Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Gagal Gara-Gara Bunyi Bel


__ADS_3

"Kamu!" seru Aurora saat melihat Morgan tersenyum sambil terus memukul Gio dengan sangat brutal. "Hentikan, apa kamu tidak malu dilihat orang!" pekik Aurora yang berusaha menghalangi Morgan supaya berhenti memukul Gio. "Aku bilang hentikan!" teriak Aurora yang membuat Morgan beralih menatapnya.


"Ara, kamu lebih memilih laki-laki ini dari pada aku," ucapan Morgan tidak Aurora hiraukan, ia lebih memilih membantu Gio berdiri karena Gio tadi sempat jatuh tersungkur akibat mendapat serangan mendadak dari Morgan. "Ara," panggil Morgan.


"Berhentilah menggangguku, aku sudah tidak kenal denganmu. Tidak salah kalau selama ini aku sangat membencimu." Aurora terlihat sangat marah saat ini. "Aku sangat muak melihat wajahmu, pergi dari hadapanku sekarang juga!"


Sedangkan Gio hanya bisa meringis di saat Aurora menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya dengan tisu. "Siapa dia?" tanya Gio yang penasaran.


Morgan yang menjawab dengan tanpa tahu malu. "Aku kekasih Ara, dan sebentar lagi kita akan menikah iya. Kan, sayang."


Gio mengeraskan rahang, karena yang ia tahu Aurora hanya miliknya seorang. "Apa itu benar? Jadi ini alasan kamu, tidak mau menikah denganku karena laki-laki ini."


Aurora menatap Morgan ia akan memberitahu Gio bahwa Morgan laki-laki yang dulu ia ceritakan. "Dia … ." Tunjuk Aurora kearah Morgan. "Laki-laki yang ingin melecehkan aku di masa lalu." Aurora meneteskan air mata. "Iya, dia adalah Morgan," suara isak tangis Aurora terdengar sangat memilukan, karena sekuat apapun ia berusaha tegar dan berusaha kuat pasti ia mempunyai titik lemah.


Gio sempat terdiam sebelum melayangkan pukulan ke Morgan Buuggghhh …. sekarang giliran Morgan yang jatuh. "Bedebah, jadi kamu laki-laki brengsek itu." Gio terus saja memukul Morgan. Tapi anehnya Morgan tidak melawan sama sekali ia malah tertawa terbahak-bahak.


Aurora merasa ada yang tidak beres, baru ia akan menghentikan Gio. Tapi suara Morgan membuatnya mengurungkan niatnya.


"Sekarang!!" seru Morgan, dua anak panah terlepas entah datang dari mana dan menancap sempurna di ulu hati Gio.


"Tidak Gio!!" teriak Aurora di saat melihat itu semua, dalam hitungan detik mulut Gio berbusa dan hidungnya mengeluarkan banyak darah. Saat Aurora hanya fokus ke Gio ia tidak sadar kalau ternyata Morgan sudah menghilang. "Tolong, siapapun kalian tolong saya, bawa pacar saya segera ke rumah sakit." Aurora terlihat begitu panik, karena melihat wajah Gio yang sudah berwarna kebiruan. "Sayang, bangun jangan tinggalin aku." Aurora semakin histeris di saat ia mengecek detak jantung. "Tidak, jangan sekarang … ." Pandangan Aurora seketika menjadi gelap gulita, namun ia sempat mendengar suara kerumunan orang yang begitu ramai.


*


*

__ADS_1


"Sepertinya Si soang, pintar memilih Apartemen tempat kami menginap," ucap Ana yang sekarang berdiri di dekat jendela untuk melihat pantai yang begitu tanpak jelas. "Pemandangannya membuat mata menjadi segar." Ana lalu menggerakkan tubuhnya kekiri dan kekanan. "Ternyata setelah di urut, badan ini terasa lebih ringan dan tidak sakit lagi."


Lama-kelamaan Ana menjadi bosan di dalam kamar terus, hingga ia memutuskan untuk keluar. "Mumpung Si soang masih lama pulangnya, apa salahnya aku keluar sebentar." Saat Ana akan berbalik ternyata Erlon sudah berdiri di belakangnya. "Tu-tuan," lirih Ana.


"Siapa yang kamu sebut soang? Aku tidak tuli, sekarang jawab!"


Ana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia tanpa berdosa menjawabnya. "A-Anda tuan," ucapnya.


Erlon menunjuk dirinya sendiri. "Aku, soang." Erlon tidak terlihat marah ia malah tersenyum. "Soang saat ini sedang ingin makan," kata Erlon yang bibirnya masih mengukir senyum. "Sekarang aku mau makan paha," sambung Erlon yang membuat Ana menggeleng.


Gawat, senyum mesumnya sudah kelihatan. Ana membatin.


"Tu-tuan, kebetulan saya sangat lapar. Mari kita pergi makan," ajak Ana yang sebenarnya sudah tahu apa maksud Erlon.


"Saya tadi sudah merapikannya tuan." Ana masih berdiri di dekat jendela.


"Belum, coba lihat." Erlon tersenyum seraya menarik sprei supaya terlihat berantakan. "Nah, sekarang sudah berantakan. Ayo rapikan lagi," perintah Erlon.


Ana tidak habis pikir, kenapa Erlon selalu saja membuatnya menjadi kesal. Tapi ia akan tetap melakukan apa saja yang Erlon minta. "Baik tuan." Ana mendekat ke arah ranjang. "Makan di atas ranjang, terdengar aneh," gumam Ana pelan.


Erlon yang sudah merasa candu dengan sesuatu yang ada pada Ana, dengan sangat hati-hati ia melangkah lalu mendorong Ana hingga mereka berdua terjatuh di atas ranjang yang empuk. "Lakukan seperti yang tadi malam, kamu yang memimpin." Erlon meniup daun telinga Ana.


Sudah kuduga, ini pasti akan terjadi. Si soang otak mesum, batin Ana.


"Tuan, saya kesulitan untuk ber–"

__ADS_1


"Biar aku yang memimpin," sergah Erlon dengan cepat. Tapi baru saja dia akan menjalankan aksinya bel pada Apartemennya berbunyi. "****!" umpat Erlon. "Siapa yang berani mengganggu ku, di saat aku sedang menginginkan ini semua," kata Erlon yang turun dari ranjang.


Ana bernafas lega, karena Erlon sudah turun dari atasnya. Dan terlihat menjauh darinya. "Aku sangat berterima kasih, kepada orang yang telah memencet bel."


Tidak lama Erlon kembali dengan wajah yang terlihat kusut. "Opa sama opa ada di sini," ucap Erlon yang terlihat tidak bersemangat.


Beda dengan Ana yang terlihat sangat antusias. "Anda tidak bercanda. Kan, tuan?"


"Lihat saja sendiri, mereka sedang menunggu kita di restoran yang ada di lantai bawah. Itu kata pelayan yang tadi," jawab Erlon lesu. "Kamu saja yang menemui opa dan oma, karena aku harus pergi sekarang dan katakan saja kalau aku sangat sibuk hari ini." Erlon menyambar kunci mobilnya. "Ingat katakan aku sangat sibuk."


"Kenapa saya harus berbohong tuan, bukankah jujur itu lebih baik." Ana malah membuat mood Erlon semakin berantakan. "Tu–"


"Diam!!" bentak Erlon. "Dan katakan itu saja. Mau bohong atau jujur itu sama saja bagi ku."


Ana tahu saat ini mode galak Erlon sudah on. "Baiklah, tuan. Saya akan mengatakan itu." Ana lebih baik mengalah karena ia tahu Erlon bisa saja melempar dirinya dari jendela. "Saya akan keluar dulu tuan, apa Anda tidak ingin bertemu dulu dengan op–"


"Briana!" pekik Erlon. "Apa kamu mau, aku lenyapkan seperti Erika." Erlon keceplosan saat mengatakan itu. "Maksudku, bukan begitu … ."


Ana semakin yakin, kalau Erlon psikopat yang bisa melenyapkan dirinya kapan saja. "Tuan, jadi benar, Anda yang melenyapkan Nona Erika?"


"Bukan aku, kamu sudah lihat dan dengar sendiri, kalau dia mati bunuh diri di dalam kamarnya dengan cara meminum racun. Dengan dosis yang tinggi." Lagi-lagi Erlon keceplosan.


"Bukankah Nona Erika bunuh diri dengan cara, gantung diri. Lalu kenapa Anda mengatakan dia minum racun." Ana menyipitkan matanya, menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Erlon.


Hai kak, tolong kasih saran dan keritikan ya, pada tulisan Ayuza. Karena Ayuza baru pemula dan masih banyak belajar🙏🙏😊😊

__ADS_1


__ADS_2