Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Pertemuan Nyonya Olive Dan Pak Erwin


__ADS_3

Di cafe pinggir jalan, terlihat seorang wanita yang berpakaian modis sedang bicara dengan laki-laki yang memakai setelan jas begitu rapi. "Selamat malam, senang bertemu dengan kamu Mas," ucapnya.


"Malam juga Olive, aku lihat kamu semakin cantik saja. Bagaimana kabar putri dan juga putramu?" Pria itu menyodorkan segelas jus.


"Cukup Mas Erwin, kamu tega membunuh anak kita, melalui tangan anak kamu yaitu Morgan," kata Nyonya Olive. Ia ternyata memiliki hubungan dengan Pak Erwin papanya Firman dan Morgan. "Kamu tega, membunuh darah daging kita. Hanya demi anak yang terlahir dari rahim pelakor."


"Olive, aku juga tidak tahu kalau Morgan akan nekat melakukan itu semua," kilah Pak Erwin. "Relakan putra kita, biarkan dia pergi dengan tenang." Pak Erwin dulu adalah kekasih nyonya Olive tapi karena pak Erwin orang miskin maka dari itu kedua orang tua nyonya Olive tidak merestui hubungan mereka.


"Relakan katamu, mulutmu lancar sekali untuk mengatakan itu semua," geram nyonya Olive. "Aku belum puas, jika anak sialan mu itu juga belum mati!" suara nyonya Olive begitu berapi-api saat mengatakan itu. Terlihat jelas wajahnya memerah.


Pak Erwin terlihat gusar. "Olive, jangan begitu, Morgan bisa saja membunuhmu juga. Bukankah kamu sudah tau gimana gilanya bocah tengik itu." Pak Erwin melirik kiri dan kanan, karena ia merasa seperti sedang ada yang mengawasi mereka. "Apa kamu lupa? Dia yang telah membantu kita untuk menyingkirkan Zizi dan Kenzo."


Nyonya Olive kesulitan untuk menelan silvanya setelah mendengar itu. Ia sampai lupa bahwa ia telah meminta bantuan pada Morgan untuk menyingkirkan Zizi dan Kenzo. Ternyata nyonya Olive memiliki dendam terhadap pasangan suami istri itu. "Dimana Morgan menyembunyikan mereka sekarang?"


"Aku juga tidak tahu, anak itu terlalu pintar." Pak Erwin menatap nyonya Olive. "Keadaan mereka terlihat sangat memprihatinkan," ungkapnya.


"Yang penting sekarang, mereka sudah dianggap meninggal oleh orang-orang terdekatnya," kata nyonya Olive menimpali. "Untuk masalah Gio, sungguh aku tidak terima, andai aku tahu akan menjadi begini … ." Nyonya Olive berusaha menahan air mata yang akan jatuh. "Aku tidak akan pernah meminta bantuanmu dulu." Ingatan nyonya Olive kembali pada beberapa tahun silam.


**Flashback**


"Sudah hampir lima tahun kita menikah Olive, tapi sampai sekarang kita belum dikaruniai seorang anak," kata Pak Setyo suami nyonya Olive.


"Mas pikir, kupingku tidak panas setiap kali Ibumu menyindirku. Mengatakan kalau aku mandul!" suara nyonya Olive lantang.

__ADS_1


"Aku juga ingin hamil, Mas. Aku malu saat teman-teman ku menanyakan tentang kapan aku akan memiliki anak."


Pak Setyo menikah dengan nyonya Olive tanpa didasari rasa cinta, tapi seiring berjalannya waktu. Cinta itu mulai tumbuh. "Maaf, Olive. Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu." Pak Setyo merasa bersalah karena baru kali ini ia membahas masalah anak setelah sekian lama mereka menikah. "Maafkan, Mas. Ya, kita serahkan semuanya kepada Tuhan."


Nyonya Olive mengambil tasnya, tidak lupa ia menyambar kunci mobilnya. "Jangan cari aku, biarkan aku menenangkan pikiranku dulu."


"Olive, jangan begitu. Sini kita bicara baik-baik jangan terbawa emosi. Kamu tahu jika ego dibalas ego maka yang menang adalah perpisahan," bujuk Pak Setyo. Karena ia tidak bisa jauh-jauh dari nyonya Olive.


"Sudahlah Mas, aku muak sangat muak," Nyonya Olive menggerutu sambil berjalan. "Akan aku buktikan, bahwa aku tidak mandul," geramnya.


"Olive, kamu mau kemana?" Pak Setyo berusaha menghalangi jalan nyonya Olive.


"Rumah Papa, disini hanya akan membuat mentalku semakin down." Nyonya Olive masuk ke dalam mobil, ia tidak menghiraukan Pak Setyo yang terus saja menggedor kaca mobilnya. Memintanya untuk jangan pergi. Nyonya Olive mencap gas membiarkan Pak Setyo terjatuh karena berlari mengejar mobilnya.


"Mas tidak apa-apa, maaf saya tadi hampir saja meye—" ucapnya terputus saat orang itu memanggil namanya.


"Olive," panggil orang itu. Yang sepertinya mengenal nyonya Olive. "Kenapa penampilanmu begini?"


"Mas Erwin, kamu … ." Nyonya Olive menunjuk Pak Erwin. "Sedang apa kamu di jalan yang sangat sepi ini?"


Pak Erwin menceritakan kalau dia dipecat, dan sekarang ia sedang membutuhkan pekerjaan. "Apa kamu butuh karyawan? Saat ini aku sangat butuh pekerjaan."


Olive menatap penampilan Pak Erwin dari atas sampai bawah. Senyum liciknya terbit. "Masuk dulu ke dalam mobil, aku ada pekerjaan untuk kamu." Nyonya Olive membuka pintu mobil untuk Pak Erwin. "Ayo, masuk saja," ajak nyonya Olive.

__ADS_1


Setelah masuk Pak Erwin bertanya, "Pekerjaan apa itu Olive? Asal jangan membunuh orang saja," ucap Pak Erwin yang sedang bercanda.


"Pekerjaan paling gampang, yaitu hamili aku." Nyonya Olive mengatakan itu tanpa pikir panjang. "Aku akan membayar Mas Erwin, berapapun asal Mas berhasil membuat aku hamil."


Pak Erwin menggeleng, ia pikir Olive sedang bercanda. "Olive, aku sedang serius mencari pekerjaan. Jangan bercanda begitu." Pak Erwin melihat nyonya Olive mengeluarkan sejumlah uang.


"Aku tidak bercanda, jika Mas mau, ambil uang ini dan jika tidak. Aku bisa mencari laki-laki lain," cetus nyonya Olive. "Padahal pekerjaan ini paling gampang." Nyonya Olive bersandar. "Cukup sampai aku hamil, jika berhasil aku akan memberikan apapun yang Mas mau."


Pak Erwin yang sedang membutuhkan uang, begitu mudahnya menerima tawaran Olive. "Baiklah, kapan kita akan mulai?"


"Sekarang, di hotel bintang lima. Jangan sampai ada yang tau termasuk pelakor itu." Nyonya Olive memang selalu memanggil istri Pak Erwin pelakor karena Pak Erwin dulu memilih wanita itu untuk dijadikan istri setelah kedua orang tua nyonya Olive menyuruhnya untuk menjauhi nyonya Olive karena kata mereka Pak Erwin tidak pantas bersanding dengan orang kaya seperti mereka. Jadi, Pak Erwin memutuskan nyonya Olive secara sepihak.


"Olive, dia istriku. Jangan sebut dia pelakor." Pak Erwin membela istrinya karena ia sudah melupakan nyonya Olive.


"Terserah, sekali pelakor tetap pelakor!" ketus nyonya Olive.


Sejak saat itu hubungan keduanya kembali terjalin. Hingga beberapa bulan berlalu akhirnya nyonya Olive dinyatakan hamil, seperti janjinya ia memberikan apa saja yang Pak Erwin inginkan. Dan anak yang dikandung itu adalah Gio. Selang beberapa tahun, setelah lama tidak berhubungan dengan Pak Erwin. Nyonya Olive kembali dinyatakan hamil ia mengandung Mila bukti cinta yang sesungguhnya dengan Pak Setyo.


**Flashback**


*Apakah kakak-kakak kaget setelah mengetahui fakta ini? Ayok komen dong supaya Ayuza tau☺


Komen juga jika akak-akak penasaran dengan keadaan Erlon dan Ana😉*

__ADS_1


__ADS_2