Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Morgan Menemui Aurora


__ADS_3

Craang … .


Aurora dan Erlan saling pandang, ketika mendengar bunyi pecahan kaca. Dengan hati-hati Erlan berjalan membiarkan Aurora yang masih di dalam kamar mandi. "Aku lihat dulu sebentar, ya. Kamu tunggu saja disini."


Aurora mengira bahwa itu adalah ulah Morgan, maka dari itu ia mengekor di belakang Erlan. "Aku ikut," rengek Aurora.


Baru mereka akan melangkah seekor kucing meloncat dari arah jendela. Aurora yang takut dan alergi dengan kucing spontan berteriak. "Aaa, kucing. Jauhkan dari hadapanku Erlan," pinta Aurora yang sudah naik ke atas punggung Erlan. "Singkirkan Erlan, hatchii … chi … chi …!" Aurora bersin beberapa kali. "Aku alergi terhadap kucing Erlan!" teriak Aurora di kuping Erlan.


"Seriously?" tanya Erlan sambil menutup kedua telinganya.


"Iya, Erlan hidung ku terasa gatal, tenggorokanku juga." Aurora menutup mulut serta hidungnya. "Kita keluar saja, sepertinya suara pecahan tadi itu ulah si kucing ini." kata Aurora.


"Perkataanmu ada benarnya juga." Erlan dengan langkah lebar keluar dari sana setelah melihat dua ekor kucing, ia sangat khawatir karena baru tau ternyata Aurora memiliki alergi terhadap kucing. "Kucing adalah hewan yang paling imut dan lucu, bisa-bisanya kamu alergi terhadapnya."


"Memang imut, tapi mau bagaimana lagi aku alergi." Aurora mendengus sebal. "Turunkan aku sekarang, aku malu melihat tatapan orang-orang. Yang mengarah terhadap kita."


"Jangan hiraukan mereka," ucap Erlan pelan. Tanpa ia tahu kalau saat ini Aurora sangat malu. "Biar orang-orang itu tau, kalau Aurora hanya milik Erlan seorang." Erlan malah menaruh tangan Ana di lehernya. "Begini, supaya kita terlihat lebih Romantis." Ini untuk yang pertama kalinya Erlon menggendong Aurora di tempat umum seperti sekarang. "Pejamkan saja matamu, biar matamu itu tidak melihat tatapan orang yang iri."


"Jangan bercanda Erlan."


Erlan menggeleng, laki-laki itu terkekeh. "Kita sudah sah Aurora jadi, kata malu itu sudah tidak berguna lagi." Erlan berjalan santai seolah tidak merasa dibebani oleh tubuh mungil Aurora yang menempel di punggungnya seperti anak kecil. "Kata bercanda juga sepertinya sudah tidak ada lagi dalam kamus kisah cinta kita."


Aurora tidak menyahut Erlan, karena saat ini ia sedang mencium aroma tubuh Erlan yang menurutnya sangat wangi.


*

__ADS_1


*


Malam hari saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar, terlihat Aurora sedang mencari posisi tidur yang nyaman. "Erlan, kenapa belakangan ini aku sering merasa tidak nyaman. Jika tidak tidur di bawah ketiakmu."


"Karena calon anak kita tau, kalau tempat ternyaman itu hanya ada pada diriku." Erlan langsung meletakkan ponsel ke meja kemudian mencium kening aurora sambil membeli rambut. "Begini bukan?"


"Ya, sekarang terasa sangat nyaman sekali." Aurora mulai memejamkan mata karena ia merasa sangat ngantuk. "Wangi sekali. Ingat ya, besok-besok jangan mandi."


Rahang Erlan terbuka mendengar permintaan aneh Aurora. "Apa semua ibu-ibu hamil mengalami hal yang sama? Tapi kenapa kamu berbeda sendiri Aurora." Erlan menatap Aurora dengan pandangan menyipit. "Wangi dibilang bau, pas bau keringat begini eh, malah dibilang wangi. Mungkin saja hidungmu sedang bermasalah? Besok pagi kita harus pergi ke rumah sakit itu lagi, karena aku takut kalau ini adalah kutukan seekor kucing."


Tak berselang lama Erlan mendengar dengkuran halus. "Dari tadi aku bicara sendiri, ternyata dia sudah memasuki alam bawah sadar." Erlan dengan hati-hati meletakkan kepala Aurora ke bantal. "Aku kerja dulu sayang, supaya besok pagi aku bisa mengajakmu jalan-jalan."


Erlan memang pantas dijuluki si kutu buku, karena ia tidak kenal waktu yang penting dia tetap kerja di temani tumpukan berkas di ruang kerjanya. "Aku pamit ke ruang kerja ku dulu, mimpi indah bidadari cantikku." Erlan mengecup bibir Aurora. "I love you."


*


*


"Diam, jangan menjerit Aurora. Sayang," bisik Morgan. "CCTV di rumah ini sudah aku ganti dengan CCTV punyaku, dan juga tidak lupa aku menaruh penyadap suara. Jadi, kamu jangan macam-macam sayang." Morgan menyeringai saat melihat raut wajah Aurora.


"Dimana Erlan? Dan bagaimana cara kamu masuk kesini?" Meski agak takut namun Aurora tetap bertanya.


Morgan tersenyum puas, keterkejutan Aurora menghiburnya. "Seperti julukanmu dia cupu si kutu buku, bekerja tidak kenal waktu." Morgan menjatuhkan tubuhnya di sebelah Aurora. "Sangat mudah bagiku masuk ke sini Ara, sayang."


"Keluar Morgan sebelum aku panggil Erlan," ancam Aurora. Berharap Morgan akan takut.

__ADS_1


"Kamu nakal. Sayang, ingin memberi tahu cupu itu tentang kehadiranku? Apa kamu tahu resikonya, hem?"


Bibir Aurora enggan menjawab, Karena ia tahu selain licik Morgan juga hacker yang paling ditakuti di negara ini. Maka tak heran jika Morgan dengan sangat mudah menyadap seluruh CCTV di rumah Erlan.


"Ana, akan baik-baik saja, jika kamu menuruti perintahku." Tangan Morgan meraba perut Aurora. "Jika anak kita perempuan kasih dia nama Mora, itu singkatan dari nama kita ber—"


"Singkirkan tanganmu Morgan, jangan buat aku marah!" Aurora berkata ketus. "Anak ini akan mengakui Erlan sebagai Ayahnya, bukan bajingan seperti kamu!" Aurora membentak Morgan. "Tidak pantas juga kamu memberinya nama dengan nama brengsek mu itu."


"Opa, dan Oma kalian, sudah aku bunuh, apa itu belum cukup untuk membuatmu percaya?"


"Pembohong! Oma dan Opa sedang berada di Bali, mereka se–"


"Sttt … ." Morgan memotong ucapan Aurora. "Kamu boleh tidak percaya, Sayang. Tapi kenyataannya memang begitu mereka sudah mati, aku sendiri yang menebas kepala mereka."


Plak! Aurora yang terlanjur geram menampar pipi Morgan dengan keras. "Berhenti menakut-nakuti ku Morgan, aku tidak percaya dengan semua omong kosongmu."


Morgan memegang pipinya yang terasa panas dan perih bekas tangan Aurora yang menamparnya. "Baiklah." Morgan membuang nafas. "Biar aku bawakan kepala Ana sebagai gantinya." Morgan terkekeh.


"Kembalikan adikku pada suaminya." Mata Aurora memerah hampir saja berair. "Jika kamu bisa mengancamku, aku juga bisa Morgan." Aurora bangun untuk mengambil pisau pengupas buah. "Anak ini akan aku lenyapkan, aku tidak peduli Erlan akan marah atau tidak."


Sekali putaran dengan gerakan cepat, Morgan berhasil merebut pisau itu dari tangan Aurora. "Tidak semudah itu sayang."


"Kamu memang laki-laki brengsek, Morgan." Aurora berteriak paru.


"Aku brengsek karena kamu Ara, andai saja kamu menerima cintaku pasti ini semua tidak akan terjadi." Morgan mencium kening Aurora. "Aku pergi dulu, jaga anak kita baik-baik."

__ADS_1


Bibir Aurora bergetar. "Kamu manusia paling jahat di muka bumi ini Morgan!" teriak Aurora yang kini meringkuk di atas lantai dan menangis.


Apa kakak-kakak masih mau lanjut buat baca tentang Cinta Seorang Psycho? Jika iya, silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar.😊


__ADS_2