
"Aku hanya mencoba untuk mulai mencintainya dan perlahan bahagia tapi baru saja aku mulai aku sudah benar benar di tendang jauh olehnya, ini benar benar membuatku serasa tidak bisa bernapas lagi." Kata Fani dalam hati yang sekarang sudah duduk di pojok ruangan kamarnya dengan air mata yang terus mengalir.
"Aku ingin pulang." Ucap Fani beriringan dengan tangisnya yang langsung tertidur di lantai.
Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian itu, kegiatan Fani setiap hari hanya pergi kuliah, setelah itu ia akan pulang kemudian beristirahat. Sesekali ia akan menemani Tasya untuk berbelanja dan jalan jalan.
Dan Shawn, pria itu benar benar membuktikan perkataannya untuk tidak menemui Fani sama sekali.
-Ā
"Selamat siang tuan." Kata pria itu sambil menunduk.
"Bagaimana, apakah ada perkembangan." Tanya Shawn.
"Untuk saat ini nona Fani hanya di apartemen saja tuan, kegiatan sehari harinya selalu sama seperti awal tuan. Dan nona Fani tidak bertemu dengan pria manapun." Shawn tampak menaikan alisnya kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya "Gadis pintar." Katanya dalam hati lalu tersenyum miring.
"Lalu bagaimana soal donaturnya." Tanya Shawn lagi.
"Saya sudah menemukannya tuan, dia adalah direktur dari perusahaan Axa Entertainment, perusahaan besar di negara A dan kebetulan salah satu aktris mereka adalah nona Alexia." Jelasnya.
"Direktur Axa ? berarti Shak Axa ? " Tanya Shawn.
"Benar tuan, dia adalah tuan besar Axa."
"Baiklah, kau cari tau bagaimana dia bisa berdonasi di pantai hawai." Kata Shawn.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Kata pria itu yang tak lain adalah Emon asistennya di perusahaan.
"Siapa kau sebenarnya." Kata Shawn yang memperhatikan foto gadis itu di layar ponselnya.
Bagaimana bisa seorang Shak Axa berdonasi untuk seorang gadis yatim piatu, dengan uang yang tidak sedikit. Karena yang ia tau Shak Axa adalah seorang mafia berhati iblis dan tidak sembarang orang mengenalnya. Pikir Shawn.
Tiba - tiba ponselnya berdering, ia mengerutkan dahinya lalu menjawab panggilan itu.
"Hmm."
"Kau dimana, aku di tempat biasa sekarang cepatlah kemari." Kata pria di seberang yang tak lain adalah sahabatnya Rio.
"Aku sedang ada urusan, kau lanjut saja dulu jika sempat aku akan kesana menemui mu." Kata Shawn yang langsung mematikan panggilannya.
"Dasar es batu sialan." Kata Rio sambil melihat ponselnya yang sudah mati itu. Ia langsung melanjutkan minumnya.
-
Hari sudah malam, waktu sudah pukul sembilan malam Fani baru selesai kelasnya.
Tiba - tiba ia dan teman temannya di kejutkan dengan suara Start.
"Hallo semuanya, untuk teman temanku terkasih, aku ingin mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Apa, cepat katakan aku sudah lapar dan ingin pulang." Kata temannya yang lain
"Sabar-sabar, oke aku ingin katakan jika hari ini adalah hari istimewaku, karena itu aku ingin mentraktir kalian semua jadi aku ingin kalian semua ikut tanpa terkecuali dan lagian besok jugakan hari libur, bagaimana ?" Kata Start.
"Okeeeee, siap meluncur." Teriak teman lainnya.
Satu persatu dari mereka sudah berangkat setelah di berikan alamat oleh Start lewat obrolan kelas mereka. Dan Fani juga sekarang sudah berada di dalam mobil milik Start.
"Apa hari ini adalah ulang tahunmu. " Tanya Fani pada Start.
"Tidak, aku hanya membohongi mereka saja." Jawabnya sambil tertawa.
"Jadi kau membohongiku juga ?" Tanya Fani terkejut.
"Tidak, maksudku hari ini memang hari bahagiaku, hari istimewa bagiku, tapi bukan karena aku ulang tahun." Jawab Start.
"Lalu apa. " Tanya Fani lagi.
"Apa kau ingat saat aku bilang aku akan keluar negeri beberapa hari yang lalu, saat itu aku bukan hanya menemani orang tuaku untuk masalah pekerjaan tapi juga untuk melihat kampus yang akan aku pindah nantinya."
"Loh kenapa harus pindah kampus." Tanya Fani dengan wajah bingungnya.
"Karena aku ingin berada di negara ibuku dilahirkan tapi sekarang tidak lagi aku tidak ingin pindah kemanapun." Jawab Start.
"Benarkah, lalu kenapa kau tidak ingin pindah."
"Aku tidak ingin pindah karena aku ingin selalu berada di dekatmu." Jawab Start sambil mencubit pipi Fani.
"Ck, dasar genit." Kata Fani, kemudian mereka berdua pun tertawa.
"loh kenapa malah kesini, aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini sebelumnya, aku takut." Kata Fani.
"Kenapa kau takut, kau tidak sendirian. ada teman teman yang lain dan ada aku di sini." Jawab Start.
"Tapi aku tidak bisa minum."
"Hahaha siapa yang menyuruhmu minum, jika kau tidak bisa minum kau cukup makan dan minum jus saja." Kata Start meyakinkan Fani.
"Baiklah, tapi kau harus bersamaku terus jika didalam nanti." Kata Fani.
"Siap bos." Kata Start yang langsung memegang tangan fani dan masuk kedalam.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada yang mengikuti mereka dan memotret gerak gerik mereka kemudian mengirimnya pada seseorang, yang tak lain adalah pria yang bernama Shawn.
Shawn membuka pesan yang dikirimkan padanya
"Sialan, kau benar-benar melakukan itu di belakangku." Kata Shawn dengan wajah merahnya yang sudah mengepalkan tangannya.
Tanpa menunggu lama ia langsung berjalan ke parkiran dan meljukan mobilnya ke arah Bar.
Suasana di dalam bar benar- benar ramai dan kini Fani, Start dan temana - temannya yang lain sudah kumpul bersama dan mulai dengan ritual awal mereka yaitu minum-minuman beralkohol itu tanpa terkecuali Fani ia juga meminumnya karena terus di paksa oleh teman temannya.
__ADS_1
Shawn sudah tiba di Bar tujuannya, ia langsung masuk dan menuju ke tempat biasa ia dan Rio berada jika ke Bar itu.
"Aku kira kau tidak akan datang." Kata Rio namun tidak di balas oleh Shawn.
" Kau kenapa, ada apa dengan wajah merah mu itu, apa kau datang untuk membunuh seseorang disini." Kata Rio lagi.
"Diamlah sialan." Jawab Shawn yang langsung meminum minumannya.
Shawn terus memperhatikan gerak gerik Fani dari lantai dua, sedangkan Fani berada di lantai satu. Shawn dapat melihat Fani dengan jelas karena ruangan mereka terbuat dari kaca, otomatis ia dapat melihatnya dengan jelas.
Disisi lain Fani sudah sangat mabuk, tapi ia terus meminumnya.
"Hei hentikan, kau sudah sangat mabuk jangan minum lagi." Kata Start.
"Ah kau berisik sekali dan...dan kau jangan bergerak kau membuatku pusing." Kata Fani pada Start.
"Aku tidak bergerak kau yang terlalu mabuk." Kata Start.
"Aku tidak mabuk, aku tidak mabuk sama sekali." Jawab Fani yang sudah sangat mabuk itu.
"Hentikan aku akan mengantarmu pulang, ayo." Kata Shawn yang memegang tangan Fani untuk membantunya berdiri.
Shawn yang melihat itu pun, tampak mengepalkan tangannya, wajahnya sudah sangat merah.
"Ahh aku bilang jangan bergerak atau aku akan mencium mu." Kata Fani lagi
"Wahh kau sangat agresif Fan." Kata salah satu teman prianya, dan mereka semua pun tertawa.
" Oke hentikan, semuanya ayo kita mulai dengan ermainannya saja." Kata salah satu wanita yang duduk di samping Fani.
"Fani melihat ke arah teman wanitanya dan memegang wajah temannya dengan kedua tangannya lalu mencium pipi temannya itu, lalu ia menoleh ke arah Start dan langsung mencium pipi Start.
"Aku sudah katakan jangan bergerak tapi kalian malah melakukannya." Kata Fani lalu tertawa.
Mata Start terbuka lebar, dia sangat kaget atas perilaku Fani saat mabuk.
Shawn yang sedari tadi menahan amarahnya pun sudah tidak bisa tahan lagi, ia keluar dari ruangan itu dan berjalan ke arah meja yang di tempati Fani dan teman temannya.
sementara Rio hanya terus mengikutinya tampa mengatakan apapun, karena ia tau itu akan percuma Shawn tidak akan menjawab pertanyaannya.
Mereka berdua sudah berada dimeja Fani, semua wanita yang berada di situ terkejut dan histeris. Kenapa bisa ada dua orang pria paling tampan dan senior mereka di kampus itu bisa ada di sini.
Fani melihat ke arah atas, dan melihat Shawn sedang berdiri didepannya yang dengan wajah marahnya memperhatikannya.
"Ahh kau kenapa disini, pergi saja dengan wanitamu." Kata Fani pada Shawn dan langsung tertawa namun sesaat kemudian ia menangis.
Semua orang yang melihat itu pun terkejut, bagaimana bisa Fani mengatakan hal seperti itu pada Shawn.
__ADS_1
Tbc ... šµ
Jangan lupa Vote yah š