Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Bimo Berubah Derastis


__ADS_3

"Lama-lama kamu terlihat menarik juga adik ipar, apa kamu mau aku buat melayang." Morgan merangkak di atas tubuh Ana. "Aku lebih perkasa dibanding Erlon, aku yakin kamu akan mendes@h keenakan."


Ana tidak bisa bergerak, karena Morgan menekan tangannya. "Kamu benar-benar tidak waras Morgan." Ana berusaha menyingkirkan Morgan dari atas tubuhnya. "Menjauh dari ku Morgan, aku tidak sudi disentuh oleh laki-laki lain. Selain Erlon."


Morgan tersenyum menyeringai melihat leher jenjang Ana yang mulus, ia mencoba membenamkan wajahnya di sana. "Sangat wangi, pantas saja Erlon menjadikan lehermu tempat favoritnya." Kini giliran tangannya yang menyentuh leher Ana. "Pasti sangat sakit, maaf. Ya, adik ipar." Morgan terlihat bersalah karena di sana ada bekas cekikan yang tadi. Tangannya kini mulai turun ke bawah. "Pasti disini juga tempat favoritnya." Morgan sudah siap akan membuka baju Ana. Namun, tiba-tiba suara Alisa menghentikan aktifitas Morgan.


"Tuan, maaf mengganggu Anda, Tuan Firman sepertinya akan ikut pulang juga bersama kita," ucapan Alisa membuat Morgan menoleh. "Apa Tuan akan mengizinkan?" Alisa menunduk karena mendapat tatapan tajam dari Morgan.


"Lancang sekali kamu masuk." Morgan turun dari atas tubuh Ana.


"Tadi saya sudah mengetuk pintu," kata Alisa berbohong. "Kalau begitu lanjutkan Tuan, saya cuma mau mengatakan itu." Alisa sengaja menjatuhkan pot bunga plastik yang Ada di meja, ia lalu menunduk ingin mengambilnya, Tapi tangan besar Morgan menangkup kepalanya lalu ******* bibir itu dengan rakus.


Ana memejamkan mata, karena ia tahu maksud dari Alisa berjongkok tadi ingin menggoda Morgan. Dengan cara memperlihatkan dua gunung kembarnya.


"Kamu membangunkan singa yang tidur Alisa." Morgan kemudian menyeret Alisa ke atas kasur tepat di sebelah Ana. Ia menghempaskan tubuh wanita itu dengan kasar, meski begitu pantat Alisa mendarat dengan sempurna. "Baiklah, mari kita bersenang- senang." Seringaian tidak lepas dari wajah Morgan.


Alisa menoleh ke arah Ana yang saat ini juga sedang menatap dirinya. "Pejamkan mata Anda Nona," lirih Alisa yang tersenyum.


Morgan yang mendengar itu, dengan gerakan cepat menutup mata Ana dengan sapu tangan yang ada di sakunya. "Aku tidak sejahat dan setega itu adik ipar." Morgan membelai rambut Ana dengan pelan. "Berterima kasihlah, kepada Alisa karena dia yang akan menggantikanmu."


Alisa tanpa disuruh membuka seluruh pakaiannya, tanpa aba-aba Morgan menerkamnya seperti singa buas.


Ana bisa mendengar jelas desah@n, Morgan dan suara isak tangis Alisa. Di dalam hatinya ia mengutuk Morgan.


Morgan lebih gila daripada Erlon, bisa-bisanya dia bercocok tanam di sebelahku dasar iblis terkutuk. Dia pikir aku patung, desah@n itu aku benci mendengarnya. Kupingku jadi panas.

__ADS_1


"Morgan gila, jika ingin melakukan itu kenapa tidak membawa aku keluar dulu!" gerutu Ana yang tidak di hiraukan oleh Morgan yang sedang asik bergoyang di atas tubuh Alisa. "Sungguh menjijikan, aku benci berada di sini. Aku be—" Bibir Ana ditempeli lakban oleh Morgan supaya suara Ana yang cempreng tidak mengganggunya. Dalam melakukan olahraga.


Beda halnya dengan Alisa meskipun ia menangis, tapi ia tetap menikmati setiap sentuhan Morgan.


*


*


Di gedung yang sudah tidak ditempati pria gagah sedang berdiri menatap lurus ke depan. Melihat lampu perumahan elit yang berada di sekitaran sana. Pikirannya saat ini menerawang jauh, ia merasa kecewa karena orang yang dicintainya ternyata sudah menikah. Sekarang ia malah memikirkan bagaimana cara supaya ia bisa merebut pujaan hatinya.


"Dimana dia? Kenapa belum membawa gadis itu untukku?"


"Maaf Tuan, sepertinya keberangkatan mereka akan di tunda dulu," jawab asisten pribadinya.


Samuel menunduk. "Untuk itu, saya kurang tau Tuan. Tapi, mungkin saja ada urusan lain yang lebih penting. Ini hanya menurut saya saja."


"Kita pulang saja kalau begitu," ajak Pria sipit itu yang membuka kacamatanya. "Samuel, kenapa masih diam saja di sana?"


Samuel dengan cepat menyusul karena ia tahu Tuannya itu tidak suka yang namanya menunggu. "Tunggu dulu Tuan, sepertinya titik merahnya sudah mulai bergerak. Itu artinya Tuan Morgan sudah menuju ke sini," ucap Samuel antusias. "Tuan bisa lihat sendiri." Ia menunjuk layar tab sambil tersenyum memamerkan deretan gigi


putihnya. "Penantian Tuan selama ini, akhirnya akan berakhir."


"Adik manis yang dulu aku sayangi, yang aku damba-dambakan kini akan jatuh kedalam pelukanku." Pria itu menginjak kacamatanya. "Aku sudah tidak membutuhkan ini, karena penglihatanku sudah kembali normal."


Samuel akui pria yang saat ini berdiri di sebelahnya memang sangat menawan. Dia menjadi saksi bagaimana perjuangan tuannya untuk mendapatkan tubuh sixpack. Sehingga perut yang dulu dipenuhi oleh lemak yang membandel kini berubah menjadi deretan roti sobek.

__ADS_1


Matanya juga yang mengalami minus, kini sudah sembuh, ia tidak membutuhkan lagi kacamata penampilannya juga sekarang terlihat sudah berubah seratus delapan puluh derajat. "Apa aku pantas sekarang bersanding dengannya?"


"Sangat pantas sekali Tuan, Nona Ana cantik dan Anda tampan," puji Samuel, karena ia tahu tuannya pasti sangat senang mendengarnya. "Wanita manapun, pasti akan akan bertekuk lutut dihadapan Anda Tuan."


"Apa kamu yakin?" ia terlihat berpikir. "Aku rasa tidak dengan adik manisku, karena dia tipe wanita yang setia. Sangat sulit untuk meluluhkan hatinya," gumamnya. "Apalagi dia sudah menikah," sambungnya lagi.


"Anda cukup memberikannya perhatian yang lebih, karena wanita yang tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tua memiliki sifat keras kepala." Samuel akan terus memberikan tuannya kata-kata bijak. "Berikan dia rasa nyaman Tuan, buat seolah-olah Anda lah yang telah menyelamatkan dia dari Tuan Morgan."


"Ide yang bagus, sekarang kita susul Morgan dari arah berlawanan. Sebelum itu kamu hubungi dia du—"


"Terlambat Tuan, sepertinya itu mobil Tuan Morgan." Samuel memotong perkataan tuannya dengan cepat, ketika ia melihat mobil yang berwarna silver berhenti di dekat gedung itu. "Kita kembali ke rencana yang awal, bagaimana menurut Anda?"


"Terserah kamu saja Samuel, urus semuanya aku mau terima beres saja."


"Semua sudah beres Tuan Bimo yang terhormat, Anda tinggal membawa pujaan hati Anda pulang," sahut Morgan yang membuat Samuel mundur, karena sampai sekarang Samuel sangat menakuti sosok Morgan yang terkenal dengan kegilaannya. "Hai, Bro. Jangan mundur begitu aku tidak akan menyakitimu." Morgan semakin mendekat.


"Berapa uang yang harus aku keluarkan untuk menebusnya?"


"Aku tidak butuh uang, kamu cukup merawat dua pasutri itu dengan baik." Morgan melempar kunci mobilnya. "Apa kamu paham Tuan Bimo?"


"Berhenti memanggilku Tuan, telingaku gatal mendengarnya." Bimo meninju lengan Morgan. "Satu hal lagi yang ingin aku tanyakan, apa kamu sudah berhasil membuatnya menandatangani surat itu?"


Morgan memberikan Bimo surat itu. "Berhasil, karena aku mengancamnya dengan cara ingin melenyapkan calon papa mertua kita." Morgan tertawa kencang.


Keritik dan saran Ayuza tunggu di Komen😘 Karena Ayuza merasa tulisan ini semkain hari semkain berkurang yang ngelike😪

__ADS_1


__ADS_2