Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Perkara Ana Muntah


__ADS_3

"Kenapa? Apa nafasku bau?" Erlon bertanya karena baru saja ia akan m*l*m*t bibir Ana, tapi tiba-tiba Ana berlari menuju kamar mandi. "Ana!" teriak Erlon, namun Ana tidak menyahut. Akhirnya Erlon memutuskan untuk menyusul Ana ke kamar mandi.


Sedangkan Ana berada di kamar mandi, merasa sangat mual yang tidak bisa tertahankan beberapa kali ia muntah di wastafel. Ia mencuci mulut dan melingkarkan tangan ke perut.


Erlon menggedor pintu dari luar, ia terlihat bingung karena sudah setengah jam ia menunggu tapi Ana tidak kunjung keluar. Saat ia mendekatkan kuping ke pintu ia bisa mendengar suara muntahan Ana dengan samar-samar. "Ana!" Erlon memanggil dari luar. "Ana, kamu kenapa?" Erlon berdecak. "Jawab aku, apa kamu sakit? Ana, bicaralah walau satu kata agar aku tahu kalau kamu baik-baik saja."


"Tu-tuan, tunggu dulu … ." Ana membalas paru. Ia yang merasa efek mualnya berkurang langsung membukakan pintu.


"Kamu kenapa, masuk angin?" Erlon mengusap kening Ana yang terasa hangat. "Kamu sakit?"


"Sepertinya, saya masuk angin Tuan." Ana membenamkan telapak tangannya ke mulut.


"Kamu terlihat sangat pucat, kita pergi ke rumah sakit. Ya?" Erlon takut terjadi sesuatu dengan wanita yang sudah berhasil memporak porandakan hati serta jiwa dan raganya ini. "Hei, kenapa diam. Ayo kita pergi sekarang." Erlon juga takut Zizi akan marah padanya, maka dari itu ia berjanji pada dirinya sendiri kalau mulai dari sekarang ia akan berusaha bersikap baik.


"Tidak usah Tuan, di meja ada minyak kayu putih." Ana melangkahkan kaki ingin mengambilnya. "Cukup di oles di perut dan punggung, mungkin rasa mualnya bisa hilang." Setelah mengambil minyak kayu putih, Ana berjalan mendekati ranjang.


"Duduk dulu." Erlon menuntun Ana. "Sekarang berbaringlah." Ana menurut saja, dengan wajah yang sedikit gugup Erlon membuka pakaian yang menutupi perut Ana. "Biar aku yang, mengoleskan minyak kayu putih ini di perutmu, bolehkan?" Tanpa menunggu persetujuan Ana, Erlon menuangkan beberapa tetesan lalu diusapkan ke perut Ana. Dahi Erlon mengerut karena merasa ada tonjolan di perut Ana. Namun, ia tidak menghiraukan itu.


Erlon sedikit membalik tubuh Ana, diusapnya perlahan sambil memberikan sedikit pijatan. "Kalau sudah mendingan, tidurlah. Besok pagi kita pergi ke dokter."


Ana mengangguk, ia tidak percaya Erlon akan memperlakukannya sebaik ini. Yang biasanya sering marah-marah, tapi sekarang berbanding terbalik. "Anda ju–"


"Panggil aku sayang," potong Erlon, yang berbisik di daun cuping telinga Ana dari belakang. "Malam indahnya, kita tunda saja, apa kamu tidak keberatan?" Erlon melihat kepala Ana mengguk. "Pejamkan matamu." Erlon menyelimuti Ana, ia juga ikut memejamkan mata. Rencananya untuk membasmi musuh malam ini menjadi gagal karena ia tidak mungkin membiarkan Ana sendiri dalam keadaan begini.


*

__ADS_1


*


"Mana Ana?" tanya Zizi, ketika melihat hanya Erlon yang turun dari anak tangga untuk sarapan. "Erlon, Mommy tanya Ana mana?


"Dikamar Mom, sepertinya dia masuk angin. Tadi malam bolak balik terus ke kamar mandi untuk muntah." Erlon menguap beberapa kali. "Padahal Erlon sudah olesi minyak kayu putih, tapi tidak mempan. Apa Mommy tau obat yang paling ampuh?"


Zizi menyenggol siku Kenzo. "Dad, sepertinya di mansion ini akan ada Erlon kecil." Senyum Zizi terukir. "Mansion ini akan ramai oleh suara bayi-bayi yang lucu, itu artinya sebentar lagi Mommy-Daddy akan menjadi kakek dan nenek."


Erlon yang mendengar itu, membenarkan posisi duduknya yang miring. "Bayi, kakek, dan nenek. Jadi, maksud Mommy … Ana hamil?"


Zizi mengangguk sebagai jawaban, untuk Erlon. "Biar Mommy, yang membawakan Ana sarapan, Ibu hamil harus minum susu mulai sekarang. Sebentar Mommy buatkan dulu." Zizi segera beranjak. "Erlon kamu temani Daddy sarapan dulu, Mommy mau buat sarapan khusus untuk ibu hamil, lima sehat enam kenyang." Zizi terlihat heboh sendiri.


"Mom, jangan berlebihan begitu. Ana cuma masuk angin," ucapan Erlon membuat Kenzo meliriknya. "Mommy, duduk saja disini. Ana juga baru tidur, kasihan dia jika di bangunkan."


"Yah, gimana dong in—" Kalimat Zizi terputus tatkala mendengar suara hoek-hoek Ana dari atas, Zizi sempat melihat ke arah kamar yang ternyata pintunya terbuka. "Tuh, suara Ana. Mommy keatas dulu."


"Iya, Dad, nanti kalau Ana mau," balas Zizi yang sudah sampai di tengah-tengah anak tangga.


"Lift ada kenapa Mommy, harus lewat tangga?" Erlon bertanya pada Kenzo.


"Gitu deh, terlalu bersemangat sampai lupa. Padahal tadi malam sempat mengeluh kalau lututnya encok ketika Daddy menyuruhnya jadi atas," kata Kenzo tanpa malu.


"Uhuk … uhuk … uhuk." Erlon yang sedang minum langsung tersedak mendengarnya. Pikiran Erlon sudah traveling. Ia lalu membatin, Bisa-bisa nya mendapat jatah, sedangkan tadi malam aku gak dapat. Tidak adil sekali.


"Hei, jangan menatap Daddy begitu, tadi malam Daddy suruh Mommy buat naik ke punggung karena badan ini terasa penggal. Jangan berpikir yang aneh-aneh." Kenzo sepertinya tau maksud tatapan Erlon.

__ADS_1


"Oh, kirain. Daddy mau buat manusia baru," gumam Erlon.


"Emang Erlon mau, punya adek?" Kenzo mengaduk-aduk sarapannya, sambil menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Erlon.


"Ya, ampun. Daddy cukup nimang cucu, gak usah macem-macem." Erlon baru akan memasukan satu sendok nasi ke mulut, tapi suara Zizi membuatnya melepas kembali sendok itu.


"Erlon … Erlon …!"


"Iya, Mom, apa ada yang Mommy butuhkan? Biar Erlon ambilkan!" sahut Erlon, yang mengira Zizi butuh sesuatu.


"Kesini cepetan, nggak pakai lama."


"Apa Daddy tahu, Mommy butuh apa?" Erlon malah bertanya kepada Kenzo.


"Mana Daddy tau." Kenzo mengangkat kedua bahunya. "Makanya sana, sebelum suara Mommy tembus sepuluh oktaf."


"Suami istri sama saja," gerutu Erlon yang kemudian berlari karena melihat Kenzo sudah mengangkat piring kosong.


Di dalam kamar, Erlon melihat Zizi berdiri jauh dari ranjang masih dengan memegang mapan yang berisi segelas susu tadi, Ia pikir Ana menolak untuk minum susu itu. "Mommy kenapa? Apa Ana tidak mau minum susu?"


Zizi menggeleng. "Bukan … ."


Erlon kebingungan, karena melihat mata Zizi sudah berkaca-kaca. "Lalu kenapa, Mom?"


"Ana mengusir Mommy, katanya wangi parfum Mommy bau. Padahal Mommy sudah mandi sama Daddy berendam di bathup."

__ADS_1


Erlon menepuk jidat. "Kata-kata Erlon yang mengucapkan suami istri sama saja itu benar apa adanya." Erlon mengambil segelas susu itu. "Mommy wangi, mungkin hidung Ana yang bermasalah. Tunggu di sini Erlon ingin melihat Ana dulu." Erlon menaruh segelas susu di atas meja kemudian ia berjalan ke arah kamar mandi di mana Ana sedang muntah sekarang. "Hem, darama pagi ini Ana muntah," desis Erlon.


Menurut kakak apakah Ana sedang hamil? Jika iya, jawab di kolom komentar😊😊


__ADS_2