Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Pilihan Yang Sangat Sulit


__ADS_3

Ana menunduk malu, ketika dia disuruh membuka seluruh pakaiannya oleh tiga wanita yang Erlon tadi hubungi untuk memijatnya. "Badan saya tidak sakit, jadi untuk apa kalian ingin memijat saya." Ana masih teguh dengan pendiriannya.


"Nona, meskipun badan Anda tidak sakit. Kami akan tetap memijat Anda karena itu permintaan tuan Erlon," kata salah satu wanita yang rambutnya sebahu.


Erlon yang sudah keluar dari tadi membuat Ana berpikir ia harus bisa menyuruh tiga wanita yang ada di depannya saat ini harus pergi, tapi itu tidak mungkin terjadi karena Erlon tiba-tiba saja masuk ia ingin mengambil berkas diatas meja yang ketinggalan. "Kenapa kalian malah diam saja," suara Erlon membuat Ana mengangkat kepalanya untuk melihat Erlon. "Kamu juga, ngapain di pojokan." Erlon menunjuk Ana yang sedang menatap dirinya.


"Maaf tuan, tapi istri Anda tidak mau membuka bajunya." Sekarang giliran si rambut panjang yang membuka suara, karena ia tahu temannya tidak mungkin berani menjawab. "Malah dia beberapa kali mengusir kami," sambungnya.


"Apa benar?" tanya Erlon, yang kini mendekati Ana. "Tidak bisakah, kamu menurut saja. Aku sudah mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit." Sekarang Erlon sudah berada di depan Ana. "Berbaringlah, biarkan mereka melakukan tugasnya," perintah Erlon kepada Ana.


Ana bisa melihat Erlon saat ini sedang berusaha menahan emosinya agar tidak meledak. "Tuan, ta–"


"Istriku ternyata ingin digendong," ucap Erlon yang sudah siap ingin menggendong tubuh kurus Ana. "Apa sekalian, kita memberikan mereka tontonan gratis." Erlon mengukir senyum tapi menurut Ana itu senyum kemesuman.


"Baik, saya akan berbaring tu–"


"Sstt, kecilkan lagi suaramu. Aku tidak ingin mereka mendengarmu memanggilku dengan sebutan tuan." Erlon terlihat begitu mesra di bola mata ketiga wanita yang menatap mereka dari jarak lima meter itu. "Turuti atau aku sendiri yang akan membuka bajumu sekarang," ancam Erlon.


Ana tempa menjawab berjalan ke arah ranjang, ia pasrah jika nanti ketiga wanita itu melihat badannya yang putih mulus dihiasi dengan tanda merah bekas Erlon.

__ADS_1


"Istri saya memang pemalu, silahkan lakukan tugas kalian." Erlon akan pergi lagi setelah mengambil berkas itu, tapi ia berhenti di ambang pintu. "Kami pengantin baru, jadi maklumi." Perkataan Erlon membuat Ana menyembunyikan wajahnya di bawah bantal. "Kalau begitu saya permisi dulu, dan ingat jangan membuat istri saya merasa tidak senyaman." Setelah mengatakan itu Erlon menghilang di balik pintu.


"Nona, tolong duduk dulu, biar saya bisa membuka baju Anda," pinta wanita yang berambut sebahu.


"Biar saya buka sendiri," kata Ana yang membuka bajunya, dan seketika itu juga tiga wanita itu saling tatap.


"Tato alami," celetuk wanita yang rambutnya sebahu. Sedangkan yang rambutnya ikal sepertinya dia bisu sehingga hanya bisa menutup mulutnya karena terkejut.


Ana yang mendengar itu menjawab, "Iya, sangat alami sehingga badan saya mirip macan tutul!" ketus Ana.


"Maafkan teman saya Nona, dia masih gadis jadi belum mengerti," sahut yang berambut panjang. Ia takut Ana akan tersinggung.


"Tidak apa-apa, perkataannya memang benar apa adanya. Sekarang lakukan tugas kalian supaya kalian bisa cepat pulang."


*


*


"Sayang, kamu kenal, kan?" Gio tidak sabar menunggu jawaban Aurora.

__ADS_1


"Ternyata bukan, aku pikir tadi dia itu teman aku habis fotonya mirip banget, Maaf ya, Sayang. Aku gak kenal."


"Yah, kirain. Aku tadi sudah senang lho, sayang," kata Gio yang kini terlihat murung. "Dimana lagi aku harus mencari si brengsek itu, padahal aku sudah tanya sama teman-temanku. Ternyata mereka juga tidak ada yang tau."


Aurora sebenarnya merasa bersalah, karena sudah berbohong kepada Gio. Tapi ia juga tidak bisa gegabah ia akan menanyakan perihal ini dulu kepada Erlan. Karena Erlan lebih kenal dengan Erlon. "Nanti kalau aku lihat laki-laki yang ada di dalam foto itu, pasti aku akan cepat memberitahumu." Aurora melihat benda pipihnya yang ternyata sudah lewat jam sepuluh malam. "Aku pulang dulu. Ya, sayang. Karena ini sudah jam se–"


Gio menutup mulut Aurora, karena ia tidak ingin mendengar ucapan Aurora. "Sayang, kenapa kita tidak menikah saja. Supaya kita bisa bersama untuk selamanya." Gio dari dulu sudah sering mengajak Aurora menikah tapi Aurora selalu saja menolak dengan bermacam alasan. "Bila perlu malam ini, majikanmu biar nanti itu menjadi urusan ku."


Aurora menurunkan tangan Gio dari mulutnya, ia juga tidak tahu dengan perasaannya karena entah mengapa di saat dirinya sedang bersama Gio ingatannya selalu tertuju kepada Erlan. Berhenti memenuhi isi kepalaku, kutu buku apa kamu tidak bosan. Mungkin aku sudah tidak waras Ya Tuhan, gumam Aurora di dalam benaknya.


"Sebenarnya tujuan kita pacaran itu, supaya kita bisa mengenal satu sama lain. Tentang bagaimana sifat dan karakter kita masing-masing," ucapan Gio mendapat anggukan dari Aurora. "Lalu kenapa, sangat sulit sekali untuk mengajak kamu menikah," suara Gio melemah, ia sepertinya sudah kehilangan harapan. "Sampai kapan kita pacaran, sampai adikku Mila melahirkan? Itu bagaikan mimpi buruk, yang tidak pernah aku bayangkan."


Aurora bingung apakah ia harus jujur kalau dirinya sudah menikah, atau terus-menerus membohongi Gio. Tapi disisi lain ia masih sangat mencintai Gio, namun ia juga tidak mau pergi dari kehidupan Erlan. Apakah aku seegois itu, aku masih mencintai Gio, tapi aku juga tidak mungkin meninggalkan Erlan. Aurora bergumam.


"Apa bagimu, aku hanya bercanda ingin menikahimu." Gio selama ini memang tidak pernah mempermasalahkan kalau Aurora selalu saja menolak untuk diajak menikah. Tapi karena Mila hamil di tambah desakan kedua orang tuanya ia menjadi terkesan lebih memaksa seperti sekarang.


"Sayang, jika kita memang berjodoh. Maka takdir yang menyatukan kita dalam ikatan pernikahan," kata-kata Aurora terdengar sangat sopan masuk ke telinga Gio. "Jadi, kamu tidak perlu khawatir kalau jodoh tidak akan pernah tertukar."


Gio memang laki-laki baik, ia tidak pernah sedikitpun berniat ingin menodai Aurora meski mereka sudah lama berpacaran karena ia tahu wanita harus dijaga bukan untuk dirusak, Gio sama seperti laki-laki lain pada umumnya memiliki nafsu tapi ia harus tetap berusaha menjaga itu semua agar Aurora tidak kembali teringat pada traumanya, ternyata Aurora dulu sudah memberitahunya tentang Morgan yang mencoba melakukan pelecehan. "Jujur sayang, aku takut jika nanti aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Aku laki-laki normal yang memiliki nafsu kita sudah sama-sama dewasa. Pasti kamu mengerti apa yang aku maksud."

__ADS_1


Gio tampan, baik juga mapan. Tapi bagaimana bisa Aurora menikah dengan Gio disaat dirinya sudah menjadi istri orang. Yang dimana Erlan juga begitu sempurna di mata Aurora meski sifat Erlan kadang nyebelin. "Besok kita bahas lagi, ini waktunya aku harus pulang." Aurora tidak tahu kalau ternyata ada orang yang mendengar percakapan mereka dari tadi. Saat Aurora berdiri tiba-tiba ada yang menarik kerah baju Gio dan melayangkan bogem mentah. Buugghhh … .


Komen ya, apakah babnya harus banyak tentang Erlon sama Briana atau pasangan Erlan dan Aurora?? Mohon di jawab para pembaca setiaku🙏🤗


__ADS_2