Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Kenzo Murka


__ADS_3

Kenzo yang melihat Morgan ingin melenyapkan Aurora, dengan nafas yang memburu menarik baju Morgan ia lalu melemparnya ke tembok. "Dasar pecundang!" Kenzo terlihat begitu murka. "Sekarang, kau tidak bisa kabur lagi." Kenzo lalu menyeret Morgan keluar, supaya Zizi tidak melihat dirinya memberi pelajaran ke Morgan. "Mom, kunci pintunya, dan jangan dibuka sebelum Daddy yang memintanya," ucapan Kenzo membuat Zizi tersadar dari lamunannya. "Mom," panggil Kenzo sekali lagi dengan nada suara yang sangat pelan.


"Baik, Dad. Mommy akan mengunci pintunya." Saat Zizi akan berjalan, tiba-tiba saja tungkai kakinya terasa lemas. Karena ia melihat Aurora tidak bergerak lagi, tidak seperti tadi saat pertama kali ia dan Kenzo masuk.


"Mom, kenapa? Ayo tutup pintunya," perintah Kenzo, yang tidak tahu kalau kaki Zizi begitu susah sekali buat digerakkan.


"Dad, kaki Mommy terasa lemas," jawab Zizi lirih sebelum ia jatuh duduk lemas di lantai yang sangat dingin tapi Zizi merasa lantai itu panas karena saat ini ia melihat Kenzo dengan tatapan yang berbeda itu artinya Kenzo pasti akan melenyapkan


Morgan setelah lama ia tidak membunuh lagi.


Dengan rahang yang mengeras Kenzo yang melihat Zizi duduk lemas langsung saja menghajar Morgan di bagian kepala dan juga kaki. "Kau terlambat! Ajal sudah di depan mata." Kenzo menghantam Morgan tanpa memberi celah sedikitpun sehingga Morgan tidak bisa melawan. "Kau berurusan dengan orang yang salah!" Dengan sikunya Kenzo menekan leher Morgan.


Sedangkan Morgan hanya bisa pasrah, saat ia tidak bisa menahan pukulan Kenzo yang membabi buta. Ia sekarang tahu ternyata Kenzo benar-benar kuat, tidak selemah yang ia bayangkan.


"Berani sekali kau mengusik ketenangan anak dan menantuku, sekarang rasakan akibatnya." Kenzo mengambil pistol dari saku celananya. "Tamatlah riwayatmu Morgan!" Ia sudah bersiap-siap menarik pelatuk tapi Zizi meneriakinya.


"Jangan Dad, Mommy mohon. Jangan kotori tangan Daddy lagi dengan darah." Zizi merasa kasihan dengan Morgan, entah mengapa hatinya tersentuh saat melihat mata Morgan yang akan mengeluarkan air mata. Dengan bersusah payah Zizi berusaha berdiri ia ingin menghampiri mereka berdua. "Mommy mohon Ded, jangan membunuh. Mommy bisa melihat kalau Morgan adalah anak yang baik."


Meski begitu, Kenzo sempat mengangkat dan melempar tubuh Morgan ke tembok lagi. "Mom, dia sama seperti papanya, sama-sama pintar berakting, jadi untuk apa Mommy merasa kasihan." Kenzo mengusap pipinya dengan sapu tangan karena darah yang keluar dari hidung Morgan sempat mengenainya tadi. "Lagi pula, penjahat sepertinya tidak pantas hidup."


"Bukankah manusia tidak ada yang sempurna?" tanya Zizi melihat ke arah Morgan yang tidak mengerang kesakitan, padahal tangan dan kakinya berwarna biru kehitaman akibat pukulan Kenzo. "Kita bukan Tuhan, yang berhak menghakiminya Dad, ayolah berdamai dengan semua ini. Supaya anak dan menantu kita bisa hidup bahagia selamanya, tanpa harus ada dendam seperti ini di antara kita semua.

__ADS_1


"Tidak bisa, selama penjahat seperti Morgan masih hidup, maka anak, menantu dan calon cucu kita tidak akan pernah aman," balas Kenzo.


"Percaya sama Mommy, Dad. Morgan benar-benar anak yang baik." Zizi bukannya menghampiri Kenzo ia malah mendekat ke arah Morgan. "Morgan hanya butuh teman, dan juga seseorang yang bisa mengerti perasaannya. Hanya itu saja."


"Jangan mudah tertipu oleh sifat polos dan sok lugunya Mom, dia itu sangat lici—"


Zizi dengan cepat memotong ucapan Kenzo. "Manusia bisa saja berubah kapan saja Ded, ayolah kita beri kesempatan buat Morgan." Zizi menuntun Morgan untuk duduk dan bersandar di tembok. "Lihatlah, dia hanya dijadikan kambing hitam oleh Olive dan juga Erwin. Dad, untuk kali ini saja jangan turuti keegoisan mu." Zizi melepas syalnya ia berniat ingin mengelap darah pada wajah Morgan.


Tapi Morgan menahan tangan Zizi. "Jangan Tante, benar apa kata Om Kenzo Morgan pantas mati," suara Morgan bergetar. "Hidup pun, percuma karena raga ini sudah seperti mayat hidup."


Zizi tanpa ragu memeluk Morgan. "Sttt, jangan mengatakan itu, Nak. Tante siap menjadi pendengar setiamu, ngeluh boleh tapi ingat jangan pernah menyerah." Zizi menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Semua orang memiliki kisah yang kelam, jadi jangan merasa dirimulah satu-satunya manusia yang paling memiliki salah dan banyak dosa."


Morgan yang tadi tidak mau membalas pelukan Zizi kini tangannya menyentuh wajah Zizi. Dan berkata, "Hati Tente terbuat dari apa? Kenapa Tante begitu membela Morgan di depan Om Kenzo." Air mata Morgan tiba-tiba saja menetes. "Aku terjebak dalam dua pilihan, jika aku tidak melakukan ini semua, maka … ." Morgan tidak berani melanjutkan kalimatnya.


"Maka apa? Ngomong yang jelas!" bentak Kenzo yang masih diselimuti amarah.


"Dad, rendahkan sedikit nada suaramu, ini rumah sakit. Nanti mereka yang sakit jadi tambah sakit mendengar suara Daddy."


Morgan menunjuk ke arah Bed dimana Aurora berada. "Tante, Au-Aurora, apaka—"


Satu hal yang Zizi lupakan dari tadi, melihat keadaan Aurora yang masih hidup atau sudah ma-ti. "Aurora!" Zizi melepas pelukan Morgan setelah menyadari itu semua. Saat dirinya melihat Kenzo menggeleng dan menutup wajah Aurora dengan selimut sampai tertutup Zizi seketika merasa dunianya berhenti berputar. Dan saat itu juga pandangannya menjadi gelap gulita.

__ADS_1


*


*


Di rumah Opa dan Oma, Erlan sudah terbangun dan akan bersiap-siap ke rumah sakit, tapi suara ambulance membuatnya berlari menuruni anak tangga dan tepat di ambang pintu utama ia terdiam dan mematung. Saat melihat Zizi di gendong oleh Kenzo.


Yang membuat Erlan lebih syok di belakang Kenzo petugas rumah sakit membawa peti jenazah. Ia berusaha berpikir positif tapi melihat raut wajah Kenzo yang biasanya selalu terlihat segar namun saat ini terlihat sendu. Ia bertanya, meski hatinya sudah tidak menentu. "Ded, itu jenazah siapa?"


Kenzo menggeleng sambi mengisyaratkan agar Erlan tetap kuat dan tegar. "Takdir, tidak membiarkan kalian untuk bersama."


Saat itu juga tubuh kekar Erlan hampir saja tumbang kalau saja penjaga di rumah itu tidak menahan tubuh Erlan, langit yang cerah seketika menjadi gelap gulita seolah ikut bersedih atas apa yang telah terjadi.


"Menangislah sepuasmu Nak, karena setelah ini tidak akan ada lagi air mata yang jatuh walau setetes." Perkataan Kenzo meluluh lantakan benteng pertahanan Erlan.


"Tidak, mungkin. Aurora masih ada di rumah sakit. Aku melihatnya masih terbaring dan kata dokter operasinya berjalan dengan lancar."


Kenzo tidak menjawab Erlan, matanya hanya fokus menatap wajah Zizi yang sedang ia gendong.


"Dad, katakan di dalam peti itu siapa?" tanya Erlan dengan takut-takut.


"Buka peti itu Erlan, supaya kamu bisa melihatnya sendiri," kata Oma Daniar yang mengusap air mata.

__ADS_1


__ADS_2