
Saat ini Erlan dan Aurora sedang duduk di ruang tamu, Aurora tiba-tiba saja membahas masalah kenapa ia bisa tidur begitu nyenyak dan tidak tahu kalau polisi datang kerumah Erlan membawa kabar yang membuat siapa saja akan shok.
"Kenapa sulit sekali bagimu untuk jujur kepada ku, kutu buku." Aurora terlihat sangat kesal karena Erlan berusaha menutupi kejadian pada malam itu.
"Aurora, tidak ada yang terjadi malam itu," kata Erlan yang tidak mau membuat Aurora kepikiran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi. "Jika kamu menanyakan Alisa, aku tidak tahu wanita itu pergi entah kemana."
Aurora berusaha berpikir keras, ia benar-benar tidak ingat kalau Alisa sempat memberikan dirinya minuman yang berisi obat tidur. "Aneh sekali, kenapa Alisa bisa menghilang di waktu yang bersamaan dengan kepergian … ." Aurora menghembuskan nafas panjang, ia tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Lupakan semua itu, apapun yang telah terjadi. Kita buat menjadi pelajaran, kalau kita tidak boleh percaya begitu saja dengan orang yang baru kita kenal." Erlan sebenarnya masih sangat sedih atas kepergian Zizi dan Kenzo tapi, ia berusaha terlihat tegar di depan Aurora. Semoga saja Aurora, tidak bertanya tentang kenapa bajunya juga bisa sampai sobek. Erlon bergumam di dalam hati.
Aurora menatap Erlan lekat-lekat ia tahu bahwa saat ini Erlan sedang menyembunyikan seuatu pada dirinya. "Meski mulutku sampai berbusa bertanya, kamu pasti tidak akan peranah mau jujur!" ketus Aurora, sehingga membuat Erlan menjadi serba salah. "Ternyata kamu tidak beda jauh dari Erlon, uh … dasar laki-laki emang dasarnya sama saja."
"Aku sudah jujur Aurora," ucap Erlan. Meski ia tahu saat ini dirinya sedang berbohong. "Dan ingat aku tetaplah aku. Erlon dan aku hanya kembar tidak dengan sifat kami, apa sampai sini kamu paham?"
"Dahlah, aku lama-lama malas bicara serius sama kamu. Jika ujung-ujungnya kalimat yang keluar dari mulutmu hanya omong kosong." Aurora masih belum percaya meski, ia melihat wajah Erlan begitu serius saat mengatakan itu semua. "Kata jujur bagimu, hanya kalimat penang supaya aku percaya. Iya, kan?"
"Aurora, bukan begi–"
"Cukup, kutu buku. Lebih baik kamu jangan bicara lagi kalau hanya untuk menbah beban pikirannku saja," potong Aurora dengan cepat. "Sangat menyebalkan," sambung Aurora sebelum ia pergi. Entah mau kemana setelah mendapat notifikasi dari benda pipihnya itu.
"Mau pergi kemana? Biar aku antar." Erlan akan berusaha terus nersikap baik kepada Aurora, meningat pesan terakhir Zizi. "Aurora, apa kamu dengar tidak!" seru Erlan saat melihat punggung Aurora semakin menjauh menuju pintu utama, Aurora juga tidak mau menjawab perkataan Erlan meski suara Erlan terdengar setengah berteriak. "Hmm, sepertinya aku harus menyetok kata sabar sebanyak tumpukan pasir di gurun." Erlan berniat ingin menyusul Aurora tapi langkahnya terhenti di saat melihat Oma Daniar keluar dengan menyeret koper.
__ADS_1
"Erlan, Oma minta tolong. Bawakan koper ini ke depan," pinta Oma Daniar, yang terlihat sangat kesulitan menarik koper itu.
Erlan terdiam, ia mengira Opa Daniar akan pulang ke negaranya.
"Erlan," panggil Oma Daniar, yang melihat Erlan hanya diam saja.
"Oma mau pulang?" Ada rasa tidak rela di dalam benak Erlan melihat Oma Daniar akan pulang.
"Siapa bilang? Oma sama Opa mau nyusul Erlon ke Bali." Oma Daniar berencana menyusul Erlon karena ia takut Ana akan Erlon perlakukan semena-mena. "Apa Erlan mau ikut? Sekalian kita berangkat bersama." Oma Daniar sedang mengajak Erlan. "Ayo, jangan kebanyakan mikir."
"Oma, bukan Erlan tidak mau. Tapi apakah pantas di saat mommy sama daddy baru pergi meninggalkan kita semua. Kita sudah akan pergi bersenang-senang?" ucapan Erlan memang ada benarnya, tapi tujuan Oma Daniar, supaya Erlan tidak terlalu berlarut-larut dalam kesedihan.
"Erlan, kamu benar mommy dan daddy kamu baru saja pergi, tapi percayalah di atas sana mereka tidak mau melihat kamu terus-menerus larut dalam kesedihan."
*
*
Gio tersenyum, di matanya Aurora semakin terlihat cantik saja. "Sayang, aku sangat merindukanmu. Kenapa menghubungimu sangat sulit sekali." Gio pura-pura merajuk.
Aurora merasa Gio terlihat lucu di saat ekspresi wajahnya cemberut, ia tanpa ragu mencubit pipi Gio. "Kamu gimana sih, aku sibuk kerja tau," kata Aurora, supaya Gio tidak curiga. "Kita mau pergi kemana malam ini? Tapi kita pulang jangan sampai larut malam."
__ADS_1
Gio meraih tangan Aurora ia lalu meletakkannya di dadanya. "Disini, entah mengapa kenapa hati ku selalu merasa. Kamu seolah menjauh, selalu menghindar dari aku." Gio laki-laki yang tulus mencintai Aurora tapi ia sampai sekarang tidak tahu kalau Aurora sebenarnya sudah menikah. "Hanya satu cara agar hati ini tenang, menikahlah denganku," pinta Gio.
"Sayang, aku tidak bisa menikah denganmu, maksudku. Aku belum siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan." Aurora bisa melihat kedua bola mata Gio memancarkan kekecewaan.
"Adikku sedang hamil, mama menyuruhku untuk segera melamarmu. Supaya Mila bisa menikah dengan laki-laki yang telah menghamilinya itu." Ya, ternyata Mila adalah adik kandung Gio. Mereka sebenarnya tiga bersaudara tapi adik mereka meninggal saat masih dalam kandungan. Gio memberitahu Aurora semua itu karena ia sudah berjanji tidak akan ada sesuatu yang harus ia sembunyikan dari Aurora.
Aurora terdiam, ia sedang mencerna semua kata-kata Gio pikirannya kini sedang mengarah kepada Erlon, karena waktu pertama kali bertemu dengan Mila ia sempat mengingat nama Erlon di bawa-bawa oleh Mila. Jangan-jangan … Erlon yang sudah, menghamili adiknya Gio, batin Aurora.
"Sayang kenapa malah melamun, dan apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Gio, yang melihat Aurora diam saja setelah ia memberitahunya tadi.
"Hamil, bukannya adik kamu belum menikah?" Aurora malah menanyakan Mila.
"Bukannya tadi aku sudah memberitahumu, apa kamu masih belum paham? Biar aku jelaskan sekali lagi sedetail-detailnya." Gio membuang nafas kasar sebelum ia melanjutkan kalimatnya. "Menurut pengakuan Mila, dia telah di perkosa oleh pacarnya dan sekarang aku sedang berusaha mencari laki-laki itu."
Aurora mengangguk mengerti sekarang. "Apa adik kamu, eh … maksud aku Mila, apa dia memberitahumu bagaimana ciri-ciri wajah pacarnya itu?"
Gio mengingat kalau Mila telah mengirim foto laki-laki yang ia kira telah memperkosa adiknya itu ke ponselnya. "Ini fotonya, Mila sendiri yang mengirimnya untukku." Gio memberikan Aurora melihat foto itu.
Mata Aurora hampir saja lepas dari tempatnya, setelah ia melihat ternyata dugaannya tidak salah. "Kamu tidak salahkan, dia ini … ."
"Apa kamu mengenalnya, Sayang?" Gio merasa kalau Aurora mengenalnya.
__ADS_1
"Dia itu," lirih Aurora.