
"Apa aku tidak salah dengar? Dan sejak kapan kamu menjadi j*l**g ku?" Erlon dengan kasar menepis jari telunjuk Ana yang menunjuk wajahnya.
"Sejak Anda merebut, sesuatu yang paling berharga dalam diri ini." Ana terlihat tidak takut saat ia berhasil menjawab ucapan Erlon. "Satu lagi, Anda tidak berhak tau siapa laki-laki itu." Perasaan Ana semakin tidak menentu di saat ia melihat bekas lipstik Erika menempel di baju Erlon tepat di bawah lehernya. "Anda justru, lebih pantas disebut laki-laki sasimo," Ana mengatakan itu tanpa sadar.
"Sasimo?" Erlon terlihat bingung dengan kata yang baru ia dengar dari mulut Ana.
"Iya sasimo, sana sini mau!" ketus Ana. Ia seolah lupa bahwa dirinya sangat takut dengan Erlon. "Bisakah Anda minggir, karena Anda sedang menghalangi jalan saya, saat ini saya ingin masuk supaya bisa beristirahat."
"Istirahat? Itu tidak akan terjadi." Erlon menarik tangan Ana. Hingga mereka berdua masuk ke dalam kamar Apartemen. "Beraninya kamu berduaan dengan laki-lain lain, di saat suamimu sedang bekerja." Erlon mendorong Ana hingga terjatuh di atas ranjang.
"Owh, jadi selama ini, pekerjaan Anda hanya gonta ganti pasangan. Pantas saja Anda masih kalah jauh dengan kak Erlan." Ana bangun karena melihat Erlon akan membuka jasnya. "Pekerjaan yang selama ini Anda maksud, ternyata menebar pesona ke setiap wanita yang cantik dan sexsi di luaran sana."
"Sett, rendahkan sedikit nada suaramu, Briana tetaplah Briana tidak akan berubah menjadi Aurora." Erlon membuang jasnya ke sembarang arah. "Apa yang kamu lihat, dan apa yang kamu pikirkan. Itu semua belum tentu benar." Erlon sekarang membuka kancing kemejanya.
"Stop, saya tidak ingin disentuh oleh laki-laki yang sudah menyentuh wanita lain." Mata Ana sudah mulai berkaca-kaca, benar apa kata Erlon bahwa Ana tidak akan bisa menjadi seperti Aurora yang sangat bar-bar.
"Oh, ya. Apa seorang Erlon Almo Alvaro bisa di halangi? Atau bisa dilawan?" Erlon yang marah mendengar Ana, ia langsung menyobek kemejanya begitu saja. Padahal harga kemeja itu bisa buat Author membeli seblak serta pabriknya sekalian.
"Saya tidak mau!!" Ana membentak Erlon.
__ADS_1
"Sudah ku katakan, tidak akan ada yang bisa menghalangiku. Termasuk kamu." Erlon dengan cepat mengikat tangan Ana menggunakan sabuknya. "Dimana laki-laki itu menyentuhmu, apa di seluruh tubuhmu ini?"
"Tuan cukup, jika Anda terus-terusan memperlakukan saya semena-mena. Maka saya akan pergi jauh dari Anda." Ana tidak tahu Erlon saat ini sedang terbakar api cemburu, karena melihat Ana begitu akrab dengan laki-laki lain yang Erlon tidak tahu kalau laki-laki itu sebenarnya adalah Firman.
Nafas Erlon terdengar memburu. "Pergilah sejauh mungkin, karena menemukan mu adalah sesuatu yang sangat mudah." Erlon ******* bibir Ana dengan rakus. Sedangkan kedua tanganya bertugas untuk membuka baju Ana. Erlon sempat terkekeh melihat lukisan indah di bawah dada Ana, yang telah ia ukir indah.
"Mmmmm, uuummmm … ." Ana tidak bisa bicara karena Erlon terus saja ******* bibirnya.
Setelah Erlon merasa kekurangan pasokan oksigen, bibirnya sekarang malah turun ke leher Ana, dan tidak lupa pula ia meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
"Saatnya, apa kamu sudah siap?"
Ana menggeleng, baginya sudah cukup Erlon mempermainkan perasaanya. "Jangan lakukan ini lagi, jika di hati Anda tidak ada rasa cinta untuk saya." Air mata Ana lolos, tatkala tangan Erlon bermain liar di bawah sana. "Wanita mana yang rela melihat suaminya, begitu mesra dengan wanita lain. Katakan tuan wanita mana!!" suara Ana tidak menghentikan kegiatan tangan Erlon yang nakal.
*
*
Ana merasa kedinginan dengan cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, meski matanya masih terpejam. Ia tidak tahu kalau saat ini Erlon sedang memperhatikan dirinya.
__ADS_1
"Siapa laki-laki yang bersamanya itu, sepertinya aku mengenal postur tubuhnya tapi siapa?" Erlon menghisap sebatang rokok dan menghembuskan asapnya ke udara. "Aku harus segera mencari tahu, tidak ada yang boleh menyentuh mainan ku selain aku."
Tak lama Ana terbangun karena ia merasakan seluruh tubuhnya sangat sakit, ditambah bau minuman alkohol yang begitu menyengat. "Kenapa harus di kamar, tidak bisakah Anda menikmati minuman yang sangat berbahaya itu diluar saja atau bisa di atas genteng," gerutu Ana.
"Siapa laki-laki itu?" Erlon malah kembali menanyakan hal yang tidak akan pernah Ana jawab dengan jujur. "Jawab!!"
"Kenapa membahas laki-laki itu lagi, bukankah saya sudah mengatakan, saya tidak mengenalnya." Ana masih saja tidak mau memberitahu Erlon. "Saya minta tolong, Anda bawa semua minuman keras ini keluar karena baunya membuat saya ingin muntah." Ana menutup hidung dan mulutnya dengan telapak tangannya.
Erlon mendekat sambil memegang satu botol minuman alkohol itu yang belum ia buka. "Jawab, jangan membuat iblis pada diri ini terbangun." Erlon membuka tutup minuman itu dengan sangat mudah ia lalu meminumnya di depan Ana. "Satu … dua … tiga … ." Saat Erlon berhenti berhitung, tiba-tiba suara sirine polisi terdengar ia lalu menyalakan TV.
Ana mengucek matanya beberapa kali, ia juga membuka kupingnya lebar-lebar Ia pikir penglihatan serta pendengarannya sedang bermasalah.
"Erika putri dari, pengusaha tambang batu bara yang terkenal sangat kaya raya, dikabarkan telah tewas di dalam Apartemen miliknya. Menurut informasi yang saya dapat dari pihak yang berwajib Erika sepertinya bunuh diri."
Ana melihat dengan jelas mayat Erika tanpa di sensor, ia lalu beralih menatap Erlon. "Ini pasti perbuatan Anda, kan." Ana yang melihat Erlon hanya tersenyum merasa ia juga akan menjadi korban Erlon selanjutnya. "Tu-tuan, jangan menatap sa-saya begitu." Ana yang tadi begitu berani kini kembali berubah menjadi ketakutan.
Erlon memecahkan botol minuman keras itu, meski di dalamnya masih ada isinya. "Hanya ada dua yang ingin aku tahu, satu siapa laki-laki itu? Kedua pil apa ini?" Erlon mengarahkan botol yang sudah pecah itu ke leher Ana. "Jawab dengan jujur." Erlon lalu memberikan Ana pil KB itu.
Pil KB ku darimana dia mendapatkannya, aku harus menjawab apa sekarang. Ana membatin.
__ADS_1
"Briana!! Apa kamu tidak mendengar pertanyaan ku?" Erlon menjambak rambut Ana. "Apa kamu pikir aku bodoh." Erlon semakin kuat menjambak rambut Ana.
"Tu-tuan … ." Ana merasa bau alkohol itu semakin menyengat. "Huek … huek." Ana muntah ke perut Erlon yang masih bertelanjang dada.