
Aurora pulang dengan penampilan yang sangat menyedihkan, Erlan yang melihat itu heran karena tidak biasanya musuh adu mulutnya dalam keadaan begitu memperihatinkan.a "Aurora, kenapa penampilanmu seperti gembel?"
Aurora malah berhambur ke dalam pelukan Erlan. "Maaf …," lirihnya.
"Ada apa denganmu Aurora, dan kenapa tiba-tiba kamu minta maaf?" Erlan mengusap punggungnya Aurora. "Apa ada yang menyakitimu?" sambungnya lagi.
"Morgan, laki-laki itu telah membunuh Gio," jawab Aurora dengan air mata yang semakin mengalir deras. "Ini semua gara-gara aku."
"Morgan … aku kenal dia, tapi untuk Gio siapa dia? Dan apa urusanmu dengan Morgan laki-laki brengsek itu?" Erlan selama ini mengenal Morgan sebagai musuh Erlon. Jadi, ia tidak begitu terkejut ketika mendengar nama Morgan. Tapi ia heran dari mana Aurora mengenal Morgan bukan hanya itu, Erlan juga ingin tahu sipa itu Gio. "Kenapa dia membunuh Gio, apa Gio dia itu temanmu?
Dengan suara bergetar Aurora menceritakan apa yang sudah terjadi, mulai dari Morgan hingga Gio. Meski dengan terbata-bata namun Erlan tetap setia mendengar setiap kata demi kata yang keluar dari mulut Aurora. "Sekali lagi, maafkan aku … aku sudah menduakan mu."
Erlan rasanya ia ingin berteriak sekencang mungkin setelah mendengar itu semua, tetapi ia berusaha menahan diri. "Jika bersamaku membuatmu tersiksa, maka pergilah cari kebahagiaan itu." Erlan melepaskan pelukan Aurora. "Sekarang, sudah tidak ada lagi yang akan melarang kita." Erlan merasa hatinya saat ini sedang terluka. "Carilah laki-laki yang sesuai dengan keinginanmu." Erlan berbalik ingin meninggalkan Aurora. Tapi Aurora dengan cepat menghalanginya.
"Maukah kamu memaafkan aku." Aurora akan meraih tangan Erlan, tapi Erlan mengibaskan tangan. "Aku benar-benar menyesal, Erlan sekali lagi tolong maafkan aku." Aurora bisa melihat mata Erlan juga berkaca-kaca. "Aku tidak akan pergi kemana-mana, mari kita mulai dari nol. Aku akan menjadi istri yang baik dan penu—"
"Tidak Aurora." Erlan memotong ucapan Aurora. "Cukup sampai disini saja, aku akui aku memang laki-laki yang bodoh," ucap Erlan yang kini merasa Aurora sudah benar-benar sangat keterlaluan. "Selingkuh, sesuatu hal yang tidak bisa dimaafkan dalam hubungan. Apa lagi kita sudah menikah, tapi kamu malah melakukan itu semua di belakangku."
"Erlan, aku hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Aurora seorang wanita yang keras kepala, egois, kini berlutut di hadapan Erlan. "Kemana lagi aku akan mencari perlindungan, di saat orang-orang menghakimi ku seolah-olah aku manusia yang paling hina."
Jauh di lubuk hati Erlan, dia sangat kasihan melihat Aurora, tapi saat ini hatinya jauh lebih sakit mengetahui fakta bahwa Aurora tega bermain api. "Ternyata selama ini aku mencintai wanita yang salah." Erlan melihat Aurora yang sedang menunduk. "Pintu terbuka lebar, silahkan pergi dari sini." Erlan mengusir Aurora. "Angkat kakimu dari rumah kedua orang tuaku."
__ADS_1
Jantung Aurora seketika terasa seperti berhenti berdetak, ini untuk yang pertama kalinya Erlan mengusirnya. "Erlan, apa kamu tidak bercanda, disaat ak—"
"Cukup, Aurora. Kamu pikir hatiku tidak sakit." Erlan mundur beberapa langkah. "Di saat sudah begini, baru kamu meminta perlindungan pada ku." Erlan melepas jas. "Sekarang aku mengerti, bahwa ini alasanmu tidak pernah mau disentuh olehku."
"Erlan, apa yang harus aku lakukan, supaya kamu mau memaafkan aku." Aurora masih saja berlutut. "Katakan, supaya hubungan kita tidak berakhir sampai di sini." Aurora melihat Erlan yang juga melihatnya, tapi Erlan dengan cepat memalingkan pandangan. "Erlan," panggilnya pelan.
Erlan memejamkan matanya. "Keluar, atau aku yang akan menyeretmu secara paksa."
"Kamu tega Erlan, kemana aku harus pergi," suara Aurora sudah mulai serak. "Aku sudah tidak punya siapa-siapa, tidak mungkin aku akan pergi menyusul Ana di saat dia sedang bersenang-senang di sana."
"Tega, kata-kata itu pantas untuk kamu Aurora!" bentak Erlan. "Aku berusaha menjadi suami yang baik, apa pun yang kamu inginkan aku turuti. Tapi kenapa kamu malah membalasku seperti ini." Erlan mendekat dan berjongkok di di depan Aurora. "Kurang apa aku Aurora, ternyata sabarku selama ini kamu buat jadi mainan." Erlan memegang pundak Aurora ia membantunya untuk berdiri. "Mungkin aku bukan tipemu, bukan seleramu juga jadi, aku sudah lepas tanggung jawab, kita selesaikan ini di pengadilan."
… . " Aurora memegang perutnya yang terasa sangat sakit. "Erlan, tolong aku," lirih Aurora sebelum ia jatuh pingsan untung saja Erlan dengan cepat menangkap tubuhnya.
*
*
"Apa penyakit istri saya serius, Dok?" tanya Erlan kepada dokter yang tadi menangani Aurora.
"Sepertinya Anda sangat menyayangi, istri Anda Tuan," kata dokter itu sambil mengulum senyum. "Selamat, ya."
__ADS_1
Erlan heran melihat dokter itu malah tersenyum, di saat dirinya sangat mengkhawatirkan keadaan Aurora. Ia lalu membatin, selamat, apa dokter ini sudah gila, disaat Aurora kesakitan dia malah mengucapkaan kata selamat. Apa mungkin dia senang lihat Aurora sakit jadi pasiennya bertambah?
Erlan langsung saja bertanya, "Jangan membuat saya jadi penasaran begini, tolong Dokter jelaskan saya sekarang juga?"
"Apa Anda benar-benar tidak tahu?" Dokter itu bertanya balik.
Erlan menggeleng, Karena selama ini ia tidak pernah melihat Aurora kesakitan seperti yang tadi. Ditambah keluarnya darah padahal jadwal datang bulan Aurora masih lama, Erlan tau itu semua karena Aurora selalu memintanya untuk membeli pembalut.
"Itu hanya pendarahan biasa Tuan, Anda jangan khawatir. Jangan membuat istri Anda terlalu stres karena saat ini istri Anda sedang mengandung calon buah hati kalian." Dokter itu memberikan Erlan beberapa obat penguat kandungan. "Nanti kalau istri Anda bangun, berikan dia obat ini."
Erlan membeku mendengar itu semua, tenggorokannya terasa sangat kering. "Apa Anda serius, Dok?" Wajah Erlan tidak terlihat bahagia sedikitpun.
"Serius, Tuan. Apa Anda tidak bahagia mendengar kabar ini?" Dokter itu bingung melihat ekspresi Erlan. "Sekali lagi selamat Tuan Erlon."
"Saya sangat bahagia, Dok. Kalau begitu saya permisi dulu mau lihat keadaan istri saya." Erlan beranjak dari duduknya. "Terima kasih, Dok, atas ucapan selamat Anda." kemudian Erlan keluar dari ruangan dokter itu, ia akan meminta penjelasan kepada Aurora secepatnya. Karena ia tidak pernah menyentuh Aurora lagi setelah kejadian di hotel waktu itu.
Apa lagi ini, Ya Tuhan. Kenapa Engkau terus menerus mengujiku. Apa belum puas Engaku mengambil kedua orang tuaku. Erlan membatin.
*Hai kak, ada yang kangen gak nih, sama Ayuza. Maaf kemarin gak up karena Ayuza kehilangan ide😁 🙏
Apa ada yang tau anak siapa yang di kandung Aurora? Di jawab ya,😉*
__ADS_1