Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Season 3 Kebenaran yang Terungkap


__ADS_3

Erlan mengusap air mata Zizi yang menetes. Ia tidak bermaksud membuat wanita yang selama ini menemaninya dalam keadaan terpuruk menjadi begini. Tiba-tiba saja rasa bersalah masuk ke relung hatinya yang paling dalam.


"Mom, maafkan Erlan, Erlan tidak bermaksud membuat air mata Mommy jatuh." Erlan mencium tangan Zizi beberapa kali. "Maafkan Erlan." Ia lalu meletakkan tangan Zizi ke kepalanya. "Mom, di dunia ini Mommy adalah wanita satu-satunya yang Erlan percaya." Erlan menarik nafas beberapa detik, ia kemudian menghembuskannya dengan kasar. "Erlan cuma mau tau kebenaranya saja Mom, supaya hati ini menjadi tenang." Suara Erlan serak karena entah mengapa tenggorokannya terasa sangat kering. Saat membahas ini semua tapi mau bagimana lagi Erlan ingin mendengar langsung dari mulut Zizi kalau Morganlah dalang dari kematian Aurora.


Beberapa bulan belakangan ini ternyata Erlan diam-diam menyelidiki sendiri tentang kematian Aurora, setelah ia merasa ada yang mengganjal dengan kepergian sang istri sehingga ia mendapat kenyataan yang begitu pahit. "Mom, Erlan mohon … jujurlah, supaya Erlan bisa merelakan kepergian Aurora."


Zizi langsung saja memegang wajah Erlan setelah mendengar itu semua, ia pikir mungkin ini waktu yang tepat untuk mengatakan semua rahasia yang disembunyikan selama ini. Dengan nafas yang beraturan Zizi mulai membuka suara ingin mengatakan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. "Maafkan Mommy sayang, apa yang kamu katakan memang benar apa adanya. Kalau yang telah membunuh Aurora itu … Morgan."


"Kenapa tidak dari awal Mommy berkata jujur," kata Erlan yang diam-diam mengepalkan tangan kirinya. "Pasti Mommy punya alasan 'kan, maka dari itu alasan apa yang membuat Mommy dan Daddy bisa memaafkan kesalahan fatal yang telah di perbuat Morgan?" tanya Erlan panjang lebar.


Zizi tau ini pasti akan membuat Erlan lebih


terkejut lagi, bagimana tidak? Ternyata Morgan dan Alisa adalah pasangan suami istri yang sudah menikah beberapa tahun lalu sebelum datang membuat masalah.


"Waktu itu, Mommy dan Daddy akan menjebloskan Morgan ke penjara. Tapi siapa sangka tiba-tiba seorang wanita yang sedang hamil besar datang bersama putri kecil yang kira-kira usianya baru tiga tahun. Dia bersimpuh di bawah kaki Daddy meminta belas kasihan." Zizi termenung ingatannya tentang sembilan belas tahun silam kini kembali lagi.


***


"Saya memang telah memaafkan mu Morgan atas apa yang telah kamu lakukan, tapi jangan lupakan kalau hukum harus tetap berjalan," ucap Kenzo datar.

__ADS_1


"Baik Om, saya bersedia mendekam di penjara. Menebus semua kesalahan yang telah saya perbuat." Morgan menunduk sendu. "Tapi saya mohon, Om harus membiayai istri saya melahirkan."


Kenzo tidak terlihat terkejut sama sekali setelah mendengar Morgan berkata begitu. Ia malah memberikan Morgan selembar cek. "Berikan pada istrimu, ini jumlahnya tidak sedikit." Kenzo melihat Morgan masih menunduk lesu. "Apa masih kurang? Jika iya, maka katakan saja."


"Ini sudah lebih dari cukup Om, tapi saya minta satu hal lagi. Tolong jaga dan lindungi istri saya, jangan biarkan Papa saya menyakitinya," pinta Morgan bersungguh-sungguh.


"Baiklah, saya bersedia tapi tidak janji," jawab Kenzo dengan ekspresi yang masih datar.


Sedangkan Zizi yang saat itu sudah sadar, bisa mendengar dengan sangat jelas percakapan Kenzo dan Morgan yang berada di luar. Ia juga sempat terkejud mendengar pengakuan Morgan yang mengatkaan kalau ternyata Morgan sudah memiliki istri dan sekarang tengah hamil. "Apa lagi ini Ya Tuhan," lirih Zizi yang kemudian turun dari bed karena ia mendengar suara yang sangat ia kenal berteriak memanggil nama Morgan beberapa kali. "Tunggu, bukankah itu Alisa wanita yang dulu tinggal dengan Aurora?" Zizi bertanya-tanya di dalam benaknya. Sambil mengintip dari jendela.


"Tuan saya mohon, jangan jebloskaan suami saya ke penjara." Alisa bersujud di kaki Kenzo sambil memeluk perutnya yang sudah membesar. "Saya tidak punya siapa-siapa lagi Tuan, tolong kasihilah kami." Alisa juga menuntun putrinya untuk ikut bersujud di kaki Kenzo. Tapi Morgan dengan cepat menggendong putrinya itu yang bernama Alena.


"Alena, kenapa kesini? Bukankah Papa sudah bilang kalau Alena sama Mama diam saja di rumah tunggu sampai Papa pulang." Morgan mencium pipi Alena beberapa kali. "Ajak Mama pulang, disini banyak jarum suntik," bisik Morgan menakuti putrinya.


"Tuan, saya berjanji akan membawa suami saya pergi jauh dari sini. Saya mohon Tuan tolong maafkan suami saya." Alisa sekarang merubah posisinya dari yang bersujud menjadi berlutut karena ia merasa perutnya terasa keram. "Tuan, saya mo—"


"Jika peristiwa ini terjadi pada putri kalian, pasti kalian akan melakukan hal yang sama," potong Kenzo.


"Alisa, biarkan aku menebus perbuatanku dengan cara memdapat hukuman begini." Morgan menurunkan Alena dari gendongannya. "Bawa putri kita pulang, tunggulah aku di ruamh sampai aku bebas nanti."

__ADS_1


"Hukuman di negara ini, jika kamu membunuh maka kamu juga akan di bunuh," ucapan Alisa seperti belati yang menusuk jantung Morgan. "Aku tidak mau itu terjadi padamu, putra kita akan lahir tanpa Ayah sedangkan Alena akan besar tanpa sosok Ayah." Alisa berharap Kenzo akan merasa iba.


Dan benar saja Kenzo dalam satu detik sudah menarik laporannya, supaya Morgan tidak jadi di jebloskan ke dalam penjara.


***


"Sejak saat itu dan detik itu juga Mommy dan Daddy terpaksa harus berbohong kepadamu Erlan," ucap Zizi yang melihat Erlan hanya diam saja saat mendengar ceritanya. "Apa sekarang Erlan bisa menerima semuanya? Apa penyebabnya Mommy menyembunyikan kebenaran ini."


Erlan menagngguk tapi di dalam hatinya, ia bersumpah akan menghancurkan anak keturunan Morgan. Ia hanya perlu bermain cantik supaya Zizi tidak menaruh curiga padanya. "Sekarang dimana dia tinggal?"


"Dia tinggal di perkampungan yang jauh dari ibu kota," jawab Zizi. "Kamu tau, Morgan sekarang benar-benar sudah berubah. Dia juga menjadi Ayah yang baik untuk putri dan putranya."


Erlan yang merasa ini kesempatan bagus untuk menggali informasi tentang keluarga Morgan dengan cepat bertanya, "Di sini atau Indonesia?"


"Di In—" kalimat Zizi terpotong di saat Kenzo menggedor kaca mobil itu.


"Mom, buka!" Kenzo masih betah menggedor-gedor kaca jendela. "Mau kamu bawa kemana Mommy kamu Erlan?" Kenzo panik ia pikir depresi Erlan kumat. "Ayo buka! Mom, jangan buat Daddy khawatir."


Zizi tersenyum melihat wajah Kenzo yang panik. Ia kemudian menurunkan setengah kaca mobil. "Dad, aku sama Erlan mau pergi ke salon. Kenapa kamu panik sendiri?"

__ADS_1


Kenzo bernafas lega ketika melihat wanitanya tersenyum. "Daddy kira Erlan … ."


"Dad, putra kita sudah sembuh."


__ADS_2