Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Kenyataan yang Menyakitkan


__ADS_3

Erlan melangkah perlahan lalu membeku, di tepi sebuah meja panjang, ia lalu menggeleng samar rasanya ini semua tidak mungkin, di saat ia melihat tubuh Aurora terlentang kaku dengan mata terpejam di dalam peti. Ia juga beberapa kali mengucek mata, berharap penglihatannya saat ini benar-benar tidak nyata. "Tidak mungkin ini Aurora, wanita yang sudah sah menjadi istriku," kata Erlan yang meraba wajah Aurora. "Nggak, mungkin ini Aurora." Erlan memegang tangan itu, menggenggamnya Erat. "Aurora, nggak mungkin ini kamu 'kan?" Erlan lalu mencium punggung dan telapak tangan Aurora. Detik itu juga tangisannya pecah.


Semua yang ada di sana hanya melihat Erlan, tanpa berani mendekat. Mereka seolah memberi ruang kepada Erlan untuk melihat wajah Aurora sepuasnya untuk yang terakhir kalinya sebelum Aurora dimakamkan.


"Aurora … Auro … ." Erlan memeluk tubuh itu meski ia sedikit kesulitan. Tangisnya semakin pilu, rintihannya memanggil dengan suara yang lirih. Tubuh Erlan juga bergetar terguncang kuat, satu ruangan itu penuhi oleh tanggisnya. "Apakah ini benar-benar Aurora, istriku?" tanya Erlan dengan suara yang bergetar.


"Tentu saja Nak, dia adalah istrimu." Kenzo yang menjawab sambil mengangguk. "Seperti yang Daddy, ucapkan, menangislah sekencang mungkin supaya rasa sesak di hatimu berkurang. Tidak ada manusia yang benar-benar kuat ketika detak jantung kekasih hatinya sudah tidak berdetak lagi."


"Daddy, Aurora tidak meninggal dia hanya beristirahat. Apa Daddy tidak melihatnya?" Erlan mengusap air matanya, ia lalu tertawa terbahak-bahak. "Istriku bangun, dan beri tahu Daddy, kalau kamu masih hidup." Gelagat Erlan terlihat berbeda. Ia tertawa tapi dengan air mata yang terus saja mengalir membasahi pipinya. "Sayang, buka matamu. Buktikan kepada mereka yang ada di sini." Erlan menunjuk Kenzo dan juga beberapa pelayan yang ada di sana. "Sayang, katanya ingin pergi bulan madu ayo, kita pergi sekarang saja. Tapi tolong kamu buka matamu dulu."


Erlan lagi-lagi tertawa, sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri. "Dad, pesawat pribadi itu apa boleh Erlan pinjam? Karena kata Aurora dia ingin menggunakan itu. Iya 'kan sayang?"


"Erlan, tenangkan diri kamu, Aurora sudah ti—" ucapan Kenzo terpotong di saat Erlan melempar vas bunga ke arah tembok.


"Aurora masih hidup, Daddy bisa lihat sendiri. Aurora tersenyum ke arah Erlan," kata Erlan yang ingin mengangkat tubuh Aurora yang sudah kaku. Tapi suara Kenzo menghentikannya.


"Erlan! Terima kenyataan ini." Tidak lama setelah Kenzo mengatakan itu, tiba-tiba saja ia terlihat panik saat Erlan mengambil pecahan Vas bunga itu. "Hentikan! Jangan bertindak bodoh Erlan!" suara Kenzo lantang. Karena Erlan mengarahkan pecahan Vas itu ke lehernya.


"Jika Daddy menganggap Aurora sudah meninggal, maka Erlan akan menyusulnya." Tanpa Erlan tau, satu bodyguard diam-diam mendekatinya dari belakang. "Selamat tinggal Daddy, Mommy. Erlan tidak bisa hidup tanpa Aurora." Erlan sudah bersiap-siap akan melukai lehernya tapi bodyguatd yang tadi dengan cepat memukul tengkuk leher Erlan sampai pingsan.

__ADS_1


*


*


Satu minggu berlalu begitu cepat, setelah kepergian Aurora. Erlan menjadi depresi sehingga Kenzo dengan sangat terpaksa mengurung Erlan di kamar dengan cara di ikat karena Erlan beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya.


Sampai sekarang juga Ana tidak tahu kalau Aurora sudah meninggal, mereka tidak mau mengambil resiko sebab jika Ana tau ini semua maka dipastikan janin yang Ana kandung tidak akan selamat, dikarenakan kandungan Ana sangat lemah.


Seperti biasa pagi ini Zizi selalu membawakan Erlan sarapan, meski Erlan tidak pernah mau berbicara maupun merespon apapun yang Zizi ucapkan.


"Pagi anak Mommy, apa kabar?" tanya Zizi yang menahan air mata supaya tidak tumpah. "Biar Mommy, yang suapin Erlan." Zizi saat ini tidak tega melihat Erlan dalam keadaan begini, seperti tidak bersemangat untuk hidup.


"Anak Mommy mau sarapan apa? Nasi goreng spesial atau telur orak arik?" Hati Zizi yang mudah rapuh, melihat salah satu purtranya menjadi begini merasa dunia tidak adil baginya. "Saran pakai roti saja, sama susu apa Erlan mau?"


Bukannya menjawab, Erlan malah menarik selimut dan membaringkan tubuhnya. Seolah mengisyaratkan kalau dirinya tidak mau sarapan.


"Ya, sudah. Mommy bawa ini keluar dulu. Kalau memang Erlan belum mau sarapan." Zizi tidak sengaja melihat pergelangan tangan Erlan terluka. Ia merasa Erlan berniat ingin melepaskan ikatan tangan yang diikat. "Nanti kalau Erlan lapar, pencet saja tombol yang ada di atas meja, pasti Mommy akan datang." Mulut Zizi tersenyum tapi hatinya menangis. "Mommy keluar dulu, Erlan lanjut istirahat saja." Zizi dengan cepat keluar karena air matanya sudah tidak bisa ia tahan lagi.


Di luar kamar Erlan, Kenzo sudah menunggu Zizi dan langsung saja bertanya, "Apa ada perubahan?"

__ADS_1


Zizi menggeleng. "Sama seperti biasa, dia tidak mau merespon apa pun yang Mommy katakan." Zizi lalu berhambur ke dalam pelukan Kenzo. Setelah menaruh mapan yang berisi sarapan tadi. "Erlan benar-benar menjadi depresi setelah Aurora … ."


"Mom, percayalah Erlan akan sembuh seperti sedia kala. Dia hanya butuh waktu saja." Kenzo dan Zizi sepakat untuk tidak membiarkan para pelayan yang masuk ke dalam kamar Erlan. Karena Erlan akan mengamuk dan melukai para pelayan.


"Psikiater yang ada di negara A, hari ini dia akan datang."


"Sampai kapan Dad, Mommy lihat Erlan semakin hari semakin berbeda." Zizi seorang ibu yang bisa merasakan bagaimana keadaan Erlan saat ini. "Dan untuk psikiater itu, apa Daddy memberitahunya kalau Erlan sudah hampir saja membunuh tiga psikiater juga yang kita bayar untuk menangani putra kita?"


"Sudah, Mommy tidak perlu memikirkan hal itu," balas Kenzo. "Mommy harus tetap ingat, jangan sampai air mata Mommy jatuh di hadapan Erlan."


Saat mereka masih membicarakan tentang Erlan, tiba-tiba terdengar suara Erlan yang berteriak histeris memanggil nama Aurora beberapa kali. Zizi dan Kenzo saling tatap sebelum mereka masuk melihat keadaan Erlan.


Dan setelah mereka masuk ke dalam kamar Erlan, Zizi yang terlebih dahulu berlari ke arah Erlan yang sedang membentur-benturkan kepalanya ke tembok. "Erlan, hentikan Nak, jangan menyakiti dirimu lagi." Zizi memeluk Erlan supaya Erlan bisa tenang, tapi Erlan malah membanting Zizi ke atas kasur, sehingga Zizi merasa Erlan sudah tidak bisa dikendalikan.


"Hentikan! Bod*h, kamu pikir dengan cara begini Aurora akan kembali hidup lagi?" Kenzo sengaja mengatakan itu ia ingin memancing supaya Erlan menjawabnya. "Meskipun kamu juga mati. Kamu tidak akan pernah bertemu dengan Aurora di sana."


Erlan menjawab hanya dengan tertawa, tawa yang terdengar memilukan. Sehingga membuat Kenzo yang tadi sempat marah menjadi merasa bersalah.


Author ngetik ini sampai nangis😭🤧 Apakah kalian yang membaca ini juga ikutan😭?

__ADS_1


__ADS_2