
Setelah kejadian itu, Samuel dan Mawar tidak pernah saling sapa dan menegur satu sama lain, seperti saat ini meski mereka duduk bersebelahan tapi mereka seperti orang yang asing yang tidak pernah saling kenal. Padahal sebelum kejadian pagi tadi, mereka berdua begitu akrab layaknya teman dekat. Tapi sekarang malah sebaliknya.
"Malam Tante, apa Tante jadi nginep di sini?" tanya Erlon dari arah dapur. Yang saat ini sedang menyiapkan susu buat Ana.
"Jadi, karena Mommy kamu mengirim pesan tadi pagi setelah Tante sampai di rumah sakit," jawab Mawar jujur.
"Jemput Tante Mawar ke mana tadi Samuel?" Erlon ingin mengetahui apakah Samuel mau menjawab pertanyaannya. Tapi di luar dugaan, Malah Mawar yang menyahut tapi kalimatnya hanya sampai setengah.
"Ke rum—"
"Di rumah sakit," ucap Samuel berbohong.
Erlon mengerutkan kening, ia heran kenapa Mawar yang menjawab terlebih dahulu. "Apa kalian berdua sudah resmi menjadi pasangan kekasih?"
"Dimana kamar yang akan Tante tempati?" Mawar malah menayakan hal yang lain. "Tante ingin beristirahat, karena besok pagi-pagi buta sekali Tante ada jadwal."
Erlon bisa membaca dari gerak gerik Samuel dan Mawar kalau ternyata mereka berdua memiliki perasaan satu sama lain. "Antar Tante Mawar ke kamar tamu Samuel, kamar yang dekat dengan kamarku," perintah Erlon, tapi Mawar malah menolaknya.
"Tante bisa sendiri, kamu tunjukkan saja di sebelah mana. Kiri atau kanan?"
Erlon mengulum senyum, ia menjadi punya ide untuk mendekatkan Samuel dan Mawar. "Tante, apa boleh Erlon minta tolong?"
"Boleh, asal jangan yang aneh-aneh." Mawar sudah memiliki fiealing kalau Erlon hanya berpura-pura minta tolong. "Katakan, kenapa malah diam. Mata Tante sudah tidak bisa di ajak bekerja sama lagi."
"Ana pengen makan sate kambing, yang ada di pinggir jalan kenangan itu lho, Tante." Padahal dia yang mau, tapi malah nama Ana yang ia bawa-bawa. Karna ia tahu Mawar pasti tidak akan menolak kalau itu menyangkut Ana.
"Terus?"
__ADS_1
"Begini, Tante bisa kan, pergi dengan Samuel membelikan Ana sate kambing itu." Erlon berbicara sambil mengaduk-ngaduk segelas susu.
"Kenapa tidak kamu saja?" Mawar meneguk air yang ada di atas meja, karena ia merasa tenggorokannya kering. "Tante saat ini sudah ingin merebahkan tubuh di atas kasur yang empuk," sambungnya.
"Tante pelit sekali, ini buat Ana bukan Erlon." Erlon memonyongkan bibirnya.
Mawar melihat jam di pergelangan tangannya, ia mau tidak mau harus terpaksa menuruti permintaan Erlon. "Jika saja bukan keinginan Ana, maka Tante tidak akan mau keluar malam-malam begini hanya untuk membeli sate kambing." Mawar berdiri dan tidak lupa, menyambar kunci mobil Erlan. "Tante berangkat dulu, kamu jaga Ana dengan baik. Karena Mommy mu telah menitip kalian bertiga … eh maksud Tante kalian berdua."
"Sama Samuel, Tante, karena malam-malam begini seorang janda kembang seperti Tante tidak boleh keluar sendiri. Erlon takut nanti Tante di culik." Erlon memang sengaja mengatakan itu. "Lagi pula, Samuel siap kok nemenin Tante kemanapun kaki Tante melangkah. Sampai ke atas altar juga Samuel pasti mau," seloroh Erlon.
"Tante bisa pergi sendiri, dan untuk ucapanmu yang terakhir jangan terlalu berlebihan bercandanya itu tidak baik." Mawar bukan siapa-siapa tapi sejak ia menolong Zizi, dari situlah ia bisa masuk ke dalam keluarga Alvaro. Dan langsung di angkat menjadi dokter pribadi juga oleh Kenzo atas permintaan Zizi.
"Sejak kapan perkataan Erlon bisa di bantah?" Pandangan mata Erlon menjadi sendu.
"Hm, baiklah. Terserah kamu saja Erlon." Mawar meletakan kembali kunci mobil itu tepat di depan Samuel yang masih duduk.
"Kelamaan," potong Mawar dengan nada suara yang sedikit ketus.
"Benci jadi cinta, itu kata-kata yang memiliki bukti paling akurat," kata Erlon yang saling pandang dengan Samuel.
"Erlon kamu memang duplikat Kenzo," gerutu Mawar sambil berjalan keluar.
*
*
Sudah dua jam berlalu tapi Samuel dan Mawar tidak kunjung pulang, Erlon yang biasanya mudah khawatir menjadi tenang seperti sekarang ini karena ia merasa senang kalau misinya untuk mendekatkan Mawar dan Samuel akan berhasil dan berjalan dengan baik.
__ADS_1
Tapi tidak berselang lama, Mawar pulang sambil membawa dua kresek yang berisi sate kambing seperti yang Erlon minta. "Kamu atau aku yang memberikannya pada Erlon?" Mawar bertanya tanpa menatap Samuel.
"Tante saja, tadi kan, yang di suruh beli sate itu Tante, bukan saya jadi Tante lah yang harus memberikannya pada Tuan Erlon," ucapan Samuel yang membuat mood Mawar langsung berubah.
"Nama panggilan mu membuat ku risih Samuel, tidak bisakah kamu memanggil nama ku saja." Mawar terlihat cemberut. "Tanpa sebutan Tante, padahal umur kita cuma beda dua tahun."
Tanpa mereka sadari ternyata Erlon sedang melihat mereka dari lantai dua, Erlon juga bisa mendengar dengan jelas, apa saja yang Mawar dan Samuel bicarakan.
"Maaf, tapi saya tidak enak hanya memanggil Tante dengan sebutan nama." Sebenarnya hati Samuel senang saat mendengar Mawar yang terlebih dahulu membuka pembicaraan, apalagi saat mendengar Mawar menyuruhnya untuk memanggil nama tanpa ada kata tante.
"Apa aku terlihat tua di matamu? Makanya mulutmu sulit sekali menyebut nama ku," ketus Mawar.
Samuel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia heran kenapa sifat Mawar berbeda ketika ada Erlon. "Tidak, sama sekali, Anda masih terlihat sangat muda dan sangat cantik." Samuel langsung menutup mulutnya, karena ia keceplosan.
"Oh, ya. Lalu kenapa kamu selalu saja memanggil ku Tante?"
"Kenapa Anda menjadi berbeda? Padahal dua jam yang lalu, Anda enggan untuk sekedar menatap saya, seolah kita tidak pernah saling kenal lalu sekarang?"
Pipi Mawar bersemu merah saat mendengar perkataan Samuel, jujur saja ia juga memiliki rasa yang sama tapi tidak berani mengatakannya. "Karena Erlon … ."
"Erlon kenapa Tante?" tanya Erlon tiba-tiba, entah sejak kapan ia sudah duduk santai di sofa sambil memegang secangkir kopi. "Lanjutkan dramanya, sudah lama Erlon tidak menonton adegan seperti ini."
"Maksud kamu apa Erlon?" Mawar berusaha tetap terlihat tenang. "Lupakan yang tadi, anggap ini semua hanya kebetulan."
"Tidak ada asap bila tidak ada api, seperti itulah pepatah mengatakan." Erlon meletakkan secangkir kopi itu di atas meja. "Aku merestui, hubungan kalian. Semoga cinta ka—"
"Samuel tidak pantas bersanding dengan Tante, Erlon! Dia masih bujang sedangkan Tante," potong Mawar yang menunjuk dirinya sendiri. "Janda yang selalu dipandang rendah oleh semua orang."
__ADS_1
Apakah kalian setuju, jika Author nulis 2000k dalam satu bab? Jika iya, tolong di komen😊