
"Jangan tega begitu Mas, aku tidak mau jauh dari Alra," ucap Ana yang berbicara dua mata dengan Erlon di kantor. "Mas, apa kamu mendengarku?" tanya Ana yang ternyata datang ke kantor juga ingin melihat apa yang Alra lakukan tapi sayang sekali ia terlambat. Alra ternyata sudah pergi satu jam yang lalu.
"Sayang, aku bukan tega. Aku hanya ingin menjauhi Alra dari laki-laki itu." Erlon membelai rambut Ana. "Bukannya kamu sudah tau, dari mana asal usul anak itu?"
Ana kesulitan menelan ludah, saat Erlon menanyakan tentang siapa laki-laki yang menjadi kekasih putrinya itu. "Tapi kenapa harus dengan cara mengirim Alra kerumah Daddy," kata Ana. Sambil meraba dada Erlon. "Untuk Vanno, anak itu tidak bersalah."
"Jangan sebut namanya, gendang telinga ku mendadak sakit hanya mendengar nama itu," desis Erlon.
Ana memang marah, kecewa dan benci kepada Morgan setelah tahu kalau ternyata Morgan lah yang melenyapkan sang kakak. Tapi apa daya hati Ana yang mudah luluh membuatnya tidak bisa menaruh dendam terlalu lama kepada siapa saja yang telah menggores luka di hatinya, ia hanya manusia biasa yang memiliki hati nurani seluas samudra. "Mas, sampai kapan kamu akan melawan takdir … " lirih Ana.
Entah mengapa Ana merasa kasihan saat mengingat bagaimana keadaan Morgan saat ini yang hidup menderita, dimana Morgan dan keluarganya juga dijauhi orang-orang, serta dipandang hina atas apa yang telah Morgan lakukan dulu. "Aku lihat Vanno laki-laki yang baik, dia menjaga Alra, layaknya kakak menjaga adiknya." Ana ingin mencoba membuat pandangan buruk tentang Vanno berubah di mata Erlon. "Apa Mas, tidak bisa melihat itu semua … ."
"Sayang, apa kamu lupa? Bagaimana liciknya seorang Morgan?" tanya Erlon menghembuskan nafas kasar.
"Dia memang licik Mas, tapi percayalah dia sudah berubah sekarang. Tidak seperti yang dulu." Ana ingin semua keluarganya hidup tenang, tanpa harus ada kata dendam lagi.
"Lupakah, jika darah lebih kental daripada air?"
"Mas, ternyata kamu benar-benar menaruh dendam kepada Morgan sampai-sampai nekat ingin melawan takdir, yang telah tertulis rapi." Ana dengan hati-hati menaruh kepalanya di pangkuan Erlon. "Dan untuk kata darah yang lebih kental daripada air, aku. Akui kata-kata itu memang benar apa adanya, tapi tidakkah Mas berpikir lagi. Jika kita terus-terusan menekan Alra untuk menuruti semua keinginan kita, aku takut … lama-lama dia akan mencoba kabur dari mansion."
Erlon memikirkan ucapan Ana yang ada benarnya juga, dan langsung berkata, "Jika Alra kabur dari mansion, maka aku dengan cepat akan menemukan nya."
"Mas, kamu jangan melupakan kalau Vanno adalah hacker yang paling ditakuti." Zizi mencoba mengingatkan Erlon. "Anak itu juga sepertinya tulus menyayangi Alra."
__ADS_1
*
*
"Mimi mana? Kenapa dari tadi aku panggil nggak ada yang menyahut?" tanya Alra sambil menidurkan bokongnya di sofa ruang tamu.
Danesh yang baru pulang sekolah, melirik Alra. "Mana Danesh tau, Danesh juga cari Mimi dari tadi."
"Mimi hanya milik akak, kalau kamu." Alra menunjuk dahi Danesh. "Kamu milik Papa, Papa Erlon yang kejam." Alra lalu tertawa sampai kedua matanya tertutup.
"Papa nggak kejam, yang kejam itu kakak. Yang selalu membuat Papa naik darah," bisik Danesh.
Alra langsung berhenti tertawa saat mendengarnya, ia tidak menyangka ka Danesh akan mengatakan itu padahal selama ini Danesh selalu membelanya. Tapi sekarang, Danesh malah memihak kepada Erlon.
"Faktanya memang begitu." Danesh yang tau sebentar lagi Alra pasti akan ngamuk, dengan cepat menjaga jarak. "Jangan, menatap Danesh begitu, Papa laki-laki paling baik sejagat raya. Mana mungkin dia kejam."
"Yang tuli kakak, enak saja ngira Danesh yang tuli. Padahal tadi akak sendiri yang tidak dengar."
Alra yang kesal, melempar Danesh dengan bantal sofa tapi meleset. "Awas kamu Danesh, kakak tidak akan memberikanmu meminjam mobil lagi!" pekik Alra yang kembali lagi melempar Danesh tapi lagi-lagi meleset.
"Danesh sudah punya mobil sendiri, buat apa pinjam ke kakak. Yang galak dan pelit." Danesh memperlihatkan Alra kunci mobilnya. "Harganya jauh lebih mahal dari pada punya kakak, karena mobil ini pengeluaran terbaru."
Kedua bola mata Alra melotot sempurna, ia tidak menyangka kalau mobil yang ia inginkan ternyata sudah ada di mansion saat ini. "Kamu pinjam di temanmu, tidak mungkin kan, kalau Papa yang membelikannya untuk mu?"
__ADS_1
"Siapa bilang? Ini mobil Danesh. Daddy sendiri yang membelinya." Danesh juga memamerkan ponsel barunya. "Selain mobil, Papa juga membelikan Danesh ini." Danesh memperlihatkan benda pipihnya itu ke Alra. "Jangan bengong begitu, ini bukan apa-apa, ternyata Papa juga sudah memberikan Danesh 80% kekayaan. Ya, itu artinya kakak cuma dapat 20% saja."
Alra menarik baju Danesh. "Sudah pintar berbohong rupanya, adik. Kakak ini," kata Alra.
Danesh memelas bajunya, marena Alra semakin kuat menariknya. "Tanya sama Papa, kalau kakak belum percaya." Danesh sangat suka melihat wajah sang kakak dalam keadaan begini. "Dahlah, Danesh istirahat dulu capek mikir seharian."
"Dasar adik kurang ajar!" teriak Alra. Karena Danesh melemparnya dengan kaos kaki.
"Sorry!" seru Danesh.
Tidak lama ponsel Alra berdering, ia ragu untuk mengangkatnya karena tidak ada nama si pemanggil. "Angkat atau abaikan," gumam Alra. Hingga beberapa detik berpikir Alra akhirnya mau mengangkatnya. "Angkat deh, siapa tau penting." Saat tombol hijau Alra geser, terdengar suara laki-laki yang saat ini sangar Alra rindukan.
"Halo, ini aku Vanno," ucap Vanno samar-samar di seberang sana.
"Vanno, kemana saja kamu?" tanya Alra yang tiba-tiba moodnya berubah drastis. "Aku cari kamu di kampus tadi nggak ada, di rumah kamu juga nggak ada, kamu kemana sih, sebenarnya?"
"Kita putus Ra, dan mulai sekarang kamu tidak usah menghubungiku lagi atau mencariku."
Kalimat yang sama sekali tidak mau Alra dengar akhirnya keluar dari mulut Vanno. "Bercandamu tidak lucu!" ketus Alra. "Mana janjimu, yang mengatakan akan tetap bersama ku?"
"Maaf Ra, takdir sepertinya tidak merestui hubungan kita begitupun semesta yang mempunyai kenyataan. Bahwa aku dan kamu tidak pantas bersatu." Terdengar suara Vanno serak menahan tangis. "Jaga diri kamu baik-baik, dan juga jangan pernah melawan apapun yang Papa katakan."
Tutt … tutt … tutt …
__ADS_1
Panggilan terputus, Alra dengan cepat mencoba menghubungi nomor yang tadi tapi nomor itu sudah tidak aktif lagi.
Tamat di sini atau lanjut? Ayo akak-akak komen😊