Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
episode 23


__ADS_3

"Kau terlalu banyak bicara, aku lelah dan ingin tidur sekarang." Ucap Shawn yang kini sudah berada di atas tempat tidur pasien tepat di samping Fani.


Emosi Fani semakin meluap, ingin sekali rasanya ia memukul lelaki dihadapannya hingga tidak lagi bernyawa.


"Asal kau tau, aku sangat membencimu." Ucap Fani dengan kasar tanpa melihat wajah Shawn.


"Aku tidak pernah meminta pendapatmu, sebaiknya kau tidur." Jawab Shawn yang kini menatap Fani dengan santainya.


"Menjauhlah dariku dan jangan menatapku seperti itu." Desis Fani dengan kedua tangan yang tampak di kepal kuat ingin memukul wajah Shawn.


"Bagaimana jika aku tidak mau ?" Jawab Shawn yang semakin memancing kemarahan Fani.


"Aku akan membunuhmu." Ucap Fani dengan berani menatap Shawn. Entalah, ia tidak yakin akan melakukan itu. Tetapi saat ini kata itulah yang ada didalam pikirannya.


Shawn tersenyum kecut saat mendengar jawaban dari Fani "Kau pikir kau siapa ?" Tanya Shawn dengan menaikan salah satu alisnya.


"Aku Fani, kenapa ?" Jawab Fani.


"Aku tidak pernah menanyakan namamu." Ucap Shawn sambil tertawa.


"Tapi kau baru saja bertanya." Ucap Fani dengan kesal.


"Ternyata aku memilih wanita yang salah. Kau cukup bodoh untuk wanita seusia mu." Setelah mengatakan itu, Shawn menarik tangan Fani hingga tubuh gadis itu kini sudah berbaring disampingnya.


"Walaupun kau bodoh, aku akan tetap berada disisimu." Ucap Shawn saat satu tangannya melingkar di pinggang Fani. Sementara Fani, hanya diam di tempatnya tanpa mengatakan apapun. Terjadi keheningan selama beberapa saat, sebelum Fani memutuskan untuk berbicara.


"Apa kau sudah tidur ?" Tanya Fani masih dengan posisinya yang membelakangi Shawn.


"Hm." Jawab Shawn.


"Apa kau tau hidupku sebelumnya bagaimana ? aku hidup dengan penuh kekurangan, tapi aku cukup bahagia dengan itu semua. Aku tidak pernah mengharapkan apa-apa sebelumnya selain bisa melanjutkan kuliahku dan hidup dengan baik." Ucap Fani dengan mata yang berkaca-kaca.


"Hm."

__ADS_1


"Tapi sekarang harapanku hanya satu...."


"Berhenti mengatakan apa yang ada dipikiranmu saat ini, karena aku tidak akan pernah melepaskanmu." Ucap Shawn yang memotong pembicaraan Fani.


"Aku tau, kau akan berkata seperti itu, tapi aku tidak akan menyerah untuk berusaha terlepas darimu." Ucap Fani.


"Lakukan sesukamu tapi untuk saat ini sebaiknya kita tidur." Ucap Shawn.


Hingga kini, Shawn dan Fani sudah tidur dengan nyenyak dengan posisi Shawn memeluk erat tubuh Fani. Dan mungkin saja saat ini mereka berdua sudah berada di dunia mimpi mereka masing-masing. Atau mungkin saja mereka berada di dalam mimpi yang sama.


Sementara di sisi lain tampak Tasya baru saja tiba di rumahnya. Kedua orang tuanya masih berada di luar negeri. Gadis itu terus-menerus menggerutu sejak tadi mengingat kelakuan Rio padanya.


Tiba-tiba ponselnya berdering, dan ternyata orang tuanya yang menelfon. Tasya berjalan masuk kedalam rumahnya dengan satu tangan memegang ponsel di telinganya. Ia terus menanyakan kapan kedua orang tuanya akan pulang. Namun jawabannya tetap masih lama.


Setelah selesai dengan telfonnya, Tasya masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka bajunya perlahan hingga menyisakan dalamannya. Tanpa ia sadari ternyata sejak tadi sepasang mata terus mengawasinya dari pojok kamar.


Tasya berteriak kaget saat membalikkan badannya melihat Rio dengan santai dan wajah datarnya duduk di salah satu sofa di kamar Tasya.


"A...apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Tasya dengan gugup. Saking gugupnya Tasya lupa untuk menutup bagian tubuhnya yang terlihat sangat jelas oleh Rio.


"Dasar cabul." Ucap Tasya membuat Rio tersenyum kecut.


"Tidak perlu menutupinya, suatu saat aku akan melihat semuanya." Ucap Rio percaya dengan percaya dirinya, dan memberikan jeda sebelum melanjutkan ucapannya.


"Yah, walaupun ternyata aku melihatnya lebih awal dari perkiraanku." Lanjut Rio yang masih dengan posisi duduknya.


"Sialan, keluar dari sini sekarang." Teriak Tasya. Saat ini ia tidak bisa menutupi wajahnya jika ia benar-benar malu hingga membuat seluruh permukaan wajahnya merah bagaikan udang yang digoreng.


"Sepertinya kau sendirian." Ucap Rio. Kini ia sudah bangun dari posisinya dan melangkah ke arah Tasya dengan tersenyum jahat membuat Tasya semakin ketakutan.


"Berhenti di sana, jangan mendekat." Teriak Tasya dengan terus memundurkan tubuhnya hingga kearah kamar mandi.


Sementara Rio sama sekali tidak mendengarkan ucapan Tasya. Ia terus berjalan hingga kini tubuhnya berdiri tepat di hadapan Tasya.

__ADS_1


Rio membungkukkan badannya sedikit hingga wajahnya sejajar dengan Tasya. Namun Tasya semakin ketakutan. Pikirannya sudah kemana-mana, mengingat keadaannya saat ini yang sendirian di rumahnya dan pakaiannya yang tidak memungkinkan.


Bagaimana jika terjadi sesuatu ?apakah saat ini adalah waktunya untukku melepaskan semua yang aku jaga selama ini ? aku tidak mungkin memberikannya pada lelaki jahat ini ? Pikir Tasya.


Tasya menundukan wajahnya ke arah bawah tidak ingin menatap wajah Rio sama sekali sementara Rio sangat menikmati keadaannya saat ini.


"Apa kau menikmatinya sayang ?" Ucap Rio tepat di telinga Tasya. Membuat gadis itu semakin gila karena merasa takut.


Sementara Rio, tangan kanannya membuka pintu kamar mandi perlahan, hingga membuat Tasya kaget saat mengetahui pintu kamar mandi terbuka.


"Kau ingin mandi bukan ? sebaiknya kau mandi sekarang karena badanmu sungguh sangat bau." Ucap Rio sambil tersenyum.


Mata Tasya terbuka lebar saat mendengar ucapan Rio yang mengatakan jika tubuhnya bau. Tanpa sadar ia mencium bau badannya tepat di hadapan Rio. Membuat Rio tersenyum lebar menunjukan giginya yang rapih nan putih.


"Kau sungguh laki-laki yang menyebalkan." Ucap Tasya sebelum menutup pintu dengan kasar dan masuk kedalam kamar mandi. Sementara Rio hanya tersenyum melihat reaksi Tasya yang sungguh berlebihan.


Rio memutuskan untuk berkeliling dan melihat-lihat keadaan kamar Tasya, sambil menunggu gadis kesayangannya selesia mandi.


Malam ini Rio memutuskan untuk tidak pulang kerumahnya, karena ia akan menemani Tasya di rumah besar itu. Entah apa yang ia pikirkan namun saat ini rasa khawatirnya sungguh jauh lebih besar saat membiarkan Tasya sendirian dirumah besar itu.


Ia tidak peduli reaksi Tasya padanya nanti, namun sekasar-kasarnya Tasya ia tetaplah seorang wanita yang akan luluh saat memohon namun Rio tidak akan memohon padanya karena ia akan mngancam Tasya agar gadis itu menurut dan membiarkannya menginap di rumah besar itu.


Tbc ... 🌵


Mau tanya dong teman-teman, menurut teman-teman sebaiknya author up perhari berapa episode ?


BERI AUTHOR VOTE YAH TEMAN-TEMAN ā¤ļø


Sekalian baca novel Author yang lain juga ;


- Die Or Be Mine


- My Boyfriend Is An Idol

__ADS_1


Terimakasih šŸ™šŸ˜˜


__ADS_2