Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Season 3 Erlan Sembuh


__ADS_3

Alra keluar dari ruangan Erlon dengan perasaan yang tidak menentu. "Apa jangan-jangan aku ini anak pungut, karena aku selalu saja diperlakukan seperti ini," desis Alra sambil menghentakkan kakinya beberapa kali. "Pokoknya aku harus mencari cara, supaya Papa berubah pikiran, untuk tidak mengirim ku ke rumah Opa Ken."


Samuel yang melihat Alra keluar akhirnya bisa bernafas lega, lalu ia dengan cepat menghampirinya. "Non Alra," panggilnya.


Alra yang dari tadi cemberut, dengan cepat merubah ekspresi wajahnya ketika melihat Samuel semakin mendekat ke arahnya. "Om, sini cepetan!" seru Alra.


"Apa lagi yang akan Non Alra rencanakan," gumam Samuel yang sekarang bisa menebak raut wajah Alra. "Jangan sampai Nona Alra membuat masalah lagi," ucap Samuel merasa takut. Karena Alra sudah membuatnya hampir saja di bunuh oleh Erlon.


Alra semakin tersenyum manis, saat Samuel sudah ada di depanya. "Om, aku mau kasih anak Om tiket." Alra mengeluarkan tiket yang tadi Erlon berikan. "Kalau nggak salah namanya Gamma, kan?" tanyanya basa basi, padahal Gamma teman mainya di mansion dulu.


"Benar Non," jawab Samuel meski ia sudah tahu Alra sebenarnya hanya berpura-pura saja.


"Iya, sudah. Om tolong kasih tiket ini ke Gamma saja ya, soalnya Alra lagi males buat liburan." Alra meletakkan tiket itu di telapak tangan Samuel. "Jangan bilang-bilang Papa, ini uang tutup mulut buat Om." Alra mengedipkan sebelah mata. "Titip salam juga buat Gamma, suruh kapan-kapan dia main ke mansion." Alra menepuk pundak Samuel sebelum pergi.


"Non! Jangan buat masalah lagi, cukup waktu itu saja. Yang hampir saja membuat nyawa saya melayang," kata Samuel. "Dan tiket ini, saya akan kembalikan ke Tuan," sambungnya lagi.


"Terserah Om Samuel saja!" sahut Alra yang sudah menjauh.


Samuel mengusap wajahnya kasar. "Ternyata Non Alra, tidak mudah di atur-atur, sama seperti Tuan Erlon dulu."


*


*


Di Singapura, Zizi dan Kenzo begitu senang, saat dokter psikiater Erlan mengatakan kalau putra mereka sudah sembuh dari depresinya walaupun belum sepenuhnya. Tapi itu sudah membuat mereka bisa bernafas lega setelah 19 tahun mereka berusaha mengembalikan mental Erlan.


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan, Nyonya," pamit dokter itu setelah menyampaikan kabar bahagia.


"Sekali lagi terima kasih Dok, kalau bukan karena Anda mungkin putra kami tidak akan sembuh," ucap Kenzo.

__ADS_1


Dokter itu menjabat tangan Kenzo. "Itu memang tugas saya, Tuan." Dokter psikiater Erlan begitu baik, ia selama ini tidak pernah putus asa ataupun mengeluh meskipun Erlan sudah mencoba membunuhnya beberapa kali. "Nanti kalau terjadi apa-apa, jangan sungkan-sungkan. Hubungi saja saya langsung."


"Semoga apa yang kita takutkan tidak pernah terjadi," kata Zizi yang mendapat anggukan dari Kenzo. "Erlan akan sembuh seratus persen, meski itu terdengar sedikit mustahil."


"Nyonya, tidak ada yang tidak mungkin, yakin dan percayalah kalau Tuan Erlan akan sembuh total." Dokter itu mengeluarkan dua cincin dari sakunya. "Lihatlah, Tuan Erlan telah melepas dua cincin ini dari jarinya, tanpa saya minta."


Zizi memegang dadanya, ia merasa sesak saat melihat dua cincin yang memiliki tanggal di dalamnya. "Itu tandanya, Erlan juga ingin sembuh?"


"Iya, Nyonya. Maka dari itu bantu Tuan Erlan untuk menghapus ingatannya tentang almarhum istrinya."


"Pasti Dok, itu akan kami lakukan. Karena sudah terlalu lama Erlan menderita." Kenzo langsung mengerti, tentang apa yang dokter itu ucapkan.


*


*


"Anak Mommy mau kemana?" tanya Zizi saat melihat Erlan keluar dari kamar.


"Erlan nggak keberatan kalau Mommy ikut?"


Erlan tidak menjawab, ia terlihat sedang berpikir.


"Kebetulan Mommy juga mau mewarnai rambut," kata Zizi berbohong. "Kita pergi ke salon, langganan Mommy yang dulu itu saja ya, apa Erlan masih ingat?"


"Iya … ." Hanya satu kalimat yang keluar dari mulut Erlan. Tapi itu sudah mampu membuat hati Zizi merasa menghangat. Karena Erlan baru kali ini ditanya dengan jawaban yang nyambung.


Zizi yang ingin mengetes ingatan Erlan lanjut bertanya, "Serius? Erlan masih ingat?"


"Iya, di dekat kantor Daddy yang lama, kan?" Suara Erlan terdengar serak-serak basah. Saat bertanya begitu.

__ADS_1


Zizi yang mendengar itu tercengang, karena ingatan Erlan begitu kuat. Padahal waktu itu usia Erlan baru saja dua belas tahun. Zizi juga yakin Erlon pasti tidak akan mengingatnya tapi dengarlah Erlan dengan enteng menjawabnya.


"Mommy, kasih tau Daddy dulu. Kebetulan hari ini Daddy libur." Senyum Zizi terus saja terukir, karena sudah sejak lama ia menginginkan Erlan berkomunikasi begini meski jawaban Erlan tetap singkat padat dan jelas. "Erlan bisa tunggu Mommy di mobil." Perkataan Zizi membuat Erlan mengangguk.


Setelah beberapa menit, Erlan dan Zizi sudah ada di dalam mobil. "Biar Mommy yang menyetir, Erlan cukup duduk saja. Oke!" Mata Zizi tidak henti-hentinya melihat wajah Erlan. "Apa Erlan mendengar ucapan Mommy?" Zizi mersih tangan Erlan.


"Mau sampai kapan Mommy berbohong?" tanya Erlan tiba-tiba.


Wajah Zizi yang tadi terlihat tenang, kini berubah ketakutan ia pikir depresi Erlan kumat lagi. Tapi ia berusaha terlihat tenang. "Mommy butuh jawaban, bukan pertanyaan apa Erlan mengerti?"


"Sampai kapan? Mommy akan tetap menyembunyikan ini semua dari Erlan." Tatapan Erlan lurus ke depan.


Zizi yang takut, nanti Erlan akan ngamuk di tengah jalan dengan cepat ia melepas sabuk pengamanya. "Kita jangan pergi sekarang ya, sayang. Lain kali saja." Zizi sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Erlan bicarakan. "Ayo, kita turun saja."


Erlan tidak bergeming, ia malah diam sambil mengeluarkan air mata. Zizi yang melihat air mata Erlan dengan cepat mengambil tisu tapi tangan Erlan menghalanginya.


"Nak, kamu kenapa? Apa ada kata-kata Mommy yang tidak kamu suka?"


"Air mata ini akan terus mengalir, sebelum Mommy berkata jujur." Lag-lagi perkataan Erlan tidak terdengar begitu nyambung di pendengaran Zizi.


"Erlan sayang, Mommy sama sekali tidak pernah memyembunyikan apa-apa dari kamu," kata Zizi yang meraba dahi Erlan. "Kamu tidak panas lalu, kenapa nada bicara mu begini?"


"Morgan! Laki-laki itu yang ingin sekali Erlan lenyapkan dari muka bumi ini," ucap Erlan yang membuat Zizi kaget bukan main.


Padahal selama ini Zizi dan Kenzo menyimpan rahasia itu rapat-rapat supaya Erlan tidak tau kalau yang telah membunuh Aurora itu Morgan.


"Nyawa harus di banyar dengan nyawa!"


"Apa yang kamu bicarakan Erlan, nyawa siapa yang harus di bayar nyawa juga." Tangan Zizi gemetaran. "Jangan aneh-aneh Erlan, kamu baru saja sembuh." Sungguh saat ini Zizi takut.

__ADS_1


Takut kalau Erlan tau kebenarannya.


"Dia yang telah membunuh Aurora! Bagimana bisa Mommy dan Daddy meyembunyikan ini semua dari Erlan!"


__ADS_2