Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Musuh Tetap Musuh


__ADS_3

Erlon tidak habis pikir kenapa nyonya Olive nekat menculik Ana, di saat dirinya lengah. Dan sekarang posisi Erlon sedang menuju alamat yang Samuel berikan, tepat di dalam mobil Erlon terus saja bersumpah akan melenyapkan siapa saja yang ada di balik rencana penculikan Ana "Jangan berikan mereka ampun lagi Erlon, sudah cukup kamu membiarkan mereka menghirup udara segar," kata Erlon berbicara sendiri. Karena Samuel dan beberapa bodyguard menggunakan mobil yang lain. "Ana bertahanlah, sayang. Aku akan menyelamatkanmu." Pikiran buruk Erlon tentang apa yang menimpa Ana membuatnya tidak bisa mengontrol emosi, sepertinya Erlon sudah siap memakan daging manusia secara mentah-mentah. "Aku tidak peduli kalau kalian seorang Ibu ataupun Ayah yang penting dendam ku selama ini akan terbalas dengan lunas." Tidak berselang lama, akhirnya Erlon sampai ke tempat di mana saat ini Ana berada.


Saat Erlon sedang menyembunyikan mobil, supaya musuhnya tidak curiga kalau dirinya berhasil menemukan keberadaan Ana. Tapi tiba-tiba ia mendengar dengan samar-samar suara jeritan dan teriakan Ana yang terus saja memohon. "Jangan! Erlon bisa membunuh kalian jika tau hal ini. Aku mohon, lepaskan saja aku!" seru Ana. "Lepaskan, jika kalian masih sayang dengan nyawa kalian."


Gigi Erlon menggeletuk, telinganya merasa panas saat mendengar suara istrinya. "B4ngs4t! Mereka akan membayar ini semua dengan nyawa." Erlon dengan cepat memakai baju anti pelurunya, lengkap dengan topeng seperti biasa. Namun, saat Erlon akan melangkah ia lagi-lagi mendengar suara Ana.


"Tante, Ana mohon, jangan … akhhh!"


Erlon berjalan dengan cepat, ia lupa kalau Samuel dan para bodyguard belum tiba. Padahal tadi sebelum berangkat mereka sepakat akan menyerang bersama-sama. Tapi Erlon melupakan ucapannya sendiri, karena ia terlalu takut Ana dan calon anaknya celaka. "Tamatlah riwayat kalian malam ini!" teriak Erlon, sehingga para penjaga yang jumlahnya ada lima belas orang mendekat sambil membawa senjata ke arah Erlon. "Maju, g*blok! Jangan jadi pengecut!"


"Tembak dia!" Salah satu dari penjaga itu berteriak menyuruh para penjaga menembak Erlon. "Tembak! Di bagian tangan dan kakinya … kata Tuan Morgan dia menggunakan baju anti peluru.


Benar saja mereka langsung saja menembak di bagian lengan dan kaki Erlon, tapi Erlon yang ditembak tetap berjalan santai. Seolah tidak merasakan kalau peluru-peluru itu seperti hujan yang terus saja mengarah padanya.


"Lakukan selagi kalian masih bernafas, karena sebentar lagi kalian semua hanya tinggal nama saja." Erlon dengan keahlian membunuhnya tidak merasa kesulitan saat menghadapi penjaga yang memiliki tubuh seperti preman itu. "Mati saja kalian!" Erlon seperti Naruto yang memiliki seribu bayangan, ia dengan cepat menggerakkan tubuhnya untuk menghabisi ke lima belas para penjaga. "Sekarang aku mengerti, ucapan Daddy, yang mengatakan musuh tetaplah musuh." Tangan Erlon mengeluarkan darah, karena luka bekas peluru yang kemarin Ana jahit belum mengering.


Hati serta pikiran Erlon yang telah di kuasai amarah, dengan satu kali tendangan membuat pintu itu terbuka lebar. Ia bisa melihat dengan jelas. Ana terikat di atas ranjang. Tapi yang membuat langkahnya terhenti di saat dirinya melihat hanya ada Ana saja di sana dengan wajah yang penuh memar.


"Hubby, pergi dari sini!" Ana malah mengusir Erlon. "Pergi! Mereka telah mengikat bom di atas perutku," suara Ana serak. Ia terlihat sudah pasrah. "Pergi, Erlon! Biarkan saja aku yang mati, asal jangan ka—."

__ADS_1


"Tidak akan ada yang mati." Erlon sebenarnya hanya memberikan Ana kalimat penenang. "Dan jika kamu mati, dunia serta isinya akan aku hancurkan."


Ana yang terikat, tidak berani bergerak. Karena jika ia bergerak waktu yang tersisa di bom itu akan semakin berjalan dengan cepat. "Selamatkan dirimu, Hubby, cukup aku dan calon anak kita yang ma—"


"Sudah ku katakan, itu semua tidak akan terjadi!" bentak Erlon yang kesal, karena Ana terus saja menyebut satu kalimat yang sangat ia benci. "Jangan bicara lagi, karena mau bagaimapun kau mengusir ku, aku tetap akan disini." Erlon melihat pinggir bibir Ana sedikit sobek, serta kedua pipi Ana lebam. Seketika ia merasakan sesak di dadanya.


"Bod*h!" kata Ana yang melihat Erlon mendekat ke arahnya. "Pergi! Aku tidak mau mati bersama orang yang aku sayangi … ."


Erlon yang membawa obat tidur, langsung saja menyuntikan itu ke tangan Ana. Karena dia sudah tau jenis bom itu seperti apa. Setelah Ana memejamkan mata, bersamaan itu juga Samuel datang dengan wajah panik. "Bagimana cara menjinakkan bom?"


Samuel merasa kesulitan menelan ludah, karena Samuel memiliki trauma terhadap bom. "Tuan, jangan bercanda karena saya terlambat," ucap Samuel yang sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. "Boleh hukum saya dengan hukuman apa saja. Asal jangan membahas bom. Tuan."


Sekarang Samuel semakin kesulitan menelan ludah, setelah tau bom yang di maksud Erlon. "Tuan, bom yang ledakanya dapat menghancurkan satu gedung tanpa ter—"


"Iya, bom itu. Sekarang cepat katakan kabel yang mana saja." Erlon mengulang kalimatnya.


"Boleh saya lihat dulu?" tanya Samuel. Yang akan membuka dres Ana.


"Lakukan, jika kamu mau hidup tanpa tangan." Wajah Erlon terlihat datar. "Serta hidup tanpa bisa melihat."

__ADS_1


"Bagimana saya bisa tau Tuan, jika tidak melihat jenis bom itu dulu." Meski takut, tapi samuel memberanikan diri untuk mengatakan itu.


"Simpan kata-kata mu itu Samuel, apa kamu tuli? Bom itu seperti yang dulu kita pasangkan pada gedung yang isinya mayat semua. Apa kamu belum paham dan mengerti?"


Tuttt … .


Bunyi bom itu membuat Samuel dan Erlon melihat ke arah perut Ana. Mereka terlihat sama-sama panik dan mengeluarkan keringat.


"Jangan diam saja, lebam pada pipi istriku harus segera di obati. Dan bom sialan itu harus di jinakkan." Erlon memejamkan mata mencoba mengingat-ngingat. "Kenapa kepala ini mendadak menjadi tidak berguna, di saat keadaan genting begini." Erlon memukul-mukul kepalanya.


"Tuan, rendam di dalam air supaya kita bisa mengulur waktu. Hanya itu saran dari saya."


"Gila, rendam Ana dalam keadaan begini. Taruh di mana otakmu, Samuel?" Erlon menarik baju Samuel hingga sobek. "Pikirkan cara yang lain, dan buang rasa trauma mu, supaya kita bisa menyelamatkan Ana." Erlon memengang tangan Ana yang tetasa sangat dingin, hatinya semakin merasa tidak karuan.


"Sebentar saja Tuan, sampai potongan ingatan saya kembali lagi."


"Lebih cepat lebih baik, apa perlu kepalamu aku benturkan ke tembok? Supaya ingatanmu tentang bom cepat pulih?"


Gimana akak-akak, apa Ayuza harus membunuh karakter Ana? Jika tidak setuju komen ya🤗

__ADS_1


__ADS_2