Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Cinta Yang Tak Terbalas (Bagi Ana)


__ADS_3

Seolah lupa dengan kejadian yang tadi malam, Erlon sekarang terlihat lebih cuek.


"Tidak usah ke kantor, hari ini aku akan mengirim mu pulang." Erlon mengunyah sarapan setelah mengatakan itu.


Ana menaikkan sebelah alisnya, karena bingung kenapa tiba-tiba Erlon menyuruhnya untuk pulang ke jakarta. "Anda sendiri?"


"Tidak usah menanyakan aku." Erlon mengambil segelas air. "Aku masih ada urusan di sini," kata Erlon yang kini meneguk air di dalam gelas. "Kamu disini hanya menjadi beban saja."


"Hanya beban ketika berada di luar, di dalam kamar saya malah menjadi budak s*x," gerutu Ana yang membuat Erlon mengulas senyum tipis di bibirnya. "Setelah puas di gunakan, saya malah akan dikirim pulang, apa kata-kata saya yang semalam Anda anggap cuma kalimat candaan?"


"Habiskan sarapanmu, setelah itu pergilah." Erlon berdiri. "Jangan terlalu berharap lebih padaku, aku sama sekali tidak tertarik padamu." Erlon terpaksa mengatakan itu, karena tujuannya sekarang adalah membantai para musuh. Ia tahu saat ini kelemahannya bukanlah dirinya sendiri melainkan Ana. "Pulang ke mansion, dan buang niatmu jauh-jauh untuk pergi ke rumah kak Erlan."


"Anda memang tidak punya hati." Ana ikut berdiri meskipun sarapannya belum habis.


"Maaf, karena saya sudah lancang menaruh rasa pada Anda. Sekarang saya baru sadar, kalau saya memang tidak pantas bersanding dengan Anda."


Erlon mendekat mengulurkan tangan berusaha menyibak rambut hitam terurai Ana, lalu ia berbisik. "Kubur perasaan mu itu dalam-dalam, aku hanya ingin bermain-main denganmu. Paham!"


Ana memberikan Erlon tatapan sayu, penyesalan kini masuk ke relung hatinya karena ia sudah terlanjur mengungkapkan perasaan, ia berpikir Erlon juga mencintainya tapi dugaan itu salah. "Jika di hati Anda tidak ada rasa sedikitpun, maka biarkanlah saya mencintai Anda dalam diam."


"Cinta bagiku hanya akan membuat, seseorang menjadi bodoh. Contohnya yaitu kamu." Erlon mengatakan itu dengan perasaan bersalah. Ingin rasanya ia berterus terang tapi itu hanya akan membuat para musuh mengincar Ana.


"Kenapa Anda begitu egois Tuan, tidak adalah sedikit saja cinta di hati Anda untuk saya." Ana rela merendahkan harga dirinya, karena ia sudah benar-benar mencintai Erlon. "Saya pernah kecewa oleh Anda, bahkan sangat kecewa tapi saya tidak pergi. Apakah Anda tahu rasanya?"


"Aku akan menikah dengan Mila," ucap Erlon tenang. "Setelah kita berpisah." Ia pergi setelah mengatakan itu.


Ana menyeka air mata, ia lalu tersenyum getir. "Saya memang wanita bodoh, yang mudah percaya pada siapapun termasuk semua ucapan Anda," lirih Ana.


*

__ADS_1


*


Ana masih duduk di atas ranjang dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, ia benar-benar tidak tahu kenapa sifat Elron kembali menjadi seperti ini. Tak lama Erlon masuk dengan menatap tajam.


Erlon mulai membuka jasnya, berikut dasinya yang dilonggarkan dengan kasar. Ana membeku dengan kegugupan ketika Erlon semakin mendekatinya.


"Tuan … ."


"Kamu tidak mendengar kata-kataku, kenapa kamu masih di sini?" suara Erlon menggema mengerikan di dalam ruangan yang luas itu. "Kemas pakaianmu!"


Hening, Ana tidak menjawab ucapan Erlon. Hingga Ana merasa sesak nafas, ketika Erlon meraihnya supaya berdiri.


"Pergi, sebelum mereka datang."


"Mereka siapa Tuan, apa mereka lebih menakutkan dari Anda, dan kenapa Anda begitu takut. Bukankah Anda seorang psy–"


"Kamu tidak akan pernah mengerti, sekarang aku minta kamu pergi dari sini." Erlon berharap Ana mau mendengarnya tapi Ana malah menggeleng. "Briana, aku mohon … ."


Karena Erlon mendengar derap langkah kaki, ia yang tidak ada pilihan lain mendorong Ana untuk bersembunyi di bawah kolom ranjang dengan cepat. "Apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dan gunkan tanganmu untuk menutup telingamu," ucap Erlon sebelum mendorong Ana semakin masuk ke bawah kolom.


Pintu Apartemen Erlon terbuka dan terlihatlah laki-laki dengan setelan jas yang sangat rapi masuk begitu saja tanpa permisi. "Senang, bertemu denganmu Erlon."


"Cuih, laki-laki pengecut seperti kau tidak pantas untuk hidup," kata Erlon yang menyunggingkan senyum.


"Erlon … Erlon, sifatmu memang tidak pernah berubah." Laki-laki itu duduk di atas ranjang. "Sepertinya aku mencium bau benih-benih cinta disini."


"Bukan urusanmu," ucap Erlon seraya menarik jas laki-laki itu agar menjauh dari ranjangnya. "Dimana kau menyekap kedua orang tuaku?"


"Sepertinya kamu amnesia Erlon, bukankah kedua orang tuamu sudah tidak ada." Laki-laki itu lalu berjalan ke arah jendela. "Terima tawaranku, maka aku akan menghidupkan kembali kedua orang tuamu."

__ADS_1


Erlon tertawa dengan mata yang tajam menyala. Mendengar ucapan laki-laki itu. "Jangan harap brengsek!"


"Padahal niatku baik, hanya ingin menanam benih di rahim asistenmu, ops … ucapanku salah, maksudku istrimu." Laki-laki itu sengaja ingin membuat Erlon marah. "Hanya satu kali permainan di atas ranjang ini, dan harapanku kamu dapat menyaksikan itu semua. Hanya satu kali saja, tidak apa bekasmu aku terima."


Erlon yang murka menendang perut laki-laki itu. "Bedebah!!" Erlon kini akan siap menayangkan tinjauan tapi sebelum itu terjadi. Laki-laki itu menunjuk pintu. "Shittt!!" umpat Erlon yang melihat oma dan opanya sudah terikat di atas kursi roda.


"Serahkan istrimu, sebelum aku berubah pikiran." Laki-laki itu sedang mengancam Erlon.


*


*


Sedangkan di rumah sakit ... .


"Apa yang telah lo berbuat, sehingga kakak gue jadi begini!" kata Mila dengan nada yang penuh emosi ketika melihat Aurora hanya menunduk lesu. "Jawab gue!" bentak Mila.


Aurora tidak bisa menjawab, hanya air mata yang terus mengalir menandakan ia saat ini benar-benar terpukul atas kepergian Gio, laki-laki yang berstatus sebagai pacarnya itu.


"Lo, wanita pembawa sial!" Mila mendorong Aurora. "Lebih baik lo, pergi dari sini." Meski Mila mendorong dan membentaknya, Aurora tidak melawan seperti biasanya. "Kenapa gak lo saja yang mati, kenapa harus kakak gue!" Mila berteriak histeris. Karena sekarang ia kehilangan sosok kakak yang sangat menyayanginya. "Puas lo sekarang, melihat orang yang begitu mencintai lo terbujur kaku."


"Mila, aku juga tidak tahu. Kalau ini semua akan terjadi," kata Aurora yang menghapus air matanya. "Apa Tante sama Om tau ini se–" Kalimat Aurora terputus karena Mila menunjuk pintu. "Tante," panggil Aurora.


Tapi mamanya Gio mengabaikan Aurora, setelah tahu kalau ini semua terjadi karena Gio bertemu dengan Aurora. "Usir wanita ini Pa, dia wanita pembawa sial." Raut wajah mamanya Gio yang dulu selalu memancarkan senyum keramahan kini itu semua tidak terlihat lagi di wajahnya. "Usir, Pa. Aku tidak mau melihat wanita ini di sini!"


"Tante maafkan aku, andai saja aku tahu ini semua akan terjadi. Mungkin aku ak–"


"Ternyata kamu sama saja seperti almarhum Mama kamu, pembawa sial, " potong nyonya Olive yang kemudian mendorong Aurora sama seperti yang tadi Mila lakukan. "Untung saja, aku dulu tidak jadi menikah dengan Papa kamu yang ternyata seorang pembunuh juga." Nyonya Olive adalah wanita yang dulu sempat ingin di jodohkan dengan Darel. (Ada Di cerita ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH). Mampir jika kalian penasaran.


Cacian dan makian keluar dari mulut nyonya Olive dan Mila, tapi Aurora menjadi seperti Ana yang hanya bisa diam saja. Karena ia tahu ini juga salahnya.

__ADS_1


Anda yang tahu, laki-laki itu siapa? Jawab di komen ya, kakak😁 dan apakah kakak kasian sama Aurora?


__ADS_2