
"Apa Hubby tahu?" tanya Ana tiba-tiba saat ia sedang tidur di lengan Erlon.
"Tidak," jawab Erlon yang mencubit pipi Ana.
"Entah mengapa, aku sering bermimpi kalau kak Aurora memakai baju serba putih dan tersenyum menatapku."
Ana sudah sering mencoba menghubungi Aurora, tapi Erlon selalu saja mengatakan kalau Aurora dan Erlan sedang bulan madu tidak bisa di ganggu.
"Masa sih? Mungkin Honey terlalu rindu dengan kak Aurora." Erlon tahu peeling kakak beradik itu sangatlah kuat. Maka Erlon harus pintar-pintar berbohong demi kebaikan Ana.
"Apa boleh aku menyusul ke sana?" Ana meraba rahang Erlon. "Bolah ya?" Mata Ana berbinar-binar saat mengatakan itu.
"No, Honey, bukan maksudku melarangmu, tapi ibu hamil sepertimu tidak boleh naik pesawat." Lagi-lagi Erlon harus berbohong.
"Kenapa kak Aurora tidak dilarang waktu itu?" Dahi Ana mengkerut.
"Nah, kalau kak Aurora kan, usia kandungannya sudah dua bulan lebih jadi tidak apa-apa." Erlon dengan hati-hati menjelaskan supaya Ana tidak curiga. "Jadi, sekarang Honey sudah paham?"
Ana terlihat sedang berpikir, sebelum ia mengiyakan Erlon. "Baiklah, tapi janji kita akan pergi ke sana nanti."
"Iya, Honey, aku janji."
*
*
🌹🍃Enam bulan kemudian … .
Ana saat ini sedang merengek seperti anak kecil di dalam mobil, ia meminta Erlon untuk membelikannya rujak di pinggir jalan. "Ayolah, kenapa Hubby menjadi pelit begini!" Nada suara Ana terdengar ketus.
"Aku tidak pelit Honey, aku bisa saja membeli gerobak rujak itu beseta pedagangnya." Erlon sekarang menjadi jauh lebih sabar dalam menghadapi Ana. Karena sejak Ana hamil, permintaan Ana menjadi aneh-aneh. Seperti sekarang Ana menyuruh Erlon membeli jujak tapi Erlom lah yang harus mengulek bumbunya.
__ADS_1
"Satu porsi saja, aku tidak mau banyak-banyak." Ana masih dalam mode merajuk. "Hubby, apa kamu tidak kasihan melihat dedek bayi yang di sini. Nanti dia bisa ileran lho, jika keinginannya tidak dituruti," kata Ana menakuti Erlon.
"Honey, aku turun dan belikan sekarang, tapi bumbu rujaknya biar aku ulek di mansion gimana?" Erlon berharap Ana mau. Tapi sayang Ana menggeleng sambil menggigit kuku yang malah membuat Erlon gemas. "Kenapa ngidam Honey, aneh-aneh sekali, tidak adalah yang lain misalnya mau makan makanan restoran yang mahal da—"
"Dasar pelit!" potong Ana yang kini memalingkan pandangannya ke luar jendela. "Jika tidak mau, tidak usah!"
Erlon melajukan mobil dengan pelan, saat mendengar nada suara Ana semakin ketus. "Aku punya ide lagi, ini pasti Honey akan menyetujuinya." Erlon benar-benar berharap kali ini Ana setuju. "Kita suruh pelayan di mansion buat rujak saja gimana? Lagipula di warung tadi terlihat tidak bersih."
Ana tidak menjawab Erlon, ia malah terlihat semakin cemberut.
"Yang ngulek bumbunya tetap aku, ta—" Kalimat Erlon terpotong lagi di saat melihat mata Ana sudah mulai berkaca-kaca.
Gawat, bisa-bisa nanti malam aku tidak mendapat jatah. Kalau Ana merajuk begini, batin Erlon. Dan pada akhirnya ia terpaksa memutar mobilnya untuk kembali ke warung yang tadi menjual rujak. Karena membuat mood Ana kembali ceria itu tidak mudah.
*
*
"Gimana enak?" tanya Ana saat mereka sudah sampai di mansion.
"Aku sudah kenyang, Hubby saja." Ana mengatakan itu tanpa merasa berdosa setelah berhasil membuat Erlon memakan rujak itu setengahnya.
"Kalau tau begini, aku yang makan mending nggak usah beli," gumam Erlon pelan, tapi Ana bisa mendengarnya.
"Jadi … Hubby menyesal," kata Ana sendu. "Padahal setelah ini aku mau kasih kejutan." Ana memperlihatkan dua lingerie yang begitu seksoy.
Erlon tanpa pikir panjang, menghabiskan semua rujak itu tanpa memikirkan akan sakit perut, setelah melihat lingerie itu.
Mulut Ana terbuka lebar, ia tidak percaya Erlon menghabiskan rujak itu. Tidak lama Ana tersenyum simpul, ia memiliki ide lagi menguji kesabaran Erlon untuk yang kesekian kalinya. "Karena tadi Hubby sempat mengeluh, jadi kejutan ini nggak jadi." Ana Ialu beranjak dari sana membirkan Erlon sendiri. "Malam ini, Hubby tidur di sopa saja, karena gara-gara Hubby. Mood ku tiba-tiba saja berubah."
Saat itu juga Erlon rasanya ingin memuntahkan rujak yang telah habis ia makan. "Honey, kenapa kamu menjadi tega begini?" Erlon merasa perutnya sudah mulai mules karena Erlan dan dirinya sama yaitu tidak bisa memakan makanan yang terlalu pedas.
__ADS_1
"Siapa suruh tuh, mulut Hubby nggak bisa di rem," kata Ana, yang menaiki anak tangga satu persatu.
"Honey, jangan begitu. Lihat nih, semua sudah habis." Erlon berniat ingin menyusul Ana tapi tiba-tiba saja perutnya terasa sakit. "Aduh, perutku. Honey!" Erlon memegang perutnya.
Ana yang mengira Erlon ingin mengerjainya, tidak mau menoleh. "Tidak mempan! Aku sudah tau Hubby hanya berpura-pura saja kan?"
"Honey, tolong aku, perutku! Akhh … ."
"Berhenti berakting Hu—" Ana akhirnya menoleh, ketika ia berada di tengah-tengah tangga. Ia begitu terkejud saat melihat Erlon sudah berguling-guling di lantai sambil memegang perut. "Hubby!" Ana yang panik tanpa pikir panjang berlari dari anak tangga, ia ingin segera menghampiri Erlon. Tapi apa yang terjadi kakinya malah terkilir. "Aaaaa …!" teriak Ana.
"Briana!" seru Erlon yang reples memanggil nama Ana. Ia berusaha untuk berdiri ingin menolong Ana, tapi ia terlambat Ana sudah tergeletak sambil memeluk perut.
"Bayi kita," lirih Ana yang merasa ada yang merembes keluar dari pangkal pahanya. "Selamatkan bayi kita," suara Ana sudah mulai serak.
Pikiran Erlon menjadi kacau, saat melihat darah yang begitu banyak menggenang.
*
*
"Dengan berat hati, Tente mengatakan kalau salah satu bayi kalian harus segera di keluaarkan," kata Mawar.
Erlon memukul meja, ia tidak terima dengan apa yang ia dengar. "Berapapun biayanya, sekamatkan kedua bayiku dan juga Ana!"
"Mereka berdua akan selamat, tapi tidak dengan bayi yang satunya lagi." Mawar menarik nafas dalam-dalam, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Jenis kelamin yang sudah tidak ada detak jantungnya itu laki-laki." Mawar memberikan foto USG. "Dan ini perempuan jenis kelamin yang selamat, meski detak jantungnya juga sempat melemah tadi," sambungnya.
Meski usia kandungan Ana enam bulan, Erlon maupun Ana sama sekali tidak tahu jenis kelamin anak mereka. Mereka berdua cuma tau kalau calon anak mereka kembar. Itupun mereka tahu saat usia kandungan Ana tiga bulan.
"Benturan yang berulang-ulang menyebabkan, si L." Nama panggilan Mawar buat jenis kelamin anak Erlon yang laki-laki. "Dia tidak bisa bertahan."
Erlon sekarang merasakan bagimana rasanya kehilangan. "Kenapa ini harus terjadi!"
__ADS_1
"Si L, tidak bisa berlama-lama di dalam perut Ana, karena bisa menyenabkan air ketuban menjadi rusak dan keruh." Mawar mengelus tangan Erlon, ia ingin menguatkan Erlon dalam keadaan begini.
Author mau nanya, apa kisah Erlan mau lanjut di sini apa di Novel yang berbeda? Mohon di jawab🙏