
Erlan duduk santai di warung makan, ia terlihat beberapa kali melirik jam di pergelangan tangan. "Jika dalam dua menit kamu belum datang, maka aku akan memecat mu Aldo," kata Erlan yang ternyata sedang menunggu seseorang di sana. "Jangan sampai Mommy masuk ke kamar ku," gumam Erlan. "Jika itu sampai terjadi, maka Mommy akan tau kalau di sana itu bukan aku melainkan bantal," sambungnya.
Erlan di warung itu hanya duduk saja tanpa memesan makanan atau minuman. Tidak terasa beberapa detik berlalu matanya tidak sengaja melihat mobil yang sangat ia kenal. "Sial, itu seperti mobil Daddy. Mau apa dia malam-malam ke sini juga?" Erlan bertanya-tanya di dalam benaknya. Ia lalu dengan cepat memakai kacamata, sambil menarik topinya agar sedikit menutup dahinnya. "Semoga saja Daddy tidak mengenaliku." Erlan ternyata tidak tahu kalau itu adalah sopir Kenzo yang sedang membeli nasi goreng buat Zizi atas permintaan Kenzo.
"Permisi Tuan," ucap Aldo yang baru datang. "Tuan … Tuan," panggil Aldo sambil menepuk bahu Erlan.
Erlan menolah. "Kamu ngagetin saja, duduk," gumam Erlan pelan.
"Hah, ada apa Tuan?" Aldo bingung kenapa suara Erlan menjadi kecil sekali. "Tuan, Anda kenapa?" Suara Aldo yang panik bertanya lagi. Ia pikir penyakit Erlan kumat. "Tu—"
Erlan membekap mulut Aldo, sehingga kalimat Aldo terputus. "Duduk! Di sini ada Daddy!" geram Erlan mencubit perut Aldo.
"Aghh," ringis Aldo yang di cubit. Ia lalu mencoba bertanya sambil berbisik meski bekas cubitan Erlan masih terasa sakit. "Dimana?"
Erlan melotot ke arah mobil Kenzo yang terparkir. "Disana, dan sekarang tutup mulutmu. Jangan sampai Daddy melihat kita." Erlan menepuk bangku di sebelahnya, supaya Aldo cepat duduk.
"Maaf Tuan, saya terlambat. Karena tadi Papa sempat meminta saya untuk ke rumah Anda dulu." Aldo ingin menjelaskan kepada Erlan kenapa ia bisa terlambat. "Saya disuruh kesana untuk mengantar berkas-berkas, seta surat kepindahan Anda ke Indonesia."
Erlan mengangguk-ngangguk tanda mengerti. "Rupaya Daddy menerima permintaan ku untuk tinggal di Indonesia lagi, tanpa menaruh curiga kepadaku." Erlan menyunggingkan senyum simpul di balik maskernya. "Terus apa lagi?"
"Terus yang di dalam mobil itu." Aldo menunjuk mobil Kenzo. "Di dalam sana hanya ada supir."
"Kenapa kamu tidak memberitahuku dari tadi?" tanya Erlan geregetan. "Dasar bocah!" Erlan hampir saja mencekik leher Aldo karena ia merasa kesal.
"Karena Anda tidak bertanya Tuan," jawab Aldo santai.
"Sudahlah, lupakan saja. Sekarang mana informasi yang aku minta?"
__ADS_1
Aldo dengan cepat memberikan Erlan. "Ini data mulai dari dia masih di dalam perut, sehingga tumbuh menjadi gadis yang mandiri tanpa menyusahkan kedua orang tuanya," kata Aldo panjang lebar.
"Bagus, ternyata dia bekerja di salah satu anak perusahaan ku. Ini akan memudahkan ku untuk membalaskan dendamku." Erlan merasa semesta mendukungnya dalam misi balas dendamnya. "Kerja yang bagus, kamu juga boleh ikut ke Indonesia. Om Reza pasti akan mengizinkanmu."
Iya, Aldo adalah anak dari Reza ternyata Reza juga selamat dari kecelakaan waktu itu. Setelah kecelakaan itu Reza sengaja di perintahkan Kenzo untuk meninggalkan Indonesia beserta istrinya yang sedang mengandung Aldo.
"Gimana kalau Papa tidak mengizinkan saya Tuan?"
"Aku akan menculikmu," jawaban Erlan membuat Aldo melongo. Erlan kemudian berdiri dan berkata, "Aku pulang dulu, kamu jangan lupa bayar sewa warung ini karena tadi aku sudah terlalu lama duduk di sini. Itu karena aku menunggumu."
"Anda orang kaya, tapi tidak punya duit kes di dalam dompet." Aldo mengucapkan itu karena ini yang sudah kesekian kalinya Erlan memintanya untuk selalu membayar sewa warung. Meskipun Erlan hanya duduk saja. "Ini sudah saya duga, makanya saya tadi sem—"
"Sudah saya trensfer, jangan banyak bicara," potong Erlan yang langsung saja pergi.
Aldo tidak percaya saat melihat notif masuk. Ternyata ucapan Erlan benar apa adanya ia melihat seratus juta masuk ke rekeningnya. "Ini baru Bos," kata Aldo tertawa girang, membuat orang-orang yang sedang makan di sana menatapnya.
*
*
"Iya, Mom. Rasanya Erlan sudah rindu dengan suasana di sana." Erlan sebenarnya sangat berat meninggalkan Zizi dan Kenzo tapi apa boleh buat. Misinya untuk menghancurkan Morgan harus segera terlaksana. "Apa Mommy mau ikut?"
"Kita nanti nyusul belakangan," kata Kenzo yang menjawab. "Erlan, Aldo sudah menunggumu di mobil."
"Kalau begitu, sampai ketemu di sana Mom." Erlan memeluk Zizi. "Erlan cuma minta, tolong Mommy istirahat yang cukup karena selama ini waktu Mommy hanya di pergunakan untuk merawat Erlan si pria yang depresi," bisik Erlan.
Zizi mengelus lengan Erlan. "Jangan pernah mengatakan itu, karena Mommy tidak pernah merasa capek dan terbebani saat merawatmu." Zizi memang wanita yang luar biasa. Sifatnya yang dulu bar-bar kini menjadi wanita yang penuh dengan kasih sayang untuk anak, menantu beserta cucu-cucunya. "Ada beberapa kotak hadiah, tolong Erlan kasih buat Alra dan Danesh. Cucu-cucu Mommy itu rupanya sekarang sudah besar-besar." Binar mata Zizi memancarkan kebahagiaan saat menyebut nama cucu-cucunya. "Nanti kalau Alra wisuda, pasti Mommy akan kesana. Jangan lupa kasih tau dia supaya rajin-rajin belajar dan jangan malas kuliah."
__ADS_1
"Bukankah, itu kalimat yang selalu Mommy ucapkan saat melakukan video call sama Alra, kalimat yang selalu di ulang-ulang setiap hari."
Zizi tercengang, ia tidak menyangka Erlan ternyata akan mengatakan itu. Padahal saat itu Erlan tidak pernah merspon saat di tanya atupun di ajak mengobrol.
"Erlan sayang Mommy, Mommy jangan kebanyakan mikir."
*
*
Di jakarta, tepat pukul 16:43 Erlan dan Aldo tiba di bandara.
"Hotel atau Apertemen?" Aldo bertanya, karena ia takut salah dalam memilih tempat untuk Erlan beristirahat.
Erlan tidak menjawab ia terus saja berjalan. Sifat sombong dan angkuh yang di miliki Erlon kini jadi milik Erlan si duda tampan kaya raya.
"Tuan, Apa Anda tidak mendengar saya?" Aldo menahan tangan Erlan, ia pikir dengan cara begitu Erlan akan menoleh, karena posisi Aldo ada di belakang Erlan. "Tuan, tolong jawab saya supaya saya bisa mencari Hotel dan Apertemen yang paling nyaman dan mewah di sini."
"Tidak perlu, kita akan tinggal di Mansion untuk sementara waktu." Erlan menepis tangan Aldo. "Aku masih normal Aldo, jangan membuat orang salah paham. Tanganmu singkirkan dari pergelangan tanganku!" ketus Erlan.
Aldo menyengir menunjukkan deretan giginya. "Maaf Tuan."
"Kamu lebih baik cari tahu di mana kelurga terkutuk itu tinggal. Supaya aku bisa leluasa membuat perhitungan dengan bajingan itu."
"Jangan sampai dendam membawa ada ke dalam lembah cinta," ucap Aldo keceplosan yang langsung memukul mulutnya sendiri. "Mulut saya yang salah Tuan, maaf sekali lagi."
"Apa itu cinta? Cinta bagiku sudah tidak ada sejak detak jantung kekasih hatiku berhenti." Bayang-bayang Aurora tersenyum kini kembali menari-nari di pelupuk mata Erlan.
__ADS_1
*Author minta pendapat kalian, apakah kisah Erlan lanjut di sini atau buat cerita yang baru lagi? Tolong di komen sebelum Ayuza tulis label TAMAT*🙏🙏