
Langit-langit kamar tampak kabur di pandangan Ana, ia kembali memejamkan mata lalu membukanya kembali. Ia masih mengingat dengan jelas tentang apa yang telah terjadi. Samar-samar ia mendengar suara Erlon yang sedang menyusun rencana untuk melenyapkan para musuh.
"Gimana menurut Daddy? Apa kita langsung melenyapkan mereka atau Erlon buat dulu mereka menjadi mainan. Mumpung tangan Erlon gatal."
"Terserah kamu saja Erlon, Daddy akan tetap mendukungmu." Kenzo tau Erlon tidak mungkin akan mengecewakannya. "Buat kamu Erlan apa rencanamu? Apa kamu benar-benar ingin menerima anak Morgan?"
"Mau gimana lagi, Erlan sudah terlanjur sayang dan cinta pada Aurora. Dad, maka Erlan juga harus siap menerima anak itu." Erlan membuang nafas. "Aku juga tidak bisa menyalahkan bayi yang tidak berdosa itu. Mungkin begini jalan takdir Erlan dan Aurora."
"Ini juga salah Daddy, karena tidak bisa menghentikan tindakan gila Morgan." Kenzo yang waktu itu berada di luar Negeri tidak bisa menolong Aurora dikarenakan CCTV pemantaunya tiba-tiba saja menjadi rusak. Untung saja Reza dengan cepat memperbaikinya tapi itu semua terlambat Morgan sudah berhasil menanam benih di rahim Aurora. "Daddy benar-benar minta maaf Erlan."
"Ini juga salah Erlon, Dad. Karena terkecoh dengan Firman dan Mila." Erlon menunduk merasa bersalah. "Erlon yang seharusnya pantas untuk disalahkan."
"Yang terjadi biar jadi pelajaran, supaya kedepannya lagi kalian lebih berhati-hati lagi." Kenzo mencoba jadi orang tua yang bijak dalam mengatasi situasi seperti ini. "Birkan Erlon yang menyelesaikan ini semua, untuk kamu Erlan ikut Opa dan Oma."
"Maksud Daddy, Erlan akan tinggal dengan Oma dan Opa?" tanya Erlan.
"Iya, kamu bertugas jaga Oma dan Opa, Aurora pasti tidak akan keberatan. Disana kalian akan hidup bahagia, karena Erlon akan membantai musuh malam ini juga."
Aurora dan Zizi yang baru selesai memasak menghampiri tiga pria yang memiliki pemikiran yang berbeda beda itu.
Zizi membutakan kopi untuk Kenzo dan Erlon sedangkan untuk Erlan teh karena Erlan tidak suka Kopi. Ia meletakan mapan dan duduk di sebelah Kenzo. "Ngomongin apa kok wajah putra Mommy terlihat tegang begitu? Apa Daddy memarahi kalian?" Zizi memberi kode kepada Aurora agar duduk di sebelah Erlan. "Duduk Sayang, di sebelah suami kamu."
Aurora baru saja akan duduk, namun suara Ana yang memanggilnya membuat dirinya menatap Ana yang ternyata sudah sadar.
"Kak Aurora … kak," suara Ana paru.
Aurora langsung menghampiri Ana, dengan wajah yang terlihat sangat bahagia. "Ana, adikku. Kamu sudah sadar." Aurora membantu Ana untuk duduk. "Apa ada yang sakit? Dimana biar kakak obati."
Perhatian Aurora membuat air mata Ana merembes sangat deras melalui sudut matanya, ia bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaan Aurora ketika tahu sang kakak telah dihamili oleh laki-laki brengsek seperti Morgan.
"Lho, kenapa menangis? Bukankah Ana harus senang kalau Mommy dan Daddy sudah kembali?" Aurora mengusap air mata Ana. "Adik kakak, yang paling cantik. Jadikan ini air mata terakhir yang keluar dari mata indahmu. Oke!"
Ana tidak menjawab hanya suara sesenggukan yang keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa mengangguk tanpa sanggup mengungkapkan sepatah kata. Hatinya terasa nyeri saat melihat senyum paksaan yang Aurora tunjukkan untuk semua orang. Ia tahu saat ini sang kakak hanya berpura-pura tegar.
__ADS_1
"Kakak tidak apa-apa Ana, karena kakak sudah bisa terima semua takdir ini," kata Aurora yang sepertinya tahu isi hati Ana. "Kita akan jarang bertemu, karena kakak akan tinggal bersama Opa dan Oma. Ana jaga diri baik-baik, ya." Ternyata Zizi sudah memberi tahu Aurora.
*
*
Ana sepertinya tidak mau melepaskan pelukannya dari Aurora, karena ia tidak mau berpisah dengan sang kakak. "Kenapa kita semua tidak tinggal disini saja bersama-sama." Ana semakin erat memeluk Aurora.
"Ana, sayang. Disana ada perusahaan yang harus Erlan urus. Jadi, Aurora harus tinggal di sana tidak mungkinkan Aurora tinggal disini sendiri di saat Erlan di sana." Zizi berusaha membujuk Ana. "Besok kita susul ke sana kalau Aurora melahirkan, apa Ana mau?"
"Masih lama Mom," jawab Ana sambil mengusap ingusnya.
Zizi yang kehabisan akal, memberi Erlon kode supaya membujuk Ana.
"Gini deh, nanti kalau urusan kita disini selesai, kita langsung menyusul kesana." Erlon bicara santai.
"Benarkah?"
Ana akhirnya mengalah, dan membiarkan Aurora pergi. "Hubungi Ana jika kakak sampai," ucap Ana yang sekarang melirik Opa dan Oma. "Opa, Oma … ." Ana akan memeluk oma Daniar tapi Erlon menghalanginya. "Kenapa menghalangi saya Tuan?"
"Tidak usah lama-lama." Erlon memperingati.
"Sebentar saja, Tuan," pinta Ana.
"Ana sayang, berhenti memanggil Erlon Tuan." Telinga Zizi tidak tahan mendengar Ana selalu memanggil Erlon tuan. Makanya ia menegur Ana supaya tidak menjadi kebiasaan. "Kamu juga Erlon, kenapa membiarkan istrimu memanggilmu dengan sebutan Tuan?"
"Erlon lagi Erlon lagi," gerutu Erlon yang mendengar namanya di bawa-bawa. "Mulut Ana saja yang terlalu sopan, Makanya manggil Erlon, dengan sebutan Tuan." Bibir Erlon komat kamit.
Kenzo menggeleng, melihat kekasihnya sedang memojokan putra mereka. "Erlon, apa kata Mommy mu benar."
"Daddy, malah ikut-ikutan." Tapi mata Erlon melirik Ana. "Hm, baiklah. Erlon yang salah."
"Laki-laki sejati, mengakui kesalahannya." Opa Hercules dan Erlan mengatakan itu secara bersamaan. Suasana yang tadi sedih berubah jadi suara tawa riang mereka semua.
__ADS_1
*
*
"Kita pulang kemana?" tanya Erlon yang sedang mengemudi.
"Mansion," jawab Kenzo yang duduk di sebelah Erlon. "Jangan menatap Daddy terus Erlon, lihat jalan di depan jangan sampai kamu menabrak pohon itu. Bisa-bisa balas dendam kita tidak akan terwujud."
"Bukankah Daddy hadap depan terus, gimana bisa tau kalau Erlon me—"
"Daddy juga tahu, isi hati kamu Erlon. Jadi jangan pernah macam-macam," potong Kenzo.
"Jika Daddy benar-benar tau, sekarang apa yang sedang Erlon rencanakan?" Erlon ingin menguji kemampuan Kenzo.
"Otakmu terlalu mesum Erlon, jadi semua rencana mu tertutup dengan pikiran jorokmu itu." Kenzo tersenyum tipis. "Apa tebakan Daddy benar? Makanya kamu langsung diam membisu."
Erlon nyengir terlihat deretan giginya yang putih. "Tebakan Daddy salah." Erlon lalu tertawa terbahak-bahak. "Sudah benar jadi psikopat eh malah sok-sokan jadi paranormal."
"Erlon, kecilkan suaramu, nanti Ana bangun." Zizi yang duduk di belakang mencolek lengan Erlon.
"Iya,Mom."
"Hentikan mobilnya dulu Erlon," pinta Kenzo. "Gandong Ana ke depan, biar Daddy yang duduk di belakang."
"Biarkan saja dia di belakang, sebentar lagi kita akan sampai mansion." Erlon semakin memperlambat laju mobilnya, ia tahu Kenzo tidak bisa jauh dari Zizi. "Di mansion saja nanti mesra-mesranya, jangan di dalam mobil!" ketus Erlon yang merasa iri.
"Dad, ada orang iri rupanya," seloroh Zizi.
"Iri sama Mommy dan Daddy, gak banget," balas Erlon yang merasa ucapan Zizi ada benarnya juga, tapi Erlon malu untuk mengakuinya.
Apa kisah si kembar harus sampai di sini?
Atau lanjut sampai mereka memiliki anak hingga cucu?
__ADS_1