Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
episode 19


__ADS_3

"Kau tidak akan kemana - mana, karena kau harus menghabiskan malam ini bersamaku." Kata Rio meletakkan gelas minumnya dan berjalan ke arah Tasya.


Tasya membulatkan matanya saat mendengar perkataan Rio yang sudah tampak melangkah ke arahnya.


Tasya berbalik berniat untuk keluar dari dalam ruangan itu, tapi sayang tangan kekar Rio sudah menahan pergelangan tangan mungil gadis itu.


"Lepaskan. " Berontak Tasya.


"Apa kau pikir akan semudah itu ?" Ucap Rio sambil menarik pergelangan tangan Tasya dan mendorongnya ke salah satu sofa ruangan itu, yang membuat tasya terjatuh hingga sekarang posisi Tasya di bawah tubuh kekar Rio.


"Tolong jangan seperti ini, aku mohon." Tasya sudah bercucuran air mata, jantungnya berdegub sangat kencang karena merasa ketakutan.


Ia terus mengutuk dirinya kenapa ia harus datang ke tempat ini dan bertemu dengan lelaki brengsek tersebut.


"Tenanglah aku tidak akan membuatmu terluka jika kau tidak memberontak." Ucap Rio yang mulai mendekatkan wajahnya ke arah Tasya.


Hingga deru napasnya sangat terasa oleh gadis itu reflek Tasya menutup matanya.


"Apa kau menyukainya sayang." Tanya Rio yang terus mengelus kepala Tasya.


"Tidak, aku mohon jangan seperti ini." Ucap Tasya dengan suara gemetar karena takut.


"Ck, Aku tidak suka bibir yang mengucap kebohongan, jangan sampai aku mencium bibir mu ini sampai tidak berbentuk Tasya." Ucap Rio sembari mengelus bibir Tasya pelan.


Rio tampak tersenyum licik, lalu kembali mengelus kepala Tasya dan mendekatkan wajahnya.


Tasya menggeleng kuat menandakan ia tidak ingin di cium oleh rio apa lagi di bibir. Namun di luar dugaan Rio malah mengecup kening Tasya pelan.


Rio kembali menatap Tasya dengan intens, tanpa berkata apa apa. Membuat jantung Tasya kembali berdegub kencang.


"Ini yang terakhir kau menyebut nama pria lain di hadapanku." Ucap Rio datar lalu menaikkan salah satu alisnya.


Tasya kaget, bagaimana bisa pria di depannya ini berkata seperti itu, padahal mereka baru saja bertemu dan pria ini bukan siapa siapanya.


Tanpa pikir panjang tasya langsung mengiyakan perkataan dari Rio dengan cepat.


berpikir Rio akan melepaskannya setelah ini.


"Pintar, Kau gadis yang penurut. " Ucap Rio sembari mencium bibir Tasya.


Sontak tasya langsung mendorong Rio sekuat tenaga lalu berlari keluar.

__ADS_1


Rio tersenyum miring, membiarkan gadis itu berlari keluar karena ia yakin ia akan bertemu lagi dengannya.


"Aku akan bermain denganmu. " Ucap Rio tersenyum kecut.


Ā -


Pukul dua dini hari Fani terbangun karena merasa tenggorokannya kering dan kepalanya terasa sangat sakit.


"Ahww ihsss." Fani sambil memegang kepalanya.


Sontak membuat Shawn yang tidur di sampingnya ikut terbangun.


"Kenapa, apa kau sudah mengingat apa yang kau lakukan. " Tanya Shawn datar tanpa ekspresi. Yah pria itu sudah menahan emosinya sejak tadi.


"Kenapa aku bisa di sini. " Fani merasa bingung karena seingatnya ia berkumpul bersama teman temannya di bar.


"Kenapa? kau ingin bersama pria itu ?" Shawn sudah turun dari tempat tidur lalu berdiri di depan tasya tak lama ia berjalan dan duduk di dalah satu sofa di kamar itu.


" Aku ingin pulang. " Ucap Fani.


" Pergilah jika kau mau aku tidak melarangmu dan besok kau akan mendapati mayat pria brengsek itu."


" A..apa maksudmu jangan pernah kau menyentuhnya." Ucap Fani dengan wajah marahnya.


Shawn tersenyum licik, lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Tiba - tiba layar televisi di depan mereka menyala dan menayangkan Start yang sedang di siksa oleh orang suruhan shawn.


Fani menutup mulutnya kaget, dan matanya yang terbuka lebar "APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA !! Teriak Fani pada Shawn.


"Kau yang memintanya bukan." Ucap Shawn yang duduk di sofa kamar itu dengan menyilangkan salah satu kakinya.


"Apa kau gila, dia tidak melakukan apa apa kenapa kau menyiksanya."


"Dia tidak melakukan apa apa, tapi dia sudah mengajakmu ke tempat itu dan kau..kau juga tampak menikmati bahkan kau mencium si brengsesk itu bukan, jadi selamat menikmati tayangannya." Ucap Shawn sambil mengangkat bahunya lalu tersenyum.


Shawn terus menatap layar televisi di depannya dengan sesekali memamerkan senyum kecutnya, sedangkan Fani gadis itu sudah menangis dan berusaha mengingat kejadian sebelumnya yang membuat Shawn marah besar.


Tiba - tiba Fani melihat pisau milik Shawn di bawah bantal tempat tidur itu, dengan cepat ia mengambilnya lalu mengarahkan pisau itu ke lehernya, sontak membuat Shawn berlari ke arahnya.


"Lepaskan dia, atau aku akan bunuh diriku sekarang "

__ADS_1


"Kau..dasar bodoh lepaskan ! apa kau sudah tidak punya otak ?" Bentak Shawn yang terus melotot pada Fani. Ia melangkah mencoba ingin mengambil pisau itu, tapi Fani terus mundur.


"JANGAN MENDEKAT!! " Teriak Fani.


"Kau benar-benar menguji kesabaranku. " Ucap Shawn langsung menelfon seseorang dan DUARRRRR ... !!!! Suara bunyi tembakan berasal dari dalam televisi itu. Start tampak sudah jatuh tersungkur dengan darah di mana mana.


Fani terkejut, langsung menjatuhkan dirinya, ia terus menggelengkan kepalanya masih tidak percaya atas apa yang di lakukan oleh Shawn pada sahabat baiknya Start. Ia benar benar menyesal telah bertemu dengan shawn pria gila berhati iblis tersebut. tidak lama Fani langsung jatuh pingsan saat itu juga.


Ā 


-


Ting..tong.. ting..tong..!! terdengar suara bel pintu dari luar. Tasya melihat jam di dinding kamarnya waktu masih pukul empat pagi.


"Siapa yang berkunjung di jam segini, ah mungkin tukang pos." Pikir Tasya.


Ia berjalan dengan menggendong popy - kucing kesayangannya.


Saat tiba di depan pintu Tasya membuka pintu dan di tutupnya kembali dengan cepat.


Dia ! yang berdiri di balik pintu ini adalah pria yang semalam hampir melecehkannya, pria gila.


Bagaimana dia bisa mengetahui rumahku, apa dia benar benar tidak waras sampai mengikutiku ke sini.


Tasya melihat sekeliling "Sial kenapa aku tidak mengikuti ayah dan ibu saja keluar negeri." Sesal Tasya. Ayah dan ibunya keluar negeri karena ada urusan pekerjaan disana.


Ingin rasanya Tasya bersembunyi dalam lubang paling kecil di dalam rumahnya jika itu memungkinkan. Pria itu mengetuk pintu dengan pelan membuat kesan yang mencekam bagi Tasya.


"Buka atau aku akan membakar rumah ini." Ucap pria itu.


"Sial, dia tidak mungkin segila itu kan." Pikir Tasya. Namun, tak lama terdengar seperti pemantik api.


"Astaga apa dia benar benar akan melakukannya? "


Tasya langsung berlari ke dalam kamar miliknya meletakan Poppy di dalam tempatnya lalu mengambil tas dan mengisi semua barang barang keperluannya.


"Kabur dari sini." Adalah kalimat yang terus terlintas di benaknya.


"Yah aku harus keluar dari sini."


Tasya langsung berlari keluar melalui pintu belakang, dan berjalan ke arah jalan raya. Di lihatnya pria yang belum di ketahui namamya itu, masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Ah terserahlah dia mau ambil apapun dalam rumah itu aku tidak peduli."


Tbc... 🌵


__ADS_2