Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Gagal Kabur


__ADS_3

"Kurang ajar," ucapan Morgan sempat didengar oleh Ana.


Ana terus saja berlari tapi tiba-tiba ia berhenti. "Apa dia ada di dalam mobil itu?" Ana terlihat gelisah karena saat ini ia sedang memikirkan keadaan Erlon. "Gimana ini, jangan sampai laki-laki itu membunuhnya juga." Ana ternyata mengira Erlon masih berada di dalam mobil. "Apa yang harus aku lakukan, kembali atau pergi meminta bantuan sama kak Erlan."


"Cari ke sebelah sana! Dia hanya wanita tidak mungkin larinya cepat," seru Morgan.


Ana memutuskan untuk berlari lagi, karena ia tahu Erlon pasti akan baik-baik saja. Meski di dalam lubuk hati, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Erlon. "Aku harus bisa lari," gumam Ana pelan sambil berlari, ia tidak memperdulikan teriakan Morgan yang beberapa kali memanggilnya.


Ana beberapa kali menoleh ke belakang untuk mematikan kalau Morgan sudah tidak mengejarnya lagi tapi, dugaannya salah ia malah melihat Morgan berlari sambil tersenyum. "Tuhan, tolong selamatkan aku."


Tanpa Ana tahu Morgan membawa busur panah. "Berlarilah, aku sudah tidak sabar ingin berburu." Morgan lalu mengambil satu anak panah. "Satu … dua … ." Anak panah itu dengan cepat menancap di pergelangan tangan Ana. "Yah, sudah lepas aja … belum sampai tiga, pakai acara meleset segala." Morgan dengan santai berjalan tidak berlari seperti yang tadi.


Ana yang berlari merasakan ada sesuatu yang menancap di tangannya."Anak panah," ucapnya yang kini merasa tungkai kakinya sangat lemas, tapi ia berusaha untuk tetap berlari. Namun, tidak lama kemudian pandangannya menjadi buram. "Rencanaku untuk kabur sepertinya gagal." Ana jatuh tersungkur.


Morgan bersiul-siul, terlihat di raut wajahnya ia sangat senang. "Jika saja, kamu tidak kabur pasti anak panah ini tidak akan melukaimu." Morgan dengan enteng mencabut anak panah tersebut. "Nanti kakak, akan mengobati lukamu ini. Sepertinya lukanya tidak terlalu dalam."


"Aku mohon, biarkan aku pergi." Ana mencoba untuk bangun. "Kita tidak punya urusan, aku juga tidak kenal dengan kakak."


Morgan dengan enteng menggendong Ana. "Aku sudah memperkenalkan diri, kalau aku calon kakak iparmu." Morgan menatap Ana. "Kamu akan baik-baik saja jika bersama ku, jadi jangan takut."


Ana merasa kelopak matanya sangat berat. "Jangan sakiti suami ku, lepaskan dia," lirih Ana bersamaan dengan mata yang terpejam. Namun, ia masih berusaha untuk tetap sadar. "Aku lebih mengkhawatirkan dia, dibanding dengan keselamatan diriku," sambungnya lagi.

__ADS_1


Morgan tertawa mendengar Ana. "Beruntung sekali Erlon, memiliki istri seperti kamu. Tapi kamu begitu bodoh mencintai Erlon yang hanya menjadikanmu budak s*x." Morgan melihat mata Ana yang terpejam mengeluarkan air mata. "Begitu mudahnya kamu termakan rayuan manisnya, tanpa kamu tahu maksud dan tujuannya itu adalah membuatmu hamil lalu dia akan pergi meninggalkanmu begitu saja." Morgan menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya, ia tahu racun yang ia olesi di anak panah itu tidak sepenuhnya akan membuat Ana tidak sadar, maka dari itu ia memberitahu Ana kebenarannya. "Jangan bodoh Ana, tinggalkan Erlon sebelum kamu hamil. Di luar sana banyak laki-laki yang mau sama kamu apalagi kamu cantik."


Apa benar, yang semua di katannya. Erlon akan meninggalkan aku disaat aku akan mengandung anaknya, gumam Ana di dalam hati. Karena ia merasa suaranya hanya bisa sampai di tenggorokan.


*


*


"Siapa wanita itu Morgan," tanya Firman yang sempat melihat Morgan menggendong Ana masuk ke dalam kamar. "Kakak, sedang bertanya Morgan, kenapa kamu diam saja!" bentak Firman.


"Siapapun dia, itu bukan urusanmu." Morgan kembali meneguk minuman yang mengandung Alkohol. "Lebih baik kamu pergi dari sini, dan jangan pernah ikut campur di setiap urusanku."


"Itu artinya, sebentar lagi Papa akan memiliki cucu," ujar Morgan santai. "Aku tidak sabar, apakah anakku akan mirip dengan aku atau Ara." Wajah Morgan yang tadi terlihat datar kini berubah menjadi ceria.


Firman menyengit, karena ia tidak mengerti apa yang dimaksud Morgan. "Jangan katakan kalau kamu yang telah menghamili Aurora," ucapan Firman membuat Morgan memutar kedua bola matanya. "Morgan, jawab kakak!"


Morgan menaikan kakinya di atas meja, ia kembali meneguk minuman yang mengandung beralkohol itu. "Sudah kukatakan, urus saja urusanmu." Morgan menyalakan sebatang rokok. "Urus wanita yang sudah kamu hamili itu, sepertinya saat ini dia sedang berduka. Karena aku sudah membunuh kakaknya."


"Wanita siapa Morgan? Jangan mengada-ngada kamu." Firman berusaha mendekati Morgan meski ia kesulitan untuk membuat kursi roda itu berjalan. Karena ia hanya menggunakan satu tangan.


"Jangan pura-pura tidak tahu, kamu lebih bejat dari pada aku." Sekarang giliran Morgan yang melempar beberapa lembar foto ke Firman. "Itu hanya sebagian, masih banyak lagi foto yang aku simpan sebagai barang bukti." Morgan berdiri. "Sekali lagi aku peringatkan, jangan pernah ikut campur. Jika tidak mau semua bukti-bukti itu tersebar."

__ADS_1


"Jangan gila kamu Morgan." Firman tidak bisa menggap Morgan remeh karena ia tahu gimana sifatnya. "Namun, jika itu sampai terjadi bukan cuma kakak, kamu dan Papa juga yang akan kena imbasnya."


"Aku tidak takut, dan jangan pernah masuk ke dalam kamar ku!" ketus Morgan, yang saat ini berjalan ke arah ruang kerjanya. Ia ingin melacak dimana rumah sakit tempat Aurora di rawat.


"Morgan, kita bisa bekerjasama, jangan membuat kakak seperti tidak berguna untuk hidup," kata Firman yang berhasil membuat Morgan menolah. "Kita bersaudara, lahir dari rahim yang sama. Tapi kenapa kamu seolah-olah tidak mau mengakui kakak."


"Karena kamu, aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya di sayang dan di manja oleh seorang ibu." Morgan sebenarnya baik tapi karena cintanya ditolak terus oleh Aurora itu yang membuatnya berubah. Di tambah ia tidak pernah mendapat kasih sayang dari seorang ibu. "Aku tidak butuh seorang kakak, yang cacat seperti kamu."


Firman merasa darahnya mendidih mendengar Morgan sang adik mengejeknya cacat. Ia mencoba berdiri tetapi ia malah terjatuh.


"Bagaimana bisa kamu membantuku dalam misi balas dendam, sedangkan kamu saja tidak bisa membantu dirimu untuk berdiri. Dasar nyusahin." Morgan sedang mengejek Firman. "Bangun sendiri, aku saat ini ada urusan penting." Morgan masuk dan membiarkan Firman masih tergeletak di lantai.


"Tuan," panggil Alisa yang melihat Firman. "Biar saya yang membantu Anda."


"Siapa kamu? Dan sedang apa kamu di sini?" tanya Firman yang baru kali ini melihat Alisa.


"Saya Asisten, Tuan Morgan," jawab Alisa.


Dengan tersenyum.


Seketika Firman terkesima melihat senyum Alisa, yang begitu indah menawan di bibir tipis itu.

__ADS_1


__ADS_2