
Erlon tidak beranjak sedikitpun meninggalkan Ana, setelah ia dan Samuel berhasil menjinakkan bom itu. Mereka lalu menanam bom tersebut di ruang bawah tanah.
"Honey, wajahmu yang mulus dan putih kini menjadi lebam," ucap Erlon. "Aku juga akan berjanji akan membalas perbuatan mereka lebih dari ini." Kini tangan Erlon mengambil air hangat yang Samuel bawa tadi.
"Apa boleh saya tetap di sini Tuan?" Samuel rupanya ingin mencari mati, bertanya begitu.
"Boleh, Asal kepalamu terlepas dari tempatnya," jawab Erlon datar.
"Saya permisi Tuan, karena ucapan Anda membuat bulu kuduk saya berdiri." Samuel menunduk hormat. "Jika Anda butuh apa-apa lagi, panggil saja saya Tuan."
Erlon tidak menjawab, karena ia sedang fokus mengobati luka Ana. Tanpa ia sadari luka pada tangannya juga semakin banyak mengeluarkan darah.
Samuel juga tidak menyadari itu semua. "Tuan, saya permi—"
"Mati atau hidup?" tanya Erlon membuat kalimat Samuel terpotong.
Samuel yang ditanya begitu, dengan cepat mengambil langkah seribu. "Saya memilih hidup, Tuan," kata Samuel yang langsung saja keluar dan menutup pintu dengan sangat hati-hati, ia tahu saat ini suasana hati Erlon sedang tidak baik-baik saja.
"Penakut!" desis Erlon, yang membuka baju Ana untuk segera di bersihkan. Namun, saat tangan Erlon hampir saja menyentuh kulit Ana, tiba-tiba suara ketukan pintu membuat Erlon menghentikan gerakan tangannya. "Hmm, ada apa lagi Samuel?"
"Tuan, Dokter Mawar sudah datang!" seru Samuel dari luar memberitahu Erlon. "Tuan, apa Dokter Mawar boleh masuk?"
Erlon memang menghubungi Mawar, untuk memeriksa Ana. Jujur saja Erlon sangat khawatir ia takut janin yang ada di perut Ana, akan kenapa-napa mengingat usia kandungan Ana masih bisa dihitung jari. "Sepuluh menit lagi." Tangan Erlon dengan telaten membersihkan tubuh Ana.
"Tapi kata Dokter Mawar, itu terlalu lama. Dikarenakan dia hari ini punya jadwal opera—"
"Suruh saja Tante Mawar pergi, jika tidak mau menunggu tapi dengan syarat … ." Erlon menjeda kalimatnya.
"Syaratnya apa, Tuan?" Pikiran Samuel sudah berkelana entah kemana. Di saat matanya tidak sengaja melihat paha Mawar yang putih bersih.
Erlon tidak menjawabnya, karena ia memang sengaja ingin membuat Samuel menebaknya.
"Erlon bilang apa, Samuel?" tanya Mawar yang semakin mendekat ke arah Samuel. "Kenapa malah diam? Samuel, kamu kerasukan?" Mawar menyentuh kening Samuel. "Tidak panas, lalu kenapa dia diam seperti patung?"
__ADS_1
Samuel merasa jantungnya berdebar-debar, wajahnya juga menjadi bersemu merah. "Be-belum ada ja-jawaban," kata Samuel gagap.
"Sejak kapan kamu memiliki penyakit ga—"
"Tante ngapain? Pengang kening Samuel seperti itu?" Erlon ternyta sudah berdiri di depan pintu.
Hening … dan mereka bertiga saling tatap satu sama lain. Tapi tatapan mata Erlon lebih ke arah Samuel. Sedangkan Samuel menatap Mawar bergantian dengan menatap Erlon yang terlihat bingung.
Waktu terus berjalan tapi mereka masih terdiam, tanpa ada yang berani membuka suara, sehingga suara Ana yang berterik histeris membuat ketiganya langsung panik.
"Tidak! Hubby tolong aku!" jeritan Ana terdengar ketakutan.
*
*
"Apa calon bayi kami tidak apa-apa?" tanya Erlon, kepada Mawar, setalah ia berhasil membuat Ana jauh lebih tenang.
"Tidak perlu takut, dia baik-baik saja," jawab Mawar tersenyum.
Ana merasa malu saat Erlon mengecup keningnya di saat Mawar masih ada di sana, ia tidak habis pikir kenapa Erlon sekarang menjadi tidak punya malu begini, dan main sosor saja.
Erlon bertanya, saat melihat Ana hanya diam saja, dan tidak merespon ucapanya. "Honey, apa ada yang sakit?"
Ana menggeleng, karena ia sebenarnya ingin bertanya tentang bom itu. Tapi karena Mawar masih di sana, ia jadi tidak enak menanyakan itu semua.
"Romantis sekali, Tante juga mau satu laki-laki yang seperti Erlon." Mawar sengaja mengatakan itu, padahal ia sama sekali tidak mau menikah lagi. Dikarenakan ada trauma di masa lalu.
"Laki-laki seperti Erlon banyak sekali," ucap Erlon sambil membenarkan posisi kepala Ana.
"Meskipun ada, mereka mana mau sama Tante." Mawar tidak tahu saja, kalau Erlon sudah tau semua kisah kelamnya di masa lalu.
"Kebalik, bukannya tante yang menolak mereka semua secara terang-terangan? Saat mereka menyatakan cinta ke Tante." Mulut Erlon tidak bisa di rem. "Jangan begitu deh Tante, tidak baik tau."
__ADS_1
"Mommy kamu kemana? Kenapa nggak kelihatan dari tadi?" Mawar malah mengganti topik pembicaraan ke hal yang lain, karena jika pembahasan Erlon sudah sampai ke sana pasti ia akan mati kutu, terjebak dalam ucapannya sendiri. "Ana mungkin mau menjawab Tane, jika Erlon tidak mau memberita—"
"Mulai deh, melenceng dari pembahasan yang tadi," kata Erlon yang memotong perkataan Mawar. "Sampai kapan Tante menjanda, apa sampai kulit Erlon keriput?"
"Aish, Lain kali saja Tante datang kesini lagi. Sekarang Tante ke rumah sakit dulu." Mawar menyerahkan beberapa vitamin buat Ana. "Tetap diminum ya, karena ini vitamin buat si dedek juga. Kalau begitu Tante pamit dulu Ana, dan saran Tante Ana nggak boleh terlalu kecapekan. Oke."
"Kecapekan olahraga di atas ranjang tidak masalah kan, kalau yang itu?"
Mendengar pertanyaan Erlon, Ana rasanya mau menghilang dari sana sekarang juga. Malah dirinya yang merasa sangat malu. "Stt, nanya apa sih," gumam Ana pelan tapi Erlon bisa mendengarnya.
"Gini lho Honey, apakah nanti kalau aku membuatmu capek karena habis menengok an—"
"Kalau untuk itu, Erlon libur dulu. Karena calon dedek bayinya mudah ngambek, dan hal yang tidak kita inginkan mudah saja terjadi." Mawar menjelaskan kepada Erlon.
Ana malah semakin malu, ia diam-diam mencubit pangkal paha Erlon dari dalam selimut.
"Agghh, Honey. Sakit ngapain cubit di sana nanti adik kecilku bangun gimana?"
Mawar menepuk jidatnya. "Kamu Erlon, benar-benar mirip Daddy dan Mommymu, ucapanmu terlalu ceplas-ceplos."
"Gimana mau membantah, Mereka orang tua Erlon, Tante. Yang pasti semua kelakuan nyeleneh mereka ada semua pada Erlon tapi, untuk kak Erlan dia kebagian sisi baik mereka."
"Terserah kamu deh Erlon, kepala Tante jadi pusing mendengar setiap kalimat mu."
"Nikah solusinya, biar kepala Tante Nggak pusing lagi. Gimana Honey ucapanku benar, kan? Erlon mengangkat tangan Ana, ia lalu mencium nya. "Biar tidur, ada yang nemenin. Bisa main di tempat gelap-gelapan juga."
"Hubby, sudah. Aku malu," bisik Ana.
"Erlon memang begitu Ana, Tante sudah terbiasa mendengar kata-kata Erlon yang lebih tajam dari pisau." Mawar tidak pernah memasukkan ke dalam hati, apapun yang mulut Erlon lontarkan. "Sekali lagi Tante mau pamit, semoga cinta kalian sampai ke anak, cucu."
Saat Mawar berbalik tidak sengaja ia malah menabrak tubuh Samuel. Hingga mereka berdua jatuh, tapi Samuel dengan cepat mengganti posisi sehingga tubuhnya lah yang menjadi tempat mendarat Mawar.
Erlon dan Ana melihat adegan itu seperti slow motion, mereka membuka mulut lebar-lebar.
__ADS_1
Komen hadir para pembaca Ayuza😊