!" Bimo tanpa tau malu menyebut Ana calon istrinya.


"Erlon, lu tega membunuh calon anak kita. Demi anak yang dikandung gadis sialan itu." Mila akan membuat hubungan Ana dan Erlon menjadi berantakan dengan cerita yang telah ia rekayasa. "Andai lo tau, anak yang dikandung Briana itu adalah anak Bimo, bukan darah daging lu." Mila perlahan maju beberapa langkah. "Rupanya, lu mudah sekali ditipu. Anak yang nyata-nyata darah dagingku sendiri dengan mudahnya lu bunuh. Dan sekarang giliran anak haram itu lu anggap anak, sungguh di luar nalar."


Erlon mengeraskan rahang, di balik topengnya, rasanya ia ingin menyobek mulut Mila yang begitu lancang. Setelah berani mengatakan anak yang dikandung Ana bukan darah dagingnya. "Wanita ular, tutup mulutmu sebelum aku yang menutupnya menggunakan bom hiroshima."


"Kamu hanya sendirian Erlon, mana bisa mengalahkan kami yang banyak begini." Firman lupa, Erlon seperti kucing yang memiliki sembilan nyawa.


"Aku sama sekali tidak takut, meskipun banyak kalian dua kali lipat dari ini." Terdengar suara tepuk tangan membuat Erlon semakin meradang.

__ADS_1


"Sombong sekali," desis Bimo. "Turun cepat! Buktikan seperti apa itu kemampuanmu!"


"Mansion ini terlalu suci, untuk darah kotor kalian." Erlon kembali lagi menuruni anak tangga. "Kalian semua, tamu yang tidak diundang. Berani sekali mengusik macan yang lama tertidur." Tatapan mata Erlon tertuju pada salah satu anak buah yang Bimo dan Firman bawa. Anak buah itu seperti mengawasi gerak gerik Erlon. "Sudah lama aku menunggu momen, seperti ini." Erlon tersenyum simpul, kemudian berdecak.


Mila ulat bulu yang tidak tau malu berlari ke arah tangga, ingin memeluk Erlon. "Erlon, jika lu ingin selamat maka pergilah bersama gue, tinggalkan wanita murahan seperti Ana." Mila kini melingkarkan tangan mungil di pinggang Erlon. "Erlon, jawab gue!"


Erlon menjulurkan jari telunjuk ke arah wajah Mila, telunjuk itu menyentuh pipi lalu, bergerak ke hidung kemudian berhenti di bibir Mila. "Sudah bosan hidup, rupanya, tanpa mereka tau Erlon diam-diam mengambil samurai yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Dengan gerakan cepat ia menebas kepala Mila hingga darah segar menyembul keluar.


Potongan kepala Mila, bergelinding tepat di depan Bimo dan Firman. Mereka semua tercengang melihat itu semua. Seolah lidah mereka kelu untuk mengeluarkan satu kalimat saja.


"Semoga lu tidak tenang di alam sana, karena begitu banyak dosa yang telah kau perbuat di atas muka bumi ini." Erlon berjongkok mengambil tubuh Mila, ia tidak ragu melempar tubuh tanpa kepala itu ke arah Firman. "Nih, tangkap. Tubuh wanita yang lu sayangi." Erlon sama sekali tidak kesusahan saat melempar tubuh Mila. "Kalian sama-sama, menjijikan."


"Kurang ajar, brengsek!" Bimo yang marah melepas tembakan ke arah perut Erlon. "Mati saja kau bedebah!"


Bukannya kabur, Erlon malah tetap berdiri santai. Sehingga membuat Bimo heran dan kembali lagi melepas tembakan mengenai lengan Erlon, tapi sama saja perut maupun lengan Erlon tidak mengeluarkan darah setetes pun. Bimo terlihat sedang berpikir sejenak, akhirnya ia sadar kalau Erlon menggunakan kostum anti peluru.


"Keparat, ternyata dia menggunakan kostum anti peluru!! Maju dan habisi dia," perintah Bimo pada anak buahnya, sambil terus melepas tembakan pada tubuh Erlon.


Sedangkan Ana yang mendengar suara tembakan itu, mendadak lututnya menjadi lemas. Pikirannya tertuju pada Erlon. "Tuhan, jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada suamiku. Aku mohon."

__ADS_1


Erlon tersenyum lagi, saat suara Ana terdengar begitu indah di telinganya, seolah memberikannya dukungan membuat dirinya semakin bersemangat untuk melenyapkan orang-orang munafik yang ada di depannya saat ini.


__ADS_2