
Ana duduk di pinggir ranjang, ia tidak henti hentinya menangis. Kaki dan tangannya diikat menggunakan rantai, pergelangan tangannya sudah terlihat memar karena ia beberapa kali memberontak berharap Morgan mau melepasnya. Tapi itu tidak terjadi Morgan malah senang melihat Ana melakukan itu semua.
"Erlon, tolong selamatkan aku," gumam Ana lirih. "Dimanapun kamu berada, aku saat ini sangat butuh bantuanmu. Erlon datanglah dan selamatkan aku dari iblis terkutuk yang menyekap ku saat ini."
Dua hari ini juga Morgan mengurung Ana di dalam kamar, hanya Alisa yang selalu memberi Ana makan dan minum. Tapi pagi ini Alisa tidak masuk kedalam kamar untuk memberikan Ana makan, karena itu atas permintaan Morgan.
Morgan membuka pintu kamar, di tangannya terlihat membawa sebuah surat. "Apa kamu masih tahan, tidak makan dan minum seharian ini?" Morgan duduk di sebelah Ana. "Tanda tangan di surat ini, maka kamu akan aku bebaskan."
Morgan membuka satu lembar kertas. "Disini, tanda tangan. Jangan kebanyakan mikir, aku hanya ingin membantumu bebas dari Erlon."
Ana memalingkan pandangan ia benar-benar tidak habis pikir, kenapa Morgan begitu jahat sekali. Ana juga heran kenapa Morgan bisa berpindah-pindah tempat dengan sangat mudah. Baru tadi pagi Alisa memberitahunya kalau Morgan pergi ke jakarta. Tapi sekarang Morgan malah ada di Bali lagi.
"Aku juga membawa kabar bahagia, kalau sebentar lagi kamu akan menjadi Aunty." Morgan tahu Ana saat ini tidak nyaman duduk dengannya sedekat ini. "Itu artinya, kamu juga akan menjadi adik iparku."
"Aunty? Apa kak Aurora sedang hamil?" tanya Ana, yang mengira Aurora mengandung anak Erlan. "Jika kak Aurora hamil anak kak Erlan, jadi buat apa lagi kamu mengejar-ngejar kak Aurora?"
"Bagaimana bisa aku berhenti mengejar Ara, jika yang dia kandung itu adalah anakku. Darah daging seorang Morgan Rafarendra," jawabnya lantang.
Ana kaget bukan main mendengar itu, namun ia berusaha untuk tetap berpikir positif. "Tidak mungkin, kak Aurora bukan wanita yang mudah di sentuh oleh laki-laki. Apa lagi laki-laki itu … ." Ana memelototi Morgan.
"Jangan menatapku begitu, bola matamu terlihat akan keluar," bisik Morgan di telinga Ana. "Aku lebih kenal dengan Ara, jadi mudah bagiku untuk membuat Ara hamil. Apalagi dia wanita satu-satunya yang membuat hasratku menggebu-gebu." Morgan berbohong.
"Omong kosong, aku tidak akan mudah percaya dengan apa yang keluar dari mulutmu." Ana begitu berani mengatakan itu. Yang biasanya selalu takut tapi kali ini ia berbeda. "Bersenang-senanglah dulu, sebelum Erlon datang melenyapkanmu." Ana meludahi surat cerai yang Morgan bawa. "Hirup udara sebanyak yang kamu bisa, karena tidak lama lagi hidungmu sudah tidak berfungsi lagi." Ana sudah tidak mau memanggil Morgan kakak.
Morgan memegang dagu Ana. "Jangan lancang begitu, aku bisa saja melenyapkan mu. Jika saja kamu bukan adik dari kekasihku." Morgan mengusap bibir Ana dengan kasar. "Aku sudah berniat baik, ingin membantumu berpisah dari Erlon. Kamu malah memujiku mati!" ketus Morgan. "Satu lagi, Erlon tidak akan pernah datang menyelamatkanmu, karena nyalinya hanya sebesar upil. Dan dia juga tidak akan pernah berani membunuhku," sambungnya lagi.
__ADS_1
Ana diam memikirkan ucapan Morgan, karena ia tidak yakin kalau Erlon akan takut dengan Morgan.
Erlon takut dengan Morgan, terdengar sangat mustahil. Sepertinya ada yang tidak beres, batin Ana.
"Alisa!" panggil Morgan setengah berteriak. "Bawakan adik iparku makan, aku tidak tega melihat tubuh kurusnya ini," ucap Morgan yang kini berjalan keluar. "Malam ini kita akan kembali ke jakarta, karena aku tidak bisa terlalu lama berjauhan dengan Ara ku dan calon anak kami."
"Dasar pria gila! Tidak punya malu," geram Ana yang merasa Morgan sudah kelewatan batas. "Berhenti menjadi benalu dalam rumah tangga kakakku!"
"Ara hanya boleh bahagia bersama ku, tidak dengan laki-laki cupu itu." Morgan menutup pintu dengan sangat kasar.
Brakk … .
*
*
"Papa tau Morgan, kamu bolak balik dari jakarta ke Bali setiap saat. Jadi, untuk apa kamu memberi tau Papa lagi?" Pak Erwin menggulung lengan kemejanya. "Firman memang cacat Morgan, tapi itu semua tidak akan mengubah status kalian bahwa kalian adalah kakak beradik."
Morgan hanya melirik Pak Erwin sekilas. "Bagiku dia bukan siapa-siapa."
"Terserah kamu saja Morgan, akan tetapi Papa cuma minta jangan sakiti kakak mu," pinta Pak Erwin yang tahu kalau Morgan bisa melakukan apa saja.
Morgan berdiri, ia tidak berniat membalas ucapan Pak Erwin.
"Menikahlah, supaya penyakit libidomu sembuh." Pak Erwin sudah lama tau kalau Morgan memiliki penyakit libido. "Apa kamu dengar Papa Morgan?"
__ADS_1
"Aku tidak akan menikah, jika tidak dengan Ara ku. Apa Papa lupa itu?" Morgan tidak tahu kalau saat ini Alisa mendengar pembicaraan mereka. "Untuk penyakit libidoku, Alisa masih sanggup untuk melayani ku. Papa tidak usah cemas."
Pak Erwin sudah berusaha mencarikan Morgan obat, tapi semua obat itu tidak ada yang berhasil membuat Morgan sembuh. Malah sebaliknya penyakit libido Morgan semakin menjadi-jadi.
"Seharusnya Papa diam saja, tidak usah membahas penyakitku. Aku muak mendengar itu." Selama ini tidak ada yang tau kalau Morgan memiliki penyakit libido. Selain Pak Erwin. Tapi sekarang Alisa juga jadi tau setelah mendengar itu.
"Morgan, lepaskan wanita yang kamu ikat di kamar kamu itu." Pak Erwin takut Morgan akan tertarik melihat tubuh putih mulus Ana. "Jangan jadikan dia korban selanjutnya," ucap Pak Erwin yang takut melihat Morgan akan menggauli Ana. "Cukup Alisa saja yang melayanimu, jangan ada wanita yang lain."
*
*
"Apa Alisa sudah membantu mu untuk bersiap-siap? tanya Morgan saat setelah berada di kamar.
Bibir Ana sudah maju beberapa centi, sebelum menjawab Morgan. "Sudah, dan sekarang aku minta di lepaskan."
Morgan menghembuskan nafas panjang, mendengar permintaan Ana. "Aku akan melepaskanmu bila kamu sudah menandatangani surat perceraian itu, apa kamu mengerti adik ipar?" Morgan malah mengganti rantai itu dengan borgol. "Begini, lebih baik. Sekarang ayo kita jalan." Morgan membantu Ana untuk berdiri. "Aku sedang berbaik hati. Jadi, tidak usah ucapkan terima kasih."
Ana mendengus kesal. "Baik katamu, mungkin kata-kata itu tidak cocok untuk mu. Karena kamu laki-laki yang ingin merusak kebahagian rumah tangga kakak ku," cerca Ana.
"Berani sekali kamu menghina ku, apa kamu tidak ingat. Bagaimana aku melenyapkan Opa dan Oma?" Morgan mencekik leher Ana. "Apa kamu juga sudah bosan hidup?" Ia semakin kuat mencekik leher Ana. Sehingga Ana kesulitan untuk bernafas. "Aku juga bisa marah, bukan kamu saja adik ipar." Morgan mendorong Ana, setelah merasa puas mencekiknya. Dan sepertinya penyakit libidonya kumat, dilihat dari tatapannya yang begitu sendu.
Note: Libido adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan dorongan atau hasrat seksual seseorang untuk melakukan aktivitas atau hubungan seksual. Dalam hal ini, libido menjadi salah satu indikator penting untuk menjaga kesehatan seksual dan tubuh secara keseluruhan.
(Sumber google).
__ADS_1
Apa Morgan akan berhasil melakukan itu kepada Ana? Di jawab ya, akak Saras, dan Vita
Buat akak yang lain jawab juga ya😊