Cinta Seorang Psycho

Cinta Seorang Psycho
episode 20


__ADS_3

Sejak kejadian dua hari yang lalu saat sahabat laki- laki satu - satunya tewas karena di bunuh oleh orang suruhan Shawn.


Sejak saat itu juga Fani mengunci mulutnya. Ia tidak berbicara sama sekali pada Shawn. Hingga membuat lelaki itu benar-benar naik pitam.


Langit tidak bersahabat hari ini, awan gelap tampak menutupi langit. Dan Shawn, pria itu sama sekali tidak mengijinkan Fani untuk keluar hanya sekedar hadir dan meminta maaf di saat acara pemakaman sahabatnya itu.


Berulang kali Fani berontak dengan tubuh mungilnya tetap tidak bisa merobohkan pertahanan Shawn yang kekeh melarangnya untuk keluar.


Shawn tampak membawakan sarapan untuk Fani, namun seperti biasa Fani tidak akan menyentuhnya sama sekali.


"Makanlah, kau sudah dua hari tidak makan." Ucap Shawn tampak khawatir. Ini adalah ucapannya yang kesekian kalinya dengan kalimat yang sama. Ia dengan sabar menyuruh gadis itu makan sejak pagi tadi.


Fani hanya melihatnya dengan ekor mata dan wajah marah padam, kemudian beralih pandangannya melihat langit yang tampak gelap di pagi hari itu.


Shawn benar-benar merasa geram di buat Fani.


"Aku bersumpah aku akan menghancurkan panti asuhanmu itu jika kau tidak menyentuh makanan ini sama sekali." Ucap Shawn dengan tegas dan suara yang meninggi.


Mendengar itu membuat Fani kembali menatapnya. Sebelum mengambil makanan dari tangan Shawn lalu memakannya.


Yah, Shawn tidak pernah bermain - main dengan ucapannya. Dan Fani, gadis itu tidak ingin orang - orang yang tidak bersalah mati hanya karena dirinya.


Fani memakan bubur itu dengan terpaksa, lalu kembali mengeluarkan air matanya. Melihat Fani yang seperti itu terus sejak kemarin membuat Shawn semakin emosi, dadanya terasa sesak melihat gadis yang di cintainya menangisi pria lain bahkan berhari-hari.


"Brakkk." Shawn membanting lampu tidur yang berada di dalam kamar itu.


"APA KELEBIHANMU HANYA MENANGIS !? HAH ? KAU BAHKAN MENANGISINYA SAMPAI SEKARANG !!" Teriak Shawn yang membuat Fani kaget dan takut.


Shawn menganggukan kepalanya, lalu mengambil pisau dari dalam jasnya.


"Jangan sampai aku memberimu pelajaran jika kau tidak berhenti menangis." Ancam Shawn.


"Apa kau pikir aku takut ? bunuh saja aku jika kau mau, kau manusia yang berhati iblis." Jawab Fani menatap Shawn tanpa rasa takut dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Jadi kau menantangku, heh ?" Shawn menarik tangan Fani yang tengah memegang piring makanan di tangannya itu dan sekejap kilat langsung mengiris tangan gadis itu. Membuat piring yang di pegang Fani jatuh pecah dan berhamburan makanan.


Fani semakin menangis, bagaimana tidak Shawn melukai tangannya dengan sangat dalam. Sakit dan perih. Yah itulah yang di rasakan Fani saat ini.


"Apa kau masih ingin menguji kesabaranku, hah !? " Ucap Shawn lalu kembali menarik tangan Fani dan menekan lukanya.

__ADS_1


"Ahw." Hanya kata itu yang sebutkan oleh Fani, wajahnya sudah tampak pucat menahan kesakitan.


Melihat wajah Fani yang pucat pasih, Shawn langsung menggendong Fani dan membawanya ke rumah sakit milik sahabatnya Rio.


"Kau di mana ? aku sedang menuju rumah sakitmu, Fani terluka." Ucap Shawn saat sambungannya terhubung.


"Ia aku sedang di Rumah Sakit sekarang." Jawab Rio dari seberang telefon.


Shawn langsung memutuskan panggilan dan menaiki kecepatan mobilnya.


Saat tiba di Rumah Sakit, Fani tampak lemah dan syok.


Ia langsung di bawakan ke ruang IGD untuk mendapatkan perawatannya di sana, sebelum di pindahkan ke ruang VVIP Rumah Sakit.


Sedangkan shawn langsung bertemu dengan Rio di ruangan pria itu.


"Aku seperti melihat Fani. " Ucap Tasya yang kala itu sedang berdinas dan berjalan di koridor rumah sakit.


Ia terus mengikuti suster yang mendorong kursi roda Fani hingga masuk ke ruang VVIP.


"Fani." Tasya kaget karena yang dilihatnya ternyata benar sabatnya sendiri yang terbaring lemah setelah berapa hari ini tidak bertemu.


bukan karena apa, tapi ia benar benar membutuhkan seseorang untuk mendengar keluh kesahnya sekarang.


Tasya berlari masuk ke dalam ruangan itu kemudian memeluk sahabatnya dan menangis.


"Kau kenapa ? apa yang terjadi padamu ? kenapa bisa ada disini ?" Tanya tasya khawatir saat melihat keadaan tubuh sahabatnya itu. Fani tidak dapat berbicara sama sekali ia hanya terus terusan menangis di dalam pelukan tasya.


Ia takut jika ia ceritakan pada Tasya maka Tasya akan bernasib sama seperti Start. Hingga tidak lama terdengar suara langkah sepatu dari luar sana.


"Pergilah bersembunyi, aku mohon." Ucap Fani pada Tasya dengan wajah panik.


"Ada apa, kau kenapa." Tanya Tasya ikut panik.


"Bersembunyilah di belakang tirai itu, cepat."


Tanpa menunggu lama tasya berlari dan bersembunyi di tirai jendela itu.


Saat terdengar langkah yang makin mendekat. Fani memejamkan matanya lalu berpura pura tidur.

__ADS_1


Shawn dan Rio masuk ke dalam kamar rawat VVIP itu dan mendapati fani sedang tertidur.


"Apa yang kau lakukan padanya." Tanya rio saat melihat wajah pucat fani dan luka di tangannya.


"DUARRRRRR." Jantung Tasya seperti ingin keluar dari dalam tubuhnya.


Suara ini. ia sangat ingat dengan jelas suara pria gila yang mengejarnya sejak semalam.


"Dia yang terlalu bodoh." Ucap Shawn datar menatap Fani yang sedang tidur.


"Hahaha, aku tidak menyangka kau akan seperti ini padanya." Ucap Rio lagi sebelum ia menoleh ke arah jendela.


"Diamlah, kau mengganggunya." Ucap Shawn lagi.


Rio mengerutkan dahinya saat melihat sepatu seorang wanita yang sangat familiar untuknya. kemudian mengangkat satu alisnya dan tersenyum licik.


"Baiklah biarkan dia istirahat aku akan menyuruh suster untuk menjaganya, dan kau sebaiknya kembali ke perusahaan." Ucap Rio pada Shawn.


"Baiklah aku serahkan padamu." Ucap Shawn lalu melangkah ke arah Fani dan mencium kening gadis itu.


Mereka berdua tampak sudah keluar dari dalam kamar itu, dan shawn pria itu langsung menuju perusahaannya. sedangkan Rio masih berdiri di depan kamar rawat Fani.


Fani membuka matanya, Tasya juga keluar dari tempat persembunyian dengan wajah pucatnya.


"Ada apa Syah." Tanya Fani.


"Aku...aku..apa kau mengenal mereka ?" Tanya Tasya gugup.


"Ceritanya panjang aku akan jelaskan nanti padamu." Ucap Fani. Hingga ponsel Tasya berdering, ternyata temannya memanggil untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Fan aku akan kembali ke sini nanti, aku sudah di panggil." Ucap Tasya.


"Baiklah, sampai bertemu lagi." Tasya menutup pintu, baru beberapa langkah ia langsung di tarik oleh Rio.


Reflek Tasya kaget lalu berteriak, namun dengan cepat kilat Rio membungkam mulut gadis itu dengan ciuman yang brutal.


Tbc ... 🌵


Terimakasih sudah mampir šŸ™

__ADS_1


Jangan lupa beri Vote untuk Author yah, terimakasih 😘


__ADS_2