
19 Tahun 🍃🌹🌹
"Papa kemana?" tanya Alra.
"Papa sudah berangkat dari tadi ke kantor," jawab Danesh sambil mengaduk-ngaduk sarapannya.
"Yes, hari ini aku butuh bantuan kamu." Alra berbicara pelan.
Alra Quinsha Alvaro anak pertama Erlon dan Ana, ia tumbuh menjadi gadis yang terkenal dengan kecantikanya. Sehingga siapapun yang melihatnya akan langsung jatuh cinta. Tapi tanpa mereka tahu, Alra ternyata mengikuti jejak Erlon yaitu menjadi psikopat, bila ada yang berani mengusik ketenangannya maka ia tidak segan-segan menghabisi orang itu.
Beda halnya dengan Danesh yang wajahnya lebih mirip dengan Ana tapi bukan cuma itu, Danesh juga memiliki sifat dan karakter yang sama dengan Ana.
"Nggak mau, nanti Danesh di sidang lagi sama Papa." Danesh tau kakaknya itu pasti meminta bantuanya supaya bisa pergi ke bar.
"Kakak kasih kamu uang jajan lebih, gimana?" Alra tidak kehabisan cara. Ia menawarkan uang kepada Danesh. "Hanya malam ini saja, setelah itu kakak tidak akan meminta bantuan Danesh lagi." Alra mengeluarkan sepuluh lembar uang yang berwarna merah.
Bayangan Erlon yang marah-marah, membuat Danesh menggeleng. "Nggak," balas Danesh. "Kak Alra bisa minta izin sama Papa, pasti Papa ngizinin. Tanpa harus nyogok Danesh kayak gini."
"Kamu tidak kenal, siapa Papa?" pertanyaan konyol itu keluar dari mulut Alra.
"Kenal, dia Papa kita kan," jawaban Danesh membuat Alra melotot. "Apa aku salah? Memang benar kan, Erlon Almer Alvaro itu Papa kita!"
Ana tiba-tiba datang membawa baju setelan kantoran, membuat Alra menyembunyikan uang itu lagi.
"Ngomongin apaan sih, kayaknya serius banget?"
"Tau nih, kak Alra mau nyogo—"
Alra yang takut Danesh mengatakan itu semua kepada Ana, dengan cepat membekap mulut sang adik. "Kamu mau kakak antar? Kebetulan hari ini kakak mau pergi ke rumah teman," potong Alra cepat. "Danesh, katanya tadi kamu buru-buru. Kalau begitu ayo, jangan lupa pamitan dulu sama Mimi."
Ana tersenyum, melihat kelakuan putri dan putranya, ia tidak menyangka bisa bertahan sejauh ini. Ia pikir pernikahanya dengan Erlon akan berakhir di tengah jalan, tapi nyatanya itu semua tidak terjadi.
__ADS_1
"Alra," panggil Ana lembut. "Papa minta kamu harus datang ke kantor tanpa ada penolakan." Ana meletakkan setelan baju yang tadi. "Pakai ini, jangan buat Papamu marah lagi."
"Mi, aku tidak mau ke kantor Papa, lagi pula Alra di sana hanya pelanga plongo saja," kata Alra yang masih duduk di sebelah Danesh.
"Ya sudah, kalau Alra tidak mau." Ana memberi Alra sepucuk surat. "Alra baca dengan baik-baik, ini Papa sendiri yang menulisnya tadi sebelum berangkat ke kantor."
"Kebiasaan Papa, mengancam melalui selembar kertas," ucapan Alra membuat Ana menepuk bahu sang putri. "Apa Mimi tau, Papa di sana nggak ngakui Alra sebagai anaknya, dia malah bilang Alra ini gadis yang terlahir dari keluarga yang kurang mampu."
Danesh yang sedang makan, langsung saja tersedak saat mendengar ucapan Alra. Ia tidak menyangka Erlon akan mengatakan itu semua.
Ana dengan cepat memberikan Danesh air minum. "Minum dulu Danesh, kalau makan hati-hati." Ana menepuk-nepuk pundak Danesh.
"Pokoknya aku, nggak mau Mi." Alra sama seperti Erlon sama-sama keras kepala. "Suruh saja usir aku dari mansion ini, ancamannya hanya itu-itu saja. Dari aku kecil sampai besar gini."
"Sok-sokan berkata begitu, baru di sinta hedphone saja sudah kesurupan," ejek Danesh.
"Diam kamu! Anak kecil di larang ikut campur!" ketus Alra. Ia kemudian membaca surat yang Erlon tulis.
tinggal dengan Opa Kenzo, Papa tunggu di kantor).
Alra meremas surat itu, ia kemudian melemparnya keluar jendela dan berkata, "Ancaman kali ini bukan tentang mengusir aku dari rumah, tapi mengirimku ke rumah Opa Kenzo."
Ana yang mendengar itu kaget, karena Alra sejak kecil tidak mau kesana gara-gara Alra pernah melihat Erlan mengamuk sambil menyandra salah satu pelayan. "Gimana? Apa Arla mau ke kantor?"
"Mau gimana lagi Mi." Alra berdiri. "Dengan terpaksa aku akan pergi ke kantor Papa." Alra berjalan ingin mengganti pakainnya.
"Danesh biar ama Pak Dadang saja, Alra nanti bawa mobil sendiri saja!" seru Ana yang melihat Alra sudah menaiki tangga.
"Iya, Mi," jawab Alra lirih.
*
__ADS_1
*
"Om Samuel, Apa Papa ada di dalam?" Alra celingak-celinguk setelah bertanya, ia takut ada yang melihatnya.
"Non Alra, kenapa baru datang?" Bukannya menjawab Samuel malah bertanya balik.
"Om kayak nggak tau saja, ini negara kanoha yang pasti ada kata macet," jawab Alra berbohong padahal ia tadi pergi kerumah temannya dulu, untuk bertemu kekasih pujaan hatinya. "Papa di mana?" tanya Alra sekali lagi.
Samuel menepuk jidatnya, ia tidak habir pikir kenapa Alra pintar sekali berbohong. "Tuan ada di dalam, Non masuk saja," kata Samuel yang merasa pasti akan ada perang adu mulut antara Alra dan Erlon. "Mumpung semua kariyawan lagi makan siang. Non Alra boleh langsung masuk," sambung Samuel.
"Alra masuk dulu, nanti kalau Om mendengar Alra minta tolong. Segera hubungi polisi." Alra ternyata tahu kalau Erlon pasti akan memarahinya karena terlambat. "Om Samuel, mendengar Alra, kan?"
"Non masuk saja, jangan semkain membuat darah Tuan mendidih." Samuel membukakan pintu untuk Alra. "Berkata jujur, adalah satu-satunya cara agar Non Alra tidak kena amuk," bisik Samuel sebelum menutup pintu.
Alra masih diam saat Samuel menutup pintu, ia juga sekarang bisa melihat dengan jelas kalau saat ini Erlon sedang duduk menghadap jendela. Ia mencoba mengatur nafas dulu sebelum mulai berbicara.
"Selamat pagi, Papa. Ini putri Papa yang cantik sudah datang!"
Erlon berbarik dan langsung saja melempar Alra dengan beberapa lembar foto. "Harus berapa kali Papa bilang, jauhi laki-laki itu!" Nada suara Erlon bergetar, karena ia menahan amarah. "Dimana kupingmu Alra!"
Alra menunduk sambil meremas ujung bajunya. "Jika Papa hanya mau memarahi Alra, lebih baik Papa enggak usah suruh aku datang."
"Jauhi laki-laki itu, sebelum Papa menghabisinya." Erlon berdiri dan mendekati Alra. "Laki-laki itu hanya membawa pengaruh buruk bagimu."
"Laki-laki yang mana?" Alra berpura-pura tidak tahu.
"Alra, Papa diam selama ini bukan berarti Papa tidak tahu," ucapan Erlon membuat tenggorokan Alra kering.
"Dia cuma teman Alra, bukan siapa-siapa!" ketus Alra mengelak. "Alra pulang saja, ngapain di sini hanya akan ada pertengkaran kecil seperti sekarang, dan penyebabnya tidak jelas." Alra benar-benar menguji kesabaran Erlon untuk saat ini.
"Lanjutkan kuliahmu di singapura, dan ini tiket nanti sore Alra akan berangkat."
__ADS_1
Sudut mata Alra berair, ia merasa Erlon sudah tidak sayang denganya lagi.