
Hari sudah sore dan sudah waktunya untuk para mahasiswa pulang kampus. Fani tampak sudah memasukan semua buku catatannya ke dalam tas dan akan bergegas pulang ke asramanya, saat baru berapa langkah terlihat Start sudah menarik tangannya dari belakang
"Hei manis apa kau sudah mau pulang ?" Tanya Start pada Fani.
"Iya , aku harus kembali jika kau menahanku untuk mengajak jalan jalan, maaf aku tidak bisa." Jawab Fani to the point.
"Ahh dasar anak mami." Kata Start yang tidak tau jika Fani adalah seorang anak tanpa Ayah dan Ibu bahkan ia tidak tau wajah dari kedua orang tuanya.
Mendengar apa yang di katakan oleh Start membuat Fani merasa seperti di sambar petir, wajahnya langsung murung dan ingin menangis namun ia bisa mengatasi itu. Sebelum air matanya benar-benar akan turun ia langsung pamit pada Start. Dan yah, sangat munafik jika Fani benar-benar tidak merindukan kasih sayang dari Ayah dan Ibunya.
"Aku duluan yah, sampe ketemu lagi start." Kata Fani sambil tersenyum dan menepuk pundak Start.
" Baiklah hati-hati di jalan." Jawab Start.
Setelah tibanya di asrama, ia langsung mandi setelah itu ia akan beristirahat sebentar, sebelum ia membeli makan malamnya nanti.
-
"Apakah kau sudah dapat infonya." Tanya Shawn pada pria di telefonnya.
"Sudah tuan , dia adalah seorang gadis yang berasal dari panti asuhan hawai letaknya berada di pinggiran kota, namanya Fani Atika, berusia 18 tahun, sejak berusia 6 bulan dia sudah di titipkan di panti.
Namun sampai sekarang pihak panti juga belum mengetahui siapa orang tuanya , dia mahasiswa baru dari jurusan bisnis manejemen.
Dia berkuliah di kampus X karena di biayai oleh donaturnya mulai dari uang kampus dan kebutuhannya setiap hari, ia di larang untuk bekerja, dan keluar asrama.
Jika ia ingin keluar paling lama 3 jam, dia tinggal di asrama putri kampus X , no kamar 111 ia tinggal sendiri di dalam kamar itu tidak ada temannya , dan semua fasilitasnya berbeda dari asrama putri yang lainnya, itu saja tuan." Jawab pria di seberang telefon itu.
"Baiklah , siapa donaturnya? " tanya shawn.
"Saat ini saya sudah mencari tau kemana mana , namun tidak menemukan hasil sama sekali saya juga sudah menanyakan pada suster kepala tempat dia tinggal dulu, namun katanya mereka juga tidak tau orangnya siapa tuan, karena waktu itu hanya melalu telefon dan no telefon nya sekali pakai tuan." Jawab pria itu.
"Baiklah, kau lanjutkan tugasmu." Sahut Shawn kemudian memutuskan panggilannya .
__ADS_1
Shawn mengambil gelas minuman yang berwarna coklat itu dan meminumnya perlahan kemudian ia tersenyum licik.
" Ckk ternyata kau gadis bukan gadis sembarang. Jangan panggil aku Shawn Edward jika aku tidak bisa mendapatkan mu." Katanya dalam hati.
Ia langsung berdiri dan berjalan mengambil jaketnya kemudian ia berkata lagi "Mari kita mulai dengan awal yang baru sayang, akan ku buat kehidupanmu berubah menjadi 100°." Ucapnya dengan senyum miring khasnya.
Sekarang shawn sudah berada di dalam mobil sportnya, ia melajukan mobilnya menuju asrama putri kampus X, setelah berapa menit tibalah ia di halaman depan asrama.
langsung saja ia menelpon seseorang dan menyuruh untuk mematikan seluruh lampu asrama agar dia bisa leluasa masuk tanpa ketahuan.
" Sekarang. " Ucapnya langsung menutup telefon.
Sedetik kemudian lampu semua telah di padamkan, ia langsung turun dari mobilnya dan menuju kamar 111 dimana Fani berada. Ia langsung membuka pintu, setelah itu lampu asrama di nyalakan kembali.
Shawn sempat terkejut melihat kamar Fani, karena benar - benar sama persisi yang di katakan oleh orang suruhannya tadi, ia mengunci pintu dan berjalan perlahan.
Fani tidak ada di asrama saat itu karena dia baru saja keluar untuk membeli makan malamnya.
Dari apartemennya tadi shawn memang tidak membawa apa apa tapi jangan salah di mobilnya sangat lengkap, ada beragam kamera, penyedap, alat alat tajam , dan lainnya. Yah seperti barang-barang yang di miliki oleh para psychopat.
Setelah di rasanya cukup, ia langsung menelfon untuk mengatakan agar lampu kembali di padamkan.
Shawn langsung pulang ke apartemennya dan berniat untuk memperhatikan Fani dari layar monitornya.
-
Setelah membeli makanan fani berniat kali ini makan di asramanya saja , mereka tidak bisa memasak di asrama jadi semua anak yang tinggal di asrama pasti membeli makanan dari luar.
Fani berjalan melewati taman, tiba tiba seorang kakek memanggilnya. "Cu kemarilah sebentar."Ucap Kakek itu pada Fani.
Tanpa rasa curiga sama sekali fani pun berjalan ke arahnya, " ada apa kakek, apakah Kakek membutuhkan sesuatu ?" Tanya Fani lembut.
"Tidak cu, boleh kah kau duduk sebentar" tanya kakek itu .
__ADS_1
Fani langsung mengangguk dan duduk di sebelah kakek itu, tiba - tiba sang kakek mengeluarkan kartu dari dalam tas nya dan menyuruh fani untuk mengambilnya satu.
Yah kakek ini adalah seorang peramal. Fani mengambil salah satu kartu dan memberikannya pada kakek itu, setelah melihat kartu yang di berikan Fani tadi, kakek itu langsung diam sejenak sebelum di kaget kan oleh Fani.
"Gimana kek ?" Tanya Fani, sebenarnya dia sama sekali tidak mempercayai hal hal seperti itu, hanya saja ia merasa tidak enak jika menolak dan mengatakan jika dia tidak percaya pada ramalan itu.
Kakek itu langsung kaget lalu tersenyum pada Fani.
"Ah iya, kamu benar benar memilih kartu ini. Aku tidak tau apakah ini terdengar bagus atau tidak untukmu tapi sekarang nasib kamu benar benar akan berubah, jangan lari dari kenyataan karena kenyataan itu akan selalu mengejar mu, semoga kau bahagia cu. kata Kakek itu berlalu pergi meninggalkan fani.
Fani bingung dengan apa yang di katakan kakek itu padanya.
"Yahh trimakasih kakek, semoga aku selalu bahagia kedepannya." Kata Fani pelan sambil tersenyum melihat bayangan Kekek itu yang mulai hilang di ujung jalan.
Fani kembali ke asramanya setelah sampai ia langsung menyalakan lampu , dan meletakan makanannya di atas meja , kemudian ia mencuci tangannya dan mulai makan , ia tidak curiga sama sekali karena Shawn melakukan aksinya dengan sangat baik dan teliti sehingga tidak ada jejak mencurigakan sama sekali.
Setelah selesai makan ia langsung beberes dan mengganti baju dengan baju tidurnya di kamar, ia tidak memgganti bajunya di kamar mandi karena dia berpikir bahwa, kenapa harus di kamar mandi ? toh yang tinggal hanya dia sendiri, setelah itu ia langsung menyikat gigi, mencuci muka dan kakinya, kemudian ia mematikan lampu dan beristirahat.
Disisi lain, tampak shawn memegang minuman di tangannya dan sesekali meminumnya sambil memperhatikan monitor dimana ia melihat jelas Fani sedang mengganti baju.
" Ckk kau benar-banar wanitaku." Kata Shawn dengan senyum khasnya.
"Baiklah sayang jika kau mengundangku maka aku akan datang padamu tunggulah sebentar lagi." Sambungnya kemudian melangkah keluar dan mengambil ponselnya.
" Hallo sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu aku harus menemui wanitaku sekarang." katanya.
"Akhhh kau selalu saja begitu, pergilah sesukamu tuan, oh ya kirimkan salam ku untuk wanitamu itu." Kata Rio kesal dan penuh penekanan pada kalimat wanitamu.
"Baiklah." Jawab Shawn langsung mematikan telefonnya.
Memang tadi siang Shawn dan Rio janjian untuk pergi ke salah satu club malam dan berniat untuk kumpul bersama karena mereka sudah lama tidak ke club bersama, tapi niat mereka tidak terwujud karena shawn harus bertemu wanitanya malam ini.
Tbc ... šµ
__ADS_1