
Shawn mengerutkan keningnya, lalu tatapannya menatap kearah Fani yang sedang tertidur.
"Kami akan keluar besok. Sahabat yang mana maksudmu." Tanya Shawn yang tampak bingung.
"Kau akan tau nanti, kalau begitu aku tutup teleponnya." Ucap Rio mematikan panggilannya.
Rio meletakkan ponselnya diatas nakas samping tempat tidur lalu naik keatas ranjang dan berbaring dengan santai melihat wajah Tasya yang saat ini sangat ingin tau apa yang baru saja mereka bicarakan.
"Apa matamu tidak sakit ?" Tanya Rio menaikkan salah satu alisnya. Dengan cepat Tasya menggelengkan kepalanya. Membuat Rio tersenyum kecut.
"Dia akan pulang besok." Jelas Rio.
"Kemana ?"
"Menurutmu kemana lagi ?"
"Katakan padaku dimana ? aku harus membawanya pergi dari lelaki brengsek itu."
"Kau memang sangat pandai menilai seseorang. Tidak perlu membuat dirimu dalam masalah, sebaiknya kau tidur dan melupakan semuanya jika masih ingin melihat sahabatmu itu."
Tasya kini berbaring membelakangi Rio dengan wajah cemberutnya. Apa salahnya jika ia mengetahui keberadaan sahabatnya itu.
Rio memandang Tasya yang kini tidur seranjang dengannya. Tasya berbaring sangat jauh di tepi ranjang karena tidak ingin dekat-dekat dengannya.
"Kau pikir tubuhku penuh kuman hingga kau tidur sangat berjarak seperti ini ?" Ucap Rio.
__ADS_1
Sementara Tasya sama sekali tidak mempedulikan ucap Rio padanya.
"Bergeser kemari." Perintah Rio yang kini berbaring menghadap punggung Tasya. Untuk kesekian kalinya Tasya masih tetap dengan posisinya.
"Kau akan menyesal telah berpura-pura tidak mendengarkanku." Baru saja dia ingin menarik tubuh Tasya, tiba-tiba Tasya membalikan badannya hingga membuat mata mereka berdua bertemu untuk beberapa detik.
Sungguh, tatapan polos Tasya benar-benar membuat Rio ingin melahapnya saat itu juga, sedangkan Tasya ketakutan karena tatapan Rio yang begitu liar padanya.
"Kau, kau sebaiknya tutup matamu dengan penutup mata saat tidur." Ucap Rio yang tiba-tiba bangun dari posisinya.
Ia mengambil sapu tangan dari dalam jasnya, lalu memberikannya pada Tasya untuk menutup mata hingga besok pagi.
"Aku tidak mau, kau saja yang pakai." Ucap Tasya sembari mengibas tangan Rio.
"Tunggu. Apa? Serius ?! Aku akan tidur dengan mata tertutup ?" pikirnya.
Tasya yang merasa gugup karena mendengar suara Rio yang tampak meninggi pun langsung memakaikannya. Padahal dalam hatinya ingin sekali ia menendang Rio tepat di bagian tertentunya agar dia merasakan kesakitan yang luar biasa. Ini adalah rumah miliknya, namun dengan santai Rio terus memerintahkannya untuk memaki penutup mata seperti itu.
Namun tidak ada pilihan lain jika dia masih ingin selamat dari lelaki kejam itu.
Beberapa saat berlalu, kini Tasya tidur dengan mata yang di tutupi oleh saputangan milik Rio. Sementara Rio terus memperhatikan wajah Tasya.
Rio terbangun dari tidurnya karena merasakan sesuatu yang mungkin saja bisa membunuhnya saat ini. Yah itu karena Tasya yang terus menerus menaikan kakinya pada tubuh Rio, bahkan tangan dan kelapanya pun ikut ambil alih dalam hal itu.
Lalu penutup mata ? Percuma karena kain saputangan itu entah sudah berada dimana di buatnya.
__ADS_1
Rio sangat Ingin memukul kepala Tasya dan bahkan ingin menariknya keluar membiarkannya tidur di dalam kamar mandi, karena telah mengganggu tidurnya. Namun ia urungkan niatnya saat melihat Tasya yang tidur sangat nyenyak, walaupun sudah di panggil berkali-kali tetap saja tidak bangun dari tidurnya. Sementara Rio memutuskan untuk tidur di sofa.
_
Cahaya matahari tampak menyinari bebrapa sudut ruangan VVIP rumah sakit dimana Fani dirawat. Shawn membuka matanya terlebih dahulu, kemudian membersihkan wajahnya di dalam kamar mandi.
Hari ini Fani akan pulang kembali ke rumahnya. Tidak, maksudnya rumah milik Shawn. Sementara Shawn memutuskan untuk tidak masuk kerja dan akan menemani Fani seharian ini.
Setelah menyelasaikan beberapa surat-surat kepulangan akhirnya mereka kembali ke rumah.
Sementara apartemen Aron tampak kakek sudah berada disana dengan beberapa pengawal yang selalu siap siaga disampingnya.
Aron mengerutkan keningnya saat melihat kakeknya yang sedang duduk dengan ganas di ruang tamu apartemennya.
Untuk apa kakeknya datang sepagi ini ? Tidak ! itu tidak penting sekarang untuknya, karena lebih sialnya Fani saat ini sedang berdiri disampingnya dan dengan jelas dapat melihat keberadaan kakeknya dihadapan mereka.
Wajah lelaki paruh baya itu, tampak tidak memancarkan aura hangat seperti biasanya, melainkan aura kejam, bahkan Shawn tidak tahu apa penyebab kakeknya seperti itu ?
Apa karena dia melihat Fani ? Pikir Shawn.
Shawn menyuruh Fani untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu, dan jangan keluar hingga ia menemuinya dikamar.
Sementara Fani yang bingung dengan situasi canggung saat ini hanya menundukkan badannya untuk memberi hormat pada kakek Shawn sebelum melangkah ke kamar mengikuti perintah Shawn.
TBC... āšæ
__ADS_1