Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
Positif


__ADS_3

Tangan Ana gemetar saat mengetuk kaca mobil, matanya sudah mulai berkaca-kaca. Entah ia harus senang atau sedih, karena Test Pack yang digunakan itu bergaris dua, itu tandanya ia positif hamil. "Bu-buka … ."


Erlon yang melihat iris mata Ana berair, menjadi heran dan di benaknya bertanya-tanya. Apa dia sakit parah? Makanya sampai nangis begitu. Perasaan Erlon sudah tidak karuan, ia berpikir Ana sakit parah tangannya berlahan bergerak membuka pintu mobil. "Mas—"


Ana menyerahkan Test Pack yang tadi, sebelum Erlon melanjutkan kalimat. Tangan Erlon yang kekar ikut gemetaran juga, setelah melihat ada dua garis. ia tidak percaya kalau Ana benar-benar positif hamil. "Ka-kamu, ha-hamil?" tanya Erlon terbata-bata.


Ana mengangguk, sambil menangis sejadi-jadinya. Di sela-sela tangisnya ia masih bisa menjawab pertanyaan Erlon. "Ki-kita, akan jadi orang tua."


Erlon dengan cepat membawa Ana masuk kedalam mobil, setelah tau Ana benar-benar mengandung calon buah hati mereka. Tepat di dalam mobil Erlon mencium seluruh wajah Ana, tak lupa pula ia mengelus perut Ana. "Kamu mau makan sesuatu, Ana?" Erlon beralih mencium perut Ana. "Atau perlu kutanyakan pada anak kecil yang ada disini." Erlon lagi-lagi meraba perut Ana, masih dengan menempelkan telinganya di sana. "Dia ingin makan apa, maksudku calon bayi kita mau makan apa?"


Ana menggeleng, dia sama sekali tidak berselera menyantap apapun. "Bukankah jika aku hamil, Abang akan menceraikan aku?" tanya Ana paru.


"Kita bahas di mansion, aku takut menyetir jika pikiranku kacau," lirih Erlon. "Karena sekarang bukan dua nyawa, yang akan melayang melainkan ada mahluk kecil yang sedang tertidur pulas di sini. Bukan maksud ku apa-apa tapi aku hanya berwaspada." Erlon jadi tahu, kenapa Ana menangis, ternyata Ana sedang memikirkan ucapanya yang dulu.


"Aku takut anak ini lahir, tanpa Ayah." Ana meremas ujung bajunya.


"Ana, buang pikiranmu yang buruk tentang aku. Karena aku tidak akan pernah menceraikanmu." Erlon membuang nafas kasar. "Jangan pikirkan ucapanku yang dulu, itu semua hanya omong kosong." Erlon memejamkan mata. "Kita besarkan sama-sama calon generasi penerusku." Ia kemudian m*l*m*t bibir tipis Ana, supaya pikiran buruk yang ada di otak Ana tentang dirinya bisa hilang.


Ana sama sekali tidak menolak saat Erlon m*l*m*t bibirnya, malah ia membalas dengan penuh gairah. Tangan nakalnya kini meraba dada bidang Erlon entah mengapa ia ikut-ikutan ketularan mesum.


Beberapa detik berlalu, keduanya masih betah bertukaran jigong. Tapi untung saja kaca mobilnya tidak tembus pandang jadi mereka tidak perlu khawatir akan di lihat orang yang berlalu lalang masuk ke dalam klinik.


Sekarang giliran tangan Erlon yang meraba dua benda kenyal yang menjadi tempat favoritnya. Setelah merasa puas dengan rasa air liur Ana ia sekarang berlaih mengshisap boba yang berwarna pink itu layaknya seorang bayi yang kehausan. Ia menggigit kecil demi dendengar suara desah@an Ana yang terdengar sangat merdu di telinganya.


"Jangan disini, cari hotel terdekat," kata Ana yang heran, karena kenapa ia tidak mual lagi padahal ia sudah membuang maskernya dari tadi.


Erlon mengacak rambutnya dengan gusar. "Apa boleh? Aku takut calon anak kita akan terluka di dalam sini." Erlon kembali menutup dua benda kenyal itu seperti semua. "Jangan menatapku begitu, aku cuma tidak ingin menyakiti anak kita."

__ADS_1


Ana menggigit bibirnya, karena saat ini ia benar-benar malu karena telah lancang mengajak Erlon ke hotel terdekat. "Abang benar, kita lebih baik pulang," ajak Ana yang sudah terlanjur malu.


"Panggil aku Hubby, apa kamu mengerti Honey?" Erlon mengedipkan sebelah mata.


*


*


"Apa!!" Zizi terkejut bukan main, setelah mendapat kabar kalau Aurora akan di operasi. "Kamu apakan Aurora, Erlan!" bentak Zizi. Sehingga membuat Kenzo yang sedang di kamar mandi berlari.


"Kamu kenapa sayang?" Kenzo berlari sehingga ia lupa memakai handuk. "Sayang, ada apa?"


"Mas!!" pekik Zizi. "Pakai handuk dulu, kenapa malah telanjang." Zizi menjauhkan ponsel itu dari mulut supaya Erlan tidak mendengarnya. "Sana pakai dulu, baru keluar."


Kenzo repleks menutup burung puyuhnya. "Aku kaget sayang, kamu berteriak-teriak enggak jelas. Kirain ada yang terjadi."


"Memangnya dia kenapa, Sayang? Kenapa kamu begitu panik?" Kenzo masih berdiri di depan Zizi, ia juga belum mengerti tentang apa yang terjadi.


"Mas enggak dengar? Aurora pendarahan." Zizi sampai lupa kalau saat ini telpon itu masih terhubung dengan Erlan.


(Mom, dengar Erlan dulu. Aurora sudah beberapa hari ini mengeluh sakit perut dan selalu keluar darah). Erlon menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. (Katanya kandungan Aurora berada di luar rahim, bisa di sebut juga kehamilan ektopik, makanya janin itu harus dikeluarkan karena itu akan berbahaya bagi Aurora). Erlon menjelaskan Zizi panjang lebar.


"Dimana Aurora sekarang?"


(Di ruang operasi Mom, tadinya Erlan ingin mempertahankan anak itu namun, setelah mendengar penjelasan dokter yang mengatakan dapat membahayakan nyawa Aurora. Erlan tanpa pikir panjang langsung setuju).


"Mommy dan Daddy, akan berangkat malam ini juga kesana. Kamu jaga Aurora baik-baik." Zizi berpesan kepada Erlan. "Berusahalah menghiburnya bila nanti dia keluar dari ruang operasi."

__ADS_1


(Baik, Mom. Erlan tutup dulu. Titip salam buat Ana).


"Jangan macam-macam Erlan!" Zizi mendesis mendengar Erlan berkata begitu."


Tutt … Erlan memutuskan panggilan secara sepihak, karena takut tensi sang Mommy naik.


"Erlan!!" pekik Zizi.


"Sayang, jangan teriak. Kupingku sakit." Kenzo menutup kedua telinganya.


"Mas, kamu sama saja. Seperti Erlan!" ketus Zizi. "Kita pergi ke singapura sekarang, nanti aku cerita di jalan. Jangan bertanya dulu." Zizi merasa hatinya sedang dongkol hanya mendengar Erlan titip salam ke Ana.


"Aku mandi dulu sayang." Kenzo sempat mencium pipi Zizi. "Jangan marah-marah, nanti cepat tua." Ia kemudian mencubit hidung Zizi. "Ayo, mandi bareng. Biar istriku ini tambah cantik."


"Modus, apa jatah yang tadi malam belum cukup? Udah tua masih saja kelakuannya kayak dua Er," kata Zizi yang berjalan menuju lemari ingin segera mengemas pakaiannya. "Kelakuan sama-sama mesum," sambungnya lagi.


"Terus sayang, lebih cepat. Lebih dalem ... sambil merem melek itu kelakukan siapa?" tanya Kenzo. Yang tau wajah Zizi pasti akan bersemu merah. "Ayo, kelakukan siapa itu? Jadi, yang mesum siapa?"


Zizi jadi senyum-senyum sendiri, mendengar Kenzo. "Kamu lah Mas, masak aku," jawab Zizi lantang. "Aku kan, cuma pura-pura keenakan supaya kamu senang."


Kenzo dengan hati-hati mendekati Zizi. "Oh, ya. Kalau begitu mari kita coba." Dengan satu tarikan Kenzo membawa Zizi naik ke atas ranjang. "Kita buktikan, sekarang."


"Mas, pintunya kebuka nanti ada yang lih–"


Kenzo membukam mulut Zizi dengan sebuah kecupan mesra. "Erlon tidak mungkin akan mengintip, aku cuma mau isi daya sebentar saja. Nanti kalau sudah full aku cabut."


Dalam dunia medis, hamil di luar kandungan juga dikenal dengan istilah kehamilan ektopik. Kehamilan di luar kandungan adalah kondisi yang terjadi karena sel telur yang dibuahi tidak berkembang di rahim. Sebaliknya, sel telur malah menempel dan bertumbuh di tuba fallopi. Sumber Google

__ADS_1


Untuk beberapa hari ini Ayuza bakal libur buat Up, jadi kakak-kakak harus sabar untuk menunggu😘😘


__ADS_2