
"Apa kata Opa dan Opa?" tanya Erlon yang sedang memakai dasinya. Karena tadi malam ia tidak sempat bertanya dikarenakan Ana sudah tidur duluan.
"Mereka enggak ngomong apa-apa, malah tuan tidak di cari sama mereka," jawab Ana jujur.
"Hmm, sudah kuduga," kata Erlon yang sudah tahu pasti opa sama oma nya hanya ingin memastikan kalau Ana baik-baik saja. "Sekarang pakai yang ada di sana." Erlon menunjuk paper bag yang ada di atas meja. "Aku tidak mau, melihat sekretarisku pakaiannya sangat norak." Tepat Hari ini Erlon ingin membawa Ana ke kantornya, untuk di perkenalkan kalau Ana sekertarisnya. "Pakai, jangan kebanyakan mikir, nanti kita bisa terlambat," sambungnya.
Ana malah melihat dirinya dari atas sampai bawah. "Ini sudah bagus, kenapa harus di ganti?" Seperti biasa pasti akan ada drama penolakan. "Padahal, ini baju saya yang paling bagus."
Erlon memijat kepalanya yang terasa berdenyut, karena mendengar ucapan Ana. "Itu terlalu ketat, apa jangan-jangan niatmu mau menggoda rekan kerjaku." Erlon berjalan mengambil paper bag yang tadi ia maksud.
"Ketat dari mana tuan, pakaian saya sudah sangat sopan dan rapi begini." Ana berputar supaya Erlon bisa melihatnya. "Mungkin mata Anda tembus pandang, makanya berkata begitu tuan."
"Biar aku yang pakaikan, jika kamu tidak mau." Erlon melempar paper bag itu ke Ana. "Lima menit, jika waktu itu tidak kamu gunakan sebaik mungkin. Aku yang akan benar-benar memasangkannya untuk mu."
Ana menangkap paper bag itu ia lalu dengan cepat masuk ke kamar mandi, karena ia tahu Erlon tidak main-main dengan ucapannya. "Si soang," gumamnya.
"Hai, aku bisa mendengarmu, jangan membuatku marah," ucapan Erlon membuat Ana membanting pintu kamar mandi dengan sangat keras. "Wanita paling aneh, bukannya senang dibelikan baju. Ini malah diancam dulu baru mau dipakai."
*
*
Saat mereka sedang berjalan di lorong Apartemen, dua polisi menghentikan langkah mereka. "Permisi, Tuan Erlon. Bisa minta waktu Anda sebentar?"
__ADS_1
Erlon melihat jam di pergelangan tangannya. "Bisa, tapi jangan lama-lama karena saya ada urusan yang lebih penting." Erlon mengatakan itu tanpa melihat polisi tersebut.
"Baik Tuan, saya sangat paham dan mengerti, begini Tuan apa Anda bisa memberikan keterangan tentang tewasnya Nona Erika?"
"Bukankah Bapak bisa melihat sendiri, dari rekaman CCTV kalau saya hanya mengantar Erika sampai depan pintu Apartemennya saja. Setelah itu saya langsung pergi." Erlon menjawab tanpa gugup, supaya polisi tidak menjadi curiga.
"Apa Anda tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, atau gelagat aneh Nona Erika?" Polisi itu tampaknya masih menaruh curiga pada Erlon.
Erlon masih terlihat tenang, tidak dengan Ana yang saat ini sedang cemas. Erlon yang tahu itu dengan cepat meraih tangan Ana dan menggenggamnya. "Tidak," jawab Erlon singkat.
Polisi itu masih belum puas dengan jawaban yang Erlon berikan. "Anda harus datang ke kantor polisi Tuan Erlon, karena keterangan Anda sangat diperlukan dalam kasus ini." Polisi itu memberi Erlon selembar kertas. "Kami akan menunggu, sampai Anda siap untuk mengatakan yang sebenarnya." Rupanya salah satu polisi itu, tahu kalau kematian Erika pasti ada hubungannya dengan Erlon.
Erlon hanya mengangguk, lalu tanpa permisi pergi begitu saja sambil bergumam, "Sepertinya, polisi yang tadi sudah bosan hidup." Erlon tersenyum sambil melirik tangannya yang masih menggenggam erat tangan Ana. "Polisi, hanya sebutan saja, tapi perbuatan atasan mereka lebih sadis daripada aku."
Ana melepaskan genggaman tangan mereka. "Bukan Anda 'kan, pelakunya?" tanya Ana saat mereka masih berjalan di lorong dan sudah menjauh dari polisi tadi. "Tuan, apa Anโ"
Ana seketika merasa dadanya sesak, mendengar penuturan Erlon. Karena Erlon mengatakan itu tanpa rasa berdosa. "Nona Erika manusia Tuan, kenapa Anda begitu kejam." Ana sedang membayangkan bagaimana cara Erlon membunuh Erika tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. "Anda terlalu sadis Tuan."
"Jika kamu coba-coba ingin kabur dariku, maka hal yang sama akan aku lakukan. Malah aku akan melakukan penyiksaan terlebih dahulu sebelum kamu, aku lenyapkan." Erlon tersenyum sambil menyelipkan anak rambut Ana pada telinga. "Bahkan bukan sampai di situ, mayat mu akan aku berikan kepada Boy."
Kaki Ana terasa lemas. "Kenapa setiap kalimat yang keluar dari mulut Anda, isinya hanya ancaman," ucap Ana yang ingin berjalan mendahului Erlon. Tapi Erlon menarik tangannya.
"Sebelum kamu bertindak bodah, aku ingin mengatakan hal yang penting." Erlon beralih memegang dagu Ana. "Jangan katakan pada siapapun, kalau kita sudah menikah. Apa kamu paham?" Erlon sengaja ingin menyembunyikan pernikahannya dulu, karena ia tidak mau Ana akan menjadi korban selanjutnya sama seperti kedua orang tuanya. "Bersikaplah, layaknya atasan dan bawahan. Agar orang-orang tidak curiga."
__ADS_1
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Ana saat ini, yang pasti jantungnya seperti berhenti berdetak. Apa mengakui aku sebagai istri saja begitu sulit, sebenarnya aku dianggap istri atau pemuas nafsu, batin Ana.
*
*
Sore menjelang, tapi Erlon masih sibuk mengetik di layar komputernya setelah tadi pertemuan dengan rekan bisnisnya berjalan dengan lancar. Itu semua tidak lepas dari bantuan Ana yang ikut serta dalam mengeluarkan pendapatnya. "Apa kamu lapar?" tanya Erlon yang mendengar perut Ana berbunyi.
Ana tidak menjawab, karena saat ini ia sedang fokus untuk memahami apa saja yang ada di kertas, yang tadi sempat Erlon berikan untuknya.
Erlon melempar Ana dengan sebuah kertas yang ia kepal. "Tuli sekali, aku bertanya apa kamu lapar?" Erlon yang kesal karena Ana tak kunjung menjawab mendobrak meja. Brakkk โฆ . "Briana!!" teriak Erlon.
"Anda memanggil saya Tuan," kata Ana yang berdiri, karena melihat tangan Erlon mengisyaratkan untuk mendekat. "Apa Anda butuh sesuatu?"
Erlon yang tadinya berniat baik ingin memesan makan untuk Ana jadi mengurungkan niatnya. "Sekarang aku lapar, buatkan aku makanan." Erlon terlihat melonggarkan dasinya dan membuka satu kancing kemejanya. "Jarak tiga ruangan dari sini, kamu bisa menemukan dapur pribadi milikku jadi, tidak usah bertanya."
"Tuan, apa disini tidak ada karyawan wanita?" Ana tidak tahan untuk tidak bertanya karena ia hanya melihat laki-laki saja sejak ia menginjakkan kaki di perusahaan yang berlogo ZK Community. Ana tidak tahu kalau nama perusahaan itu diambil dari huruf depan Zizi dan Kenzo.
"Aku tidak terima karyawan wanita, maka dari itu kamu wanita yang paling beruntung."
Saya malah lebih senang kerja di cafe, meski gajinya sedikit. Disini baru sehari saja otakku sepertinya mau pecah karena tidak mengerti banyak sekali hal yang harus aku pelajari, gumam Ana di dalam hati.
"Anda mau dimasakin apa?"
__ADS_1
Erlon menjawab, "Masak apa saja, yang penting jangan racun."
Apa kakak-kakak sama seperti Ayuza, merasa ada di dalam cerita Erlon dan Ana? Jika ya, mohon dijawab supaya Ayuza tahu apakah tulisan ini bisa membuat kakak-kakak yang baca jadi kebawa perasaan๐๐