Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Ternyata Laki-laki Itu ... .


__ADS_3

"Ayolah Erlon, serahkan istrimu atau ucapkan selamat tinggal pada mereka." Laki-laki itu membersihkan jasnya dari bekas sepatu Erlon. "Aku tidak akan mengambilnya dari mu, aku hanya ingin mencicipinya sedikit saja," katanya santai.


"Lepaskan Oma dan Opa ku, mereka tidak tahu apa-apa!" seru Erlon yang sudah terlihat mulai mengeraskan rahangnya.


"Geledah kamar ini! Dan bawa wanita itu sekarang juga," perintah laki-laki itu pada semua anak buahnya. "Karena aku sudah tidak sabar, ingin melihat Tuan Erlon yang begitu angkuh dan sombong ini akan memilih siapa."


Rasanya Erlon ingin melempar laki-laki yang membuat suasana hatinya ini menjadi tidak tenang. "Kau tidak akan pernah menemukannya." Erlon mendekat ke arah kursi roda dimana opa dan omanya terikat. "Kau apakan mereka?" tanya Erlon panik.


"Aku cuma memberikan mereka sedikit racun, supaya mempercepat kematiannya." Laki-laki itu menunjukkan Erlon botol kecil. "Kamu pasti tau, racun jenis apa ini."


Erlon melotot karena jenis racun itu sangat berbahaya. "Berikan aku penawarnya."


"Tidak semudah itu, namun bagaimana kalau kita tukar, aku akan memberikanmu penawarnya tapi, kamu juga harus menyuntikkan ini pada tubuhmu." Laki-laki itu memberi Erlon dua jarum satu penawar dan satu berisi racun. "Pilihan ada di tanganmu."


"Bos, kami tidak menemukan, dimana Nona Ana berada," kata anak buah laki-laki itu.


"Tidak masalah, kita akan melihat dia sendiri yang akan keluar dari persembunyiannya," jawab laki-laki itu tenang. "Ayo Taun Erlon pilih yang mana, waktu untuk berpikir cuma sedikit. Jangan sia-siakan itu semua."


"Kau memang licik Morgan," desis Erlon, ia tahu jika telat menyuntikan penawar itu pada tubuh opa dan omanya pasti mereka tidak akan selamat.


"Erlon, kamu sendiri yang membuat racun ini. Lalu kenapa kamu begitu takut." Morgan tertawa melihat wajah Erlon yang merah padam. Ya, ternyata Morgan adalah musuh Erlon waktu masih sekolah hingga sekarang. "Bukankah kita teman, Jadi istrimu adalah temanku juga."


"Berikan aku sekarang Morgan!!" seru Erlon yang kini semakin terlihat marah. Erlon memang mempunyai penawarnya tapi dua hari yang lalu ada yang masuk ke ruang bawah tanah dan mencuri semua penawar itu.


Morgan membawa banyak sekali anak buah sehingga Erlon tidak mungkin melawannya sendiri, di saat opa dan omanya juga sedang dalam bahaya. "Hidup atau mati? Waktu terus berjalan detik demi detik berlalu. Apa kamu masih teguh dengan pendirianmu?" Morgan


berjalan mengelilingi tubuh Erlon. "Lihat mereka puas-puas." Morgan menunjuk opa Hercules dan oma Daniar. "Karena tetap di angka 13:59, mereka sudah ada di surga."


Erlon yang tidak bisa mengontrol emosinya, memukul tangan Morgan. Sehingga morgan menjatuhkan penawar itu, ia ingin melayangkan tinjuan tapi anak buah Morgan dengan cepat melerai Erlon agar tidak memukul majikan mereka. "Itu yang kalian sanjung-sanjung, ternyata dia lemah tidak berani melawanku. Sekarang lepaskan aku!!"

__ADS_1


Ana sebenarnya sudah tidak tahan bersembunyi karena ia penasaran dengan wajah Morgan, tapi larangan Erlon membuatnya mengurungkan niatnya. Tuhan, tolong selamatkan dia. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya, batin Ana.


"Dasar bedebah, terkutuk!" teriak Erlon. Saat anak buah Morgan menancapkan suntikan ke lehernya. Badan Erlon lemas sehingga ia jatuh tak berdaya.


"Sekarang siapa yang lemah Erlon, apa cuma secuil kekuatanmu. Kata lemah lebih cocok untukmu." Morgan mengambil pisau pemotong daging. "Seperti ini bukan," kata Morgan sambil memegang kepala opa Hercules. "Tolong ambilkan aku gelas, aku ingin memberikan sahabat kecilku ini hadiah." Anak buah Morgan dengan cepat memberikan gelas yang tadi ia minta. "Karena kamu suka koleksi gigi, maka aku akan mengambilkannya untukmu."


Erlon berusaha untuk bangkit, tapi itu tidak berhasil karena Morgan sudah menyuntiknya dengan obat pelumpuh syaraf, Berteriak Pun percuma karena suaranya hanya tertahan di tenggorokannya. Tidak lama di depannya dua kepala menggelinding.


"Yah, malah terpotong." Morgan berjongkok dan mengambil dua kepala itu. "Seharusnya, tadi tidak begini."


Ana yang shok menjerit karena ia melihat dengan jelas kepala oma Daniar dan opa Hercules terlepas karena Morgan menebasnya. "Ti-tidak!!" jeritan Ana membuat Morgan tersenyum, karena ia jadi tahu Ana berada dimana.


"Keluarkah, calon adik ipar. Sebelum aku membunuh suamimu juga." Morgan mengelap pisau yang tadi menggunakan bajunya. Ia lalu memegang kepala Erlon. "Aku hitung sampai tiga, jika kamu tidak keluar maka suami tercinta mu ini akan aku lenyapkan ju–"


Ana yang takut terjadi apa-apa dengan Erlon, merangkak lalu keluar dari kolom ranjang. "Lepaskan Tuan Erlon!" suara Ana lantang membuat Morgan bertepuk tangan.


Tangan Ana bergetar, ia bergidik ngeri menatap darah yang memenuhi lantai ruangan itu. Kepalanya terasa sangat pusing saat melihat kepala opa dan oma yang terpisah dari badanya. Ana yang tidak biasa melihat darah sebanyak itu tiba-tiba saja pingsan.


"Bawa calon adik iparku ke mobil, aku ingin membersihkan tanganku dulu. Dan kalian semua bersihkan ini semua jangan sampai ada yang tersisa ataupun meninggalkan jejak sedikitpun."


*


*


"Tuan!" seru salah satu anak buah Morgan dari arah belakang mobil.


"Lempar saja ke jurang itu, supaya tidak ada lagi yang menjadi psikopat." Morgan masih santai memainkan benda pipihnya.


"Lempar, setelah itu kita pergi."

__ADS_1


"Tuan, di bagasi kosong." Anak buah Morgan terlihat panik.


Morgan yang tadi santai langsung membanting ponselnya, karena mendengar itu. "Kalian jangan bercanda." Morgan lalu turun. "Mana bisa seorang yang lumpuh bisa melarikan diri. Penawarnya juga masih ada pada ku," kata Morgan yang kebingungan. Karena tadi niatnya ingin melempar Erlon ke jurang. "Coba cek lagi," perintah Morgan.


Anak buah Morgan mencari Erlon, mereka pikir mungkin Erlon masih berada di sekitaran sana. "Kami akan mencarinya Tuan, Anda bisa tunggu di dalam mobil."


Morgan yang kesal menendang ban mobilnya. "Rupaya dia mempunyai jurus menghilang," gumamnya. Morgan lalu masuk dan melihat Ana sudah membuka mata. "Hai, Ana," sapa Morgan sambil tersenyum. "Kenalkan aku Morgan, calon Kakak iparmu."


"Bisa Anda buka ikatan saya," ucap Ana yang sedang berpikir supaya bisa lari dari Morgan. "Sa-saya pe-pengen pipis," sambungnya.


"Tahan dulu ya, sebentar lagi kita akan pulang." Morgan bicara lembut. "Kamu sangat mirip dengan Aurora ku, tapi kamu lebih terlihat kalem."


"Kak, saya janji tidak akan kabur." Ana berharap Morgan akan mau melepas ikatannya.


Mendengar dirinya dipanggil kakak, Morgan terkekeh. "Baiklah … ." Ia melepas ikatan Ana. "Jangan kabur, jika kamu masih sayang nyawamu. Apa calon adik ipar mengerti."


Setelah semua ikatannya terbuka, Ana turun dari mobil. "Apa di mobil ada plastik?" tanya Ana.


"Buat apa?" Morgan bertanya balik.


"Bisa kakak ambilkan, nanti Ana kasih tahu."


Morgan berbalik saat itu juga Ana berlari sekuat tenaga masuk ke dalam hutan.


-Ada yang bisa menjawab diamana Erlon?


Dan paertanyaan ke 2.


-Apakah Ana akan berhasil kabur dari Morgan?

__ADS_1


__ADS_2