Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Terulang Lagi


__ADS_3

Telapak tangan Erlon hampir saja melayang di pipi Ana, jika saja Ana tidak menahannya. "Tuan, jangan pernah berharap bisa menyakiti saya lagi." Ana gemetaran meski begitu ia tetap berusaha tidak terlihat takut. "Baik, saya akan jawab dua pertanyaan Anda yang tadi." Ana mengambil botol kaca yang sudah Erlon pecahkan tadi ia dengan hati-hati meletakkannya di lantai. Meski rambutnya masih Erlon jambak. "Hmm … laki-laki itu, saya benar-benar tidak mengenalnya meski Anda mengancam, jawaban saya tetap akan sama yaitu, saya tidak tahu dan mengenalnya." Ana menutup mulutnya dengan satu tangannya agar tidak kembali muntah. Tangan yang satu bertugas mengelap muntahnya di perut Erlon.


Erlon melepaskan menjambakannya begitu saja. "Kamu sedang tidak membohongiku kan, lalu kenapa kamu bisa terlihat akrab sekali dengannya?"


"Dia laki-laki yang sangat malang tuan, saya merasa kasihan." Ana lupa kalau dirinya sudah berjanji pada Firman kalau ia tidak akan memberitahu Siapa-siapa. "Dia lumpuh, dan tangannya hanya ada satu. Katanya ia habis di culik lalu tangannya di mu**l*s*."


"Katakan siapa namanya? Supaya aku bisa membantunya untuk lebih cepat bertemu dengan malaikat," kata Erlon yang membuat Ana menggeleng kuat.


"Saya memang sempat berkenalan tuan, tapi saya lupa siapa namanya." Ana terpaksa harus berbohong lagi, karena mendengar perkataan Erlon. "Untuk pertanyaan yang kedua tentang pil itu," suara Ana bergetar karena untuk pertanyaan yang ini ia harus jujur. "Itu pil penunda ke–"


"Sejahat itukah aku di matamu? Sehingga mengandung anakku saja tidak mau," lirih Erlon. Yang memotong ucapan Ana. "Ternyata mommy memilih wanita yang salah," sambung Erlon yang kini memukul kepalanya sendiri, setelah tau Ana diam-diam selalu meminum Pil KB. ia berbalik membelakangi Ana.


Ana melihat ada sesuatu yang berbeda dari Erlon. Kenapa dia terlihat sangat menyedihkan sekali, bukankah dia ingin menceriakan aku. Lalu kenapa dia menjadi begini di saat tahu aku mengonsumsi pil KB. Ana bergumam di dalam hati.


"Tuan, bukankah Anda ingin menceraikan sa–"


"Pergilah, jika kebebasan yang kamu inginkan." Lagi-lagi Erlon memotong pembicaraan Ana.

__ADS_1


Ana membuang rasa takutnya jauh-jauh ia lalu memeluk tubuh kekar Erlon yang sedang membelakanginya. "Tuan, jangan sakiti diri Anda." Ana berusaha menahan tangan Erlon yang terus menerus memukul kepalanya sendiri. "Maafkan saya tuan, mulai malam ini saya janji akan menjadi istri yang baik untuk Anda."


Erlon masih membelakangi Ana, tanpa Ana tahu Erlon tersenyum samar. "Istri yang baik, ucapanmu apa bisa dibuktikan?"


Ana mengambil pil itu, ia lalu melemparnya ke arah jendela yang terbuka. "Saya tidak akan mengkonsumsi pil itu lagi tuan, saya berjanji." Keputusan yang Ana ambil ternyata salah, Karena Erlon sudah merencanakan sesuatu.


Erlon memutar tubuhnya agar menghadap Ana. "Kalau begitu, buktikan supaya aku yakin." Erlon mengikat rambut Ana dengan tangannya. "Giliran kamu yang memimpin permainan ini." Erlon kembali M*l**at bibir Ana dengan sangat lembut tidak terkesan maksa seperti yang sebelumnya. Setelah beberapa detik Erlon memberikan Ana ruang untuk menghirup udara. "Lakukan sekarang agar aku lebih yakin dan percaya."


Ini untuk yang pertama kalinya Ana yang lugu dan polos, naik ke atas pangkuan Erlon meski badannya bergetar hebat. Ia lalu berbisik di telinga Erlon. "Matikan lampu tidurnya."


"Biarkan saja, supaya aku bisa melihat dengan jelas wajahmu saat berada di atasku," seloroh Erlon.


"Malu, di sini hanya ada kita berdua. Jadi untuk apa kamu harus malu." Erlon berbaring ia masih menahan tubuh Ana agar tidak turun. "Sekarang," ucap Erlon sambil mematikan lampu tidur dan terjadilah pertarungan di atas ranjang. Mereka sampai lupa kalau di luar sedang ada polisi yang mengevakuasi mayat Erika.


*


*

__ADS_1


Tepat jam sembilan pagi Erlon menyetel alarm pada ponselnya, ia lalu bangun membiarkan Ana yang masih terlelap. Ia sempat memandang wajah Ana. "Cantik, tapi sayang dia terlalu bodoh." Erlon berjalan mengambil handuk di atas meja ia lalu masuk ke kamar mandi. Namun, ia berhenti di depan kaca saat melihat pantulan dirinya. "Di tubuhku saja sebanyak ini, gimana dengan tubuhnya." Erlon terkekeh geli.


Setelah berada di kamar mandi beberapa menit Erlon keluar, dengan rambut yang basah otot-ototnya terlihat jelas dan juga roti sobeknya. Ia melihat Ana sudah bangun dan duduk di tepi ranjang ia kemudian membuka suara, "Sudah ku hubungi tukang pijat dan perawatan. Mungkin sebentar lagi mereka sampai, lebih baik kamu cepat mandi." Nada suara Erlon sudah terdengar datar lagi di telinga Ana.


Ana berdiri ia masih membungkus tubuhnya dengan selimut, ia tidak berani melihat ke arah Erlon sehingga ia hanya bisa menunduk. "Tidak usah tuan, badan saya tidak biasa melakukan perawatan." Ana menolak karena ia sudah melihat ada banyak tanda di tubuhnya. Jangan sampai Anda orang lain yang melihatnya.


"Mereka dalam perjalanan, kamu cukup diam saja biar mereka yang melakukan tugas mereka." Erlon tahu Ana pasti malu karena tanda yang ia tinggalkan begitu banyak. "Jika mereka bertanya, katakan saja kita pengantin baru yang sedang bulan madu."


Terdengar sangat konyol sekali bukan, kami menikah sudah hampir sembilan bulan.Tapi kenapa dia masih mengatakan pengantin baru sangat aneh, batin Ana.


"Tuan, saya tidak seperti Anda yang tidak kenal namanya malu," ucap Ana. Yang masih menunduk. "Batalkan saja, lagi pula badan saya sudah tidak sakit lagi."


"Mereka sudah ada di depan, sekalian saja minta mereka untuk mambantumu mandi." Erlon membuka kopernya ia mengambil celana selutut dan juga kausnya, ia kemudian memasangnya di sana langsung tanpa rasa malu. Untung saja Ana menunduk jadi ia tidak melihatnya. "Hari ini mungkin aku akan pulang larut malam, kamu tetaplah di kamar, nanti setelah mereka pergi seperti biasa jangan lupa dikunci pintunya."


"Tuan, sudah saya katakan batalkan saja, jujur saya malu karena … ."


"J*l*a*g diluaran sana saja tidak merasa malu, ketika mereka memamerkan tanda merah di leher mereka, lalu kenapa dengan kamu yang nyata-nyata disentuh oleh suamiku sendiri malah merasa malu." Erlon kembali lagi menyamakan Ana dengan j*l*a*g, yang membuat perasaan Ana kini menjadi kembali ragu. "Mandi sana, biar aku yang akan membuka pintu untuk mereka."

__ADS_1


"Tidak bisakah Anda jangan selalu menyebut wanita malam, kenapa seolah-olah Anda menghina pekerjaan mereka, Anda mungkin tidak tahu mereka menjadi seperti itu karena tidak ada pilihan lain," kata Ana dengan suara lembutnya.


"Pekerjaan pengemis jauh lebih baik." Hanya lima kata namun itu mampu membuat Ana berpikir bahwa perkataan Erlon ada benarnya juga.


__ADS_2