
Lima jam sebelum Aurora pendarahan. Ia dan Erlan sedang melakukan olah raga panas di atas ranjang, mereka berdua sama-sama terhanyut dalam lembah yang penuh dengan kenikmatan.
Erlan terlihat begitu perkasa saat dirinya sedang berada di atas tubuh Aurora. "Apa aku terlalu kasar?" tanya Erlan sambil mengecup pipi Aurora.
"Tidak sama sekali, justru ini terlalu luar biasa," jawab Aurora tanpa malu-malu. "Lanjutkan, aku tidak mau membuatmu kecewa," sambungnya lagi.
Erlan terkekeh, sebelum menghentakan satu kali pinggulnya dan keluarlah sebuah cairan. Entah ini yang sudah keberapa kali. "Apa mau lagi?" tanya Erlan yang langsung menjatuhkan tubuh di sebelah Aurora. "Aku cuma bercanda, jangan menatapku begitu." Ia lalu tidur dengan cara terlentang namun, Erlan bisa mengetahui kalau Aurora sedang memelototinya. "Sayang … nama panggilan baru buat aku ke kamu. Tidak keberatan kan?"
"Sayang, boleh juga. Tapi sepertinya … awh, perutku Erlan," ringis Aurora secara tiba-tiba.
Erlan yang mendengar Aurora meringis, dengan cepat bangun dan melihat ekspresi wajah sang istri yang kini terlihat pucat pasi. "Apa aku telah menyakiti, istriku." Erlan belum sadar kalau darah sudah keluar merembes dari pangkal paha Aurora.
"No, bukan kamu. Tapi bayi ini yang sepertinya tidak ingin bertahan di dalam rahimku. Akhh … ." Aurora menekan-nekan perutnya sehingga darah semakin banyak yang keluar.
Erlan bergegas memakai pakaiannya, ia berniat ingin membawa Aurora ke rumah sakit terdekat, saat tangan Erlan menyingkirkan selimut yang Aurora kenakan, seketika kedua bola matanya hampir saja mau copot saat ia melihat darah segar mengalir. "Sial, aku telah menyakiti istriku." Lagi-lagi Erlan menyalahkan dirinya. Ia sekarang semakin terlihat panik.
"Bukan kamu, Erlan. Berhenti menyalahkan diri, akhhh … ." Aurora mengerang kesakitan. "Sa-sakit, sekali perutku Erlan." Aurora mencengkram sprai dengan sangat erat. Karena ia merasa sangat kesakitan tatkala darah itu semakin banyak yang keluar.
"Apa yang ha—" ucapan Erlan terpotong karena Aurora menaruh jari telunjuk di bibirnya.
"Bawa aku ke rumah sakit, jangan banyak bicara. Apa kamu tidak kasihan melihat ku?" tanya Aurora sambil menggigit kecil pinggir bibirnya karena ia sedang berusaha menahan rasa sakit.
Erlan yang mendengar ucapan Aurora, segera menggendong tubuh Aurora yang hanya dibalut selimut tebal. Karena ia juga heran kenapa dirinya menjadi bodoh di saat situasi begini.
__ADS_1
"Erlan, pakaianku jangan lupa!!" pekik Aurora yang baru menyadari kalau dirinya masih bertelanjang di dalam selimut tebal itu. "Erlan …!"
"Iya, Sayang. Nanti saja marah-marahnya kalau kita sudah sampai di rumah sakit. Untuk sekarang jangan pikirkan pakaianmu dulu."
"Akhhh, perutku. Kenapa bisa sesakit ini … ." Aurora menajamkan mata sambil terus berdoa supaya anak yang ia kandung lenyap. Karena ia tidak sudi mengandung benih Morgan, meskipun Erlan sudah menerima anak yang ia kandung tapi, jauh di lubuk hati yang paling dalam ia berharap anak Morgan tidak boleh lahir ke dunia melalui dirinya.
Ternyata Aurora hanya berpura-pura menerima anak itu, yang akan tumbuh berkebang di dalam rahimnya. Namun, tanpa Erlan tau Aurora sudah beberapa kali minum pil penggugur kandungan. Saking bencinya ia terhadap Morgan.
"Bertahan, aku akan segera membawamu ke rumah sakit," kata Erlan yang tidak tega melihat Aurora yang sedang menahan sakit.
Saat Erlan sudah berhasil membawa Aurora masuk kedalam mobil, tanpa ia tahu seseorang sedang memata-matainya dari kejauhan.
"Aku ngantuk sekali Erlan, apa boleh aku memejamkan mata?" Aurora terlihat seperti orang yang sedang berusaha untuk tetap terjaga. Meski perutnya semakin terasa sakit.
*
*
"Apa!!" Erlan begitu terkejut saat mendengar penjelasan dokter yang mengatakan kalau Aurora ternyata hamil di luar kandungan yang disebut kehamilan ektopik. "Selamatkan dua-duanya, saya tidak bisa memilih di antara mereka." Erlan bersuara lantang di depan beberapa dokter yang akan menangani Aurora.
"Tuan, maaf, jika Anda mempertahankan keduanya maka Nona Aurora akan kehilangan nyawa dan juga janin itu tidak akan bisa bertahan, jadi percuma saja." Dokter itu menghela nafas, sebelum melanjutkan kalimat. "Apa nyawa Nona Aurora tidak berarti bagi Anda? Makanya ingin terus mempertahankan janin yang jelas-jelas tidak akan bisa berkembang dengan baik."
"Saya tidak bilang mempertahankan janin itu saja Dokter!" Erlan menarik kerah baju dokter itu. "Saya katakan sekali lagi pertahankan keduanya bagaimanapun caranya. Apa Anda mengerti?"
__ADS_1
"Mustahil," jawab dokter itu tanpa ragu. Karena ia tahu Erlan pasti belum paham arah pembicaraannya. "Janin itu hanya bisa bertahan 5 sampai 10 Minggu. Kalau Anda tetap dengan pendirian Anda maka kami para Dokter angkat tangan."
"Apa kalian tidak tau, siapa saya?" Mata Erlan memerah. "Saya bisa saja menghancurkan rumah sakit ini dalam hitungan detik, cepat lakukan apa yang saya minta."
"Justru, kami tahu Anda adalah pengusaha kembar yang sukses di usia yang masih terbilang sangat muda." Dokter itu kemudian memberikan berkas, beserta nama-nama pasien yang meninggal karena berusaha mempertahankan kehamilan ektopik. "Keputusan ada ditangan Anda, kami harap Anda sudah mengerti karena ini demi keselamatan Nona Aurora."
Erlan terdiam, mencerna setiap ucapan dokter itu yang ia pikirkan bagaimana reaksi Aurora ketika tau kalau janin itu tidak bisa dipertahankan. "Baiklah, lakukan yang terbaik." Erlan akhirnya mengalah.
"Silahkan, Anda bisa keluar supaya kami bisa menjalankan tugas dengan baik dan benar." Dokter itu langsung saja bersiap-siap untuk melakukan operasi.
Tapi sebelum mereka akan menyiapkan alat-alat untuk melakukan operasi, pertanyaan konyol Erlan membuat para dokter saling tatap. "Tapi istri saya bisa hamil lagi, kan?"
"Tentu saja, Tuan," jawab para dokter serempak.
"Ingat, kalian harus melakukan yang terbaik," ujar Erlan yang melihat tubuh Aurora sudah berbaring di atas bed.
Salah satu dokter membuka suara, "Jika Tuan ingin menemani istri Anda. Tolong pakai baju yang sudah disterilkan ini, lalu segera masuk ke dalam ruang operasi."
Erlan yang merasa tidak akan tega melihat itu semua, menggeleng. "Saya akan tunggu di luar, kalian semua lakukan tugas dengan baik. Jika ada sesuatu yang terjadi dengan istri saya. Jangan harap rumah sakit ini masih berdiri kokoh seperti sekarang." Setelah mengatakan itu Erlan keluar dengan pikiran yang tidak menentu.
Hai akak-akak, gimana kabar kalian? Semoga kalian semua baik-baik saja😊 Ayuza sudah kembali lagi nih … bilang Hadir di kolom komentar kalau akak-akak masih setia pantengin cerita tentang dua Er😘
Jika pembaca Ayuza berkurang maka kisah si kembar cukup sampai di sini🙃
__ADS_1