Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Mendapat Hukuman


__ADS_3

"Kamu bicara sama siapa, Sayang?" tanya Kenzo yang melihat Zizi terdiam di ambang pintu.


"Ana sama Erlon, Ded. Ternyata mereka sudah pulang," jawab Zizi yang tahu kalau Ana pasti melihat kejadian di atas ranjang tadi.


"Ngapain malam-malam begini, Mommy hanya menggunakan han—"


"Hubby, lebih baik kita tidur, karena ini sudah larut malam." Ana memotong pembicaraan Erlon. "Aku juga sudah sangat ngantuk."


Erlon melihat jam di dinding, yang menunjukkan jam sembilan malam. "Larut malam? Ini baru saja jam sem—"


"Mataku terasa sudah sangat berat." Lagi-lagi Ana memotong ucapan Erlon. "Mom, Ana mau istirahat dulu." Sekarang Ana berpamitan kepada Zizi. "Ayo Hubby!" ajak Ana yang bergelayut manja di lengan Erlon.


"Kamu bisa kan, duluan saja? Aku mau bicara sama Daddy sebentar saja." Erlon mengelus pundak Ana dengan pelan.


Ana menunduk tidak berani melihat ke arah Zizi lagi, seolah dirinya yang merasa malu. Beda halnya dengan Zizi yang terlihat biasa saja. "Baiklah, aku akan menunggu di kamar."


Zizi tersenyum, melihat Ana yang menunduk. "Sayang, kenapa? Apa Ana ingin mengatakan sesuatu?"


"Nggak ada kok, Mom. Kami berdua cuma mau ngasih tau kalau Mommy dan Daddy akan segera memiliki cucu." Raut wajah Erlon terlihat berseri-seri, saat mengatakan itu.


"Benarkah? Ternyata tebakan Mommy benar," suara Zizi membuat Ana terpaksa mengangkat kepala. "Mau makan apa, Ana. Sayang?" Zizi yang tadi ingin memberitahu Ana kalau Aurora saat ini akan dioperasi. Segara mengurungkan niatnya, meninggal usia kandungan Ana masih sangat muda. Ia takut membuat pikiran sang menantu menjadi terganggu, karena itu dapat berpengaruh pada calon cucu pertamanya.


"Ana pengen makan Ma—"


"Sayang, ayo kita berangkat sekarang," ucap Kenzo memotong perkataan Erlon. Ia ternyata juga sudah rapi dengan setelan jas, meski sudah berumur namun ketampanannya tidak sedikit pun memudar ataupun berkurang.


Erlon yang kepo langsung saja bertanya, "Mau kemana?"


"Ada urusan mendadak di luar Negeri, tidak apa-apa kan, kami tinggal kalian berdua di mansion ini?" tanya Zizi yang bersamaan menarik jas Kenzo dari belakang, supaya tidak keceplosan memberitahu Ana perihal Aurora.


"Mommy, tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan? Erlon melihat ada yang tidak beres dari gelagat Daddy, juga Mommy."


"Matamu saja yang buram Erlon, kami sama sekali tidak menyembunyikan sesuatu," jawab Kenzo cepat. "Lebih baik kalian, istirahat saja," sambungnya lagi.

__ADS_1


"Nah, benar kata Daddy, kalian istirahat saja. Karena besok pagi para pelayan akan datang kesini, dan juga beberapa bodyguard."


"Tidak usah, Kami tidak membutuhkan mereka." Erlon menolak mentah-mentah.


"Daddy yang berhak memutuskan, siapa yang akan tinggal dan keluar masuk di mansion ini. Tugasmu hanya menyetujui tanpa banyak protes ataupun menolak."


"Benar kata Daddy mu, ini juga demi kebaikan kalian," kata Zizi seperti biasa dengan suara lembut. "Mas bisa tunggu sebentar, aku mau pakai baju dulu." Zizi baru sadar, kalau dirinya hanya menggunakan handuk. Setelah menyadari Erlon dari tadi memalingkan pandangan.


"Erlon yang telah memperbaiki mansion ini, maka dari itu Erlon memiliki hak juga di sini."


"Simpan kata-katamu itu Erlon, Daddy mu sama sekali tidak akan berubah pikiran meskipun kamu jungkir balik dari sini ke Amerika," seloroh Zizi yang tau kalau keduanya tidak dilerai maka akan terjadi perdebatan.


"Selalu saja Erlon yang mengalah, baiklah terserah Daddy saja." Meski berat Erlon mengalah, ia tidak mau membuat Zizi kecewa untuk yang kesekian kali, hanya demi keegoisannya.


*


*


"Kira-kira apa yang sedang Daddy, sembunyikan dari kita?" tanya Erlon, yang sedang memperhatikan Ana.


"Satu hukuman," potong Erlon yang tau kalau Ana pasti akan memanggilnya tuan.


"Hukuman? Apa yang Anda katakan!"


"Dua, kalau sampai tiga, bersiap-siaplah aku akan memakanmu malam ini juga." Erlon menyeringai dengan elegan, sehingga membuat Ana terpana.


"Apa aku salah bicara Tuan?"


"Tiga, sekarang berbaringlah. Aku akan menghukummu." Erlon berdiri sambil melepas sabuk pinggang, tak lupa juga ia membuka kancing kemeja satu persatu. "Kenapa masih diam? Ayo kesini mendekatlah!"


Ana yang mendengar perintah Erlon, mengikuti apa yang Erlon katakan. "Apa Anda mau membunuh lagi? Menambah korban yaitu ak—"


Erlon si soang menarik pinggang Ana, setelah itu membukam mulut Ana dengan l*m**an yang rakus. Sebelum Ana bicara terlalu jauh, karena Erlon yang sekarang bukanlah Erlon yang dulu. Ia tidak mau membuat Ana menjadi berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya.

__ADS_1


Beberapa detik berlalu Erlon masih betah menikmati rasa manis dari bibir tipis Ana, sehingga suara ponsel yang berdering membuat Erlon terpaksa menjada aktivitasnya. "Si pengganggu, suka sekali menelpon ku malam-malam begini," gerutu Erlon yang engelap pinggir bibir Ana dengan jari jempolnya. "Tunggu sebentar. Honey, sepertinya kak Erlan yang menelponku di dengar dari nada deringnya yang menyebalkan sama seperti orangnya."


Ana mengulum senyum, mendengar kalimat suaminya yang agak sedikit sensi itu. "Kak Erlan, tidak biasanya dia menelpon larut malam begini."


"Entahlah, mungkin dia sedang membutuhkan bantuanku untuk melenyapkan seseorang." Erlon ingin melihat ekspresi Ana, apakah akan marah atau ketakutan.


"Tidak boleh, Anda jangan melakukan itu lagi. Aku tidak mau anak kita nanti akan mengikuti jejak Anda!" seru Ana dengan nada yang sedikit meninggi.


"Rendahkan sedikit nada suaramu Honey, suamimu ini hanya bercanda." Erlon merapikan rambut Ana yang berantakan. "Dan tolong berhenti, menggunakan kalimat terlalu formal, aku bisa saja menghukum mu lebih dari ini."


Ana memukul, mulutnya sendiri dengan pelan. "Maaf, mulut ini terlalu lancang. Dan aku juga akan mengusahakan, supaya memanggil An–eh, ka-kamu dengan Hubby." Ia lalu menunjuk ponsel Erlon yang terus saja berdering. "Sekarang angkat telpon kak Erlan dulu, siapa tau ada sesuatu yang penting."


"Kamu tidak mual lagi?" Erlon baru menyadari kalau Ana tidak muntah lagi saat mereka berdekatan seperti sekarang.


"Tidak, sejak pulang dari klinik. Aku juga heran kenapa bisa aku tidak muntah-muntah lagi."


"Tapi bukankah ini bagus, berarti Honey tidak perlu menggunakan masker lagi." Erlon sampai menghiraukan ponselnya yang masih saja berdering. Ketika membahas perihal Ana tidak muntah. "Anak kita memang pengertian, karena dia tahu kalau Papanya tidak bisa jauh-jauh dari Miminya. Anak yang pintar," kata Erlon mengelus perut Ana.


"Kenapa Mama menjadi Mimi?" tanya Ana yang penasaran, karena kata-kata Erlon selalu saja membuatnya kebingungan dan heran.


"Supaya, berbeda daripada yang lain." Senyum yang Erlon tunjukkan begitu menawan. "Aku angkat dulu, kamu bisa tidur duluan. Anak kita juga pasti sudah sangat ngantuk di dalam sini."


Ana yang fokus melihat wajah Erlon, tidak terlalu mendengar kalimat Erlon yang paling akhir. Sehingga suara alarm dari jam tangan Erlon membuat Ana kaget.


"Sialan, siapa yang berani menginjakkan kaki di halaman mansion." Wajah Erlon yang begitu tenang tadi kini berubah menjadi tegang. "Dengar Honey, di balik lemari itu ada pintu rahasia, kamu bersembunyilah di sana."


Ingatan Ana kembali ke masa di mana ia melihat Erlon jatuh tak berdaya. "Hubby, juga harus ikut bersembunyi. Aku tidak mau sendirian."


"Percayalah, aku akan baik-baik saja." Erlon berjalan membuka lemari yang tadi ia maksud. "Kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi."


"Aku tidak ma—"


"Briana!! Keluar lu, dasar wanita murahan!" suara yang sangat Ana kenal membuat kalimatnya terpotong.

__ADS_1


Ada yang tau siapa yang berani mengusik sang Psycho? Ayuza tunggu jawaban akak di kolom komentar😊


__ADS_2