
Senyum Erlon mengulas tipis. "Apakah kamu mencintai ku Honey?"
"Sangat," jawab Ana malau-malu.
Senyum Erlon tersungging lagi setelah mendengar jawaban Ana. "Benarkah? Seberapa dalam dan besar rasa cintamu itu terhadapku, hem?"
Ana meletakkan kepalanya ke pangkuan Erlon. "Aku tidak bisa menjelaskannya."
"Apa kamu menyesal menikah denganku?" Erlon mengangkat kepala Ana. "Jawab aku dengan jujur … ." Ia saat ini dalam mode serius bertanya kepada Ana.
Ana menggeleng kuat. "Tidak, justru aku yang seharusnya bertanya begitu ke An—"
"Hubby," potong Erlan cepat. "Harus berapa kali aku ingatkan, Honey!" Erlon yang tidak bisa menahan diri lagi, kepala tersebut tertahan saat Erlon menyumbat bibir Ana dengan penuh gairah lagi. Sedangkan Ana tidak menolak sama sekali. Erlon yang mendadak hilang kendali dan seperti ingin menyatu-lebur dengan Ana.
Ketika Erlon mengingat masih di dalam mobil, Sontak saja ia menjauhkan wajahnya, kemudian ia mencengkram setir dibiarkannya Ana duduk di sebelahnya, ia menancap gas dan fokus ke jalan depan. "Di mansion, karena di dalam mobil tidak enak." Erlon mengelus pipi Ana sambil menyetir. "Aku mencintaimu Honey, maukah kamu bersumpah untuk tidak akan pernah meninggalkan ku?" Erlon bertanya masih dengan fokus menyetir.
"Dibawah langit biru ini aku bersumpah, tidak akan pernah meninggalkan Hu-hubby, jika tidak selingkuh dan melakukan KDRT." Ana masih gugup ketika memanggil Erlon dengan sebutan Hubby.
Tidak lama setelah mobil Erlon meraung dan berhenti di depan mansion. Ia membawa Ana turun. "Aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku melakukan dua hal yang paling aku benci." Ia menggendong Ana dibawanya ke dalam dekapan, kemudian membuka dashboard mobilnya.
Dibukanya pintu utama mansion seperti biasa, dengan langkah lebar ia masuk ke dalam kamar khusus untuk tamu. Di sana ada kasur yang cukup empuk. "Aku ingin, menciptakan siang yang penuh dengan keringat. Apa kamu tidak keberatan?"
Ana mengangguk saat itu juga tubuhnya terlempar ke ranjang belakang. Sungguh ia sangat mencintai Erlon seakan seluruh dunia lebur dan tidak ada bandingannya jika dibandingkan dengan Erlon. "Lakukan sekarang, aku sudah siap."
Seperti mendengar lonceng persetujuan, tanpa menunggu lama Erlon langsung saja menyelesaikan misinya untuk menciptakan keringat dingin bercampur kenikmatan yang tiada bandingan.
*
*
Lagi-lagi pagi ini Ana sudah beberapa kali masuk ke dalam kamar mandi akibat rasa mual, wajahnya terlihat sedikit pucat. Dengan langkah terseok-seok ia keluar dari kamar mandi ia melirik jarum jam di dinding. "Masih pagi, tapi dia sudah tidak ada di kamar ini, kira-kira pergi kemana dia?" gumam Ana pelan.
__ADS_1
"Aku di sini Honey, apa mau nambah lagi?" Erlon sama sekali tidak tahu kalau Ana sudah beberapa kali muntah, makanya ia tidak panik. "Kenapa diam, aku masih sanggup melayani mu."
"Bukan itu." Ana menatap Erlon. "Aku pengen makan sesuatu, supaya rasa mual ku berkurang."
"Mau makan apa Honey? Pizza, krabby patty, sushi, peking duck, hamburger, kebab, atau tom yum goong. Ayo sebut yang mana?" Erlon melihat Ana yang menggeleng. "Terus mau makan Apa?"
"Plecing kangkung, entah mengapa aku pengen makan itu. Meski aku hanya mendengar namanya saja." Ana berharap Erlon mau mengabulkan keinginannya.
"Plecing kangkung? Dimana aku akan mendapatkan makanan itu?"
"Di Lombok," jawab Ana tanpa rasa berdosa.
Rahang Erlon terbuka lebar. "Ya ampun, masih di dalam perut saja sudah banyak maunya, apalagi kalau sudah keluar."
"Apa tidak boleh?" Ekspresi Ana terlihat mengiba. "Hu-hubby, jawab sekarang."
"Yang lain … ." Erlon bersedekap. "Dan yang terpenting ada disini, apa kamu paham hon-hon?" Erlon sudah merubah panggilan sayangnya untuk Ana dengan nama panggilan hon-hon.
"Iya, hon-hon. Nama panggilan sayangku ke kamu." Erlon mengecup pipi Ana. "Gimana? Apakah kamu mau makan yang lain?"
"Aku maunya itu, kenapa kamu melarang ku." Ana terlihat kesal.
"No, terlalu berbahaya buat kamu dan calon anak kita yang masih ada di dalam perut." Erlon berbalik ia tidak tega melihat mata Ana yang sudah berembun. "Musuh kita masih berkeliaran, aku takut kalau mereka akan mencelakai mu kapan saja."
Ana memeluk tubuh kekar Erlon dari belakang, ini untuk yang pertama kalinya ia melakukannya. "Diganti dengan rujak Mangga, apa boleh?" Ana mengusap air mata di baju Erlon.
"Boleh kalau Mangga, mau berapa keranjang?" Erlon mengelus tangan Ana yang melingkar di perutnya. "Biar aku belikan sekarang juga."
Senyum Ana terukir. "Aku maunya Mangga yang ada di dekat kantor kamu itu."
Erlon berbalik, ingin menatap wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak-anaknya. "Di dekat kantor? Dari mana kamu tahu hon-hon kalau di sana ada pohon Mangga?"
__ADS_1
"Kata Mommy," jawab Ana dengan senyum yang masih mengembang. "Aku maunya, Hubby yang memetiknya langsung."
"Hah, kita beli saja tinggal makan. Itu lebih mudah dan praktis," kata Erlon yang sebenarnya takut memanjat. Karena pohon Mangga yang ada di kantor itu sangat besar dan tinggi. "Oke, hon-hon. Kita beli sekarang."
Senyum Ana memudar. "Pelit!!" pekik Ana.
"Bukan aku yang mau, tapi calon anak kita." Ana menghentakkan kaki kemudian melepas pelukannya dari Erlon. "Biar aku minta sama Mommy." Ana keluar dari kamar bermaksud mengadu kepada Zizi kalau Erlon tidak menuruti kemauannya.
"Hon-hon, jangan ganggu Mommy sama Daddy. Ayolah jangan seperti anak kecil!" seru Erlon. Tetapi Ana tidak mendengarnya terpaksa Erlon mengejar Ana. Apa begini rasanya jatuh cinta yang sesungguhnya, kenapa aku menjadi takut sekali kehilangannya, batin Erlon.
Ana yang mundur beberapa langkah sambil menutup mata hampir saja jatuh untung saja Erlon yang ada di belakangnya memegang pinggang Ana yang ramping. "A-aku, ti-tidak lihat, su-sumpah." Ana gugup setelah melihat apa yang terjadi di kamar itu. "A-ayo, kita kembali ke kamar saja," ajak Ana yang tahu Erlon pasti ingin tahu tentang apa yang terjadi.
"Gak jadi lapor ke Mommy?" Erlon masih memegang pinggang Ana. "Kenapa wajahmu memerah? Dan juga bicara hon-hon jadi terbata-bata kayak begini lagi?"
Ana mengatur nafas, dan membuangnya secara perlahan. "Uuh, ki-kita bicara di ka-kamar, jangan di si-sini," suara Ana terdengar sangat pelan.
"Disini saja, apa Mommy sama Daddy gak ada di kamar?" tanya Erlon dengan suara baritone, reples Ana mencubit lekan kekar Erlon sehingga Erlon meringis. "Akhh … ada apa? Kenapa mencubitku?"
Ana menempelkan jari telunjuknya di mulut. "Sstt, jangan berisik, Mommy sama Daddy lagi bikin adik buat kita." Pipi Ana semakin bersemu merah, setelah mengatakan itu. "Aku pengen adik cewek kalau Hubby?"
Erlon menjitak kepala Ana. "Pikirkan jenis kelamin anak kita, gak usah ngarep dapat adik dari Mommy-Daddy."
"Awh, sakit tau!" Ana memegang dahi sambil mendorong Erlon supaya Erlon menjauh darinya. "Punya adik enak tau, supaya anak kita ada teman mainnya besok kalau sudah lahir." Ana menaik turunkan kedua alis. "Gimana?
"Enggak boleh, nanti kasih sayang Mommy bakal terbagi lagi." Erlon mencoba mengintip dengan cara berjinjit. "Jika ada manusia yang lahir lagi dari rahim Mommy, bakal aku jadikan koleksi mainan."
"Kalian berdua ngapain di sini?"
"Ngintip," jawab Ana yang menutup mulutnya langsung. Yang melihat Zizi sudah berdiri di pintu.
Hai kakak-kakak, Ayuza kembali lagi nih. Tolong bilang hadir di kolom komentar😍
__ADS_1