
Erlon bernafas lega ketika menemukan sosok Ana ternyata sedang duduk termangu di sebuah bangkau yang terletak tidak jauh dari Apertemen tempat mereka menginap. Dengan perlahan dan berhati-hati ia berjalan mendekati Ana, kemudian ikut mendudukkan diri di sebelah Ana.
Hingga lima menitan tidak seorangpun yang bersuara, Ana benar-benar merasa kesulitan untuk menemukan kalimat pembuka yang tepat. Dengan mata yang menerawang jauh ke depan memperlihatkan orang-orang yang sedang berlalu lalang berjalan masuk ke dalam Apartemen.
Erlon terdengar menghembuskan nafas panjang. Sebelum mulai bicara. "Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa kamu pulang sendiri? Dan tidak memberitahuku."
Ana tidak bergeming, ia tetap memandang lurus ke depan dengan wajah datar tanpa ekspresi. Ternyata ia pulang terlebih dahulu, karena Aurora menghubunginya dan menceritakan kalau Aurora sedang dalam masalah besar.
"Apa ada masalah?" Erlon mengepalkan tangannya karena Ana tidak meresponya. "Briana, jangan sampai aku mencekik lehermu disini." Erlon kembali berdiri berniat ingin menyeret Ana masuk ke dalam Apartemen. "Jika kamu hanya diam saja, bagaimana bisa aku membantumu."
Bulir-bulir air bening keluar dari mata Ana, karena ia tidak tahu harus mulai bercerita dari mana. Ia juga memikirkan pasti saat ini Aurora sangat ketakutan. "Kak Aurora," gumam Ana.
Erlon mengerti setelah mendengar nama Aurora. "Biarkan saja, urus-urusannya sendiri. Siapa suruh dia bermain api dibelakang kak Erlan." Erlon juga ternyata tahu tentang kejadian yang menimpa Aurora. "Kirain ada apa, kalau tentang masalah dia. Aku tidak mau ikut campur." Erlon mengusap air mata Ana. "Jangan pernah mencintai dua orang sekaligus, karena itu akan membawa malapetaka seperti yang saat ini dialami oleh kakak ipar."
"Anda tahu dari mana?" Ana heran kenapa Erlon selalu saja tahu apapun yang telah terjadi. "Apa jangan-jangan, laki-laki itu suruhan Anda." Ana menebak-nebak.
"Bukankah kamu tahu sendiri, aku selalu membunuh tanpa bantuan siapa-siapa." Erlon kembali duduk di sebelah Ana. "Aku peringatkan, jangan pernah ikut campur dalam urusan siapapun," kata Erlon yang tidak mau melihat Ana terlibat dalam urusan Aurora. "Jika itu terjadi, bersiap-siaplah laki-laki yang bernama Morgan itu akan mengincarmu juga."
"Saya tidak ada hubungannya dengan laki-la–"
"Dia akan tahu, kalau kakak ipar punya saudara kembar yang bodoh seperti kamu, jadi dia dengan mudah akan menculik dan menjadikanmu tawanannya." Erlon terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Tawanannya, supaya Kak Aurora mau kembali bersamanya. Karena dia pasti tahu seorang kakak akan melindungi adiknya dengan cara apapun itu."
"Apa Anda tidak mau menyelamatkan saya, jika nanti itu terjadi?" tanya Ana polos.
"Itu tidak akan pernah terjadi, jika kamu mendengarkan ucapanku. Jangan berpikir terlalu jauh." Erlon mengambil sebatang rokok. "Jika itu terjadi pun, aku tidak akan menyelamatkanmu. Karena diluar sana masih banyak wanita yang jauh lebih cantik." Tanpa sadar Erlon kembali menggores luka di hati Ana.
__ADS_1
Ana menunduk lesu, air mata yang tadi sempat mengering kini kembali tumpah. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan Erlon yang mengatakan itu semua. "Jika Tuan tidak pernah menginginkan saya, lalu untuk apa Anda mempertahankan saya di sisi Anda."
"Kita, harus bicara di dalam kamar." Erlon menghembuskan asap rokok ke wajah Ana. "Agar kamu tahu, kenapa aku mempertahankanmu."
*
*
Di dalam kamar ... .
"Sakit!" ringgis Ana yang merasakan eratnya cengkraman Erlon.
Erlon seketika sadar, perlahan mulai melepaskan tangannya. "Layani aku, aku sangat butuh kehangatan."
"Tidak!" bentak Ana yang membuat Erlon kembali mencengkram tangan Ana. "Sampai kapan, saya harus melayani Anda. Sedangkan Anda sama sekali tidak pernah menaruh rasa pada saya." Ana sudah tidak tahan, ia harus lebih tegas supaya Erlon tidak semena-mena lagi dengannya. "Sa-saya le-lelah, hidup seperti ini," lirih Ana terbata-bata.
Cairan bening lagi-lagi berhasil lolos lagi di kedua sisi pipi Ana, isak tangisnya pun mulai terdengar dalam hitungan beberapa detik saja tangisan itu sudah menyisakan suara sesegukan. Karena Ana terus saja menahannya.
Erlon tanpa pikir panjang, menarik tubuh kecil Ana lalu membenamkan ke dalam dekapannya. Tangan Erlon bergerak mengusap rambut dan punggung Ana. Tetapi, bukannya reda tangisan Ana malah semakin menjadi-jadi.
"Tuan, andai saja Anda tahu, raga ini ingin berhenti untuk mencintai Anda dan mengharapkan Anda tapi kenapa, hati ini selalu saja menolak untuk hal itu." Ana sekarang sedang mengungkapkan isi hatinya supaya Erlon tahu. "Selamat, Anda sudah berhasil mengukir kata cinta di hati ini."
"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk mencintaiku … ." Dekapan Erlon semakin erat, sesekali menciumi puncak kepala Ana yang hanya setinggi dagunya. Rasa bersalah itu sangat nyata menyusup ke hatinya. "Karena kata mencintai itu hanya tugasku," sambung Erlon.
Ana yang merasa hatinya sudah benar-benar sangat rapuh tidak terlalu menghiraukan kata-kata Erlon. "Tuan, apa saya tidak boleh bahagia sedikit saja? Apa tidak ada orang yang mau melindungi saya selain diri saya sendiri? Kenapa Tuhan memberikan saya cobaan hidup seberat ini, dari baru saya lahir sampai menikah."
__ADS_1
Erlon membiarkan Ana menumpahkan semua beban yang selama ini tersimpan rapi di hati kecil Ana. Ia hanya bisa terdiam dan mendengarkan.
"Lalu untuk apa saya hidup? Jika kehadiran saya hanya menjadi beban bagi orang lain," kata-kata yang diucapkan Ana membuat hati Erlon merasa sedang di remas. "Orang-orang yang sayang, dan peduli kepada saya kenapa mereka pergi begitu saja, bukankah Tuhan benar-benar tidak adil." Tangan Ana terangkat untuk mendorong dada bidang Erlon agar menjauh dan melepas dekapan. Tapi Erlon mengurunnya seolah tidak memberi celah
untuk melepas diri. "Saya sangat lelah … benar-benar sangat lelah," lirih Ana. Seluruh kekuatannya seperti tercabut dari tubuhnya.
Erlon menggendong tubuh lemas Ana, ia lalu merebahkannya di tempat tidur. Erlon kemudian menghapus sisa-sisa cairan bening yang sudah mengalir di ujung mata Ana. "Aku minta maaf, jika selama ini perkataanku membuat hatimu terluka," bisik Erlon lembut sambil menciumi puncak kepala Ana.
"Saat saya tahu, kenyataan yang begitu pahit tentang apa yang telah dilakukan kedua orang tua saya … entah mengapa saya merasa harus menebus semua kesalahan yang pernah mereka perbuat." Perlahan Ana merebahkan kepalanya di dada bidang Erlon yang kini juga sudah baring di sebelahnya. "Saya yang seharusnya minta maaf," ucap Ana sebelum memejamkan matanya.
Erlon membalut tubuh Ana dengan selimut setelah melihat mata Ana terpejam, Ia kemudian tanpa ragu memeluk tubuh Ana. "Keselamatanmu akan terancam, jika musuhku tau ini semua," kata Erlon pelan, karena ia tahu Ana pasti sudah terlelap.
Hai kak, Saras Wati. Kak Vita Zhao. Kak Marsiana Lodovika, apa kalian tahu kenapa Erlon takut dengan musuhnya padahal ia seorang Pschonya? Kalian jawab di kolom komentar. Ya … .
Buat kakak
-Rini Alif
-Fajar Dinata
-Riska Nurliana
-Aisyah Hasan
-Satu lagi kak yang pakai emoji 🖤
__ADS_1
Kalian juga bisa jawab kok😊😊