
"Kamu ngusir Mommy?"
Ana menggeleng lemah. "Aku cuma tidak suka mencium bau parfum Mommy, kenapa hidungku menjadi jahat begini." Ana menoleh ia bisa melihat Zizi dengan jelas, yang masih berdiri di dekat pintu. "Sepertinya indra penciumanku sedang bermasalah."
"Aneh sekali, kamu orang pertama yang tidak suka bau parfum Mommy." Erlon terlihat mengeluarkan ponselnya dari saku. "Sebentar, biar aku hubungi dokter kepercayaan keluarga kita. Menyuruhnya untuk datang kesini." Erlon melirik Ana. "Belum diangkat, dan pesan yang aku kirim tadi juga belum di balas."
Zizi mencoba mendekati Ana dan Erlon.
"Tante Mawar lagi di ruang operasi Erlon." Zizi hampir saja lupa, karena tadi malam ia sempat meminta dokter Mawar untuk datang ke mansion karena sudah lama mereka tidak bertemu, tapi Mawar mengatakan kalau dia ada jadwal operasi.
"Bukan tante Mawar, Mom, tapi dokter Andin." Erlon menuntun Ana tapi Ana malah menepis tangan Erlon. "Kenapa?"
"Aku juga tidak suka mencium aroma far–" Lagi-lagi Ana muntah sebelum menyelesaikan kalimatnya. "Tolong menjauh dulu," pinta Ana yang menutup hidungnya. "Aku pernah masuk angin, tapi tidak separah ini." Ana mundur lagi karena Zizi semakin mendekatinya. "Perutku terasa seperti diaduk-aduk," sambung Ana yang kini sedang bersandar di tembok.
"Mom, di laci paling kecil itu ada masker," kata Erlon yang memiliki sebuah ide.
"Buat apa Erlon, kamu jangan aneh-aneh." Zizi tidak tahu apa maksud Erlon meminta masker. Namun, ia tetap menuruti perintah Erlon. "Ini ambil." Zizi melempar satu kotak masker.
Satu kotak masker itu mendarat di tangan Erlon dengan sempurna. "Dapat!!" seru Erlon. "Sekarang gunakan masker ini, dengan baik dan benar, supaya terhindar dari Virus."
"Jangan bercanda Erlon!" Zizi tidak habis pikir kenapa Erlon selalu saja bercanda dalam situasi apapun. "Bawa Ana ke rumah sakit, tunggu tante mawar disana."
"Dokter Andin deh, Mom. Kan, tante Mawar Dokter kandungan." Erlon membantu Ana memasang dua masker sekaligus. "Gimana? Apa bisa tembus tuh aroma-aroma parfum sultan?"
"Tente Mawar, Erlon, jangan membantah." Zizi bukannya tidak mau memberitahu Ana, tapi ia ingin Ana mendengar sendiri dari mulut dokter Mawar, kalau Ana sedang mengandung cucunya.
Ana yang sudah tidak mencium bau apa-apa, berhambur ke dalam pelukan Zizi. "Maaf, Mom. Bukan Ana mau mengusir Mommy tadi." Air mata Ana jatuh. "Hidung Ana sedang bermasalah, maukah Mommy memaaf–"
"Sayang, Mommy, jangan menangis lebih baik kamu bersiap-siap." Zizi membalas pelukan Ana. "Periksa ke dokter, dan kasih tau semua keluhan Ana. Semoga kabar baik yang kamu dapat."
"Lebih sayang ke menantu, dibanding anak sendiri." Erlon mengatakan itu karena ia merasa kasih sayang Zizi kepadanya sudah mulai berkurang. "Jangan-jangan, aku anak pungut."
__ADS_1
"Mulutmu Erlon, lambat laun kamu juga akan merasakan bagaimana rasanya menjadi orang tua. Yang akan menyayangi menantu dan cucu," balas Zizi. "Mandi dulu sana, calon Ayah kelakuan masih seperti bocah," omel Zizi yang masih memeluk Ana.
"Ana sama Mommy saja, Erlon sudah terlalu lama tidak pergi ke kantor." Erlon beralasan, sebenarnya ia ingin menemui Firman yang masih ia sekap. "Iya, Mom. Please … ."
"No, Mommy ada urusan juga." Zizi tahu Erlon tidak pernah suka dengan satu tempat yaitu rumah sakit sejak ia masih balita.
"Ayolah Mom, bukankah Mommy tahu kalau Erlon … ." Erlon sengaja menjeda kalimatnya karena ia malu didengar Ana apa alasanya tidak pernah mau kerumah sakit.
"Jarum-jarum di rumah sakit itu tidak akan melukaimu Erlon, mereka tidak akan bergerak dengan sendiri juga." Akhirnya Zizi membokar alasan Erlon yang takut ke rumah sakit.
Ana membuka mulutnya membentuk huruf O, setelah mendengar itu. Ia tidak percaya seorang Erlon psycho membunuh orang tanpa ampun takut dengan benda yang kecil yaitu jarum suntik. Soang takut dengan jarum suntik, berbanding terbalik dengan sifat kejam dan angkuhnya. Ana membatin, di balik maskernya juga bibir Ana mengukir senyum.
"Siapa bilang Erlon takut jarum, tidak ada ya, Erlon cuma kangen dengan suasana kantor makanya suruh Mommy yang nemenin Ana." Wajah Erlon bersemu merah. "Ayo Ana, kita ke klinik saja."
Zizi senyum penuh kemenangan, ini yang ia inginkan. "Gitu dong, batu namanya laki-laki jentelmen."
*
*
"Nomor 08, baru sampai nomor 3. Kita sampai kapan menunggu di sini," bisik Erlon yang risih ditatap oleh ibu-ibu yang mengantri. "Kalau tau begini, mending ke dokter Andin atau tante Mawar. Gak usah ngantri seperti ini."
"A-abang sendiri yang mau, sekarang malah nyesel kesini," kata Ana yang ingin membiasakan diri memanggil Erlon abang.
"Abang? What! Apa aku tidak salah dengar?" Erlon mantap Ana.
"Iya, Abang." Ana langsung menyembunyikan wajahnya takut di lihat Erlon.
Erlon terkekeh geli. "Sekian banyak panggilan yang bagus dan romantis kenapa kamu memilih kata Abang, aku geli sendiri mendengarnya." Erlon merasa lucu dengan panggilan itu. "Ganti yang lain, supaya lebih sopan masuk ke dalam telinga ini."
"Abang sa–"
__ADS_1
"Nomor 08, dengan nama Nona Briana." Seorang suster memanggil Ana.
"Iya, saya Sus." Ana mengangkat tangan.
"Silahkan masuk, Nona. Dokter Anggi sudah menunggu Anda."
Ana berdiri, tapi Erlon memegang pergelangan tangannya. "Aku tunggu di mobil gak apa-apa, kan?" Erlon meringis. "Tapi jangan kasih tau Mommy, iya."
Ana melihat raut wajah Erlon yang terlihat berubah. "Oke!" Ana kemudian masuk mengikuti suster yang tadi.
"Silahkan duduk, dan katakan apa keluhan Anda?" Dokter Anggi itu tersenyum ramah.
"Begini Dok, saya sepertinya masuk angin. Tapi kenapa malah hidung saya yang sensitif. Apa dokter bisa menjelaskannya kepada saya, tentang penyakit apa yang menyerang saya saat ini?"
"Anda sudah telat datang bulan berapa hari?"
"Sebentar dulu Dok." Ana menghitung menggunakan sepuluh jarinya. "Ya ampun, ternyata saya telat sudah dua minggu, apa rahim saya memiliki penyakit kanker?" Ana terlihat panik. "Dok, kenapa diam saja. Umur saya masih panjangkan. Soalnya saya belum mau mati gimana ini, Ya Tuhan."
"Siapa bilang Anda kanker?" Dokter itu terkekeh melihat ekspresi wajah panik Ana.
"Saya pernah baca di salah satu artikel, kalau orang yang tidak lancar menstruasinya itu tandanya dia memiliki penyakit." Ana takut itu terjadi pada dirinya. "Saya harus gimana Dok, mana saya masih terlalu muda lagi."
"Tenang dulu, coba gunakan testpack ini." Dokter Anggi memberikan Ana testpack. "Di sebelah sana ada toilet, silahkan Anda kesana."
"Saya cuma masuk angin Dok, tidak butuh tespek ini. Lebih baik Anda berikan saya obat saja." Ana malah meminta obat masuk angin. "Suami saya sudah lama menunggu di mobil."
"Dicoba dulu, baru saya akan kasih Anda obat," bujuk Dokter itu.
Gimana nih, suka karakter Erlon yang mana? Arogan yang angkuh atau kayak gini adem anyem? Author minta pendapat akak-akak😊
Dan panggilan apa yang cocok untuk Erlon?
__ADS_1