
Hati Alra terasa seperti tertusuk duri, ia tidak menyangka Vanno dengan mudah dan entengnya memutuskan dirinya. "Kenapa jadi begini, Vanno! Kamu tega!" teriak Alra, dengan air mata yang bercucuran. "Aku tidak terima kamu memutuskan aku seperti ini, Vanno!" Alra beranjak dari duduknya kemudian menyambar kunci mobil, ia berniat ingin mencari Vanno. "Pokoknya aku harus menemui Vanno." Alra beberapa kali mengusap air matanya yang terus saja menetes. Ia juga tidak menyadari kalau Ana dan Erlon melihat dan mendengar semua ucapannya.
"Alra mau kemana kamu?" tanya Erlon.
Alra langsung saja diam membisu seribu bahasa, ia tidak mau menjawab pertanyaan Erlon. Karena ia merasa ini ada kaitannya dengan Erlon, maka dari itu mulutnya terasa terkunci enggan untuk terbuka.
"Alra sayang, kamu mau pergi kemana?" Giliran Ana yang bertanya lemah lembut. "Alra, anak Mimi. Ada masalah apa? Sini cerita sama Mimi." Ana mendekati Alra. "Alra sayang ⦠."
"Mi, sudahlah biarkan saja dia," kata Erlon yang measukkan kedua tangannya ke sakunya. "Alra, percuma kamu membuang air matamu yang berharga. Hanya untuk menangisi laki-laki itu."
"Pa, masuk gih! Nanti Mimi nyusul ke kamar." Ana sengaja menyuruh Erlon masuk duluan. Karena ia takut akan terjadi pertengkaran antara Alra dan Erlon. "Pa, sana!" Ana mengedipkan matanya ke Erlon.
"Lebih baik Alra kuliah yang benar, jangan main cinta-cintaan dulu," ujar Erlon sambil berjalan melewati Ana dan Alra. "Coba Alra lihat, om Erlan sampai sekarang belum menikah. Sedangkan kamu anak yang kemarin sore sudah sok-sokan pacaran. Nggak malu sama om Erlan yang sudah berumur?"
Kuping Alra terasa panas saat mendengar Erlon, ia lalu dengan lantang membalas perkataan Erlon. "Oh, ya, apa Papa lupa? Papa menikah dengan Mimi waktu Mimi usianya 19 tahun. Begitu juga oma Zizi." Alra mengusap sisa lelehan air matanya. "Lantas kenapa Alra tidak boleh hanya sekedar berpacaran?"
Langkah kaki Erlon terhenti. "Begini jika pergaulan mu terlalu bebas." Erlon yang sudah sampai tangga menoleh. "Inilah hasil dari laki-laki, lakn*t itu. Membuat kamu menjadi gadis yang suka melawan dan menentang kehendak orang tua."
"Apa Papa juga lupa?" Alra tersenyum getir. "Papa juga dulu seperti Alra, menentang Opa Ken. Papa juga terpaksa menikah dengan Mimi karena Papa sudah melecehkan Mimi. Iya, kan?
__ADS_1
"Kenapa mulutmu semakin lancang sekali Alra!" Suara Erlon menggema di ruang tamu. Dengan langkah lebar ia kembali mendekati Alra. "Apa begini caramu berbicara kepada Papa, apa ini juga salah satu ajaran anak berandalan itu?"
"Ini ajaran Papa sendiri, apa Papa puas sekarang mendengar jawaban Alra." Alra mengambil pisau pengupas buah. "Bunuh saja Alra sekarang, jika memang Papa tidak pernah membiarkan Alra hidup bahagia."
"Baiklah, jika memang ini yang kamu inginkan." Erlon mengambil pisau itu dari tangan Alra. "Gadis kecil yang dulu Papa sayang, yang dulu Papa manjakan kini berani melawan hanya karena laki-laki yang tidak jelas bebet bobotnya."
Alra memejamkan mata, saat Erlon mengarahkan pisau itu ke jantungnya. "Bunuh saja Alra, karena dunia ini tidak asik."
"Dasar bocah tengil keras kepala." Erlon membuang pisau itu. "Bawa dia beristirahat Mi, sepertinya gadis pintarku yang dulu kini menjadi bod*h."
"Bodoh atau pintar itu bukan urusan Papa!" ucap Alra yang langsung berlari.
*
*
"Iya Pa, Vanno di terima tapi menjadi OB," jawab Vanno jujur. "Tapi bagi Vanno tidak masalah. Kerja apapun yang penting dapat menghasilkan uang. Itung-itung buat biaya kuliah Vanno juga."
Morgan mengusap wajahnya dengan kasar. "Maaf kan, Papa. Andai saja dulu Papa tidak sejahat itu. Mungkin kamu dan Alena tidak akan menderita begini." Beginilah Morgan, ia akan terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Pa, yang lalu biarlah berlalu yang penting sekarang Papa sudah tidak seperti dulu lagi," kata-kata Vanno selalu saja membuat Morgan tersentuh. "Jalan takdir kita memang begini, maka kita tidak bisa merubah apapun."
Morgan menepuk bahu Vanno. "Apa Papa boleh menanyakan sesuatu?"
"Boleh, Papa mau menanyakan apa?"
"Apa kamu sudah memutuskannya?" tanya Morgan ragu-ragu.
Vanno menunduk sambil mengangguk. "Iya," jawabnya lirih. "Alra memang tidak pantas bersanding dengan Vanno,Pa." Vanno ternyata sudah sadar diri, kalau ternyata dia dan Alra bagikan bumi dan langit. "Alra hidup di mansion bergelimang harta, sedangkan Vanno hidup pas-pasan."
"Baguslah kalau kamu sudah sadar Nak, Papa juga ingatkan kamu jangan pernah berhubungan lagi dengannya. Apapun yang terjadi dan alasannya."
"Serendah itukah keluarga kita di mata mereka, apa mereka pikir kita ini parasit?" tanya Alena yang baru saja pulang kerja. "Jika suatu hari nanti Alena menikah dengan sugar daddy, maka kehidupan kita akan berubah drastis. Dimana orang-orang yang tidak kenal pun langsung ngaku-ngaku sodara."
"Menghalulah, sampai haluan itu menjadi nyata." Vanno tertawa kencang setelah beberapa detik mengucapkan itu. "Sugar daddy, ternyata selera kakak bukan kaleng-kaleng." Vanno yang tadi sempat bersedih kini bisa bercanda gurau dengan sang kakak.
"Selera akak memang tinggi, tapi itu tidak masalah. Karena kebanyakan cerita di novel itu juga tentang si miskin dan si kaya. Gimana, masuk akal 'kan?"
"Alena kamu lebih baik istirahat saja, kamu pasti sangat capek." Morgan tidak pernah menyangka kalau kedua anaknya tidak pernah mengeluh walaupun hidup mereka serba kekurangan.
__ADS_1
"Namanya juga kerja Pa, ya. Pasti ada capeknya." Alena duduk di sebelah Vanno. "Tumben nggak telpon-telponan sama ayang." Alena belum tau kalau Vanno dan Alra sudah tidak memiliki hubungan lagi.
"Vanno berangkat kerja dulu, giliran Kakak yang jaga Papa." Vanno berdiri. "Karena Mama lagi pergi, katanya cuma sebentar tapi sampai sekarang belum pulang juga.*