
"Selamat pagi, Tuan dan Nona," sapa kepala pelayan. Yang melihat Ana dan Erlon menuruni anak tangga. "Semua beri salam hormat, kepada Tuan Erlon dan Nona Briana," perintah Wilona, sang kepala pelayan.
"Tidak perlu, aku tidak butuh. Lebih baik kalian mencabut rumput di halaman belakang mansion, menggunakan tangan langsung tanpa alat," ucapan Erlon membuat mereka yang disana semakin menunduk. "Kenapa? Apa kalian semua keberatan?"
Bola mata Ana melotot tajam, mendengar perintah Erlon yang terdengar begitu aneh. "Apa yang Hubby katakan? Mencabut rumput di tempat seluas itu menggunakan tangan. Jangan mengada-ngada Hubby." Kepala Ana mendongak dan hampir saja mencium dagu Erlon. "Jangan menyuruh mereka melakukan hal yang tidak berguna aku tidak setuju."
"Supaya mereka ada kerjaan, Honey. Aku sudah cukup baik bukan?" Erlon mengusap pucuk kepala Ana dengan lembut.
"Aku tetap tidak setuju, jangan keterlaluan begitu." Ana membayangkan bagaimana pelayan mencabut rumput satu-satu tanpa menggunakan alat. "Pekerjaan mereka sudah banyak, jangan ditambah-tambah dengan hal yang aneh-aneh."
"Sangat lucu bukan, mereka terlihat seperti kambing," bisik Erlon.
"Itu tidak lucu!" dengkusnya, sedikit mendorong tubuh Erlon menjauh.
Erlon malah terkekeh melihat Ana yang cemberut. "Aku cuma tidak mau mereka melihat kita bermesraan saat sedang sarapan." Erlon bicara masih dengan sedikit berbisik. "Apa Honey mengerti?"
"Suruh saja mereka dengan hal yang lebih berguna, jangan yang itu." Ana tidak tau jalan pikiran Erlon.
"Contohnya seperti apa?" tanya Erlon.
"Seperti … ." Ana terlihat sedang berpikir.
"Bersih-bersih di mansion misalnya, dan masih banyak lagi kegiatan yang lebih masuk akal." Rupanya Ana tidak setega Erlon.
"Kalian semua, berbalik dan tutup telinga!!" seru Erlon, dan saat itu juga Erlon mencium bibir Ana. Sambil menggendong Ana kembali lagi menuju ke kamar. "Mood ku tiba-tiba berubah, kita sarapan di kamar saja Honey."
"Turunkan aku, mereka sudah susah payah memasak sebanyak itu, lalu Hubby dengan entengnya mengatakan sarapan di dalam kamar. Aku tidak mau!" ketus Ana.
"Honey, itu juga salah satu dari pekerjaan mereka jadi, untuk apa kamu merasa bersalah?" Erlon tetap menggendong Ana sampai di dalam kamar.
__ADS_1
"Si Soang, keterlaluan sekali!" Ana menjambak rambut Erlon saking kesalnya. "Semoga anak kita tidak, sebenyebalkan dirimu."
"Aku hanya memberi mereka pekerjaan, seperti yang Honey minta tadi. Sekarang siapa yang salah?" Erlon mencium kening Ana. "Anak kita akan ikut sifat Honey, tapi dengan karakter yang aku perankan. Apa Honey paham?"
"Benar-benar,sangat menyebalkan!" gerutu Ana. "Masih ada orang yang tidak punya hati, dan rasa kasihan sesama manusia."
Erlon senyum smirk, saat mendengar Ana. "Gara-gara pelayan, Honey memarahiku." Erlon pura-pura merajuk. "Honey, tidak mencintaiku lagi." Erlon membaringkan Ana dengan pelan di atas kasur. "Apakah aku suami yang tidak dianggap?"
Jangan tanya, bagaimana reaksi Ana saat ini karena rasanya Ana ingin tertawa kencang. Kesalnya yang tadi ada, kini entah hilang kemana begitu melihat wajah Erlon yang berubah menjadi sendu. "Ke mana wajah Erlon yang angkuh dan sombong itu? Kenapa jadi lembek begini?"
"Aku ingin di manja-manja, dengan cara diservis," kata Erlon dengan wajah yang masih sendu.
"Diservis, apa kita harus pergi ke bengkel?" Ana belum paham dengan kalimat Erlon.
"Nggak perlu ke bengkel, cukup servis menggunakan ini." Erlon menunjuk mulutnya sendiri. "Vitamin di pagi ini, supaya aku lebih semangat buat bekerja."
"Servis apa? Menggunakan mulut? Jangan aneh-aneh deh," ucap Ana.
"Jika sampai itu terjadi, aku serahkan hidup dan mati Hubby kepada Daddy." Ana menjawab tanpa ragu. "Daddy dan Opa begitu setia pada pasangannya, lalu Hubby ingin mengikuti jejak siapa? Yang ingin gonta ganti pasangan." Ana menarik nafas dalam-dalam. "Jahat!!" teriak Ana sambil meraung menangis.
"Yeah, tidak jadi dapat jatah," kata Erlon mengacak rambutnya sendiri.
*
*
Erlon duduk di kursi kekuasaannya, sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor. Ternyata selama ini Samuel adalah tangan kanannya yang membantunya dalam mengurus perusahaan. Erlon terlihat sedang memutar-mutar pulpen di tangan kanan, sedangkan tangannya yang kiri memegang sebatang rokok.
"Dimana dia bersembunyi?" tanya Erlon yang mendengar pintu ruangannya terbuka.
__ADS_1
"Dia menyusul Nona Aurora, ke Sigapu—"
Erlon mendobrak meja memotong ucapan Samuel. "Rupanya, dia benar-benar licik, mengirim Firman dan Bimo untuk menyerangku ke mansion, sedangkan dia sibuk dengan dunianya sendiri." Erlon menaikan kaki di atas meja. "Apa yang dia rencanakan?"
Samuel gemetaran menyerahkan hasil CCTV lengkap dengan penyadap suara. "Anda bisa lihat dan dengar sendiri Tu—"
"Aku tidak butuh Samuel, cukup beritahu saja aku." Erlon menghisap rokok, asapnya mengepul di udara. "Aku percaya kepadamu," sambungnya lagi.
Samuel dengan takut-takut, mengatakan kalau Morgan berniat ingin menghabisi Aurora. Karena Morgan mengira Aurora telah sengaja membunuh darah dagingnya. "Apa yang harus saya lakukan?" tanya Samuel setelah memberitahu Erlon.
"Susul dia, dan gagalkan semua rencananya."
"Tuan, sepertinya kita akan terlambat," kata Samuel yang melihat Morgan sudah masuk kedalam ruang operasi. "Morgan, akan melakukan aksi gilanya."
Erlon yang penasaran akhirnya melihat rekaman CCTV itu, ia merasa ada sesuatu yang ganjal dan benar saja. "Bodoh! Ini bukan rekaman CCTV yang asli apa matamu buta, ini rekaman yang beberapa jam yang lalu diputar secara berulang-ulang." Erlon yang geram melempar ponsel Samuel sampai hancur. Bersamaan dengan itu panggilan masuk dari Ana membuat Erlon semakin merasa tidak karuan. Dengan cepat Erlon menggeser tombol hijau.
Erlon mendengar suara isak tangis Ana di seberang telpon. "Honey, kenapa menangis?" tanya Erlon, namun Ana tidak menjawabnya. "Honey, jawab aku. Kamu kenapa?"
(Tolong aku … ), suara Ana terdengar lirih.
Bagai bom atom yang akan siap meledak. "Brengsek!!" Erlon bisa menebak apa yang sedang terjadi dengan Ana. "Sedikit saja kalian melukai istriku, maka tidak akan ada ampun bagi kalian semua!" teriak Erlon.
(Hubby, mereka ingin menggugurkan anak ki—) tutt … tutt … .
"Lacak dimana keberadaan Ana sekarang!" seru Erlon yang memerintah Samuel. Erlon mencoba menghubungi nomor Ana lagi.
(Nomor yang Anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi).
"Iblis terkutuk!" Erlon memakan batang rokok yang masih ada bara apinya. "Aku bersumpah, akan menghabisi semua musuhku tanpa terkecuali."
__ADS_1
Samuel merasa aura Erlon berubah drastis, hingga dirinya saja sampai gemetar ketakutan. "Tuan, lokasi NonalAna ada di hutan pinggir kota."
Erlon menyesal membiarkan Ana pergi sendiri ke kantor polisi menjenguk Darel. "Samuel, ambil beberapa senjata dan bawa para bodyguard kesana, cepat!"