
Erlon yang sudah tersulut emosi tanpa aba-aba menarik kerah baju Erlan dan melayangkan bogem mentah ke wajah sang kakak. Tidak sampai disitu Erlon juga menendang perut Erlan beberapa kali membuat Ana menjerit ketakutan.
"Pa hentikan! Ini semua tidak seperti yang Papa pikirkan. Mimi mohon … jangan pukul kak Erlan lagi." Ana memegang tangan Erlon.
"Minggir," kata Erlon sambil mendorong Ana sampai jatuh. "Kamu pilih aku." Erlon menunjuk dirinya. "Atau pria depresi ini?" tanya Erlon yang sekarang malah menunjuk Erlan.
Sedangkan Erlan yang tahu kalau dirinya salah tidak melawan sama sekali ia memilih diam saja seperti patung. Ia juga tidak peduli kalau Ana didorong sampai jatuh karena ia tahu saat ini Erlon sedang terbakar api cemburu.
"Pa, kenapa Mimi harus memilih?" tanya Ana yang masih duduk di lantai. "Bukankah Papa sudah tahu kalau jawabannya pasti Mimi memilih Papa." Air matanya tidak bisa ia tahan lagi. "Papa keterlaluan!" teriak Ana.
Erlon berjongkok memegang dagu Ana. "Jika aku, kamu lihat bersama wanita lain di luar sana bergandengan tangan seperti apa yang kamu lakukan tadi, apa yang kamu rasakan dan apa yang akan kamu lakukan?" tanya Erlon geram.
Aldo menggigit kukunya melihat apa yang sedang terjadi dari balik pintu karena ia sama sekali tidak berani mendekat.
"Jika itu wanita lain Mimi akan cemburu, tapi jika itu sauda—"
"Jika saudara aku bebas melakukan apa saja, begitukah maksud mu?" tanya Erlon cepat memotong kalimat Ana. Ia juga melepas cengkramannya dari dagu Ana.
"Aldo! Bawa pria depresi ini pergi dari sini. Aku benar-benar muak melihat wajah dan tingkah laku gilanya."
"Pa, sudahlah. Jangan membuat hubungan Papa dan kak Erlan menjadi renggang begini hanya karena sebuah kesalahpahaman." Ana berdiri dan langsung saja memeluk Erlon. "Nanti anak-anak pulang dan melihat kejadian ini, mereka juga bisa salah paham." kata Ana lirih.
__ADS_1
Erlon melepas pelukkan Ana dan langsung menggendongnya tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Ia saat ini ingin melampiaskan kemarahannya di dalam kamar.
Hening beberapa saat setelah Erlon membawa Ana pergi. Hingga suara Aldo membuat Erlan tersadar dari lamunannya.
"Tuan, ayo kita pergi saja dari sini. Jangan buat rumah tangga Tuan Erlon menjadi berantakan," bisik Aldo yang mendekati Erlan. Ia mengajak Erlan supaya mau meninggalkan mansion.
"Kamu benar, ayo kita pergi saja dari sini," balas Erlan. Yang mengiyakan ajakan Aldo.
*
*
Dua Minggu berlalu begitu cepat, Ana dan Erlon kini kembali akur lagi seperti sedia kala. Sekarang mereka malah terlihat semakin bucin satu sama lain. Seperti saat ini mereka berdua sedang makan malam sambil menunggu Alra dan Danesh tiba, di salah satu restoran termewah yang ada di Jakarta.
Ana yang di tanya mengangguk, karena ia juga merasa kenapa waktu berlalu begitu cepat. "Sangat cepat sekali," jawab Ana yang sedang meningat bagimana dulu ia dan Erlon bertemu. "Biarkan cinta kita kekal abadi, sampai maut memisahkan cinta kita," kata Ana dengan suara paru.
"Jangan membahas maut dulu, karena anak-anak baru saja beranjak dewasa mereka masih butuh kasih sayang dari kita berdua," ucap Erlan sambil mengelus tangan Ana. "Soal cinta kita yang akan kekal abadi itu, pasti."
Ana yang mudah terharu meneteskan air matanya. Ia kemudian berkata, "Jangan pernah biarkan satu orangpun merusak rumah tangga kita." Ana menatap mata Erlon. "Aku sangat mencintaimu Hubby."
Erlon terkekeh, karena ia tidak menyangka kalau Ana akan mengatakan itu di saat sedang makan di lestoran yang banyak sekali orang seperti sekarang. Biasanya Ana akan mengatakan kalimat itu di saat mereka sedang berduaan saja di dalam kamar. Tapi sekarang Ana dengan terang-terangan mengatakan itu semua tanpa rasa malu.
__ADS_1
"Sepertinya Alra dan Danesh akan memiliki adik malam ini juga," seloroh Erlon bercanda.
Ana memukul tangan Erlon pelan karena ia merasa Erlon bercanda di waktu yang tidak tepat. "Hubby, Alra dan Denesh sebentar lagi datang. Maka dari itu katakanlah sesutau yang membuatku merasa berati di dalam hidup Hu—"
"Mimi, Papa," panggil Alra dan Danesh secara serempak membuat ucapan Ana menggantung di udara.
"Anak Mimi, sini sayang. Kalian berdua kenapa lama sekali?" tanya Ana berbasa basi berharap Alra dan Danesh tidak mendengar obrolannya tadi.
"Tau nih, Kak Alra tadi di jalan tiba-tiba saja nyuruh Danesh berhenti," kata Danesh jujur. "Katanya dia lalihat kak Van—"
"Duduk Danesh, jangan rusak suasana makan malam yang penuh dengan kebahagiaan ini," potong Alra cepat, ia takut membuat Erlon mengamuk karena mendengar nama Vanno di sebut. "Mimi sama Papa sudah pesan makanan?"
"Alra putri Papa yang paling cantik, Papa cuma minta satu hal. Tolong jangan pernah mengharapkan laki-laki itu lagi. Karena mau sampai kiamat pun Papa tetap tidak akan pernah membirakan Alra dan laki-laki itu bersama."
Ana menyenggol tangan Erlon."Pa, jangan sekarang. Nanti saja di rumah." Ana mengatakan itu supaya suasana yang tadi tidak berubah.
"Alra akan berusaha melupaknnya Pa. Buat Mimi jangan khawatir Alra sudah menerima apa pun yang akan Papa putuskan." Alra tersenyum simpul. Karena ia sudah tau kenapa Erlon sangat membenci Vanno. "Mulai malam ini kita akan hidup bahagia sampai seterusnya." Alra merangkul Danesh.
Kehidupan Ana dan Elron berakhir dengan bahagia bersama dengan anak-anak mereka. Cukup kisah mereka sampai di sini.
Note: Kisah Erlan akan ada di Cerita yang baru, di karenakan di sini Erlan sad ending. Maka dari itu Ayuza akan buat yang Versi Erlan😊
__ADS_1
**TAMAT**